
Oliver dengan lembut menyingkirkan tangan Nirmala dari lehernya, lalu dengan lembut meletakkannya di atas selimut.
Oliver sangat lembut dan tidak ingin mengganggu mimpinya.
"Nirmala, selamat malam."
Aku mencintaimu……
Oliver membungkuk dan ingin mencium dahi Nirmala, tapi tidak jadi.
Oliver tahu dia tidak boleh menciumnya, karena dia adalah... adik iparnya.
Dalam hal ini, dia sudah memperingatkan diri sendiri berulang kali..
Dengan tinju terkepal, Oliver bangkit dan pergi.
Setelah kembali ke kamar sendiri, Oliver melepas dasi. Dia bahkan tidak perlu repot-repot menyalakan lampu kamar. Dia melepas jas dan dasinya ke bangku di sebelah pintu. Lalu membuka kancing kemejanya, sambil berjalan menuju kamar mandi.
Setelah mandi dan keluar dari kamar mandi, Oliver tiba-tiba berhenti melangkah.
Oliver mengeringkan rambut dengan handuk di tangan, dan sedikit mengernyit seolah melihat sesuatu yang membuatnya merasa kesal.
Melihat seseorang berbaring di ranjang, Oliver mengerutkan kening dengan tidak senang. Orang ini adalah seorang wanita, dan memiliki wajah tidur yang sama dengan Nirmala.
Tentu saja, selain Safira, siapa lagi yang berani tidur di ranjang Oliver?!
Setelah memastikan wanita itu adalah Safira, wajah Oliver langsung menjadi dingin.
Safira di ranjang besar berbalik dengan malas seolah berpura-pura tidur dengan sengaja.
Dalam jubah mandi longgarnya, dia telanjang bulat.
Kaki rampingnya terlentang lebar tanpa malu-malu, sengaja memasang postur menggoda, dengan dua buah dada besar yang bergerak saat membalikkan badan.
Safira mengira Oliver telah melihatnya, siapa tahu bahwa Oliver telah berbalik dan menelepon Bibi Lias.
Ketika Safira diam-diam membuka matanya, ternyata yang di depannya adalah wajah Bibi Lias yang sedang memelototinya, seolah-olah ingin memakannya.
Bibi Lias tidak ragu sama sekali, menarik Safira yang berpura-pura tidur dengan marah, dan langsung menyeretnya ke luar pintu.
Safira sadar seketika, matanya terbuka lebar, dan berteriak "Ahhhhhhhh" pura-pura ketakutan.
__ADS_1
Saat Bibi Lias menyeret Safira ke pintu, Oliver bahkan tidak melihat ke arahnya. Oliver berkata kepada Bibi Lias dengan dingin, "Bibi Lias, tolong sekalian bantu aku mengganti seprai dan selimut!"
Apakah Oliver merasa dia kotor?!
Safira tiba-tiba berteriak marah, dan melampiaskan semua amarahnya pada Bibi Lias: "Bibi Lias, apa yang kamu lakukan?"
“Krekk”, pintu kamar sebelah terbuka, langsung memecahkan kebisingan dari tiga orang itu.
Nirmala berjalan keluar kamar sambil menguap. Dia sebenarnya dibangunkan oleh alarm ponsel yang dia setel. Meskipun dia tidak tahu siapa yang membawanya kembali ke kamar, dia harus turun ke dapur untuk melanjutkan masakannya.
"Kalian..."
Nirmala menatap Bibi Lias dan Safira yang sedang bertengkar dengan mata kantuk.
Saat Safira ingin membuka mulut untuk melampiaskan amarahnya kepada Nirmala, Oliver berkata terlebih dulu, “Cepat masuk tidur!”
Nirmala tidak melihat Oliver di luar, tapi suaranya terdengar tidak sabar.
Safira yang baru saja memasang wajah mengerikan, langsung tersenyum sambil merapikan rambut, lalu tanpa basa-basi memerintah: "Bibi Lias, kami baru saja mengotori sprei, cepat ambilkan satu set baru."
"Ya!" Bibi Lias mengangguk, dan menjawab dengan tidak senang.
Safira kembali ke kamar Oliver dengan penuh kemenangan. Siapa tahu bahwa Oliver langsung mengambil sprei dan menggulungnya menjadi mumi, lalu mendorongnya masuk ke sebuah ruangan kecil terpisah di dalam kamar.
“Karena kamu suka cari masalah, mulai malam ini, kamu tidur di ruangan kecil ini saja.” Oliver melototi Safira, dan langsung mengunci ruangan kecil itu.
Safira butuh waktu yang cukup lama untuk kembali sadar, dia memutar tubuhnya, dan keluar dari seprai, berjongkok, lalu memukul pintu dengan kuat: "Oliver, apa maksudmu? Cepat keluarkan aku!"
Insulasi suara ruangan sangat bagus, meskipun Safira berteriak-teriak, orang di luar tidak dapat mendengarnya.
Bibi Lias mengganti seprai dan selimut Oliver, lalu keluar dari kamar tanpa bertanya apapun.
Safira sendirian di ruangan kecil itu dengan kesal, barusan Oliver sengaja berakting di depan Nirmala lagi.
Apakah dia begitu takut Nirmala tahu apa yang dia inginkan?
Karena begitu, dia akan pergi memberitahu Nirmala bahwa Oliver sangat menginginkannya! Tapi, hanya sekejap, Safira merasa itu bukan ide yang bagus.
Nirmala sudah salah mengira bahwa Oliver mencintai dia. Jika dia pergi memberitahu bahwa Oliver mencintai Nirmala, bukankah itu hal yang bodoh?!
Sekarang statusnya adalah calon menantu keluarga Pamungkas, dan kedua orangtua itu juga suka padanya, jadi apa yang perlu dikhawatirkan?
__ADS_1
Daripada melawan Oliver, lebih baik mencocokkan Nirmala dan Liam, biarkan Nirmala segera memiliki anak Liam, dengan begitu baru benar-benar bisa membuat Oliver melupakan Nirmala!
Safira tidak lagi teriak-teriak setelah mendapatkan ide ini.
Keesokan harinya.
Nirmala meletakkan "Oseng Mercon" diatas meja.
Oliver adalah orang yang bangun paling pagi di rumah ini setiap hari, dia berganti pakaian dan turun, langkahnya sangat ringan.
Nirmala sedang berkonsentrasi menyiapkan piring makan. Dan tanpa sapar, Oliver sudah berjalan di belakangnya.
"Apa ini?"
Suara Oliver yang tiba-tiba datang dari belakang, mengejutkan Nirmala.
“Kak!” Nirmala memegang piring makan di tangan, dan kemudian menyapa, “Selamat pagi.”
“Selamat pagi, apa yang kamu masak, beri aku sepiring.” Oliver menarik kursi dan duduk di meja makan.
Nirmala segera mengisi piring Oliver, "Ini oseng mercon, dokter Wilson ingin makan."
“Kamu bisa buat?” Oliver mengangkat mata dan melirik Nirmala.
Nirmala duduk di seberang Oliver dan berkata sambil tersenyum, "Ketika kecil, aku pernah melihat Nenekku membuatnya, rasanya lebih enak dari yang aku buat!"
“Ketika kamu masih kecil, nenek yang membesarkanmu?” Oliver bertanya dengan santai.
Ketika mengungkit Neneknya, Nirmala memiliki kenangan indah yang tak ada habisnya, "Ketika aku masih kecil, aku tinggal bersama nenek di kaki gunung. Ada lahan pertanian, pohon buah-buahan, dan kebun sayur. Aku juga memelihara anak kucing, anjing dan dua ekor domba. Setiap kali naik gunung, selain mengajakku mencari tumbuhan herbal, nenek juga membawa busur dan anak panah, dia sering berburu binatang, kelinci, burung, ikan, udang, kepiting, dan banyak lagi. Nenek selalu membuat makanan lezat untukku. Aku yang bertugas menyalakan api, nenek yang memasak, lalu kami makan bersama, rasanya..."
Itu adalah saat paling bahagia dan tak terlupakan ketika dia masih kecil, tetapi Nirmala selalu merasa bahwa masih ada seseorang yang hilang dalam ingatannya. Seseorang yang pernah muncul di masa terindahnya, tetapi dia sepertinya telah melupakan orang itu.
Namun, saat dia berbicara, suaranya perlahan menghilang. Karena, dia menemukan bahwa Oliver hanya fokus makan sarapan sendiri, seolah-olah tidak mau mendengar cerita tentang masa kecilnya.
Tiba-tiba, suasana sekitar menjadi sunyi.
“Kok tidak lanjut?” Oliver mengangkat mata dan melirik Nirmala.
Nirmala tersenyum canggung: "Aku, aku sudah selesai cerita."
“Sangat menarik.” Oliver menjawab dengan dingin.
__ADS_1