Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Perpisahan Singkat Menambah Kerinduan


__ADS_3

Nirmala menggelengkan kepala, dan menjawab dengan sangat serius: "Istri sih tidak ada, tapi punya tunangan, mereka tidur di satu kamar. Kakakku sangat mencintainya, apa yang dia inginkan pasti Kakakku berikan. Dia juga sering pamer kalau dia wanita yang paling bahagia di dunia ini!"


“Oh begitu!” Jesika tampak cemberut.


Nirmala kembali duduk tegak dan berhenti mengobrol dengan Jesika. Dia memeriksa dokumen di tangan, lalu menginputnya ke komputer.


Jesika kembali ke mejanya dengan suasana hati buruk, dan mengetik dengan tidak fokus.


Dibandingkan dengan gosip-gosip yang membosankan, Nirmala lebih suka menghabiskan waktu untuk mengerjakan desain.


Dan gosip-gosip tentang Oliver, akhirnya menjadi jelas karena kata-kata Nirmala.


Nirmala tahu bahwa Jesika pasti akan menyebarkan apa yang dia katakan. Ternyata benar, para karyawan wanita di perusahaan tidak lagi membicarakan gosip tentang Oliver.


Selain itu, tidak ada lagi karyawan wanita yang memintanya memberikan hadiah kepada Oliver.


Nirmala tidak mengerti bagaimana perasaan ‘mencintai tapi tidak bisa mendapatkan’, jadi dia tidak bisa memahami perasaan wanita-wanita yang hadiahnya ditolak itu.


Namun, dia merasa bahwa "pengkhianatan cinta" lebih tragis daripada "mencintai tapi tidak bisa mendapatkan"!


Dia telah dikhianati sekali, jadi dia tidak ingin dikhianati kedua kalinya.


Dia percaya Liam tidak akan mengkhianatinya!


Saat makan siang, Nirmala meminta pengalaman dari rekan kerja wanita lainnya bagaimana cara mempererat hubungan suami istri..


Melihat Nirmala begitu peduli dengan hubungan pernikahan, Jesika berkata, "Pernikahan itu seperti cinta. Terkadang, semakin kamu menggenggamnya dengan erat, ia semakin menjauh darimu."


"Jika aku tidak menggenggamnya dengan erat, aku selalu merasa ia akan semakin menjauh dariku..." Nirmala tidak bisa menahan diri dan menghela napas.


“Apakah pacarmu sedang di luar kota?” Jesika lanjut bertanya.


Nirmala mengangguk dengan lemah.


Jesika tersenyum: "Jika kamu benar-benar rindu pacarmu, kamu boleh meminta cuti dan pergi mencarinya!"


“Mencarinya?!” Nirmala terkejut.


Jesika tersenyum dan melanjutkan: "Bagimu, cinta lebih penting daripada pekerjaan, kan? Beli tiket saja, lalu pergi mencarinya, sudah begitu lama tidak bertemu, dia pasti juga merindukanmu, siapa tahu perjalanan kerjanya akan menjadi honeymoon kalian berdua yang romantis."


“Benar juga, kok aku tidak memikirkan ide ini?” Nirmala segera bertepuk tangan.


Jesika menatap wajah polos Nirmala dengan senyum tulusnya.


Sudah lama Jesika tidak pernah bertemu dengan wanita yang memiliki cinta yang begitu polos seperti Nirmala.

__ADS_1


Sebenarnya, dia ingin sekali menertawakan sikap Nirmala terhadap cinta, tapi dia menyadari dirinya tidak punya hak untuk menertawakannya.


Setelah makan siang, dia mulai mengejar pekerjaan desain.


Karena, setelah menyelesaikan semua pekerjaan di tangan, dia baru bisa pergi mencari Liam dengan tenang.


Pukul 17.00, semua orang sudah pulang kerja, hanya tersisa Nirmala di kantor. Sebelum pulang, Jesika menasehati untuk tidak bekerja terlalu larut.


Nirmala tersenyum dan mengangguk, kemudian lanjut mengerjakan desainnya dengan fokus.


Meskipun dia ingin segera menyelesaikan gambar desainnya, tapi dia tetap mendesain dengan serius dan penuh tanggung jawab.


Sampai pukul 18.00, Nirmala masih belum keluar dari gerbang, Oliver yang menunggu di bawah, keluar dari mobil dan kembali masuk ke gedung.


Melihat Oliver masuk ke gedung, kedua sekuriti mengira bahwa Bos mereka melakukan pemeriksaan mendadak. Keduanya tidak berani mengabaikan, dan segera menyambutnya.


Oliver langsung pergi ke departemen desain. Melalui partisi kaca, dia melihat Nirmala sedang sibuk mengerjakan desain.


Semua orang sudah pulang, kenapa dia masih sibuk?


Oliver mengerutkan kening, mengeluarkan ponsel dan langsung menelpon Kepala Departemen Desain.


“Kenapa Nirmala lembur sendirian di kantor?” Begitu panggilan tersambung, Oliver langsung bertanya tanpa basa-basi dengan nada dingin.


"Apa? Bagaimana mungkin! Aku tidak mengatur pekerjaan berat untuk Nona Besar! Gambar desain yang dikerjakan Nona Besar saat ini, pemiliknya tidak sedang buru-buru kok. Jadi, sama sekali tidak perlu lembur!" Kepala Departemen Desain berkata dengan panik, takut Oliver salah saham bahwa dia sengaja membully Nirmala.


Nirmala tidak tahu situasi di luar kantor. Setelah menyalakan lampu di meja, dia terus berkonsentrasi pada gambar desainnya.


Tanpa disadari, jam di dinding sudah bergerak dari pukul 18.00 ke pukul 21.00.


Setelah menyelesaikan pekerjaan, dia menghela nafas lega dengan gembira, meregangkan pinggang, membereskan meja, dan bersiap-siap pulang.


Perutnya sudah berjerit-jerit, terutama di suasana sunyi saat ini, selain suara langkah kaki dan nafasnya sendiri, suara yang keluar dari perutnya terdengar mengerikan.


Nirmala mempercepat langkahnya, berjalan ke pintu lift, dan buru-buru menekan tombol.


Pada siang hari, gedung ini seperti mall, tetapi pada malam hari...


Nirmala menelan ludah tanpa sadar, melihat lift tidak bergerak, dia terus menekannya dengan kuat, tetapi masih tidak bergerak naik.


Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki dari belakang...


Dan perlahan mendekatinya "’Tap, tap...".


Di lantai ini, tidak ada siapa-siapa selain dia, dan dia sedang menunggu lift di sini, jadi langkah kaki di belakangnya...

__ADS_1


Nirmala meraih tas tangannya dengan erat, jantungnya berdetak kencang, keringat dingin keluar dari dahinya.


Langkah kaki itu semakin dekat..


Sebuah cahaya putih tiba-tiba mengarah dari belakang Nirmala, menyebabkan bayangannya membesar di dinding.


Nirmala terkejut, dia memeluk tasnya erat-erat dan segera berlari.


Saat dia berlari, suara langkah kaki di belakang juga berlari mengikutinya.


Segera setelah itu, Nirmala mendengar langkah kaki lain lagi.


Karena terlalu panik, dia tidak sengaja menabrak sebuah dinding yang terasa lembut.


Sebuah tangan besar yang hangat menarik lengannya erat-erat.


Lampu di lorong tiba-tiba menyala.


Nirmala mengangkat kepalanya dengan panik, yang ada di depannya adalah wajah tampan Oliver.


“Bapak Direktur, selamat malam!” Terdengar seseorang menyapa dari belakangnya.


Nirmala menoleh ke belakang tanpa sadar, dan melihat seorang pria berseragam sekuriti sedang memegang senter, dan mengangguk hormat kepada Oliver.


Oliver secara refleks memeluk Nirmala, lalu memerintahkan, "Pergi patroli di tempat lain."


"Baik!" Sekuriti membungkuk dan berbalik untuk pergi.


Nirmala tertegun, dan memeluk pinggang Oliver dengan erat, pikirannya masih dalam ketakutan.


Setelah sekuriti pergi, Oliver berkata dengan pelan, "Barusan mati lampu."


Nirmala kembali sadar, dan segera melepaskan pelukannya.


"Kak, kenapa kamu tidak pulang?"


Untuk mengurangi rasa canggung tadi, Nirmala mengalihkan topik pembicaraan.


Oliver mengangkat tangannya untuk melihat waktu di arlojinya, dan menjawab dengan pelan, "Aku sedang lembur."


Sebenarnya, Oliver tidak lembur, dia tidak pulang hanya untuk menunggu Nirmala.


Pada saat ini, perut Nirmala menjerit lagi, membuat suasana kembali terasa canggung.


Oliver berjalan untuk menekan tombol lift, dan Nirmala buru-buru mengikuti.

__ADS_1


Setelah memasuki lift, Nirmala selalu tanpa sadar menjaga jarak dari Oliver.


Nirmala tidak menyadari bahwa Oliver tidak menekan tombol lift turun, melainkan tombol naik.


__ADS_2