
Keesokan harinya.
Pinggiran selatan kota Bandung terkenal dengan villa-villa yang hanya mampu dibeli oleh orang-orang kaya. Di kedua sisi jalan aspal terdapat deretan villa-villa yang indah.
Ketika matahari pagi terbit perlahan, sinar fajar pagi menghiasi atap villa-villa yang berdiri kokoh itu hingga berkilau keemasan.
Safira pernah membeli sebuah villa di area ini, dan sekarang telah selesai direnovasi, tetapi dirinya masih belum kembali dari Korea Selatan.
Di ujung jalan aspal ini adalah sebuah villa pribadi.
Pintu masuk luarnya adalah gerbang besi hitam yang besar. Di kedua sisi pilar gerbang ada pagar besi tinggi yang penuh dengan tanaman merambat mawar berduri. Meski terlihat indah, tetapi kawat anti-pencurian yang tersembunyi di bawah bunga dan daun mawar sangat berbahaya.
Pada saat ini, kedatangan seorang gadis memecah kesunyian di sini.
"Zizi—"
Gadis itu membunyikan tombol interkom video di pilar pintu.
Orang yang menjawab panggilannya adalah seorang wanita paruh baya.
Oliver kembali dari lari pagi dan baru saja mandi. Bibi Lias, pengurus rumah tangga wanita yang berada di luar mengetuk pintu dan berkata, "Tuan, ada seorang gadis bernama Sanny di luar. Dia mengatakan bahwa dirinya pernah diselamatkan oleh Anda, dia datang untuk berterima kasih secara langsung."
Sanny?!
Oliver sedikit mengernyit.
Dia telah menyelamatkan banyak orang, bagaimana mungkin dia bisa mengingat siapa gadis yang bernama "Sanny" ini.
“Aku tidak mengenalnya, suruh saja dia pergi.” Oliver membuka mematikan shower dan memasang handuk mandi di pinggangnya.
Dia membuka pintu kamar mandi dan keluar.
Melihat dia bertelanjang dada, Bibi Lias segera membawakan jubah mandi bersih dan menyerahkan kepadanya.
Sosok Oliver ramping dan tinggi, kulitnya yang berwarna kecoklatan dan penuh dengan bekas luka itu membuat orang yang melihatnya merasa simpati padanya.
__ADS_1
Dia yang lahir di keluarga yang terkemuka malah menggunakan darah dagingnya sendiri untuk melindungi keselamatan orang lain.
Bibi Lias menghela nafas dan terharu.
"Tuan Muda Besar, Anda telah pensiun sekarang. Jika Anda punya waktu, Anda bisa sering kembali ke kota Surabaya untuk menemani Tuan Besar." Bibi Lias mengoceh seperti seorang ibu. “Nyonya juga selalu berharap agar Anda dapat kembali dengan selamat."
"Aku tahu, Bi Lias."
Ada V cut yang seksi di sisi otot perutnya, sebuah handuk mandi yang dililit longgar di pinggangnya memperlihatkan garis-garis otot yang samar dan membuat Bibi Lias yang sudah berumur kembali merasakan perasaan di waktu muda.
Bibi Lias tampak sedikit malu, dan dengan cepat berbalik dan meninggalkan kamar Oliver.
Setelah sarapan, Oliver keluar dengan berpakaian lengkap. Tepat sebelum dia masuk ke mobil, Bibi Lias mengejarnya dan menyerahkan tas kerjanya.
Seorang prajurit sepertinya yang telah terbiasa menyentuh senjata sepanjang tahun, benar-benar tidak bisa beradaptasi dengan rutinitas harian untuk "melapor" ke perusahaan tepat waktu dengan tas kantor setiap hari.
Oliver masuk ke mobil mewah pribadinya dan duduk di kursi belakang pengemudi. Dia hanya ingin memejamkan mata dan mengistirahatkan pikirannya. Injakan rem dari sopir yang mendadak membuat seluruh tubuhnya mencondong ke depan dan kepalanya menghantam bagian belakang dari kursi depan.
“Apa yang terjadi?” Oliver sedikit mengernyit dan bertanya dengan wajah serius.
Sang sopir, Martin, menjawab dengan tatapan bersalah: "Maaf, Tuan Muda Besar. Mobil kita dihentikan oleh seorang gadis!"
Ketika Martin sedang berbicara, jendela di sebelah Oliver diketuk dari luar.
Oliver menoleh.
Oliver melihat seorang gadis jangkung yang ramping berdiri di luar jendela mobil, dia mengenakan kemeja putih, rok kotak-kotak biru tua, dan tas sekolah di punggungnya yang tampak kelihatan besar.
Dengan rambut kuncir kuda yang rapi, alis indah, mata yang bersih, hidung kecil, dan mulut ceri, membuat wajah kecilnya tampak energik.
Oliver tidak ingin memperhatikannya, tetapi ketika dia mengangkat tangannya dan menggoyangkan gelang tangan hitam di depan matanya, Oliver terkejut dan dengan cepat menekan tombol di pintu mobil untuk membuka jendela mobil.
"Penyelamatku, aku tahu kamu tidak ingin melihatku. Namun, aku ingin mengembalikan barang penting yang kamu tinggalkan saat menyelamatkanku. Aku sengaja mencari pengrajin yang terampil dan memintanya untuk merajut kembali gelang tangan ini. Dan, meminta pengrajin itu untuk menambahkan benang emas di dalamnya agar jadi kuat dan tidak mudah putus! Jadi, aku berharap kamu dan pasanganmu bisa hidup bahagia dan panjang umur!" Sanny membungkuk sedikit dan mengulurkan tangannya ke dalam mobil.
Oliver merasa senang dan lega ketika melihat gelang tangan dari rambut yang diberikan oleh gadis itu.
__ADS_1
Ini adalah rambut "Safira" yang dibuatnya menjadi gelang tangan saat perjalanan dalam menyelamatkan sandera, dan putus saat menyelamatkan dirinya dan gadis itu di saat genting.
Jadi……
Gadis ini adalah gadis yang dia selamatkan hari itu?!
Setelah mengambil gelang tangan itu, Oliver membuka pintu mobil dan beranjak dari tempat duduknya, dia berkata dengan dingin, "Masuklah! Martin, antar anak ini ke SMP Santa dulu."
“Baik Tuan!” Martin menjawab dengan hormat.
“Kalau begitu, terima kasih banyak!” Sanny tersenyum bahagia, dia segera masuk ke mobil, memandang Oliver, dan bertanya dengan rasa ingin tahu, “Bagaimana kamu tahu aku sekolah di SMP Santa? Aku kan tidak memakai kartu pelajar di bajuku."
“Aku dulu sekolah di SMA Santa.” Oliver menjawab dengan datar setelah duduk di kursi co-driver.
Dia memberikan kursi duduk paling aman yang ada di barisan belakang kepada gadis itu.
Sanny sangat puas dan berkata dengan sopan, "Terima kasih."
Oliver tidak menatapnya lagi, tetapi fokus pada gelang tangan yang ada di tangannya, dan bertanya dengan sedikit linglung: "Bagaimana kamu bisa tahu?"
Pada hari dia menyelamatkan sandera, wajahnya diolesi cat berwarna.
Bahkan jika para anggota keluarga sandera yang diselamatkan ingin berterima kasih padanya, mereka hanya bisa pergi mencari atasannya untuk memberikan spanduk sebagai tanda ucapan terima kasih, mereka sama sekali tidak boleh menjenguknya di rumah sakit, agar wajah aslinya tidak terbongkar.
Sanny menyeringai: "Bibiku adalah dokter yang merawatmu. Aku memintanya untuk memberitahuku. Terus untuk alamat rumahmu! Hehe-aku membayar seseorang untuk mencarinya!"
"Yang pasti, aku ingin berterima kasih karena kamu karena telah membantuku menemukan dan merajut kembali gelang tangan ini. Mulai sekarang, aku harap kamu bisa merahasiakan tentang identitasku." Oliver sedikit mengernyit dan memasukkan gelang tangan itu ke dalam saku jas di depan dadanya.
Sanny sangat patuh, dia lalu mengangguk kuat: "Penyelamatku, jangan khawatir! Aku tidak akan mengkhianatimu! Jika bukan karenamu, aku bahkan mungkin tidak sempat mengikuti ujian untuk masuk perguruan tinggi tahun ini!"
"..." Oliver tidak lagi berbicara dengannya.
Gadis ini benar-benar bacar (banyak bicara).
Selalu saja ada topik yang bisa dibicarakan!
__ADS_1