
Nirmala tidak bersuara untuk waktu yang lama, lalu berkata dengan sedih, “Aku dan Hendra adalah teman SMA, lalu kami berpacaran, tapi dia berselingkuh dengan Rosa. Daniel membongkar perselingkuhan mereka, aku pun putus dengan Hendra. Baru-baru ini, aku baru tahu dari ayahnya Daniel kalau dia diam-diam menyukaiku. Aku hanya merasa Daniel adalah pria yang baik, dia tidak seharusnya ....”
Nirmala tidak bisa menahan kesedihan, dia berhenti berkata dan menolehkan kepalanya ke arah jendela.
Oliver mendengarkan dengan sabar, mengerutkan kening sambil berpikir.
Keduanya pun terdiam sesaat, lalu Oliver lanjut berkata, “Aku sudah meminta polisi untuk memeriksa ulang kasus kematian Daniel, jadi sebelum hasil pemeriksaan keluar, aku berharap kamu jangan bertindak sembarangan lagi!”
“Kak, kamu percaya padaku, bukan? Kematian Daniel memiliki alasan lain! Berarti Kakak bersedia membantuku, bukan?” Nirmala mengangangkat alisnya dengan gembira.
Oliver mengangkat tangannya dan mencubit dagu Nirmala dengan penuh kasih sayang, lalu menggosok hidungnya, “Dasar gadis bodoh, aku selalu mempercayaimu kok!”
Nirmala tiba-tiba terkejut, dan dia sekali lagi menggeser tubuhnya untuk menjaga jarak dengan Oliver.
Perkataan Oliver membuat dia teringat akan Liam.
Liam suka mengatakan bahwa dia adalah “gadis bodoh”.
Nirmala menatap keluar jendela dengan perasaan campur aduk.
Oliver juga menyadari kesalahannya, dia menyandarkan satu tangannya di pintu mobil, tangan lainnya menopang di pipi, dan melihat ke sisi lain.
__ADS_1
Hubungan mereka berdua adalah ‘Kakak dan adik ipar’, hubungan ini membuat Oliver harus menjaga jarak dengan Nirmala.
Mobil melaju dengan cepat, hari pun mulai gelap, dia harus membawa Nirmala kembali ke Bandung.
Tadi malam Nirmala tidak terlalu tidur, pagi hari masih harus sibuk dengan rencananya, dia pun tertidur di mobil.
Nirmala sulit dibangunkan kalau sudah tidur karena kecapekan.
Oliver membiarkan sopir membawa mobil ke kediamannya. Setelah tiba, dia mengangkat Nirmala dari dalam mobil.
Cinta dan perlindungan yang ditunjukkan Oliver terhadap Nirmala diketahui sepenuhnya oleh Wilson.
Wilson tidak berencana untuk mengetahui masalah Nirmala, dia hanya bersandar di dinding dengan tangan terlipat, dan membicarakan hal penting, “Orang yang meracik obat sudah mengakui kalau gurunya adalah Risma.”
“Maksudmu, ibunya Liam mungkin adalah mata-mata?” Oliver mengernyit.
Wilson menganggukkan kepala, lalu melanjutkan, “Pemeriksaan kita terlalu heboh, apakah kita perlu membuat kedok baru untuk menutupinya?”
“Mulai rencana kedua!” Oliver menyetujui.
Wilson memegang dagunya, berkata sambil berpikir, “Orang yang meracik obat di Klub Cinta itu sebenarnya adalah seorang master santet, tapi dia hanya bisa membuat dua macam obat, yang satu adalah obat perangsang dan yang satu lagi adalah obat pengendali. Apakah kamu merasa mereka sesederhana itu?”
__ADS_1
“Untuk masalah ini, biar mereka yang memeriksa dan kamu yang mengontrol. Belakangan ini aku agak sibuk dengan urusan di perusahaan.” Olive memijat keningnya.
Wilson tahu bahwa tekanan kerja Oliver sangat tinggi, dia juga tidak bahagia dalam masalah cinta.
“Kalau begitu, kamu istirahat lebih awal saja!” Wilson menepuk bahu Oliver dan merasa kasihan padanya.
“Kamu juga!” Oliver mengangguk, menatap Wilson dan tersenyum lega.
Oliver merasa beruntung karena memiliki sahabat baik seperti Wilson. Mungkin memang benar, latar belakang seseorang yang akan menentukan jalan kehidupan mereka selanjutnya, dan bertemu dengan orang yang seperti apa di masa depan.
Dulu, Liam dikhianati oleh teman baiknya dan berhutang di mana-mana, sekarang dia harus bekerja keras dan masih harus bermain trik dengan seorang wanita, sejak saat itu dia tidak lagi mempercayai siapa pun.
Yanti merasa jarak di antara dia dan Liam semakin jauh, dia tidak pernah mencari kesalahan pada diri sendiri, tapi sepenuhnya melemparkan kesalahan pada Nirmala.
Jika Liam menemukan Nirmala melakukan perselingkuhan, Liam pasti akan kecewa pada Nirmala. Yanti mengambil kesempatan di saat Liam sedang sibuk untuk pulang kembali ke Bandung dan memulai rencananya.
Yanti memberikan informasi tentang Nirmala kepada kakaknya, Yanto.
“Kak, bukankah kamu paling pandai bermain wanita? Aku ingin kamu membantuku bermain dengan wanita ini!” Yanti menunjukkan foto Nirmala pada Yanto.
Yanto berbaring di sofa sambil merokok, tangannya memegang ponsel dan sedang mengobrol dengan seorang wanita.
__ADS_1