Pria Yang Merenggut Mahkotaku

Pria Yang Merenggut Mahkotaku
Tidak Mengerti Pria Ini


__ADS_3

“Kamu pulang dulu! Aku ingin berduaan dengan Yolanda sebentar!” Bos Kesepuluh memerintahkan dengan pelan.


Nirmala melirik Bos Kesepuluh, sedikit membungkuk, lalu berbalik dan pergi.


Pria itu, mengenakan setelan hitam, berdiri di depan batu nisan dengan sedih.


Nirmala bertanya-tanya di dalam hati, Bos Kesepuluh begitu mencintai mendiang istrinya, tapi kenapa dia masih menjadikan Sanny sebagai wanita simpanan?


Tidak, dia seharusnya tidak berpikir demikian. Mungkin, Bos Kesepuluh benar-benar sangat menyukai Sanny. Meskipun Sanny terlihat lugas, tapi dia memiliki hati yang baik, kan?


Setidaknya, Sanny tahu membalas budi.


Nirmala tidak mengerti pria ini, dan juga tidak ingin mengerti lebih banyak, dia lebih peduli apakah pria ini memperlakukan Sanny dengan baik.


Semoga Bos Kesepuluh benar-benar mencintai Sanny, dan memiliki masa depan yang cerah bersamanya.


Setelah pulang dari kediaman keluarga Pamungkas di Surabaya, Liam mulai sibuk kerja setiap hari, meninggalkan Nirmala sendirian di rumah.


Sebagai arsitek dalam negeri yang terkenal, semua hal harus dikerjakan sendiri.


Nirmala sudah terbiasa sendirian di rumah, dia tahu Liam memiliki banyak pekerjaan di kantor.


Setelah menikah, Nirmala masih merasa kesepiaan.


Liam sibuk dengan pekerjaan, jadi Nirmala hanya bisa melakukan semua hal sendirian.


Dia makan sendiri, tidur sendiri, melihat drama sendiri, dan pergi belanja sendirian...


Segala hal harus dihadapi sendirian, Nirmala sering bertanya-tanya: Untuk apa Liam menikahinya?


Selain bersimpati padanya, apakah dia pernah mencintainya?


Mungkin……


Dia tidak mencintainya!


Karena Liam tidak pernah mengucapkan kata "cinta" padanya.


Baik saat melamar ataupun menikah, bahkan selama masa pernikahan ini, Nirmala belum pernah mendengar Liam mengatakan bahwa dia mencintainya.


Ketika Nirmala memikirkan hal ini, dia menyadari bahwa hatinya terasa sakit.


Pada hari ini, ketika Nirmala masih merasa bosan, telepon dari Liam segera membuatnya bersemangat.


"Nirmala, bantu aku ambilkan flashdisk biru di ruang kerja." Di telepon, Liam berkata dengan buru-buru.


Saat menjawab telepon, Nirmala berjalan menuju ruang kerja. Di meja komputer, dia menemukan flashdisk biru yang dikatakan oleh Liam.

__ADS_1


"Yah, aku menemukannya!"


“Nirmala, bisa bawakan kesini sekarang, aku buru-buru mau pakai,” Liam berkata dengan gembira.


Nirmala mengangguk, dan bertanya: "Iya! Antar kemana?"


"Kantorku di Royal Mars, serahkan pada Lukas," Liam berbicara dengan buru-buru.


"Kantormu..." Di mana itu?


"bip--"


Baru saja ingin bertanya, Liam langsung menutup telepon.


Sepertinya……


Selalu saja Liam yang menutup telepon duluan...


Lupakan saja, pergi ke Royal Mars dulu dan tanyakan nanti!


Nirmala mencabut flashdisk biru dari komputer, lalu mengambil kunci dan ponsel, mengganti sepatu, dan langsung keluar.


Sebelumnya, dia dipecat dari Royal Mars. Dan sekarang, dia harus kembali ke sana lagi.


Nirmala mengambil ponselnya dan menelepon Liam lagi, tapi tidak dijawab.


Liam tidak pernah membicarakan masalah pekerjaannya dengan Nirmala, dan Nirmala juga tidak pernah menanyakannya.


Nirmala hanya tahu bahwa Liam sangat sibuk dan sering mengadakan rapat.


Dalam keputusasaan, Nirmala hanya bisa bertanya pada security.


Security itu masih ingat pada Nirmala. Sebelumnya, dia bekerja di departemen desain.


Setelah mengetahui bahwa Nirmala bertanya tentang Liam, security itu langsung memberitahunya dengan ramah.


Jika bukan karena si security mengatakan bahwa kantor Liam adalah kantor manajer umum di lantai atas, Nirmala masih tidak tahu bahwa Liam adalah manajer umum Royal Mars.


Dia selalu berpikir bahwa Liam hanyalah seorang desainer biasa.


Nirmala menepuk dahinya, lalu masuk ke lift sendirian dan menekan nomor lantai paling atas.


Ketika lift tiba, sudut mulut Nirmala sedikit terangkat karena menantikan akan segera bertemu Liam, dan ternyata begitu keluar dari lift, dia benar-benar langsung bertemu Liam.


“Liam, aku sudah membawakan flashdisknya!” Ketika Nirmala melihat Liam, matanya bersinar bagaikan bintang, dan menyambutnya dengan sangat gembira.


"Ini?" Seseorang bertanya.

__ADS_1


Baru pada saat itulah Nirmala memperhatikan bahwa ada seorang pria paruh baya berdiri di samping Liam.


"Dia sepupuku, datang liburan ke sini. Flashdisk-ku ketinggalan di rumah, jadi aku minta dia mengantarnya. "Liam menjelaskan dengan sopan.


Pada saat ini, Nirmala langsung tercengang.


Sepupu?! Sepertinya, adegan ini pernah dialaminya.


Yah! Pada saat itu bersama pacar lamanya, Hendra...


Sekarang, Liam, seperti Hendra, juga menggunakan nama “sepupu” untuk memperkenalkan dirinya kepada orang luar.


Sebuah firasat tidak baik langsung muncul di hati.


Lukas di belakang Liam yang melihat adegan ini segera menyapa Nirmala.


“Sepupu, berikan padaku flashdisk Bapak Manajer padaku!” Lukas mendekati Nirmala, mengulurkan tangannya, dan berkata sambil tersenyum.


Liam benar-benar mengabaikan Nirmala, dan menyapa pria paruh baya itu sambil tersenyum: "Bapak Direktur, mari sebelah sini."


“Baik!” Pria paruh baya itu tidak merasa curiga pada Nirmala, hanya mengikuti Liam dan berjalan ke lift.


Saat Liam berjalan melewati Nirmala, hatinya bergejolak.


Baru setelah pintu lift tertutup, Nirmala kembali sadar dan menyerahkan flashdisk kepada Lukas.


Melihat wajah sedih Nirmala, Lukas menjelaskan: "Orang-orang luar tidak tahu bahwa Bapak Manajer sudah menikah, jadi beliau hanya bisa berkata demikian."


“Yah, aku mengerti!” Nirmala memaksakan senyum.


“Kalau begitu aku sibuk dulu.” Lukas mengangguk, dan pergi meninggalkan Nirmala.


Sebenarnya, Bapak Direktur barusan adalah ayah Yanti.


Meskipun Yanti tahu Liam telah menikah, tapi ayahnya tidak tahu, dan Yanti juga tidak berniat memberitahu ayahnya.


Lukas tahu segalanya, tapi dia tidak memberitahu Nirmala.


Nirmala tahu dengan jelas, barusan Liam sengaja menyanjung Bapak Direktur itu.


Tidak tahu mengapa, Nirmala merasa Liam semakin jauh darinya.


Ketika turun dari lift dengan sedih, Nirmala bertemu dengan Lili.


Saat Lili melihat Nirmala, dia sedikit terkejut, dan kemudian berdiri di samping Nirmala dengan ekspresi bersalah.


Meskipun dia dipecat oleh Lili sebelumnya, tapi Lili adalah mantan bosnya, jadi Nirmala tetap menyapanya dengan sopan: "Halo Bu Lili!"

__ADS_1


Lili menoleh dan tersenyum lembut pada Nirmala. Dia tiba-tiba memikirkan sesuatu dan meraih tangan Nirmala, lalu berkata: “Nirmala! Kejadian saat itu, perusahaan telah memberi hukuman dan memecat Siti. Dan, gambar desain sebelumnya tetap memakai namamu. Tapi, meskipun sekarang dekorasinya sudah selesai, Direktur di sana masih ingin mengetahui konsep dari desain kantornya, jadi apakah kamu bisa...”


__ADS_2