
-o0o-
Author PoV
Sesampainya di restoran yang terletak di samping gedung, tiga isan tersebut mendudukan diri meja VVIP lantai 2.
Logan mendudukan Risa di pangkuannya sedangkan Esmeralda berada di seberang. Para pelayan baru saja mengantarkan pesanan mereka membuat Risa berbinar melihat berbagai macam hidangan tersaji di depannya.
Logan yang melihat tingkah sang adik tersenyum kemudian meraih semangkuk sup daging sapi, mengambil sendok dan menyuapi bocah imut tersebut.
“Hmm enak”. Balasnya menangkup wajah dengan kedua tangannya.
Logan menoleh ke depan dimana seorang wanita menatap tajam.
“Tidak makan?”. Tanya nya membuat gadis itu terlonjak dan salah tingkah.
“T, tidak. Makanannya terlihat lezat”. Ucapnya seraya memakan daging pesanan nya.
Logan mengangguk kembali menyuapi sang adik. Walaupun sesekali ia menyadari jika Risa memandang tunangannya dengan tatapan kesal.
‘Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka berdua '. Batin Logan
“Tuan muda jangan lupa untuk acara cari cincin dan baju kita jam 2 siang, sebaiknya kita antar tuan putri pulang dulu takutnya ia bisa kelelahan”.
Logan menghentikan kegiatannya kemudian menatap Esmeralda yang tersenyum manis, tak lama ia mengalihkan pandangan pada Risa.
Mata Risa menyipit kesal sedetik kemudian berpuat posisi memeluk leher Logan manja.
“Risa mau bermain sama kakak, ayo kita main”.
“Risa sayang kami harus pergi ke suatu tempat, pulanglah bersama Irene”. Ucap Esmeralda membuat Risa menoleh kesal.
“Kakak kalau mau pergi sama dia silahkan, tapi kita tidak akan berteman lagi”. Dengus Risa kemudian turun dari pangkuan Logan.
Melangkah pergi setelah menghadiahi tatapan tajam pada Esmeralda.
Risa membuang nafas berat ketika kakinya melangkah keluar restoran. Berdebat dengan gadis itu berhasil menghabiskan tenaganya, alhasil ia memutuskan untuk pergi namun baru beberapa langkah tubuhnya melayang ke udara.
__ADS_1
“Kyaaaa”.
“Mau kemana hm?”. Ternyata si pelaku adalah Logan.
Risa membuang muka dengan tangan di lipat didada.
“Jangan marah, kita kembali ke kantor ya. Temani kakak bekerja”.
“Ngak mau, kakak pergi saja sana sama tunangan kakak”.
“Jika konsekuensinya menjauh dari adik kesayanganku lebih baik ku tinggalkan semuanya”.
Cup~
Risa tersenyum penuh kemenangan sedetik kemudian mengecup pipi Logan.
“Apa kakak sayang pada Risa?”.
“Tidak”. Risa merengut seketika.
“Aku sangat menyayangimu, akan ku lakukan apapun untuk bidadari kesayanganku”.
“as u wish, my little bee”.
Tanpa mereka sadari sejak tadi sepasang mata memandang marah dengan gigir bergetar. Kedua tangannya mengepal erat membuat buku kuku nya memutih.
“Dasar bocah penganggu, kita lihat saja sampai kapan kau bisa berkuasa seperti itu. Semua akan berakhir sebelum kau sempat menyadarinya”.
-o0o-
Ke-esokan harinya Risa memutuskan untuk singgah ke perpustakaan terbesar di kota. Kali ini tidak ada Irene di sisinya hanya ada Steve, mereka mengelilingi tiap rak buku mencari-cari buku.
“Hmm Abelia bilang aku bisa menemukan buku itu disini, tapi dimana”. Gumam Risa lalu beranjak ke lantai 2.
Mata biru safir nan indah tersebut sibuk membaca tiap judul buku sesekali bibir mungilnya bergumam kesal karna lagi-lagi tidak menemukan buku tujuannya.
Risa membuang nafas kasar menududukan diri di lantai. Kepalanya mendongak ke atas dan bingo.
__ADS_1
Secara tidak sengaja ia menemukan buku tersebut di rak paling atas.
“Itu dia”. Gumamnya senang namun ia tidak bisa menemukan keberadaan Steven, mungkin pria itu sibuk mencari buku untuknya di rak seberang.
“Bagaimana cara mengambilnya?”.
Bocah kecil tersebut melompat tinggi namun jarak lompatan nya tidak lebih dari dua rak buku. Alhasil ide gila dilakukannya adalah memanjat. Secara pelan kakinya menaiki rak buku tersebut, beruntung tubuh nya sangat ringan meminimalisir kemungkinan kayu akan patah.
“Sedikit lagi”. Tangan mungil itu mencoba untuk meraih benda segi empat tersebut sepelan mungkin namun sialnya kaki kanan nya menginjak buku bukan rak menyebabkan keseimbangan tubuhnya goyah.
Risa terbelalak melihat tangannya berpegangan pada beberapa buku terlepas.
“Kyaaaaa”.
Bruk!!
“Awww”. Ringisnya namun belum sempat ia bernafas lega setumpuk buku tebal melayang jatuh ke arah nya. Sontak saja Risa memejamkan mata bersiap merasakan sakit yang akan datang sebentar lagi.
Suara buku berjatuhan mulai terdengar namun anehnya ia tidak merasakan apapun. Perlahan tapi pasti Risa membuka mata sedetik kemudian jantungnya berdebar kencang.
“K, Kau”. Gumamnya tidak percaya.
“Apa kau terluka?”. Suara bass itu masuk ke gendang telinga Risa dengan sempurna menambah kadar debaran gadis tersebut.
Claude bernafas lega karna tidak menemukan luka apapun dari gadis tersebut kemudian meraih tangan mungil Risa mencoba membantunya berdiri. Memperbaiki letak gaun tersebut sesekali menepuknya pelan menghilang debu yang meletakat disana.
Pria itu tidak menyadari jika saat ini gadis di depannya bersemu bak kepiting rebus siap santap.
“Ayo”. Claude menggandeng Risa dan membawanya ke salah satu bangku.
“Nona muda apa kau baik-baik saja?”. Seru sebuah suara ketika Claude mendudukan Risa ke atas meja baca.
“Aku baik-baik saja Stev”.
“Maafkan aku karna gagal melindungimu nona, aku pantas di hukum”. Tegasnya membungkuk 90º.
“Sudahlah Stev, aku baik-baik saja. Tuan Claude menyelamatkanku”. Ujar Risa merasa tidak enak, sejujurnya ia masih belum terbiasa dengan perlakuan hormat seperti itu.
__ADS_1
Risa memandang Claude yang sibuk memasang dengan ponsel di tangan nya. Jari-jari panjang itu mengetik cepat sebelum memasukan kembali ke dalam saku jas nya.
“T, Terima kasih telah menyelamatkanku”.