
-o0o-
Sesuai rencana sepulang sekolah kami sudah berada di took roti tempat Clara bekerja. Suasana tampak ramai dari biasanya.
Sebenarnya aku sudah sering menemani Clara bekerja sampai jam 5 sore, posisiku berada di bangku taman depan toko terdapat satu pohon rindang jadi cahaya matahari tidak akan menghanguskan kulit putihku. Jika tidak bisa-bisa Irene memarahiku selama satu jam lebih.
“Makan siang datang nona muda”.
“Terima kasih tuan putri, seperti biasa kau baik sekali”.
“Suatu kehormatan bagiku nona muda”.
Aku terkekeh sembari memukul pelan pundaknya.
“Bekerjalah dengan giat demi sesuap nasi untuk anak-anakmu”.
Clara seketika berdiri tegap memasang posisi siap.
“Siap laksanakan”. Sedetik kemudian terkekeh ria dan berlari kecil kembali ke toko.
Drrttt….. Drrttt….
“Halo?”.
“Dimana putri manja ku berada?”.
“Mama berhenti memanggilku manja, aku di toko roti”.
“Menamani Clara lagi?”.
“Iya, ada apa mama menelfon?”.
“Cuma mengingatkan jika nanti malam kita harus berkunjung ke rumah Nicky, bukankah sepupumu Viona berulang tahun”.
“Baiklah, aku akan pulang secepatnya”.
Ku buang nafas berat setelah mematikan sambungan telfon tersebut.
Nicky adalah adik kembar papa dan selama ini tinggal di luar negri bersama keluarga kecilnya. Istrinya seorang penyanyi terkenal dan satu-satunya buah hati mereka yaitu Viona.
Sialnya Viona terlahir manja dan sombong, ia bahkan sengaja pindah ke sekolah yang sama dengan ku dan berhasil menjadi ketua cheerleader yang otomatis malam pesta akan penuh dengan teman-temannya.
Memikirkan saja sudah membuatku muak apalagi harus datang, tak adakah hal yang lebih buruk dari ini.
Tentunya hubungan kami sama sekali tidak baik-baik saja, kenapa? Karna nenek lampir itu menyukai Claude tunanganku catat tunanganku.
Hanya karna baru pertama kali bertemu saat perayaan hari jadi papa dan mama, ia langsung menempel pada Claude walaupun sering kali mendapatkan penolakan darinya namun yang namanya keras kepala ya tetap seperti itu.
Hahhh amat sangat menyebalkan.
“Berhenti melamun atau mulutmu ku sumbat dengan roti”. Seketika lamunanku buyar sesaat setelah Clara menyelesaikan kalimatnya.
“Jangan memperburuk moodku”.
__ADS_1
“Kenapa? Sesuatu menganggumu? Apa kau baru saja di goda gelandangan”.
“Aish berhenti bercanda”.
Clara tertawa sedetik kemudian kembali menormalkan suaranya. “Lalu apa? Cepat katakan”.
“Mama menelfonku untuk datang ke pesta si nenek lampir”.
“Woahh selamat kalau begitu, bisa ku jamin semua akan terjadi sesuatu yang menarik nantinya”.
“MENYEBALKAN!!!”.
-o0o-
“Hey apa yang kau lakukan! Kau gila, Hentikan Risa bodoh”. Tak ku pedulikan teriakan Clara dan masih fokus memanggalkan pakaian nya.
“Tidak ada kata penolakan, kau harus ikut bersamaku”.
“Tidak mau. Aku tidak pernah menghadiri pesta seperti itu, lepaskan”. Kesalnya menampar tanganku yang berhasil menanggalkan blazer miliknya.
“Clara Smith kau tidak punya hak menolak, ikut atau kau berakhir berenang di kolam”. Ancaman aku berhasil, gadis itu terdiam seketika karna mendengar fakta bahwa ia sama sekali tidak bisa berenang.
“Cepat ganti bajumu dengan dress ini, aku juga perlu siap-siap”. Titahku memberikan kantung belanjaan yang kami beli sejam yang lalu.
Setelah Clara menghilang di balik pintu kamar mandi segera beberapa maid membantuku mengenakan gaun lengan panjang warna biru bermanik-manik, high heels tinggi sedang, sarung tangan putih tips sesiku, rambut emasku di sanggul meninggalkan beberapa helai jatuh di depan telinga, make up tipis tentunya karna aku benci dandanan tebal seperti kebanyakan wanita.
“Hmm Risa”. Aku berbalik mendengar suara dari arah kamar mandi.
Aku bertepuk tangan ria membuat semburat merah menghiasi wajahnya.
“Cinderella yang tersembunyi, ok waktunya sentuhan akhir. Make up”. Memerintah kan para maid yang berdiri di depan pintu dengan satu kali tepukan, mereka langsung membawa Clara ke meja rias dan mulai berdandan.
“Jangan salah kan aku juga pesta mu kacau karna ku Larissa”.
“Jika benar terjadi maka aku akan berterima kasih padamu, setidaknya masih ada alasan untuk ku pergi dari sana”.
“Dasar licik”.
Setelah selesai kami langsung berangkat menuju lokasi pesta, orang tua ku sudah berangkat lebih awal karna perjuangan membawa Clara bersamaku memakan banyak waktu.
Alhasil kami hanya pergi berdua, beruntung perjalanan hanya memakan waktu setengah jam saja jika tidak bisa dipastikan aku akan jatuh tertidur karna sejak tadi mataku terasa berat sekali.
Steven langsung membukakan pintu dan membantuku keluar ketika mobil berhenti tepat di depan pintu hotel dimana pesta diadakan.
Langsung saja kami masuk ke hall yang sudah dipenuhi oleh manusia tersebut. Sejenak semua mata teralihkan ke arah kami sesaat setelah pintu terbuka, ku abaikan bisikan Clara yang gugup setengah mati dan terus membawanya masuk lebih dalam.
Aku berhenti tepat di depan seorang gadis cantik yang menjadi bintang saat ini. Perempuan berambut hitam dengan gaun putih sexy dan mahal tersebut menatapku kemudian bersuara.
“Ku fikir kau tidak akan datang sepupu”.
“Maunya sih begitu tapi ibu memaksaku, jadi apa boleh buat”. Balasku kemudian menyadari jika ia sedang bersama teman-temannya. “Selamat ulang tahun Viona, semoga kau bertambah dewasa serta sehat selalu”.
“Terima kasih Larissa sepupuku sayang, oh ya siapa yang kau bawa saat ini?”. Balasnya menatap curiga Clara yang sejak tadi hanya menunduk.
__ADS_1
“Perkenalkan dia sahabatku, Clara Smith. Kau seharusnya sudah kenal bukan, secara dia selalu bersamaku”.
Seketika mereka terohok sembari menatap tidak percaya.
“Maksudmu si kutu buku? Dia?”.
“Kau fikir siapa lagi”.
Viona tertawa mengejek kemudian bertepuk tangan.
“Ternyata itik jelek bisa berubah menjadi angsa putih yang cantik”. Ocehnya membuatku berniat menjahit bibir berlipstick merah tersebut geram.
Ku putar bola mata malas kemudian melipat tangan di dada. “Setidaknya ia memiliki kecantikan murni daripada buatan sepertimu”.
“Apa kau bilang!”.
Tak mau meladeni sifat buruk Viona segera mungkin aku menarik lengan Clara menjauh dari rombongan nenek lampir berisik.
Kami berhenti di meja yang sudah berisikan berbagai macam makanan.
“Kau lapar Clara? Dinner time”.
“Apa tidak apa-apa, acaranya bahkan belum mulai”.
“Jangan di fikirkan, cepat ambil apapun yang kau mau”.
Mau tak mau Clara menurut dan mulai mengambil piring kecil di sudut meja. Mataku menelusuri sekeliling berharap menemukan seseorang walaupun kemungkinan untuk hadir sangat kecil.
Jujur saja hatiku merindukan sosok pria dingin dengan mata elang yang menggoda, apakah ia baik-baik saja sekarang? Apa jangan-jangan ia menemukan seseorang yang nyaman untuknya? Tidak. Aku tidak boleh berburuk sangka. Semuanya pasti baik-baik saja.
Prang!
Jantungku hampir saja jatuh dari tempatnya ketika mendengar suara pecahan tersebut.
Mataku terbelalak ketika melihat wajah pucat Clara menunduk tidak berdaya, sejak kapan ia bersama Viona? Sontak saja aku berlari mendekat menahan tangan yang nyaris mendarat di wajah sahabatku tersebut.
“Kau.. Lepaskan”.
“Apakah mataku tidak salah? Kau berniat menampar sahabatku hm?”.
@@@@
Ucapan terima kasih ku berikan sebesar-besarnya ada pembaca yang sudah memberikan like nya pada karya saya... Saya sangat menghargai partisipasi pembaca yangbsudah menghargai karya saya.. 🥰🥰🥰
saya akan bekerja keras dalam menciptakan karya-larya terbaik...
Harap selalu menunggalkan like dan komen nya agar saya tambah semangat dalam berkarya...
terima kasih.
salam hangat
Anviqi Park
__ADS_1