Putri Aquamarinia

Putri Aquamarinia
Paris


__ADS_3


đź‘‘LOGAN DE ZAVEN AQUAMARINIA


-o0o-


Xavier menghempaskan diri ke rerumputan dengan keringat bercucuran, nafasnya mengebu-ngebu membuat gumpalan embun mengingat saat ini Aquamarinia memasuki musim gugur. Baru saja Xavier menjalankan hukumannya yaitu berlari mengelilingi Mega Ishland sebanyak lima kali, lebih baik daripada mendapat siksaan langsung dari Risa.


“Kau sedang apa disini?”. Seru sebuah suara membuat Xavier menoleh.


“Fotosintesis, kau sedang apa ke sini?”.


Claude mengangkat bahu seraya mendudukan diri di samping adik sahabatnya tersebut.


“Aku ingin menemui Risa”.


“Sebaiknya kembali lagi besok, saat ini nenek sihir itu sedang murka siap memakan siapa saja”.


“Menarik kalau begitu kau bisa menemaniku”.


“Apa kau bermaksud menjadikanku umpan?”.


Claude mengangguk. “Anggap saja strategi bertahan hidup”.


Xavier mendeklik kesal kembali berbaring membiarkan angin berhembus meniup wajahnya.


“Hey Claude”. Panggil Xavier yang dibalas deheman oleh Claude. “Apa kau mencintai adikku?”.


“Maksudmu?”.


“Mengesampingkan perjodohan aku hanya ingin tau apakah calon suami adikku benar-benar mencintainya”.


Sejenak Claude terdiam lalu mendongak menatap langit yang bersih tanpa sentuhan awan. Tidak ada yang bisa mengerti ekpresinya saat ini, hanya dia dan tuhan lah yang tau.


Xavier setia menunggu jawaban keluar dari bibir Claude sebelum si lawan bicara menoleh sembari tersenyum.


“I don’t know. Sejak lahir aku sama sekali tidak mengerti dengan namanya cinta atau mencintai, yang ku tau hanya jika sepasang manusia dijodohkan maka mereka ditakdirkan untuk menikah. Tapi ternyata semua tidak semudah yang kufikirkan, semua terasa lebih sulit sejak aku mengenal Larrisa”.


“Apa maksudmu adikku pembawa sial?”.

__ADS_1


“More or less. Sejak pertama kali kami bertemu entah mengapa jantungku langsung berdebar dan kupertaruhkan segalanya itu debaran pertama yang pernah ku rasakan seumur hidup. Tapi egoku berkata semua hanya mitos semata, jadi tak kuperdulikan perasaan tersebut karna bisa saja perasaan ini hilang seiring berjalannya waktu. Dan lagi, semua sia-sia. Setelah ku putuskan untuk berpacaran dengan putri kerajaan Arab dan dengan sengaja membawanya ke pesta keluarga Nicky berharap dia akan marah dan membatalkan rencana pernikahan kami, sayang sekali semua tidak berjalan sesuai rencana. Tubuhku bergerak dengan sendirinya melihat air mata itu. Ku rasa saat ini otakku sedang tidak beres”.


Xavier menatap pria disampingnya bingung, tidak pernah dalam hidupnya melihat seorang Claude de Alger Ophelia frustasi memikirkan suatu masalah.


Apa mungkin hati sedingin es itu mulai mencair hanya karna adiknya? Larrisa memang memiliki keahlian dalam membuat orang menjadi nyaman dan akan selalu berhasil ketika dalam mode membujuk ayah mereka namun Xavier tidak menyangka bisa berpengaruh pada Claude yang terkenal dengan sifat dingin dengan hati sekeras batu. Ah jangan lupakan sifat play boy cap kapaknya yang melegenda.


-o0o-


Ke-esokan harinya Risa memutuskan untuk berkunjung ke rumah neneknya. Walaupun memakan waktu 8 jam menggunakan pesawat namun tidak menyulutkan niat gadis itu untuk bertemu dengan nenek kesayangannya. Sang pilot mengendarai pesawat pribadi milik Aquamarinia tersebut menuju Paris negeri yang terkenal dengan keromantisannya.


Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi dan pesawat akan mendarat satu jam lagi. Risa sudah bersiap dengan pakaian casual nya yaitu kaos putih bergambar siluet kucing dipadukan dengan jaket berdasar jins senada dengan celana panjangnya lalu wedges standar. Rambut emas yang diikat kuda dan tas kecil berisikan alat pribadinya.


“Silahkan Your Highness sarapan anda sudah jadi”. Ucap Steven membawakan sepiring Soupe a l’oignon yaitu sajian serupa sup hangat yang terbuat dari kuah sapi bertekstur kental dengan tambahan potongan bawang putih, salah satu sarapan khas Prancis.


“Ohoo sepertinya enak”. Seru Xavier yang datang dari arah kamarnya bahkan Logan juga datang mengekor dari belakang. Mereka langsung mendudukan diri di bangku seberang membuat Risa memutar bola mata malas.


Sebenarnya Risa menolak mentah-mentah permintaan kedua kakaknya untuk ikut ke Paris namun mereka memang keras kepala dan alhasil saat Risa hendak memasuki pesawat mereka sudah berada di pesawat menikmati makan malam dengan santai.


“Setauku jadwal kalian tidak sebebas ini, kenapa bersikeras ikut?”.


“Sama sepertimu, kami merindukan nenek dan kakek”. Balas Xavier kemudian menyeruput makanannya.


“Kami mencemaskamu pergi sendiri, bagaimana jika penyerangan seperti kemarin kembali terjadi”.


“Apa kau menganggap pria disampingku ini roh gentayangan?”. Balas Risa menunjuk Steven yang menoleh bingung dengan mulut penuh dengan roti yang disodor paksa oleh Xavier.


“Sudahlah yang penting saat ini anggap saja kita sedang liburan keluarga”. Balas Logan mendorong kening Risa dengan jari telunjuknya.


“Cih menyebalkan. HENTIKAN BODOH KAU BISA MEMBUNUHNYA!!”. Kesal Risa ketika Xavier tidak henti memasukan roti ke dalam mulut Steven yang hanya bisa pasrah dengan mata berlinang.


Sesampainya di bandara mereka langsung mendapatkan perhatian dari ribuan pasang mata pasalnya baik Risa, Logan, Xavier bahkan Steven terlahir memiliki wajah nyaris sempurna. Mereka berjalan bersama menuju pintu keluar dimana sebuah van berukuran besar sudah menanti tentunya dengan pengawalan yang ketat.


Beberapa gadis berteriak histeris melihat ketampanan Logan dan Xavier yang berjalan tepat di belakang Risa. Jika mereka hidup di dunia kartun maka mata mereka akan berubah menjadi bentuk hati merah muda.


Kenapa? Karna kejeniusan Logan dan kelihaian Xavier di dunia acting sudah terkenal di seluruh belahan dunia. Apalagi adik bungsu mereka yang kini sudah menjadi ratu di Aquamarinia dan disegani banyak negara karna memiliki ribuan ide dalam menyelesaikan masalah baik dari segi politik maupun ekonomi.


Van melaju dengan kecepan sedang menuju desa Mittelbergheim yaitu desa yang terkenal sebagai penghasil wine terbaik. Letaknya berada di kaki gunung Saint Odile, desa ini menyuguhkan suasana pedesaan tenang, tentram dan nyaman. Meskipun lokasinya berada di daerah pegunungan tapi masih terdapat toko, restoran dan hotel di sana.


Tak lama kemudian Van berhenti tepat di depan mansion dua lantai berwarna putih, bagian depan rumah terdapat berbagai macam pot bunga bergantungan, untuk menuju pintu kita perlu menaiki beberapa anak tangga. Di halaman belakang terdapat satu kolam renang berukuran besar, pada bagian sudut terdapat jakuzzi atau kolam air panas, taman mini dan kursi santai.

__ADS_1


“Astaga pinggangku sakit”. Rengek Xavier ketika mereka turun dari van.


“Risa kau baik-baik saja?”. Tanya Steven ketika melihat wajah gadis itu memucat.


“Tidak apa-apa mungkin hanya kelelahan”. Steven menahan tubuh Risa yang sedikit oleng ketika turun dari mobil.


“Sejak kapan nada bicaramu berubah Stev”. Tanya Xavier ketika menyadari kejanggalan dari kalimatnya.


“Risa yang menyuruhnya seperti itu, biarkan saja lagian ini bukan kerajaan dan kita sudah kenal sejak lama bukan? So, that’s the reason”. Ucap Logan membuat Xavier mengangkat bahu malas.


Tiba-tiba dari dalam rumah keluarlah sepasang manusia paruh baya turun dengan wajah berbinar. Risa yang menyadarinya langsung berhambur sembari berteriak.


“Nenek, Kakek!!”.


“Ya tuhan cucu-cucuku”. Seru Celin seraya menangkup wajah chubby Risa tak lupa memberikan kecupan sayang.


“I miss u so much. Apa nenek membuat cupcake bluebarry untuk ku?”.


“Tentu saja, aku bahkan membuat banyak untukmu”.


“Tunggu apa lagi, ayo kita masuk”. Ucap Risa langsung berlari ke rumah meninggalkan mereka yang mematung.


“Risa jangan ambil bagianku!!”. Teriak Xavier mengikuti dari belakang.


Edward terkekeh. “Yahh mau jadi ratu sekalipun Risa tetaplah cucuku yang manja”.


Celin menoleh ke pria yang berdiri di belakang Logan. “Kalau tidak salah kamu Steven bukan?”.


 


Steven yang menyadari namanya di sebut menoleh lalu membungkuk sopan.


 


“Kejayaan bagi Aquamarinia, saya Steven bertugas melindungi dan menjaga Your Highness Larrisa”.


“Jangan terlalu formal di sini kita sama”. Kekeh Celin seraya menepuk pundak Steven ramah. “Terima kasih karna selalu berada di sisi cucuku, kami mengandalkanmu nak”.


“Suatu kehormatan bagiku”.

__ADS_1


“Kalau begitu ayo kita masuk, jangan sampai dua anak nakal itu menghabiskan semua makanan”. Di pimpin oleh Edward mereka memasuki rumah yang memiliki kebun anggur yang luas di sekelilingnya. Tanpa mereka sadari masalah besar berada di belakang dan siap untuk datang kapan saja


__ADS_2