
-o0o-
Selama acara Claude selalu berada di sisi tuangannya bahkan sempat membuat para gadis merasa cemburu karna keberuntungan ratu mereka bisa mendapatkan seorang Claude. Bahkan Risa dengan senang hati menemani pria tersebut berganti pakaian sebelum berangkat ke gedung utama. Claude mengenakan pakaian kerajaan senada dengan warna gaun Risa, berjalan saling bergandengan memasuki hall yang otomatis menjadi pusat perhatian. Menyambut para tamu yang datang bersama yang lainnya, semua orang mulai menganggumi keserasian pasangan tanpa menyadari jika saat ini seseorang tertunduk sedih.
Risa memutuskan untuk beristirahat di balkon yang sudah tersedia sofa coklat menghadap pada pemandangan laut malam. Matanya terpejam menikmati angin menyapu wajahnya lembut, menerbangkan setiap helai rambutnya namun sama sekali tidak membuatnya berantakan. Tak lama kemudian Claude datang membawakan dua gelas coklat panas memberikannya satu pada Risa. Gadis itu dengan senang hati menerima lalu dengan hati-hati meminumnya.
“Apa aku terlambat mengatakan bahwa kau terlihat cantik hari ini”.
Risa tersenyum lalu menggeleng. “Tidak. Terima kasih, kau sudah mau datang walaupun sedang banyak pekerjaan”.
“Tidak juga”.
“Jangan berbohong, dasar”. Kekehnya.
“You got me. Entah kenapa aku ingin cepat-cepat datang tapi kertas-kertas itu terlalu banyak”.
“Tapi kamu masih datang. Aku senang karnanya, terima kasih”.
Claude merespon menarik lengan gadis tersebut setelah meletakkan gelasnya, membawa tubuuh mungil itu kedepannya. “Berhenti berterima kasih”.
“Pelukanmu lebih hangat daripada coklat itu”.
“Kalau begitu tetaplah seperti ini”. Risa terkekeh membenamkan wajahnya di dada bidang Claude.
Hari ini ia merasa sangat senang karna untuk pertama kali Claude bisa bertindak manis padanya. Tak ada tanda-tanda wajah datar digantikan oleh tatapan hangat membawa senyuman manis yang belum pernah ia lihat. Rasanya saat ini Risa berada di atas awan terbang bebas melewati pelangi dan juga burung-burung yang sedang bermigrasi. Entahlah dadanya serasa meledak menyebarkan banyak bunga.
__ADS_1
“Menikahlah denganku”.
Seketika Risa terbelalak mendengar bisikan Claude, sontak saja ia mendongak menatap Claude bingung.
“Kau bilang apa tadi?”.
Claude melepaskan pelukannya namun tidak melepaskan genggaman tangan mereka. Risa menunggu penuturan dari bibir pria tersebut berharap ia tidak salah dengar.
“Aku bilang menikahlah denganku”.
“K, kau serius?”.
“Apa aku terlihat bercanda saat ini?”.
“Aku serius Larrisa. Aku sudah lama memikirkannya dan baru berani mengatakannya sekarang. Jika kau menganggap ini hanya lelucon semata, kau salah besar karna aku amat sangat serius saat ini dan butuh keberanian besar untuk bisa mengatakannya. Jika kau menganggapku gila maka kau benar, kaulah penyebab mengapa aku bisa seperti ini. Kau selalu datang di mimpiku bahkan berhasil membuatku tidak fokus bekerja untuk pertama kalinya, aku sempat memikirkan jika aku benar-benar gila menyukai bayi kecil yang bahkan belum bisa berjalan sendiri, bahkan sejak kau menjadi anak-anak, remaja dan dewasa seperti sekarang hatiku tetap sama. merindukanmu saat kau sama sekali tidak berada di jarak pandangku, marah ketika melihatmu sedih, dan kesal karna selalu menyakitimu. Maafkan kebodohanku dulu Risa”.
Risa membungkam mulutnya menahan tangis yang akan datang sebentar lagi, penjelasan Claude membuatnya terharu ternyata ia selama ini salah paham dan menganggap jika Claude sama sekali tidak mencintainya.
“Jika ini mimpi maka aku tidak ingin bangun”. Isak Risa yang sudah tidak sanggup menahan air matanya.
Claude tersenyum menghapus air mata dari pipi Risa.
“Kau sedang tidak bermimpi. Jadilah milikku Risa, akan kubuktikan padamu jika aku benar-benar serius dan tidak akan menyakitimu lagi. Aku akan melindungi karna hanya kau alasanku agar tetap hidup”.
Risa tartawa geli. “Perkataanmu berlebihan sekali. Ciri khas om om mesum”.
__ADS_1
“Kau mengataiku om?”.
“Om tampanku”. Gumam Risa memeluk erat tubuh kekar Claude.
“Jadi apa kau mau menikah denganku?”.
“Lamaran yang aneh. Biasanya prang melamar menggunakan buket bunga atau makan malam romantis”.
“Jika itu yang kau mau aku bisa melakukannya sekarang”.
“Tidak usah. Begini saja sudah cukup”.
Claude menangkup wajah mungil Risa lalu mengecup keningnya lama. Merapikan rambut ke belakang telinganya lalu bergumam.
“Berikan aku jawaban mu yourhighness. Will you marry me?”.
“I do”.
“R, really?”.
Risa mengangguk sontak saja Claude melingkarkan tangannya ke tubuh Risa lalu berputar-putar. Tak bisa ia bayangkan jawaban yang keluar dari bibir sexy Risa, baru saja terlintas melakukan lamaran lain jika gadis itu menolak atau meminta diberikan waktu untuk berfikir, tapi siapa sangka dia langsung menerimanya.
“Berhenti kau membuatku pusing”. Tawa Risa, Claude menurunkan mereka saling bertubrukan karna pusing.
“Terima kasih”. Gumam Claude sebelum mendaratkan bibirnya ke bibir Risa.
__ADS_1