
-o0o-
Risa Pov
“Selesai”. Irene menghentikan kegiatan nya menyuapiku bubur kemudian menghapus sisa makana di bibirku.
“Sudah kenyang nona muda? Kalau begitu ayo kita bergabung bersama yang lain”. Sambungnya kemudian menggendongku.
Mansion barat cukup menyenangkan karna di sini kami terjaga selalu hangat jauh dari bayangan ku sebelumnya. Ini musim dingin pertama ku karna di Indonesia tidak pernah ada yang namanya musim dingin.
Ternyata salju lebih putih daripada yang pernah ku lihat di televisi atau di drama-drama korea, aku penasaran bagaimana rasa nya menyentuh salju namun Irene maupun ibu tidak membiarkanku keluar mansion.
“Permisi. Nona muda baru saja selesai makan siang”. Seru Irene membuat pandangan teralihkan padaku.
“Risa!!”. Seru Xavier seraya berlari mendekat, teriak kan nya berhasil membuat jantungku hampir copot.
Pletak
“Aww kakak kenapa kau memukulku”.
“Berisik Xavier, suaramu mengejutkan Risa. Berhenti bersifat kekanakan, kau itu sudah besar”. Ucap kak Logan kemudian mengambil alih diriku dari gendongan Irene.
__ADS_1
“Cih bilang saja kau ingin menggendongnya”. Gumam kak Xavier namun sepertinya tidak di dengar oleh Logan.
“Hahaha sepertinya putriku jadi rebutan kakak-kakaknya”. Tawa ibu menghentika kegiatannya menulis namun ia masih duduk di meja kerja dengan setumpul dokumen yang entah apa aku juga tidak tau.
“Ibu bekerja saja, biar Risa aku yang jaga”.
Ibu mengangguk tak lupa senyum manis nya tak pernah hilang.
“Baiklah. Hati-hati jangan sampai melukainya, Risa terlalu aktif untuk kau gendong terus”.
Logan mengangguk patuh dan membawaku keluar ruangan tentu saja kakak kedua mengikuti dari belakang. Dari jarak sedekat ini bisa ku cium baun parfumnya dengan aroma teh yang menenangkan.
Kuposisikan diri menengok ke belakang, Xavier mengikuti dengan raut wajah kesal namun sedetik kemudian wajahnya kembali berseri ketika melihatku.
“Sudah sampai”. Ucap Logan membuatku menoleh ke depan.
Wah aku tidak tau jika ada taman di dalam mansion. Walaupun ukuran nya tidak cukup besar namun di tengah kebun bunga mawar putih terdapat satu pohon besar hidup di sana.
Tinggi nya mencapai lantai dua, akarnya menancap kokoh di tanah dan dahan-dahan nya yang kuat menahan ribuan daun berwarna perak nan cantik. Pohon itu berkilau bak permata, cantik sekali.
“Winter tree. Bagus bukan? Ayah bilang usia nya sudah mencapai 100 tahun”.
__ADS_1
What!! 100 tahun? Yang benar saja.
"Hebat bukan? Awalnya aku juga tidak percaya dan menganggap ayah hanya berdongeng ria, tapi siapa sangka jika benar-benar ada. Cuma keluarga kita dan semua orang di Aquamarinia yang tau”. Sambung Logan kemudian mendekat meraih tangan ku dan menyentuh batang pohon tersebut.
Seketika hawa dingin menjalar ke seluruh tubuhku.
“Hahaha lihatlah dia terkejut”. Tawa Xavier yang keluar dari balik pohon. “Jelek”.
Sialan. Minta di robek ni anak.
“Duduk disini ya”. Kakak menurunkanku di atas rumput hijau tepat di bawah pohon. Sedangkan ia memposisikan diri tiduran di sampingku.
Membuang nafas lega kemudian memejamkan mata. Hey kau mau tidur begitu saja?
Perlahan aku merangkak dan ikut merebahkan diri di sampingnya. Wahh ternyata rumput ini lebih lembut dari yang kukira. Rasanya seperti tiduran di atas kasur, nyaman dan hangat.
“Aku ikut”. Seru sebuah suara senada dengan mendaratnya tubuh Xavier di sampingku menjadikan punggung Logan sebagai bantal.
Anak ini bisa tidak bicara lebih lembut, kau bisa merusak telingaku, dasar.
Alhasil kami bertiga tidur santai di atas rumput hijau yang lembut. Pandangan ku terfokuskan ke atas dimana atap berlapis berlian cantik, jika malam pasti cantik sekali seperti taburan bintang di planetarium.
__ADS_1
Tanpa kusadari kelopak mata mulai terasa berat. Perlahan ku benamkan kepala di sela-sela lengan Logan dan mulai tertidur.