
-o0o-
Perlahan ku coba membuka mata ketika cahaya matahari mengganggu tidurku. Melakukan pereganggan kemudian bangkit.
Ternyata aku sudah berada di kamar, baru saja otak ku mengingat kembali kejadian kemarin yang membuat Steven menggendongku dan semua gelap gulita.
“Selamat pagi tuan putri, aku membawakan susu hangat untukmu”.
“Terima kasih Irene, apa yang terjadi?”.
“Steven membawamu kembali dalam keadaan pingsan, saat aku tanya ada apa ia menceritakan semuanya”.
Aku tersenyum kecil kemudian meminum susu hangat tersebut.
“Ngomong-ngomong tuan Claude berada di luar”.
“Uhukk… uhukkk”.
“Astaga tuan putri, minumlah dengan benar”.
“Siapa suruh kau mengejutkanku. Ulangi perkataanmu tadi”.
“Apa? Tuan Claude yang berada di luar?”.
Tanya nya dan ujur saja aku sangat gemas dengan wajah polos Irene yang sedikit menyebalkan.
“Claude. Apa maksudmu dia diluar”.
“Setelah mengantarkan tuan putri ke kamar tuan Claude datang. Steven sudah melarangnya masuk tapi dia memaksa”.
“Lalu apa yang dia lakukan disini?”.
“Merawat mu tentunya”.
__ADS_1
“Ha?”
“Ia menemani tuan putri sampai larut malam, saat itu tuan putri sering mengigau sembari mengeluarkan keringat. Tuan Claude merawat tuan putri dengan baik bahkan ia menggantikan pakaianmu”.
“Apa? Irene kau…”. Geramku bercampur dengan rasa malu, pantas saja pakaian ku sudah berganti dengan piyama. Irene tidak pernah menyediakan piyama untuk ku.
“Maafkan aku, tapi ia memaksaku untuk tidak ikut campur”.
Sontak saja aku bangkit dan melangkah ke luar kamar.
Benar saja di ruang keluarga Claude tertidur di atas sofa dengan pakaian berantakan.
Jas coklatnya berada diatas sofa sedangkan ia kini mengenakan kemeja putih yang sebahagian besar kancingnya telah terbuka.
Rambut hitam berantakan dengan bulu mata panjang nan lentik. Dadanya naik turun dengan nafas teratur, sepertinya ia terlihat kelelahan.
Aku kembali memasuki kamar dan keluar membawakan selimut bergambar beruang kesayanganku. Menyelimutinya perlahan dan tersenyum puas ketika melihat raut wajahnya kembali tenang karna saat ini suhu udara lumayan dingin.
“Cantik”. Seru sebuah suara membuatku yang berdiri di depan cermin terkejut.
“K, Kau.. Sejak kapan kau berada disana”.
“Baru saja hoooaaamm”. Gumamnya berjalan menuju tempat tidurku, merebahkan diri dan kembali memejamkan mata.
“Siapa yang mengizinkanmu tidur disana hm?”. Kesalku melangkah mendekat. “Bangun, mau sampai kapan kau tidur”.
“Diamlah, aku baru tidur dua jam yang lalu”.
“Tidurlah di kamar tamu”. Tidak ada respon. “Ayo bangun”. Sambungku menarik tangannya namun yang namanya pria pastilah berat.
“Bangun tukang tidur cep…. Kyaaa!!”.
Kalimatku tergantikan dengan suara teriak kan karena tiba-tiba saja Claude menarik lenganku, akibatnya kini posisiku berada di bawahnya.
__ADS_1
Jantungku berdebar kencang ketika menatap ke manik mata beririskan merah tersebut, mata itu menatapku intens tak berkedip.
Jarak kami sangat dekat membuatku bisa mencium bau tubuh yang memabukkan.
“Apa yang kau lakukan menyingkir dariku”.
“Biarkan seperti ini”.
“Kau gila? Minggir”.
“Kenapa, kau takut? Bukankah kita sudah bertunangan, jadi bukan suatu kesalah bagiku untuk memelukmu”.
“Oh ya? Ku fikir kau kesini ingin membatalkan pernikahan kita”.
“Kenapa kau berfikir seperti itu?”.
“Apa aku salah? Kau bahkan datang bersama Putri Jasmin karna ingin aku membatalkan pernikaha ini bukan?”.
“More or less”.
“Menyingkir dariku dan kita bicarakan ini sekarang”.
“Kalau aku tidak mau?”.
“Claude apa mau mu sebenarnya? Apa saat ini kau sedang membujukku? Jika ia maka berhentilah, aku tidak menerima alasan apapun kau.. hmmmmm”.
Kalimatku terpotong karna tiba-tiba ia menempelkan bibirnya padaku. Mataku terbelalak menatapnya yang kini memejamkan mata, perlahan bibir yang awalnya hanya menempel bergerak melumat bibirku. Perlakuannya yang lembut membuatku terhanyut dan tanpa sadar mata ku ikut terpejam.
Mengambil nafas dalam ketika ciuman itu terlepas, tangan besar itu menangkup wajahku serta dahi yang saling menempel membuat jarak kami menjadi sangat dekat.
“Perlu kau ketahui jika ini adalah ciuman pertamaku”. Bisiknya tepat di telingaku.
“Dan kurasa kita sama”. Sambungnya senada dengan kecupan di pipiku.
__ADS_1