
-o0o-
“Logan?”. Kaget Steven ketika pria tersebut membuka ikatannya.
“Tidak ada waktu untuk terkejut, kita harus cepat”.
Steven yang masih kebingungan hanya bisa pasrah ketika Logan membopongnya keluar, hal pertama yang ia lihat ialah para penjaga yang sudah tergeletak tak berdaya akibat dari serangan Logan. Beberapa anggota medis berlari mendekat sedetik kemudian membaringkan pria tersebut ke tandu dalam ambulans.
“Istirahatlah aku akan kembali”.
“Tunggu!”. Panggil Steven menghentikan niat Logan untuk pergi. “Kemana kamu akan pergi?”. Sejenak Logan tampak enggan untuk menjawab namun melihat wajah babak belur tersebut membuatnya menghela nafas.
“Aku harus menyusul Risa”.
“Risa? Apa maksudmu dia juga datang?”. Logan mengangguk.
“Kau gila? Akhhh”.
“Dia yang memintaku menyelamatkanmu selagi dia pergi menemui pelaku”.
“APA!!”.
-o0o-
Di lain sisi, dua manusia tampak sibuk berdialog namun dilihat sekilas saja semua orang bisa merasakan hawa dingin yang menyebar ke seluruh ruangan. Satu sisi Risa menatap tajam pria di depannya begitu juga sebaliknya.
__ADS_1
“Esmeralda meninggal bukanlah salahku ataupun Steven tapi kenapa kau membuat kekacauan seperti ini? Melibatkan orang yang tidak bersalah, apa otakmu sudah tidak waras?”.
“Kewarasanku sudah hilang sejak kau membunuh adikku, dan sekarang aku ingin kau menyusulnya lalu meminta maaf”.
“Gurauan basi. Sepertinya rumah sakit jiwa kekurangan satu pasiennya”.
“Terima kasih atas pujiannya Yang Mulia, tapi orang tidak waras ini sangat menginginkan nyawa anda”.
“Oh ya? Sebegitu berharganya nyawaku hingga kau mati-matian menginginkannya?”.
“Begitulah”. Kekehnya kemudian berjalan menuju satu rak berisi berbagai macam jenis buku.
Risa mencoba menenangkan diri walaupun jauh di dalam lubu hatinya berteriak untuk segera keluar dari sini namun ia mengenaskan diri untuk tidak lengah dan memperjuangkan keadilan atas nama Ratu Aquamarinia. Setelah ketenangan berlangsung selama tiga menit akhirnya pria asing itu mengeluarkan suaranya.
“Aku berubah pikiran bagaimana kalau ku berikan dua pilihan. Pertama mati di tanganku atau kedua menikah denganku”.
“Menarik bukan? Jika kau menikah dengan ku maka semua kesalahanmu akan kulupakan”.
“Omong kosong yang menggelikan. Bahkan tak satupun kesalahan yang ku perbuat padamu buat apa aku menikah dengan pria psikopat”.
Rahang pria itu mulai mengeras sedetik kemudian dari salah satu rak ia mengeluarkan pistol dan mengarahkannya pada Risa. Wajah yang awalnya tenang itu mulai mengeluarkan hawa gelap dengan aura membunuh yang kental. Bukannya takut, Risa malah bersandar pada salah satu meja dengan tangan melipat di dada.
“Zaman sekarang ini kau masih menggunakan pistol? Miris sekali”.
“Oh ya kita lihat apakah kau masih bisa angkuh setelah benda kuno ini menembus jantungmu”.
__ADS_1
“Bahkan kalimat itu sudah sering ku dengar dalam film-film atau buku novel, cobalah lebih kreatif lagi”.
“Sepertinya Yang Mulia terlalu meremehkan ku”.
“Baru sadar? Aku sudah melakukannya selama satu jam lebih”.
“CK MATI KAU!!!”.
Slasshhh
“Aaaaaaaa”.
Belum sempat ia mengeluarkan satu tembakan, tiba-tiba tangan kanannya yang memegang pistol terpotong mengeluarkan banyak darah. Pria itu berguling-guling di lantai memegang lengannya sembari berteriak kencang.
“Nice slice, isn’t it?”. Tanya Risa menampilkan wajah polosnya, di tangan kanannya saat ini terdapat pedang panjang yang sudah berlumuran darah.
“Sejak kapan kau….”.
“Bagus bukan? Ini pertama kalinya aku berpedang, sayang sekali padahal ini hadiah ulang tahun pemberian Logan”.
Seketika pria itu terbelalak melihat wajah dingin tersebut, entah kenapa ia tidak pernah menyangka bisa melihat ekpresi itu dari gadis lemah yang sering berlindung pada orang tua atau para prajuritnya. Lihatlah saat ini, tidak ada lagi rasa ketakutansedikitpun digantikan dengan perasaan aneh yang menyeramkan.
“Kau pernah mendengar kalimat ‘jangan pernah remehkan kekuatan gadis lemah’ ? ku harap kau tidak lagi merendahkan orang lain dengan berlagak kuat”.
“Sial. Ku balas kau…”. Ringisnya.
__ADS_1
“I am waiting for it”.
Perlahan Risa berbalik. “Jangan pernah mengangguku ataupun keluargaku lagi, jika tidak… kita bisa bahas nanti”. Ucap Risa seraya berlalu pergi meninggalkan pria yang kini mematung dengan wajah pucat.