
-o0o-
“T, Terima kasih telah menyelamatkanku”. Gumam Risa mencoba untuk tenang, entah kenapa setiap kali ia melihat mata elang tersebut dirinya langsung gugup seketika.
Claude mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
“Apa kau baik-baik saja tuan muda Claude?”. Tanya Risa mengalihkan pandangan Claude dari tumpukan buku yang berjatuhan tersebut.
“Maksudku apa punggungmu baik-baik saja? Tidak sakit?”.
“Entahlah tapi rasanya sedikit nyeri”.
“Biar aku lihat”. Ucap Risa cepat kemudian menyadari kalimat bodohnya. “Maksudku… itu”.
Tanpa basa-basi Claude menanggalkan bajunya lagi-lagi menyebabkan Risa bersemu, siapa yang tidak malu jika seorang pria dengan mudahnya membuka baju di depan mata.
Sejenak Risa terpana melihat tubuh kekar bahkan 6 kotak di bagian perutnya hampir terlihat sempurna.
Claude memutar membelakangi Risa alhasil gadis tersebut terbelalak melihat beberapa titik luka di bagian punggungnya.
“K, kau terluka. Stev bawakan kotak P3K”. Titah nya yang langsung di turuti oleh Steven.
“Duduklah, aku akan mengobatimu”. Claude mau tidak mau menurutinya walaupun dalam hati ia ragu jika bocah seperti Risa bisa melakukannya.
Ia memposisikan diri duduk di kursi tepat di depan Risa yang sudah duduk di atas meja.
Tak lama kemudian Steven datang membawakan kotak P3K. Langsung saja Risa mengambil kapas dan obat merah, mengoleskan nya pelan pada punggung Claude. Mengambil plaster dan membalutnya.
“Selesai”. Ucap Risa yang tersenyum puas dengan hasil karyanya.
Claude tersentak ketika mendengar suara cempreng Risa, ia bahkan tidak menyadari sesuatu menyetuh punggungnya bagaimana bisa selesai secepat itu.
Tak mau ambil pusing ia kembali memakai baju sesekali melihat tunangan kecilnya yang sibuk menyusun isi kotak P3K.
Tiba-tiba Claude mengulurkan tangannya, Risa terdiam mendongak bingung.
“Ikut bersamaku”. Ucapnya masih dengan wajah datar.
“Kemana?”.
“Makan siang”.
Risa memandang pria di depannya tidak percaya. Ini pertama kalinya sejak mereka bertemu, walaupun sedikit gugup Risa menyambut uluran tangan nya.
Mereka memasuki mobil Audi hitam tersebut lalu maju membelah jalanan ibu kota.
Jujur saja Risa merasa senang saat Claude mulai menyadari keberadaannya karna selama beberapa tahun ini ia selalu dingin.
Masih teringat baginya saat acara ulang tahun ibu Claude mereka mengadakan pesta besar-besaran di pulau pribadi, sepanjang pesta pria tersebut hanya diam dan hanya menatap Risa jika bersama Logan saja.
Satu lagi saat acara berburu bersama dimana semua bangsawan hadir, masing-masing kepala keluarga memasuki hutan untuk berburu dan yang lainnya tinggal di tenda.
Keluarga Ophelia datang ke tenda kami begitupun sebaliknya namun tak ada satu patah katapun kalimat keluar dari bibir Claude. Risa berfikir hanya di drama-drama karakter pria dingin itu ada siapa sangka di dunia nyata ada juga.
__ADS_1
Sesampainya di restoran mereka makan dalam diam, walaupun Risa sudah berusaha mengeluarkan suara namun pria itu berbicara sangat irit.
Biarlah, setidaknya masih ada perkembangan dalam hubungan kami. Semoga saja semua berjalan baik-baik saja. Batin Risa
-o0o-
Risa PoV
“Risa ayo cepat nak nanti kamu terlambat sekolah”.
“Iya ma”. Balasku seraya merapikan seragam.
Hari ini usia ku genap 17 tahun dan sudah menduduki bangku SMA. Seragam sekolah ku mengenakan kemeja putih dengan blazer dongker, rok sedikit di atas lutut warna abu-abu polos, dasi kupu-kupu merah kotak-kotak, kaus kaki selutut dan terakhir sepatu putih.
Rambut emas ku sengaja di ikat kuda dan tak lupa sedikit polesan make up tipis dan parfum aroma mawar kesukaanku. Larissa siap memulai hari.
Aku berlari menuruni tangga menuju meja makan. Seperti biasa hanya beririsikan ayah dan ibu karna kak Logan dan kak Xavier memutuskan untuk tinggal dirumah sendiri.
Hanya saja mereka sangat sibuk akhir-akhir ini bahkan jarang pulang sekedar berkunjung. Kak Logan kini sudah menjadi CEO di perudahaan Aquamarinia sedangkan kak Xavier beralih menjadi seorang aktor namun sesekali ia membantu kak Logan bekerja.
“Sayang bukankah kamu ada ujian? Jangan bertele-tele, makan lah dengan cepat”.
“Mama aku bisa tersedak, santai saja masih ada waktu 1 jam lagi”.
Mama menggeleng kepala pasrah sedangkan papa terkekeh di ujung sana.
“Anak ini benar-benar”.
“Kamu ini selalu memanjakan putrimu, sesekali tegas lah”.
“Mau tegas pun memangnya dia bisa patuh? Sudahlah selagi yang dikerjakannya positif kita sebagai orang tua hanya bisa mendukungnya”. Aku terseyum dan ber-high five ria dengan papa.
“Ayah dan anak sama saja”.
Sarapan selesai aku langsung memasuki mobil, jarak antara rumah dan sekolah memakan waktu seperempat jam.
Cuaca pagi ini lumayan cerah walaupun beberapa sisi di tutupi awan, sebentar lagi musim gugur pastinya udara menjadi sangat dingin.
Sesampainya di sekolah aku langsung memasuki kelas yang terletak di lantai 2.
Tersenyum jahil ketika mendapati seseorang sedang membaca buku dengan ekspresi serius. Melangkah perlahan berusaha tidak mengeluarkan suara hingga..
“Pagi yang cerah!!”.
“Kyyaaaaaa”. Teriaknya beruntung aku menahan nya jika tidak tubuh agak gemuk itu berakhir di lantai.
“Larissa!! Dasar gadis nakal”. Kesalnya seraya memukul lenganku dengan buku tebal yang tadi ia baca.
“Aww sakit. Ternyata seorang kutu buku sepertimu bisa kejam juga”.
Gadis berkaca mata dengan rambut di ikat kuda tersebut mendengus kesal.
__ADS_1
“Bahkan gadis kutu buku ini bisa membunuh mu dalam satu kali gigitan”.
“Menarik, aku tidak sabar menantikannya”.
Aku tertawa seraya duduk di bangkuku tepat di depan gadis yang kini memajukan bibirnya.
Clara Smith satu-satunya sahabatku sejak sekolah menengah, gadis yang sangat suka membaca buku ini terlahir dari keluarga sederhana.
Orang tuanya sudah meninggal saat usianya 2 tahun, selama ini ia hidup di panti asuhan dan kami bisa satu sekolah karna beasiswa berprestasi yang dimilikinya. Selain baik, Clara juga tidak memperdulikan statusku sebagai keturunan Aquamarinia, baginya aku hanya seorang gadis nakal dan ceroboh. Hebat bukan, itulah dia.
“Clara selesai sekolah nanti mau kemana?”.
“Hmm aku harus bekerja”.
“Di toko roti itu? Aku ikut ya”.
“Kenapa bertanya? Bukankah jika aku bilang tidak kau akan tetap pergi”.
“Bingo. My Clara always so smart”.
“Tunggu dulu. Bukankah seharusnya kau ada les privat?”.
Aku menggeleng. “Adelia berhalangan karna harus mengurus sesuatu jadi tiga hari ke depan aku free”.
“Jadi itu alasanmu ikut?”.
“That’s right”.
Suasana hening sejenak karna beberapa siswa masuk dan mendudukan diri di seberangku.
“Oh ya bagaimana dengan rencanamu?”.
“Hm? Rencana apa?”.
Buk!!
“Aww Clara Smith kau memukul ku lagi? Tak tau kah kau jika benda itu sangat tebal, aish sakit~”.
“Jangan manja. Bersikaplah layaknya siswa 17 tahun”. Dengusnya kembali meletakkan buku tersebut ke atas meja.
“Maksudku tentang pernikahan kakak mu. Bukankah tahun depan usiamu genap 18 tahun? Sudah waktunya mereka menikah, lalu bagaimana dengan rencanamu selama ini?”.
Benar juga. Kenapa aku bisa sebodoh ini.
“Tentu saja aku akan membatalkan pernikahan itu, beberapa bukti sudah ku kumpulkan berkat bantuan Steven hanya saja semua itu masih lemah. Aku harus menemukan satu bukti kuat”.
“Baiklah, aku akan mendukungmu nona muda”.
“Kau tentunya harus membantuku, bukan begitu tuan putri?”.
“Tentu saja. Aku akan memberkatimu wahai nona muda”. Balasnya berbicara bak tuan putri di drama-drama.
__ADS_1
Kami tertawa geli sampai-sampai tidak menyadari jika guru matematika yang terkenal galak baru saja datang. Seketika kelas menjadi hening tanpa suara.