Putri Aquamarinia

Putri Aquamarinia
Everythink is Under My Control


__ADS_3

-o0o-


Author PoV


Saat ini Logan baru saja menyelesaikan rapatnya, bersama dengan sang sekretaris mereka keluar menuju ruangan nya. Saat membuka pintu yang terlihat hanyalah tumpukan kertas yang menggunung tinggi.


“Direktur anda bisa istirahat saya akan kembali membawakan kopi”.


“Baiklah”. Balas Logan singkat kemudian mendudukan diri di sofa sisi ruangan.


Baru saja ia hendak tidur seseorang mengetuk pintu.


“Masuk”.


“Kejayaan bagi Aquamarinia”. Seru pria tinggi dengan pakaian casual.


“Katakan”.


“Semua yang anda duga memang benar. Saya sudah mendapatkan beberapa bukti kuat dan beberapa file yang mereka susun sejak awal”. Jelas pria tersebut seraya memberikan sebuah map hitam pada Logan.


Seutas senyuman miring timbul di wajah tampan itu melihat isi dari map.


“Kerja bagus, serahkan sisanya pada Alfred”.


“Baik tuan muda”.


“Oh ya bagaimana dengan kabar Risa?”.


“Saya punya kabar baik dan kabar buruk, tuan mau mendengar yang mana?”.


“Yang baik dulu”.


“Baiklah. Tuan putri berhasil melewati segala pelajaran dengan sangat baik dan kurang lebih dua bulan lagi ia akan di nobatkan sebagai Ratu Aquamarinia”.


“Syukurlah. Lalu kabar buruknya?”.


“Tuan muda Claude dan Putri Jasmin terbang menemui nya, terjadi peperangan sengit dimana putri Jasmin berteriak mencurahkan isi hatinya. Hal tersebut membuat tuan putri Risa terpukul dan menyerahkan keputusan pernikahan mereka kepada tuan muda Claude”.


“Apa kau bilang? Lalu bagaimana keadaan Risa saat ini?”.


“Menurut kabar dari dayang asuhnya, saat itu tuan putri kembali dalam keadaan pingsan. Semalaman ia mengigau ketakutan dan mengeluarkan banyak keringat. Tapi tenang saja, tuan Claude datang dan merawat tuan putri sampai ke esokan paginya tuan putri bangun dengan segar”.


Logan mengepal tangan erat bahkan mata elangnya memancarkan rasa amarah nan hebat.

__ADS_1


“Segera hubungi Xavier dan pinta ia datang secepatnya”.


“B, Baik tuan muda”.


Logan membuang nafas berat seraya duduk bersandar ketika sang sekretaris hilang di balik pintu. Tangan kanan nya mengurut kening pelan.


Sejujurnya ia sangat mencemaskan perubahaan adik bungsunya tersebut, pasalnya hanya karna pernikahan dirinya gadis itu berani mengambil keputusan berkonsekuensi besar.


Padahal seharusnya saat ini ia sibuk bermain atau berkumpul dengan teman-teman sebaya. Sejak hari kedatangan Larrisa ke kantor, Logan langsung menunda pernikahan tanpa memperdulikan protes dari Esmeralda.


Baginya saat ini yang terpenting adalah adiknya. Kenapa? Karna ini kedua kalinya ia melihat Risa semurka itu melebihi saat pertunangannya.


Satu jam kemudian pintu ruangannya terbuka menampilkan sosok pria berambut perak kebiruan dengan mata elang beririskan merah muda. Tubuh besarnya masuk dengan wajah merengut.


“Lagi-lagi kau menganggu kesenanganku”. Kesalnya sembari mendudukan diri di kursi depan meja kerja Logan.


“Berhenti mengoceh, sebaiknya kau melakukan sesuatu untuk ku”.


“Apa? Menjadi mata-matamu lagi? Ayolah Logan aku malas mengikuti tunanganmu yang serakah itu”.


“Kali ini aku ingin kau mengikuti Risa”.


Xavier mendongak menatap Logan bingung.


“Bukan bodoh, aku hanya ingin kau menjaganya”.


“Lalu apa gunanya Steven di sisinya”.


“Kau fikir seorang special knight bisa ikut campur dalam masalah pribadi majikannya? Kau mau atau tidak?”.


“Bahkan kau tidak pintapun aku sudah melakukannya sejak dulu, bagaimanapun juga aku ini kakaknya”.


Logan memutar bola mata malas kemudian meminum kopi susu yang sejak tadi terletak di sisi meja.


“Setelah semua ini apa kau masih ingin menikah dengan Esmeralda?”.


“Apa maksudmu?”.


“Kamu tau maksudku”.


Sejenak Logan terdiam. “Saat ini yang penting bagiku adalah Risa, jadi berhenti bertanya”.


Senyum lega terukir di wajah Xavier, setidaknya kakak sulungnya ini masih menyayangi si bungsu padahal selama ini ia mengira jika kehadiran Esmeralda merubah semuanya.

__ADS_1


“Dua jam lagi aku harus kembali shooting, sebelum itu aku ingin meminjam ponselmu”.


“Ponselku? Untuk apa?”.


“Sudah jangan banyak tanya”.


Xavier merebut ponsel putih yang tergeletak di atas meja kemudian mengotak-atik selama dua menit lalu meletakkannya kembali.


“Everythink is under my control”.


-o0o-


Setelah makan malam, Risa langsung melangkahkan kaki menuju balkon rumahnya. Mendudukan diri di kursi dan menatap langit yang cerah dengan taburan bintang dimana-mana.


Tidak lupa sinar rembulan menerangi langit malam nan gelap gulita, udara yang tidak terlalu dingin membuatnya tidak perlu khawatir keluar dengan mengenakan stelan baju tidur.


Sesekali tangannya merapikan tiap helaian rambut emasnya akibat dari hembusan angina malam.


“Apa yang kau lakukan di luar sana, kau bisa masuk angin”. Seru sebuah suara membuat Risa sontak berbalik.


Seketika senyuman terukir di wajah cantiknya.


“Kak Xavier”.


Sang empu nama tersenyum kemudian mendekat, mendudukan diri di samping adiknya setelah mengacak rambut panjang itu gemas.


“Kenapa tidak menghubungi dulu jika kesini?”.


“Memangnya sejak kapan aku melakukannya”. Risa terkekeh. “Aku membawakan beberapa hadiah untukmu”.


“Hadiah apa?”.


“Kau akan tau jika melihatnya nanti”.


“Sifat kakak sama sekali tidak berubah, selalu memberikanku hadiah kapan pun dan dimanapun”.


“Bersyukurlah kalau begitu”.


“Sudah ku lakukan”.


“Good girl”.


Sejenak mereka terdiam menikmati suasana malam nan damai.

__ADS_1


__ADS_2