
-o0o-
“Akhhh sakit”. Rintihku ketika Irene memberikan pijatan pada pinggangku, tak lupa ia mengopres dengan handuk yang telah di celupkan pada air hangat. “Aww pelan-pelan kau mau membunuhku nenek tua”.
“Jangan cerewet ini satu-satunya cara agar lembam mu hilang, jika tidak kau akan dimarahi oleh raja Claude”.
“Salahkan gadis jahat itu. Dia mendorongku kuat sekali”. Dengusku sembari meremas bantal kesal.
Tok…tok..
Perlahan pintu kamarku terbuka tak lama menampilkan sosok Logan. Menghela nafas kemudian melangkah mendekat, mendudukan diri di sisi ranjang dimana saat ini aku sedang tidur menelungkup.
“Kenapa tidak bilang kau diperlakukan seperti ini oleh putri Jacob itu?”.
“Memangnya apa yang bisa kulakukan? Mengatakan bahwa aku adalah seorang ratu Aquamarinia lalu memberikan hukuman karna tidak menghormatiku? Yang benar saja, aku bisa dibilang manusia sombong”.
“Hah kau bahkan berbohong padanya dengan menjadi kekasihku, sejak kapan aku memacari adik sendiri”.
“Biarkan saja. Anggap saja ini cara lain membasmi para ulat bulu yang memaksakan diri menjadi kupu-kupu”. Kak Logan terkekeh ria kemudian membantuku duduk.
“Nanti malam aku harus menghadiri pesta makan malam di pusat kota. Temani aku pergi kesana ya?”.
Dahiku mengeryit bingung. “Acara siapa?”.
“Tuan Jacob memangnya siapa lagi”.
“Hahhh sebenarnya aku malas tapi apa boleh buat”. Gumamku seraya bangkit mendekati ruangan pakaian.
__ADS_1
-o0o-
Pesta akan dimulai lima menit lagi, saat ini aku dan kak Logan baru saja turun dari mobil memasuki gedung pencakar langit tersebut. Malam ini aku mengenakan gaun panjang melebihi mata kaki berwarna merah muda dipadukan dengan syal bulu tersampir di bahu kananku, rambut sengaja ku geraikan serta riasan tipis natural. Sedangkan kak Logan bertemakan putih senada dengan warna rambutnya mulai dari stelan jas nya hingga sepatu namun walaupun demikian yang namanya tampan tetap saja tampan.
Bersama kami masuk ke lokasi pesta dan langsung di sambut oleh sang tuan rumah. Pria paruh baya yang masih ku ingat bernama Jacob tersebut menyambut dengan mata berbinar termasuk dengan wanita paruh baya namun terlihat awet muda di sebelahnya. Kueratkan pegangan di lengan kak Logan ketika seorang gadis turun dari tangga dengan anggunnya, gaun hitam miliknya memiliki potongan rendah menampilkan belahan dadanya dengan jelas, kaki jenjangnya terlihat karna gaun tersebut berbahan transparan. High heels hitam bertumit tinggi itu melangkah mendekat dan berhenti saat berada di depan kami maksudku kak Logan. Perlahan ia membungkukan tubuhnya sopan kemudian memberikan senyuman maut khas miliknya.
“Selamat datang di pestaku presdir Logan”.
“Terima kasih nona Silvia”.
Matanya beralih padaku. “Sayang sekali padahal aku berharap presdir datang sendiri”.
“Maafkan aku tapi tanpa dia aku tidak bisa pergi ke pesta manapun”.
Aku tersenyum penuh kemenangan sedangkan gadis itu mendeklik tajam. “Kebetulan aku juga mengundang direktur kota B maukah anda pergi menyapanya denganku?”.
“Dia berpesan padaku untuk memberitahumu tentang kedatangannya”.
“Kalau begitu aku akan ke sana, kau disini saja temani kekasihku sebentar”. Balas kak Logan kemudian menghadiahkan kecupan di keningku. “Tidak apa-apa kan?”. Aku tersenyum lalu mengangguk membiarkannya pergi bersama tuan Jacob.
“Tak ku sangka gadis miskin sepertimu bisa menjadi kekasih Logan, lihatlah penampilanmu ini, aku yakin kau bisa mendapatkannya karna berhasil menggodanya kan?”.
Kuputar bola mata malas, lagi-lagi aku menghadapi medusa mulut berbisa.
__ADS_1
“Apa kau menghindari fakta bahwa kecantikanku mengalahkanmu hm?”.
“Cih bahkan bentukmu saat ini tidak bisa menandingiku. Kau itu tidak lebih dari orang miskin penggoda pria kaya”.
“Bagus kalau begitu setidaknya kemiskinanku mengalahkan kesemprunaanmu, buktinya aku tidak perlu susah payah merayu Logan dengan cara menempelinya”.
Silvia meraih segelas wine dari salah satu pelayan kemudian meneguknya. Bukankah dia masih dibawah umur? Seingatku tadi malam kak Logan mengatakan bahwa gadis ini akan berusia 17 tahun bulan depan. Wahh selain berbisa ternyata pergaulannya bebas juga.
“Anak-anak tidak boleh minum anggur”. Gumamku membuat wajahnya berubah masam.
“Memangnya kau siapa berani melarangku? Ibuku saja tidak marah, cih”.
“Hahh aku capek meladeni bocah sepertimu”. Gumamku seraya berlalu tak memperdulikan panggilannya.
Pusat perhatianku saat ini adalah deretan dessert lezat tersusun rapi di meja panjang. Warna cerah dengan aroma nikmat menggodaku untuk segera mencoba semua jenis satu-persatu. Tanganku meraih sepiring custard dan pudding yang terbuat dari produk olahan susu yang dikentalkan. Perbedaan keduanya terletak dari bahan pengental yang digunakan. Rasanya yang lembut dan manis membuatnya sangat pas disantap usai menikmati menu makanan berat, terutama yang berlemak. Selanjutnya aku beralih pada sepotong kue coklat degan krim vanilla dandua buah ceri, astaga aku bisa dimarahi Irene jika dia tau aku memakan semua ini.
Kegiatanku sempat terhenti sejenak ketika semua orang mulai heboh, sontak saja aku berbalik dan menangkap objek dari kehebohan tersebut. Seorang wanita baru saja masuk, yang menarik perhatian adalah wajahnya yang cantik mengenakan gaun off shoulder merah selutut, kulit seputih susu, rambut hitam panjang nan ikal tersisir rapi dan menyampir di bahu kanannya, subang dan kalung dari permata bermotif daun menambah kesan mewah serta bibir mungil berlipstik merah menjadikan penampilannya terkesan elegan dan dewasa.
Kaki jenjangnya melangkah masuk semakin dalam dan sepertinya dia sedang mencari seseorang. Jika dilihat lebih cermat dia lebih tinggi dua senti dariku apa mungkin karna heels tingginya? Tak lama Silvia datang menyapanya namun dari sinipun aku bisa merasakan hawa panas membara, mereka sepertinya memiliki hubungan yang tidak baik. Cih tipe orang kaya yang selalu memiliki musuh dimana-mana karna keegoisan dan kesembongan mereka.
Kuraih segelas jus jeruk meminumnya pelan dengan pandangan masih terfokuskan pada dua manusia yan sibuk beradu argumen lebih tepatnya salah satu dari mereka karna wanita itu menanggai kecerewetan Silvia dengan tenang. Tak sadarkah mereka saat ini sudah menjadi pusat perhatian semua orang? Bahkan sejak tadi para tamu sibuk memperhatikan saling berbisik ria.
Tak sengaja mataku menangkap sosok kak Logan datang bersama tuan Jacob, sepertinya mereka selesai diskusi. Hanya sebentar hingga Logan melihatku kemudian berjalan mendekat namun di tengah jalan ia dihadang oleh wanita bergaun merah tadi, tidak seperti Silvia dia lebih sopan dan tidak antusias.
“Hahhh kuharap dia bukan jelmaan lintah”. Gumamku membuang nafas berat.
__ADS_1
Baiklah untuk kali ini ku membiarkan kalian mendekatinya karna aku sudah ada janji kencan dengan semua makanan lezat ini. mataku kembali berbinar pada keindahan macaron warna-warni, tanpa basa-basi langsung ku bereskan semuanya. Kuberikan seluruh jempolku bagi siapa saja yang membuat makanan selezat ini, rasa manisnya menjadikan mood burukku teratasi dengan mudah.