Putri Aquamarinia

Putri Aquamarinia
Drama


__ADS_3

-o0o-


Baru saja tanganku hendak meraih gagang pintu tiba-tiba sebuah suara menghentikanku. Sontak saja aku berbalik mendapati seorang gadis berkemeja putih dengan rok mini diatas lutut berwarna colat, rambutnya diikat kuda juga aroma parfum yang semerbak membuat kepalaku sakit.


“Siapa kau? Mau apa kau kesini?”. Ucapnya garang seraya menelusuri penampilanku dari atas sampai bawah.


Sepertinya dia tidak mengenaliku, wajar saja karna saat ini aku mengenakan stelan casual sweater merah dan celana jins hitam, rambut emasku disanggul asal juga wajahku tidak mengenakan riasan apapun. Para karyawan tau karna mereka sering melihatku datang ke sini dan mungkin hal yang wajar dia tidak mengenaliku seperti ini.


“Ada apa dengan security di sini, kenapa sembarangan orang bisa masuk”. Geramnya sedetik kemudian mendekat lalu tersenyum sinis. “Pergilah sebelum aku memanggil penjaga, Minggir!!”. Sambungnya mendorong tubuhku kasar.


“Akhhh”. Rintihku ketika pinggangku mengenai sudut meja sekretaris Logan yang kebetulan sedang kosong.


“Cih rasakan”. Ucapnya membuka pintu ruangan lebar-lebar menyapa manusia yang berada di dalam.


Kubuang nafas pasrah kemudian bangkit namun rasa perih pada pinggangku sangat mengganggu. Perlahan ku angkat sedikit bajuku dan benar saja terdapat tanda merah yang bisa kupastikan sebentar lagi berubah menjadi hijau. Dasar jadi perempuan kasar sekali, apa jangan-jangan dia gadis yang sejak tadi mereka bahas?


Kutolehkan pandangan ke dalam ruangan dari jendela kecil menghubungan meja kerja si sekretaris dengan si presdir. Ku dorong kursi dan duduk di sana, memposisikan diri menghadap ke dalam bak menonton drama romansa. Ponselku berdering menandakan satu panggilan masuk, bibirku langsung membuat seutas senyuman.


“Halo rajaku”.


“Ratuku sayang aku sangat merindukanmu”.


“Lihatlah mulut manis ini, pulanglah cepat”.

__ADS_1


“Aku ingin tapi pertemuan para direksi memakan waktu lama dan sepertinya aku akan pulang lusa”.


“Benarkah? Apa kau baik-baik saja? Jangan memaksakan diri dan pintalah Steven menggantikanmu, dia itu bisa kau andalkan dalam berbisnis”. Kekehku.


“Akan ku ingat. Apa yang kau lakukan saat ini, rasanya suaramu bahagia sekali”.


“Sayang aku sedang menonton drama, alurnya sangat menarik”.


“Oh ya beritahu aku di channel mana, aku juga ingin melihat”.


“Kerjakan saja tugasmu dan cepatlah kembali, kita bisa menontonnya bersama”. Claude terkekeh ria.


“Baiklah. Aku tidak sabar untuk cepat pulang”.


Ku kembalikan ponsel ke dalam saku celana kembali menoleh ke depan. Kali ini mataku menangkap adegan dimana si gadis menggeluarkan pesonannya, Logan membuang nafas pasrah ketika gadis itu bergelayut manja di belakangnya sedangkan pria paruh baya itu duduk tersenyum lebar.


Tiba-tiba saja ide cemerlang mendatangiku, dengan percaya diri ku bukak pintu besar tersebut kuat sembari bersorak riang.


“Sayang aku datang~”. Seruku membuat semua orang menatapku termasuk Logan yang kini terbelalak.


Aku tersenyum berlari mendekat dengan sengaja mendorong gadis itu menjauh, memposisikan diri duduk dipangkuan Logan yang masih terkejut.


“Sayang kenapa lama sekali pulangnya? Tak tau kah kau betapa aku merindukanmu”. Rengekku memeluknya manja.

__ADS_1


Logan yang sepertinya mulai mengerti situasi menampilkan senyumnya, tangan besar tersebut membelai rambutku sayang.


“Maafkan aku semua ini karna pekerjaan begitu banyak”.


“Kau lebih mementingkan pekerjaan daripada diriku?”.


“Aku mana berani. Tentu saja kau yang utama”. Diam-diam kucoba untuk tidak tertawa ketika melihat tatapan membunuh dari gadis nakal itu.


“Astaga maafkan aku”. Ucapku berpura-pura kaget namun tidak merubah posisiku. “Paman pekernalkan aku Irene tunangan presdir Logan, maafkan aku karna tidak menyadari kehadiranmu”. Sambungku membuat pria paruh baya itu tersentak.


“T, tidak apa-apa nona”. Aku menoleh ke belakang.


“Ahh bukankah kita bertemu di depan pintu? Salam kenal”.


Bisa kulihat wajah murkanya namun sebisa mungkin ditahannya digantikan dengan ekspresi ramah yang dipaksakan. Kualihkan pandangan pada Logan sembari melingkarkan lenganku ke lehernya.


“Sayang ayo kita pulang, tubuhku rasanya tidak sehat”.


“Kenapa? Kau sakit? Katakan dimana yang sakit”.


“Kau ingin aku melihatkanya disini? Ayo pulang dan kau bisa melihatnya di rumah”. Kesalku menyandarkan kepala pada pundak lebar Logan.


Bisa kurasakan Logan bangkit menggendongku ala bridal style. Posisiku saat ini memudahkan melihat gadis yang sedang bertanduk enam cabang dua belas. Rahangnya mengeras bahkan tangannya mengepal kuat di samping tubuhnya. Aku mencibir jahil membuatnya semakin murka, memangnya siapa bilang kau bisa seenaknya dengan keluargaku. Menyerahlah sebelum kau berakhir sama seperti Esmeralda atau Jasmin, karna aku tidak akan diam saja ketika menyangkut kebahagiaan orang yang kusayangi.

__ADS_1


__ADS_2