
-o0o-
Logan membuang nafas panjang ketika selesai mengerjakan tugasnya sebagai seorang CEO perusahaan Aquamarinia. Menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan kepala menatap pemandangan kota yang indah apalagi saat ini cuaca sangatlah mendukung.
“Direktur anda kedatangan tamu”. Seru sebuah suara membuat Logan sontak berbalik.
“Siapa?”.
“Tuan muda Claude”.
“Claude? Suruh dia masuk”.
Sang sekretaris membungkuk dan sedetik kemudian posisinya digantikan oleh pria tampan tampak rapi dengan stelan jas putih kecoklatan.
Claude menyapa dengan sedikit membungkuk lalu mendudukan diri di seberang Logan.
“Senang melihatmu lagi Claude”.
“Aku juga, maaf jika datang tanpa memberitahu sebelumnya”.
“Jangan terlalu kaku, kita ini sudah berteman lama jadi santai saja”.
Claude tersenyum kecil kemudian merongoh saku mengeluarkan selembar kertas lalu memberikan pada Logan.
“Apa ini”. Bingungnya membaca lembaran kertas tersebut. “Kasus penyelidikan percobaan pembunuhan?”.
Claude mengangguk. “Jangan terkejut tapi memang begitu adanya, kemarin anak kepercayaanku tidak sengaja menemukan data nya”.
“Lalu apa hubungannya denganku? Apa seseorang berniat membunuhku?”.
“Bukan kamu tapi adikmu”.
“Xavier maksudmu? Tidak usah cemas tidak akan ada yang bisa menyentuhnya, dia itu prajurit handal walaupun pekerjaannya seorang aktor”.
“Bukan dia tapi Risa”.
“APA!!”.
-o0o-
Di lain sisi kini Risa menikmati makan malamnya bersama Elene, setelah menceritakan semua curhatan nya mereka memutuskan untuk berpesta dengan makan BBQ.
Matahari nan terik bukan suatu halangan bagi mereka berpesta di halaman belakang, walaupun hanya dihadiri dua orang dan beberapa pelayan sudah lebih cukup baginya.
“Mama dimana papa?”.
“Dia sedang pergi mengurusi rencana pembukaan cabang di luar negri bersama Xavier. Sepertinya mereka akan kembali lusa”.
“Kenapa kakak ikut juga”.
“Xavier memiliki jadwal syuting di tempat yang sama jadi sekalian saja”.
“Benar juga, seharusnya aku ikut ke lokasi syuting”.
__ADS_1
“Hm? Kenapa? Tidak biasanya kamu ingin ikut”.
“Tidak ada, ini urusan kami berdua”. Kekeh Risa mengabaikan wajah tidak percaya Elene.
“Wahh apa saat ini anak-anak ku mulai pandai menyimpan rahasia? Astaga baiklah kalian memang anak nakal”.
Risa tertawa geli memeluk ibunya erat menghadiahkan kecupan sayang di pipinya.
“Mama adalah waniat terbaik sepanjang masa”.
“Ohooo jangan merayuku”.
Mereka tertawa senang kembali melanjutkan pesta. Risa meraih sepotong daging segar dan meletakkannya di pembakaran. Steven bertugas menjaga arang agar tetap hidup sedang Sharon dan Irene bertugas membuat dessert.
Drrtt…ddrrtt..
Risa yang sedang membalikkan daging bergegas mengambil ponselnya di atas meja.
“Halo kak Logan”.
“Risa kamu dimana?”.
“Di rumah, cepatlah pulang ibu dan aku memanggang daging di halaman belakang”.
“Oh ya?”.
“Kakak sudah selesai bekerja? Jika sudah pulanglah aku akan membakar daging untukmu”.
“Baiklah tunggu aku”.
Setelah meletakkan ponsel Risa kembali ke pemanggangan.
“Apa sudah matang?”. Tanyanya pada Steven.
“Sedikit lagi aku akan mengambil beberapa arang baru”.
Risa mengangguk mengambil pencapit daging namun..
Dor!!…
Ting…
Suara tembakan terdengar dan tepat mengenai pencapit yang berada di tangan Risa. Risa berteriak kesakitan ketika merasakan goresan dari tembakan tersebut.
“Special Knight!!”. Steven berteriak kencang sedetik kemudian segerombolan prajurit mendekat dan sebagian menyebar.
“Your Highness kau tidak apa-apa?”. Panik Steven ketika melihat gadis itu meringis memegangi tangannya. Rahang Steven mengeras ketika menyadari jika peluru tersebut menembus kulit diantara ibu jari dan telunjuk Risa.
“Attack mode, NOW”.
Sontak saja para Special Knight bergabung dengan Knight penjaga mengejar 10 pria berpakaian serba hitam berlari menyebar kesegala arah.
Steven menggendong Risa ke dalam rumah namun tembakan kembali terjadi dan kali ini mengenai bahu kirinya.
__ADS_1
“Steven!!”.
Steven terduduk hampir menjatuhkan Risa beruntung kakinya menahan dengan cepat jika tidak mereka akan jatuh menuruni tangga.
“Aku baik-baik saja”.
Belum sempat Risa beraksi tembakan datang bertubi-tubi, Steven langsung menyeret Risa melindungi diri ke balik tiang.
Semuanya terjadi begitu cepat membuat Risa merasakan sakit di kepalanya.
“Your Highness jangan khawatir, aku akan melindungimu”. Ujar Steven mencoba menenangkan Risa yang mulai memucat.
“Dasar bodoh kau terluka bagaimana caramu melindungiku ha!!”.
“Jangan lupakan jika aku seorang Special Knight yang tidak akan mati hanya dengan satu tembakan, percayalah karna tidak akan ada yang bisa menyakitimu selagi aku masih hidup”. Gumamnya menampilkan senyum yang bisa membuat Risa berdebar kencang.
Perlahan Steven memasang earphone di telinga kirinya, tembakan masih menyerbu mereka dan beberapa knight terluka.
“Kevin mereka memiliki sekitar 3 Snipper, lakukan tugasmu”.
“Roger”. Seru seseorang di seberang sana.
“Kevin?”. Bingung Risa.
“Salah satu prajuritku hanya saja ia bertugas memimpin serangan jarak jauh”. Risa mengangguk paham namun merutuki kebodohannya tidak mengenali para prajuritnya padahal ia seorang Ratu yang seharusnya mengetahui setiap seluk-beluk kerajaan.
Tak lama kemudian serangan itu hilang dan kemungkinan besar dihentikan oleh Kevin bersama rekan-rekannya.
Steven mengambil kesempatan membawa Risa pergi ke dalam rumah dan kebetulan sekali Logan datang dengan wajah panik.
“Risa”.
“Kakak”. Risa memeluk kakaknya ketakutan sedangkan Logan langsung bernafas lega melihat adiknya baik-baik saja.
“Aku takut”.
“Sttt tenanglah kau aman sekarang”. Balas Logan memeluk tubuh adiknya yang bergetar hebat.
Steven tersenyum lega kemudian meringis ketika merasakan sakit di pundaknya. Logan beraksi mendekati sahabat adiknya tersebut setelah mendudukan Risa ke sofa.
“Kau tidak apa-apa Stev”.
“Aku baik-baik saja tuan muda”.
Logan memandangi sekitar yang amburadul akibat serbuan tembakan dan beberapa bawahannya terluka parah.
“Ck jika seperti ini apa boleh buat, kita harus melakukannya”. Geram Logan membuat Risa maupun Steven mengeryit bingung.
“Kakak apa maksudmu”.
“Risa waktunya mengerahkan kekuatan Aquamarinia”.
Risa dan Steven saling pandang kebingungan dengan jalan fikiran Logan, saat ini wajah datar itu lebih dingin dari biasanya.
__ADS_1
Perlahan Logan membantu Steven berdiri dan membawanya ke sofa samping Risa. Setelah mastikan semuanya mulai tenang Logan menarik nafas panjang kemudian menoleh ke sekeliling dan mendapati sosok Irene yang berdiri di dekat pintu. Mereka seolah-olah saling berkomunikasi dalam diam sedetik kemudian ia berlari pergi ketika melihat anggukan kepala Logan.
"Time to strike back".