
đź‘‘ Larrisa de Zaven Aquamarinia
Risa Pov
-o0o-
Setelah beristirahat nenek dan kakek membawa kami ke kebun anggur yang kebetulan sedang musim panen. Kurang lebih 50 orang mengabdikan diri pada kakek dan lebih dari cukup untuk kebun yang luasnya mintak ampun ini, saking luasnya aku bahkan tidak bisa melihat pekerja yang memetik anggur di ujung sana.
Saat ini aku sedang melihat Steven duduk memetik anggur dengan keranjang besar di sampingnya. Satu tangannya bertugas menggunting bagian batang sedangkan tangan lainnya menahan agar buah tersebut tidak jatuh.
“Wahh kau memang ahli dalam segala hal Stev”.
Steven terkekeh meletakkan anggur tersebut ke dalam keranjang.
“Kau benar hanya saja aku tidak sehebat itu jika melibatkan hati seorang wanita”. Balasnya disela-sela kegiatan.
“Ini pertama kalinya kau membahas wanita padaku”.
“Oh ya? Apa kau keberatan”.
“Tidak juga sih, cuman…”.
“Aku ini manusia bukankah hal biasa jika membahas lawan jenis?”.
Aku mengangguk mengerti, tiba-tiba Steven bangkit dan menyuapkan sebutir anggur.
__ADS_1
“Bagaimana?”.
“Manis tapi sedikit asam”.
“Ini jenis Pinot Noir, jenis anggur ini sering dibuat sebagai bahan pembuatan wine. Aromanya mirip dengan buah ceri baik itu sudah matang atau belum”.
“Berhenti menyombongkan pengetahuanmu, kau membuatku merasa bodoh”.
Selagi Steven panen kuputuskan untuk berkeliling melihat-lihat banyaknya buah anggur berkilau karna sinar mentari. Di ujung sana Xavier membantu nenek mengangkat keranjang miliknya seraya berjalan berbarengan menuju pondok penyimpanan, senyumku merekah ketika melihat Logan berdiri mematung dengan wajah damai. Logan terkejut ketika dengan tiba-tiba ku berhambur memeluknya dari belakang.
“Biar ku tebak. Merindukan Sharon ya?”.
Logan terkekeh kemudian membawaku ke hadapannya, tangan besar itu mencubit pipi ku gemas lalu tersenyum.
“Berhenti menjodohkanku dengan sekretarismu”.
“Dasar sok tau”. Kekehnya memelukku erat, tangan nya mengelus kepalaku sayang bahkan dari jarak sedekat ini aku bisa mencium aroma tubuh nya yang menggoda.
“Risa”.
“Hm”.
“Kau tau jika aku sangat menyayangimu”. Aku mengangguk. “Jadi berhenti memikirkan kebahagiaanku sebelum kau menemukan kebahagianmu sendiri”.
“Maksud kakak?”.
Logan melepaskan dekapannya beralih menatapku lembut.
__ADS_1
“Kau sedang menghadapi masa-masa sulit dengan gelar ratu di samping itu hubungan dengan Claude juga tidak jelas, aku tau kau berusaha tegar di hadapan semua orang dan menangis saat sendiri. Jika memang sulit kau bisa bergantung pada ku atau pada Xavier, kami ini kakakmu bertugas melindungi dan menjagamu sampai kapanpun bahkan sampai kau menikah suatu saat nanti. Jadi, bahagialah wahai adik kecilku”. Sontak saja kembali ku berhambur memeluknya dengan air mata yang mengalir, terisak di dada bidang itu melepaskan segala beban memberatkanku untuk melangkah.
-o0o-
Malam harinya nenek mengadakan pesta makan malam di halaman belakang. Meja makan panjang membentang tidak jauh dari kolam renang, di atasnya sudah tersaji berbagai macam makanan lengkap dengan dessert yang lezat.
Suasana sudah mulai ramai dihadiri oleh beberapa rekan bisnis kakek sampai dengan karyawan mereka, kakek bukanlah tipe pria yang memilih-milih tanpa memperhatikan gelar atau jabatan.
Hari ini nenek membantuku mengenakan dress merah selutut dengan pundak terbuka, rambut emas di sanggul rapi berhiaskan tiara putih kecil, sepatu ber-heels sedang, sedikit polesan make up dan terakhir selendang bulu putih nan lembut. Selesai berdandan kami langsung menuju lokasi pesta, Logan menyambutku dengan senyuman manisnya sedangkan Xavier sibuk menggoda para gadis yang sepertinya tidak jauh lebih muda dariku.
Ku edarkan pandanganku ke sekeliling mencoba mencari seseorang.
“Mencari siapa?”. Tanya Logan mengikuti pandanganku.
“Steven. Kakak melihatnya?”.
“Steven? Tidak, bukankah seharusnya dia bersamamu”.
“Memang tapi setelah itu aku tidak menemukannya di manapun”.
Rasa penasaranku mengalahkan segalanya, segera ku langkahkan kaki mengelilingi rumah berharap menemukan Steven tapi nihil pria itu tidak ada dimana-mana.
Kecurigaanku mulai bertambah ku raih senter di atas meja kemudian berlari ke kebun anggur tanpa memperdulikan panggilan Logan.
Sesampainya di kebun mulutku terus berteriak memanggilnya namun tak ada balasan sedikitpun. Logan yang datang entah dari mana langsung mengikutiku dari belakang, kenapa perasaanku tidak enak? Tidak biasanya Steven pergi selama ini, biasanya ia akan pergi paling lama lima menit dan setelah itu kembali ke sisiku.
Tiba-tiba mataku menangkap keranjang dengan anggur yang bertebaran. Itu, itu keranjang Steven saat panen anggur tadi siang. Secepat mungkin aku berlari mendekat lalu menyentuh keranjang tersebut, kuedarkan pandangan mencari tanda-tanda keberadaannya sedetik kemudian terbelalak ketika melihat noda merah di dedaunan.
__ADS_1
“STEVEN!!”.