
-o0o-
“Kau bisa gendut jika makan terlalu banyak”. Seru sebuah suara membuatku sontak berbalik.
Kak Logan terkekeh menghapus krim dari sudut bibirku menggunakan jarinya.
“Dasar rakus”.
“Biarin salahkan kokinya kenapa bisa buat seenak ini”.
“Berhentilah makan dan ayo berdansa”.
“Dansa? Kenapa tidak bersama wanita bergaun merah itu?”. Gumamku mendengus kesal, sejenak kak Logan mengeryit bingung menengok ke arah dua wanita yang sibuk bercengkrama.
“Dia teman sekolahku dulu namanya Kirana Lin, kebetulan dia datang karna ayahnya saudara kandung tuan Jacob”.
“Apa dia menggodamu juga?”.
“Tenang saja dia itu sudah ku anggap sahabat sendiri, kau tidak perlu mencemaskannya karna dia sudah menikah dan memiliki seorang anak”.
“Benarkah?”. Kagetku nyaris menyamburkan macaron dari mulutku. “Dia sudah menikah? Tapi…”.
“Dia itu bekerja sebagai direktur perusahaan kosmetik sekaligus pelatih gym internasional jadi wajar saja kita menyangka dia terlihat seperti wanita lajang”. Astaga ini pertama kalinya aku berburuk sangka pada seseorang karna selama ini tebakan ku selalu benar jika menyangkut wanita genit bermata duitan.
“Bolehkan aku ikut bergabung”. Seru sebuah suara membuyarkan lamunanku.
Panjang umur karna tokoh yang dibicarakan datang dengan segelas wine di tangannya. Bibir merahnya tersenyum ramah padaku membuatku reflek ikut tersenyum, perlahan ia mengulurkan tangannya.
“Perkenalkan aku Kirana Lin teman lama Logan”.
“I, iya namaku…”.
“Larrisa bukan? Aku sudah tau”.
“Kau tau darimana?”. Tanya kak Logan bingung.
“Tidakkah kau mengingat jika dulu aku pernah mengunjungimu bersama orang tua ku karna sudah seminggu kau tidak masuk sekolah karna sakit. Di sana aku melihat bocah kecil berwajah imut ikut tidur di sebelahmu, Xavier bilang dia adik bungsu kalian”.
Kak Logan dan aku hanya bisa mengangguk paham karna jujur aku sama sekali tidak mengingatnya.
“Lalu kenapa Silvia bilang kau itu kekasih Logan? Bahkan dia terlihat marah sekali”.
__ADS_1
“Aku hanya tidak suka lalat hijau mengerubungi kakakku”. Gumamku hanya bisa cengar-cengir.
Alhasil kami saling berbincang lama bahkan sampai waktu menunjukkan pukul 23.00 malam dan aku sudah mengantuk. Sebelum aku berakhir tertidur sambil berdiri segera Logan membawaku pulang sekaligus mengantar Kirana yang kebetulan rumahnya searah. Sejauh ini bergaulanku dengan Kirana cukup menyenangkan karna sifatnya tidak sedingin yang ku kira dan juga tak ada tanda-tanda niat tersembunyi.
Sepanjang perjalanan ia menceritakan seputar buah hati tampannya kini berusia 5 tahun. Sudah duduk di bangku taman kanak-kanak pusat kota, memiliki kepribadian ceria dan selalu merecoki ayahnya dengan mengacaukan koleksi mainan langkanya. Kirana bahkan berjanji akan membawa putranya ke rumahku dan aku tidak sabar menantikanya.
Sesampainya di rumah Irene langsung membantuku berganti pakaian serta membersihkan diri. Merubah gaun menjadi piyama lalu bergabung dengan Xavier di ruang keluarga melahap sup buah miliknya tanpa perlu berbasa-basi.
“Setan kecil kau hobi sekali merebut makananku”. Dengusnya mengambil kembali sendok dariku.
“Makanan itu ada untuk dibagi”.
“Memangnya kapan aku berniat membagikannya denganmu, kembalikan”.
“Cih pelit”.
Xavier mencibir membuatku menahan sebisa mungkin untuk tidak menjitak kepalanya.
“Bukankah kau seharusnya shooting ke luar kota, kenapa bisa disini”.
“Jadwalnya diganti lusa karna ada perubahaan naskah”. Aku mengangguk paham meluruskan kakiku ke atas kakinya, aku berbaring di sofa mencoba menghilangkan rasa penat.
“Sepertinya pesta itu membuatmu kewalahan, berhenti saja jangan memaksakan diri”. Gumamnya dengan mulut penuh potongan buah.
Xavier terkekeh perlahan meletakkan mangkok ke atas meja, menggunakan tanganya mengurut kakiku. “Baiklah aku akan memberikan servis terbaik karna kau telah bekerja keras yourhighness”.
“Terima kasih. Akhir-akhir ini aku membutuhkan tenagamu prince Xavier”.
“Tenang saja bisa kujamin tubuhmu akan kembali segar karna sentuhanku”.
“Kalau begitu jangan mengecewakanku”. Kekehku memejamkan mata menikmati, betapa beruntungnya aku terlahir memiliki dua kakak yang rela memberikan segalanya untukku. Bisa ku jamin siapa saja yang menjadi istri mereka kelak pasti mendapatkan kebahagiaan tiada tara.
Salah satu alasanku tidak tinggal di rumah sendiri bersama Claude adalah mereka, karna selama ini aku hidup bergantung dengan mereka dan begitupun sebaliknya baik Logan maupun Xavier belum bisa melepaskanku sepenuhnya pada Claude. Bukan berarti tidak percaya hanya saja butuh sedikit waktu agar semua mulai terbiasa. Kami serasa sudah sepaket akan sulit untuk dilepaskan bahkan orang tua kami sekalipun tak bisa berbuat apa-apa.
-o0o-
“Yourhigness saya kembali”. Seru sebuah suara membuatku mengalihkan pandangan dari lembaran dokumen.
“Sharon? Kau sudah kembali? Bagaimana dengan keadaan nenekmu?”.
“Berkat anda nenek saya baik-baik saja yourhigness, operasinya berjalan lancar dan saya sudah bisa kembali bekerja”. Aku mengangguk paham kembali melucuti deretan huruf pada kertas putih.
__ADS_1
“Apakah itu dokumen tentang permohonan investasi dari Grup Ji yourhighness?”.
“Begitulah. Ini sudah kesekian kalinya mereka mengirimkan proposal ini”.
“Saya akan mengurusnya yourhighness”.
“Baiklah kupercayakan kau mengatasi semua ini, berikan pada mereka respon penolakan investasi dari Aquamarinia. Cih mereka mengandalkan segala cara hanya untuk bersenang-senang, mereka pikiri aku tidak tau jika uang itu digunakan bukan demi membangun panti asuhan melainkan untuk berfoya-foya dan memberikan seperempatnya dengan embel-embel sumbangan”. Geramku meremas kertas tersebut menjadi tidak berbentuk.
“Baik yourhighness akan kulakukan”. Balas Sharon mengambil alih semua dokumen dari meja kerjaku.
“Sharon”.
“Ya yourhighness”.
Kupicingkan mata menyelidik sembari melipat tangan ke dada. Apa aku harus menanyakan perihal kedatangannya ke Mega Ishland untuk bertemu Logan? Apa dia akan berkata jujur? Sepertinya tidak untuk saat ini.
“Tidak apa-apa kembalilah bekerja”.
“Kejayaan bagi Aquamarinia”. Balasnya sedikit membungkuk lalu melangkah pergi.
Jika memang dirinya yang datang kemarin maka apa yang harus kulakukan? Mencurigainya? Setelah kerja kerasnya untuk setia kepada Aquamarinia?
Setelah bergelut dengan berkas-berkas selama setengah hari akhirnya tugasku selesai juga. Diikuti oleh Sharon, aku memasuki limousine tak lupa beberapa special knight berjaga di sekelilingnya. Satu jam sebelum pekerjaanku selesai di Mega Ishland, ibu memintaku menemui Xavier yang berada di lokasi shooting. Katanya pria itu pingsan karna demam dan sekarang berada di ruang kesehatan karna jarak rumah sakit sangat jauh dari lokasi.
Setelah berganti pakaian menggunakan kemeja putih dipadukan dengan blazer coklat serta celana jins coklat tua, langsung saja kunaiki helikopter berlabel Aquamarinia. Perjalanan menuju ke lokasi memakan waktu 2 jam dengan mobil dan 60 menit dengan helikopter. Sepanjang perjalanan Sharon tampak sibuk dengan ponselnya bahkan sesekali mengadukan informasi seputar pekerjaan padaku. Hahh kapan aku bisa istirahat? Pekerjaan ini mengurangi 10 tahun usiaku.
Tak lama kemudian helikopter mendarat di halaman luas sebuah villa, dari atas sini aku bisa melihat beberapa mobil dan juga antribut pengambilam film. Semua orang menoleh dengan ekspresi bingung sembari menahan topi mereka agar tidak terbang karna sapuan angina dari baling-baling.
“Sharon apa pun yang terjadi jangan mengeluarkan suara, mengerti?”.
“M, mengerti yourhighness”.
Perlahan aku turun setelah pintu heli terbuka, kedatanganku disambut oleh para staff termasuk si sutradara. Di belakangku telah mendarat satu lagi helikoper milik tim medis pribadi Aquamarinia, mereka mengikuti dari belakang membawa tas medis mereka.
“Kejayaan bagi Aquamarinia. Selamat datang yourhighness kami telah menanti kedatangan anda”. Sapa pria paruh baya denga senyuman ramahnya.
“Terima kasih telah mengabariku tuan Smith. Dimana dia sekrang?”.
“Tuan Xavier berada di kamar lantai dua, mari saya akan mengantar anda”.
Aku mengangguk mengikuti pria tua tersebut menaiki tangga, sepanjang jalan aku bisa melihat property shooting lengkap dengan sang artis. Ketika kami sampai di depa pintu kamar yang terbuka seluruh orang terkejut melihat sosok yang seharusnya tidak berada di sana.
__ADS_1
“Kau…”.