
-o0o-
Ke-esokan harinya seperti biasa aku belajar dengan Abelia, guru privatku sedari kecil. Kali ini kami belajar berdansa karna di saat pesta penobatanku nantinya akan ada sesi berdansa bersama.
“Bagus tuan putri kau bisa menguasainya dengan cepat”. Seru Abelia sembari bertepuk tangan bisa ku lihat Steven yang berdiri di sisi ruangan melakukan hal yang sama.
“Tapi ini melelahkan, kakiku rasanya mau lepas”.
“Kalau begitu aku bersedia memasangnya kembali tuan putri”.
“Diam kau Steven”.
“Kalau begitu kita istirahat 10 menit”. Ucap Abelia direspon langsung oleh beberapa maid membawakan handuk kecil dan segelas air.
Langsung saja ku teguk air tersebut hingga habis setelah itu sedangkan Steven dengan pelan menghapus keringat dari dahiku.
“Apa kau akan semanis ini ketika bersama istrimu kelak Stev?”.
“Yang pastinya di luar perkiraan tuan putri”.
“Ooo~ Aku tidak sabar melihatnya”.
“Kejayaan bagi Aquamarinia”. Seru Mark pria paruh baya yang bekerja sebagai kepala pelayan. “Tuan putri anda kedatangan tamu”.
“Siapa?”.
“Putri Jasmin”.
“Jasmin?”. Gumamku kemudian menatap Steven yang juga menatapku bingung. “Suruh dia masuk”.
“Baik tuan putri”. Balasnya kemudian membukakan pintu besar tersebut.
Benar saja, dari balik pintu tampaklah sosok gadis berpakaian resmi ala Arab lengkap dengan surai emasnya.
Perlahan kaki jenjang tersebut melangkah mendekat dan berhenti ketika jarak kami berkisar 10 langkah.
Jasmin membungkuk sembari mengembangkan surai emasnya.
“Kejayaan bagi Aquamarinia”.
“Berdirilah putri Jasmin”.
__ADS_1
“Maafkan kelancangan saya datang menemui tuan putri”.
“Tidak apa-apa. Lama tidak jumpa, bagaimana kabar putri Jasmin saat ini”.
“Terima kasih atas perhatian tuan putri, saya baik-baik saja”.
“Kalau begitu duduklah”. Ia membungkuk kecil kemudian mendudukan diri di kursi yang telah di sediakan Mark.
“Ada apa putri Jasmin jauh-jauh datang kesini? Sendirian? Aku tidak melihat adanya para pengawalmu”.
“Sebenarnya saya datang ke sini bersama tuan Claude, hanya saja ia tidak mengetahui jika saya datang menemui tuan putri”.
Seketika nafasku sesak mendengar fakta bahwa mereka datang bersama, kesini berdua saja.
“Oh ya lalu ada maksud apa seorang putri Arab datang menemuiku?”.
“Hmm itu.. Sebenanya…”. Seketika wajah cantik itu menatapku serius. “Tuan putri maafkan kelancanganku sebelumnya tapi izinkan saya memberikan satu pertanyaan”.
“Katakanlah”.
“Apa benar tuan putri dan tuan muda Claude bertunangan?”.
“Lalu apa.. Tuan putri mencintainya?”.
“Apa maksudmu?”.
“M, Maafkan aku”. Ucapnya cepat.
“Kalau aku katakana iya apa kau akan baik-baik saja?”.
“Eh?”. Jasmin menatapku bingung.
“Bagaimana pun juga nantinya kami akan menikah, lalu apa kau baik-baik saja?”.
Sejenak Jasmin terdiam, dari sudut matanya bisa ku lihat genangan air mata yang bisa jatuh kapan saja. Bibir mungilnya bergetar namun tidak ada suara yang keluar.
“Jawab aku putri Jasmin!!”.
“AKU TIDAK BAIK-BAIK SAJA”. Teriaknya membuatku bahkan seisi ruangan terkejut.
“Claude dan aku sudah berhubungan selama bertahun-tahun, kami saling mencintai dan bahkan kedua orang tua kami sudah menyusun acara pernikahan kelak. Kami bahagia dan menghabiskan waktu bersama sampai acara akan datang, namun semua berubah ketika surat petaka dari Aquamarinia. Hatiku hancur berkeping-keping mendengar bahwa Claude akan menikah dengan putri Yang Mulia Zaven. Tidak ada yang bisa melanggar aturan Aquamarinia, bahkan saat Claude kembali ia tidak membawa kabar gembira apapun tentang pembatalan perjodohan kalian. Setelah semua ini, apa kau fikir aku baik-baik saja”. Jasmin menumpahkan segala emosinya dengan menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
“Putri Jasmin beraninya kau berteriak k…”.
“Sudahlah Stev”. Potong ku cepat.
Ku buang nafas berat kemudian memberanikan diri menatap gadis yang kini terisak hebat.
“Berhenti buang-buang air matamu putri Jasmin”. Ucapku membuatnya perlahan menurunkan tangannya dan menatapku.
“Tentang pertuanganku dengan Claude semua bukan keinginan ku, kami sudah terikat sejak aku dilahirkan. Jika kau bersikeras ingin mengambil Claude silahkan”.
“Apa maksud tuan putri”.
Aku menatap tajam sosok yang kini berdiri mematung di depan pintu.
“Kali ini ku serahkan keputusan pada tuan muda Claude de Alger Ophelia, pernikahan ini tidak akan terjadi jika ia memintanya sendiri padaku. Saat itu juga semuanya berakhir baik dia maupun aku tidak akan saling mengenal satu sama lain”. Gumamku tegas kemudian bangkit dan melangkah keluar.
Tak ku perdulikan tatapan aneh pria tersebut dan berjalan melewatinya.
Tubuhku ambruk ketika berada di taman atap rumah, beruntung Steven menahan tubuhku yang hampir mencium tanah.
“Hwaaaaa!!”.
“Sttt kau sudah bekerja keras”. Bisiknya seraya memelukku erat.
Ku tumpahkan semua rasa sesak yang menahan dadaku untuk bernafas. Memeluk erat tubuh kekar Steven yang hangat, membenamkan wajahku di dada bidang tersebut.
Sudah cukup.
Secara perlahan semua akan ku akhiri walaupun konsekuensinya sangat berat. Akan ku perjuangkan kebahagian dan keamanan keluargaku, melawan semua rasa sakit sampai titik darah penghabisan.
Setidaknya aku berani jika tidak hidupku sama saja mengenaskan dengan kehidupanku sebelumnya.
Bertahanlah Larrisa.
Bertahanlah.
Percayalah jika kau pasti bisa melewati semua ini.
Jangan lari lagi.
Let’s fight all the bad things.
__ADS_1