Putri Aquamarinia

Putri Aquamarinia
Fakta Sebenarnya


__ADS_3

-o0o-


Hari ini merupakan hari besar bagi masyarakat Aquamarinia, dimana saat ini mereka sedang menyiapkan pesta ulang tahun Xavier. Semua orang begitu antuasias pasalnya selain menjadi tuan muda kedua ia juga merupakan seorang aktor professional, bakatnya dalam berakting tidak bisa diremehkan. Konsep pesta diadakan di sepanjang jalan Aquamarinia karna nantinya akan diadakan pawai besar-besaran dan banyak hiburan lainnya.


Acara di awali dengan pawai berkeliling Aquamarinia kemudian berkumpul di lapangan untuk pesta makan malam dan terakhir pesta dilanjutkan di dalam gedung yang hanya dihadiri oleh keluarga kerajaan juga tamu undangan. Ini pertama kalinya Aquamarinia mengadakan pesta besar yang melibatkan masyarakat banyak.


Risa kini berdiri di balkon kamarnya yang tertuju langsung dengan pemandangan kota. Bibir mungil itu membuat seutas senyuman melihat antuasias rakyatnya mengadakan pesta ulang tahun kakaknya. Sebenarnya ia sama sekali tidak berniat melakukannya hanya saja dominan masyarakat Aquamarinia merupakan penggemar Xavier dan meminta untuk diadakan pesta kelahiran untuknya. Mau tidak mau Risa setuju dan memberikan banyak fasilitas seperti ratusan bunga, makanan dan pakaian bagi yang membutuhkan.


“Sayang”. Panggil sebuah sura membuat Risa sontak berbalik.


“Ibu”.


Elene tersenyum melangkah mendekat. “Ternyata kamu di sini, ibu mencarimu kemana-mana”.


“Oh ya? Kenapa?”.


“Kakakmu Xavier mengamuk karna kau memintanya mengundang teman-teman sesame artisnya, ia tampak kewalahan mengingat temannya begitu banyak sampai ke luar Aquamarinia”.


“Biarkan saja bu daripada dia hanya berdiam diri di rumah mending ikut berpatisipasi menyiapkan pestanya”. Elene menggeleng pasrah kemudian membelai rambut emas putrinya.


“Lihatlah putriku sudah sebesar ini, ibu bangga padamu nak. Di usia muda sudah mengemban tugas berat dengan menjadi seorang ratu daripada menghabiskan waktu bermain dengan teman-teman seusiamu. Ibu sempat khawatir putriku tidak akan sanggup melakukan tugas berat ini namun siapa sangka, semua masalah bisa kau lalui dengan mudah”.


Risa tersenyum sembari memeluk Elene. “Tidak juga ibu. Aku tidak akan bisa melakukannya tanpa bantuan dari kakak dan Steven, terima kasih ayah dan ibu yang selalu pendorong ku untuk tidak menyerah dan selalu percaya dengan kemampuanku. Kalian semua begitu berharga bagiku”.


‘Terima kasih Claude, kau membuatku tau manis pahitnya percintaan’. Batin Risa


“Ibu”.


“Hmm”.


“Misalkan aku dan Claude tidak jadi menikah, apa kalian akan marah padaku?”.

__ADS_1


Elene sejenak terkejut sebelum ia terkekeh ria. “Apa maksudmu. Kami ini selalu mendukung segala keputusanmu sayang, jika memang kalian tidak berjodoh siapapun tidak bisa memaksanya. Tapi jika suatu saat kalian berjodoh, kalian pun tidak bisa menghindarinya. Kenapa? Apa putriku mulai kehilangan kepercayaan dirinya?”.


“M, Maksud ibu?”.


“Jangan remehkan kekuatan seorang ibu. Aku tau permasalahan kalian berdua bahkan tentang hadirnya Jasmin”.


Risa melepaskan dekapannya menatap sang bunda bingung.


“Ibu tau putri Jasmin?”.


“Lebih dari yang kau fikirkan. Saat perjodohan berlangsung aku tidak sengaja melihat Claude membujuk seorang gadis cantik di halaman belakang rumahnya. Ya gadis itu adalah Jasmin, melihat ekspresi mereka aku bisa mengetahui jika mereka merupakan sepasang kekasih. aku begitu terkejut melihatnya dan sebelum aku sempat mengatakan pada ayahmu untuk membatalkan perjodohan itu tiba-tiba Claude datang mengatakan keputusannya menetujui perjodohan tersebut, semua sudah terlanjur aku tidak bisa berbuat apa-apa”. Sejenak Elene mengatur nafasnya.


“Sejak saat itu Claude selalu datang ke rumah dan bersahabat dengan Logan sama sekali tidak menunjukkan rasa ketertarikan padamu namun suatu ketika aku sempat memergokinya mencuri pandang padamu yang sedang bermain bersama Xavier. Lama-kelamaan ada sedikit kemajuan, Claude sudah berani mendekat juga menyentuhmu, menyuapi bahkan sudah bisa menggendongmu. Kecerianmu sungguh melelehkan es dihatinya bahkan bisa ku yakini ia menaruh hati untukmu namun dengan gengsi ia tidak memperlihatkannya”.


Tanpa sadar Risa tersenyum seraya memeluk kembali sang bunda, dalam hatinya timbul perasaan senang tatkala perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Tidak pernah menyangka sama sekali jika pria yang sejak kecil ia sukai membuka hati untuk dirinya, walaupun Claude masih misterius dengan sejuta rahasia tapi lambat laun tapi Risa yakin jika suatu saat nanti dia akan mengetahuinya. Setelah menikmati perbicangan alah wanita, Risa dan ibunya mulai merecoki Xavier yang sedang sibuk mengundang semua rekan-rekannya. Sesekali Risa menendang pria tersebut yang selalu mengeluh bahkan merengek pada ibu mereka.


Di sisi lain Claude sibuk mengurus perusahaannya, ditemani oleh sang sekretaris sekaligus tangan kanannya menyelesaikan tumpukkan kertas yang berada di meja kerjanya. Sesekali Claude memijat keningnya merasakan pusing.


“Tidak bisa. Aku harus menyelesaikannya dengan cepat”.


“Tapi anda belum memakan apapun sejak tadi, istirahatlah sejenak anda bisa sakit presdir”.


“Diam lah Robert kau menambah sakit kepalaku”.


Robert menghela nafas pasrah. “Saya tau tuan sangat ingin menghadiri pesta ulang tahun tuan muda Xavier tapi anda tidak akan bisa datang jika jatuh sakit”. Claude tidak merespon sedikitpun membuat Robert kembali berkicau namun kali ini seringai muncul dari bibirnya.


“Atau jangan-jangan tuan lebih tertarik melihat Yang Mulia Larrisa daripada pesta ulang tahun kakaknya”. Benar saja kali ini Claude merespon.


“Jangan bicara sembarangan”.


“Haa aku mengerti sekarang. Baiklah mari kita selesaikan dengan cepat atau… tuan ingin aku menghubungi Yang Mulia saat ini juga? Alih-alih mengisi tenaga”.

__ADS_1


“Robert kau…”.


Drrrttttt…..ddrrttt…


Emosi Claude tertahan ketika ponselnya bordering nyaring.


“Awas kau ya”. Geramnya meraih ponsel dari atas meja lalu menjawabnya tanpa melihat nama kontak.


“Halo”.


“Kau dimana?”. Darah Claude seketika berdesir hebat ketika mendengar suara lembut Risa dari seberang sana.


“Aku? Di kantor”.


“Sudah pulang?”.


“Belum. Ada apa?”.


“Hmm itu apa kau akan datang nanti malam?”.


Claude tersenyum menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. “Kenapa? Merindukanku?”.


“A, apa masudmu. Memangnya salah menanyai tunangan sendiri”. Claude merasa senang karna gadis cantik itu tanpa sadar mengakui hubungan mereka sebagai tunangan.


“Jika aku datang hal apa yang akan kudapat?”.


“Dasar pelit. Tidak usah datang kalau begitu”.


Claude terkekeh ria. “Tenang saja, aku akan menjadi partner mu di pesta nanti”. Sejenak Risa terdiam namun Claude masih bisa mendengar tawa tertahan dari seberang sana.


“Kalau begitu sampai nanti”. Balas Risa mematikan sambungan telfon mereka.

__ADS_1


__ADS_2