
-o0o-
Tak ku perdulikan tatapan semua orang tertuju pada kami. Saat ini amarahku sudah mencapai ubun-ubun, bahkan tak ku abaikan lengan kananku yang tertarik lemah oleh Clara mencoba melerai pertengkaran kami.
“Kau sadar siapa dia ha? Dia baru saja menumpahkan minuman ke gaun ku dan semua orang juga tau jika gaun ini mahal dan hanya ada satu di dunia!!”.
“Kau berniat menyakiti seseorang hanya karna sebuah gaun?”. Geramku dengan cepat meraih segelas jus langsung menyiram ke pakaiannya.
Seketika semua orang teriak tertahan.
“Larrisa kau fikir apa yang kau lakukan?!!”.
“Menyakiti seseorang hanya karna gaun mu terkena sedikit cipratan jus, lalu bagaimana jika segelas? Kau berniat membunuhku?”.
Viona menggertakkan giginya tak lama kemudian menyerangku namun gerakannya tertahan karna Steve datang lebih cepat.
“Nona Viona anda dilarang menyakiti nona muda”.
“Lepaskan aku, akan ku beri wanita tidak tau diri itu pelajaran, Lepaskan!!”.
“Ada apa ini”. Seru sebuah suara mengalihkan pandanganku.
Paman Nicky datang bersama istrinya, seketika Viona langsung berlari mendekat orang tua nya dan mulai merengek.
“Ibu lihat yang di lakukan Risa padaku”. Isaknya.
“Apa yang terjadi padamu nak? Kenapa kau kotor sekali”. Ucap ibunya panik.
“Wanita tidak tau diri itu menyiramku dengan segelas jus, papa lakukan sesuatu beri dia hukuman karna telah merusak pestaku”.
Seketika paman Nicky menoleh ke arahku dan tentu saja aku dengan senang hati membalas tatapannya.
Aku penasaran tindakan apa yang akan ia lakukan untuk membela buah hatinya.
Lama ia menatapku sebelum membuang nafas berat dan menoleh ke samping dimana istri dan putrinya berada.
“Bersihkan dirimu, acara akan tetap belanjut”.
“Apa? Papa kau tidak lihat putrimu berantakan seperti ini, kau harus memarahinya”.
“Berhenti mengomel, cepat ganti pakaian atau pesta ini ku tutup”.
“Sayang~”. Sergah istirnya namun dengan cepat dipotongnya.
“Turuti saja apa kataku, tidak sulit bukan”. Ucapnya dengan nada sedikit meninggi.
Bisa ku lihat Viona mendengus kesal kemudian berlalu bersama ibunya, perlahan paman Nicky berbalik dan sedikit membungkuk.
“Maafkan kelakukan putriku nona muda, semua salahku karna terlalu memanjakannya”.
“Sudahlah paman Nick, semua bukanlah kesalahanmu. Kembalilah, ku rasa tamu-tamu mu mulai tidak nyaman”.
“Kejayaan bagi Aquamarinia”. Gumamnya kemudian berlalu memandu para tamu kembali menikmati pesta.
Aku berbalik menatap Clara yang sudah di banjiri air mata. Menariknya menuju balkon setidaknya kami bisa menghirup udara segar.
Setelah Clara tenang aku memerintahkan Steven mengantarnya pulang, alhasil aku sendiri di balkon melepaskan stress karna kelakuan sepupuku tersebut.
“Sepupu cuma satu tapi kesannya melawan lima orang”.
__ADS_1
-o0o-
Setelah merasa cukup tenang dan udara mulai terasa dingin, kembali ku langkahkan kaki memasuki hall dimana kali ini acara di lanjutkan dengan pesta dansa.
Steven masih setia di sisiku hanya jarak kami sedikit jauh. Mataku menelusuri setiap penghujung ruangan namun tiba-tiba tertuju pada pasangan yang baru datang.
Seketika aku terbelalak menyadari siapa pasangan tersebut lebih tepatnya salah satu dari mereka. Semua mata tertuju pada nya, tangan si wanita menggandeng si pria entah kenapa rasanya nafasku langsung sesak.
“Nona muda apa kau baik-baik saja?”. Bisik Steven mengejutkanku.
“Steven, siapa dia?”. Tanyaku masih terfokuskan ke pasangan yang kali ini menyapa sang tuan rumah.
“Nona Jasmin? Dia putri dari Sultan Ahmad Khadar XI”.
“Ada hubungan apa dia dengan Claude?”.
“Mereka… mereka..”.
Ku tatap Steven yang mulai tergagap, seketika perasaanku tidak enak.
“Jawab Steven!!”.
“M, Mereka sudah saling dekat sejak kecil dan bersekolah di tempat yang sama. Hanya saja, sepertinya mereka suka”.
Deg~
Rasanya sesuatu dalam diriku hancur berkeping-keping, kembali ku menoleh ke depan menatap pasangan yang memang tampak dekat.
Hal yang membuat hatiku teriris adalah senyuman itu, senyuman yang belum pernah ia perlihatkan padaku sejak pertama kali kami bertemu.
Kenapa bersama dengan wanita lain sifat es itu mencair dengan mudahnya.
“N, Nona tenang saja. Karna kalian sudah di jodohkan tak seoranag pun bisa menghentikannya, nona k…”.
Seketika Steven membeku kemudian membungkuk dalam.
“M, Maafkan aku nona muda”.
Ku langkahkan kaki menuju bangku khusus anggota Aquamarinia. Duduk dalam diam dengan kepala menunduk, tak berani melihat ke depan yang ada hanya rasa sakit yang timbul.
Sudahlah Larissa, selain putri dari seorang Zaven kau bukanlah apa-apa. Ingatlah jika dahulu kau terlahir sebagai wanita yang tidak akan pernah beruntung. Jadi, berhenti berharap apapun dan jalani saja. Ya, setidaknya semua akan baik-baik saja.
Drrrttt…..Drrtt…
Segera ku raih ponsel yang di sodorkan Steven, menekan tombol hijau lalu menempelkan ke telinga.
“Ibu”.
“Apa aku tidak salah dengar? Apa putriku baru saja memanggilku ibu”.
Dengan cepat aku tersadar sedetik kemudian berdehem.
“Maksudku mama”.
“Ada apa sayang? Kenapa kau tidak semangat seperti itu? Apa Viona menganggumu lagi”.
“Mama ayolah bahkan aku baru saja berhasil melupakannya”.
“Lalu apa yang membuat putri kesayanganku seperti ini?”.
__ADS_1
“Tidak ada apa-apa ma”.
“Maafkan mama sayang, papamu mendapatkan tugas mendadak jadi kami harus berangkat ke New York sekarang juga. Maafkan kami yang membuatmu kelelahan seperti ini”.
“Sudahlah ma, sebaiknya mama membantu papa saja jangan mengkhawatirkan kami disini. Nikmati saja waktu berduaan sebelum aku mengambil alih papa darimu”.
“Oho putriku mulai berani menantangku hm? Baiklah mama terima tantanganmu”.
Aku tersenyum lega setidaknya mereka baik-baik saja mengingat segunung pekerjaan di luar sana yang harus mereka selesaikan secepat mungkin.
“Oh ya apa kau sudah bertemu dengan Claude, sayang?”.
“Claude? S, Sudah”.
“Syukurlah, aku cemas kau akan kesepian. Kami percaya ia akan menjagamu untuk kami”.
Hatiku mencelos mendengar kalimat tulus mama, entah kenapa rasanya mataku memanas.
Apa mama masih akan mempercayainya jika mengetahui kebenarannya? Apa yang harus ku lakukan.
“Baiklah kalau begitu, selamat bersenang-senang”. Sambung mama kemudian mematikan sambungan ponsel.
Aku terkejut ketika setetes air jatuh mengenai tangan, dengan cepat ku menghapusnya namun yang ada jatuh semakin deras.
Tidak, tidak boleh. Berhentilah, jangan sampai semua orang melihatnya.
Sret!
Tiba-tiba tubuhku terangkat ke udara, sontak saja tanganku langsung berpegangan di pundak lebar tersebut.
Aku mendongak dan tak mempercayai jika saat ini yang menggendongku adalah pria yang sejak tadi membuat dadaku sesak. Claude de Alger Ophelia.
“K, Kau..”. Mataku menoleh ke belakang dimana sosok wanita berpakaian ala masyarakat Arab memandang bingung.
Claude membawaku pergi begitu saja meninggalkan lokasi pesta, aku tak berani memberontak karna jujur saja tenanga ku habis di gantikan dengan rasa lelah.
Sesaat kami menaiki lift dan berhenti di lantai 12, Steven melangkah lebih dulu membuka kan pintu bercat coklat siapa sangka ternyata pintu tersebut terhubungan dengan penthouse.
Penthouse merupakan unit hunian mewah yang terletak di lantai teratas hotel atau apartemen.
Claude membawaku ke kamar dan mendudukan di atas ranjang empuk beralas badcover putih. Menanggalkan heels ku lalu ikut duduk di sampingku, perlahan tapi pasti tangan nya terulur menghapus air mata yang masih setia terjun dari asalnya.
“Kenapa menangis?”.
Aku menggeleng pelan berusaha untuk tersenyum.
“Jangan tersenyum jika memang tidak mau”. Singkat tapi pedas, siapa sangka aku sangat merindukan pria ini. Seketika otak ku kembali mengingat wajah bingung gadis berkulit coklat manis.
“Kembalilah, bukankah kau bersama temanmu? Jangan meninggalkanya sendirian. Aku baik-baik saja, cukup istirahat sejenak dan…”. Kalimatku terputus karna dorongan halus tangannya pada kepalaku.
“Tidur. Aku disini sampai kau terlelap”.
Aku mengerucutkan bibir kesal kemudian merangkak menaiki ranjang, Claude bangkit membantu menyelimutiku.
“Apa kau tetap disini sampai aku tertidur?”. Claude mengangguk.
“Kenapa?”.
“Jangan banyak tanya cepat tidur”.
__ADS_1
Tak terbantahkan lagi. Ku pejamkan mata yang memang sudah berat, menarik nafas dalam mencoba menenangkan diri.
Hari ini terjadi banyak peristiwa pengurus tenaga, keputusan untuk tidur memang tepat. Tanpa sadar aku terbang ke alam mimpi dan semua gelap.