Rahasia Alit

Rahasia Alit
Di Balik Tembok - Bagian 1


__ADS_3

Sebelum liburan semester ini, aku dipanggil oleh kepala sekolah karena terpilih sebagai salah satu panitia untuk pameran lukisan yang akan berlangsung. Senang rasanya. Ini kali pertama aku punya pengalaman kerjasama mengurus event, apalagi bersama dengan anak-anak dari sekolah lain.


Dalam tim panitia pameran itu, aku yang paling muda. Sedangkan yang lainnya adalah kakak-kakak seniorku dari kelas dua dan tiga. Pameran lukisan ini disponsori oleh seorang pengusaha yang tertarik pada pengembangan seni lukis anak-anak muda yang berbakat. Lukisan yang akan dipajang di pameran tersebut adalah karya anak-anak dari berbagai sekolah. Beberapa bulan sebelumnya, mereka mendaftarkan karya lukis mereka, kemudian yang terpilih akan dipamerkan.


Acara itu akan diadakan di sebuah hotel bintang 3. Di hotel berbintang itu, kami menentukan dresscode baju tradisional untuk para panitia. Baju tradisionalnya bebas, bisa berasal dari daerah mana pun di seluruh Indonesia. Berhubung aku berasal dari keluarga Jawa, aku memutuskan akan memakai pakaian tradisional kebaya.


Di samping sibuk menyiapkan acara, aku juga sibuk mencari model kebaya yang cocok untuk anak remaja. Maklum saja, aku tidak mau kelihatan kurang gaul mengingat akan banyak orang-orang dari sekolah lain.


Hari itu sepulang sekolah, aku langsung sibuk di depan laptop untuk mencari model kebaya yang pas. Setelah kurang lebih satu jam berkutat di depan layar, akhirnya aku menemukan satu kebaya yang pas, yaitu jarik pendek se-lutut yang dipadukan dengan kebaya kutu baru. Setelan kebaya ini terlihat 'jadul', sangat 80-an sekali. Tapi, aku malah senang melihatnya.


"Ini yang aku cari, vintage! Biar beda dari yang lain!" Pikirku.


Keesekoan harinya setelah jam kegiatan belajar mengajar berakhir, aku memberikan gambar itu kepada penjahit langganan. Aku ingin bertanya-tanya mengenai harga dan juga lama waktu pengerjaan. Supaya hemat, nantinya aku akan minta satu setel kebaya mama yang sudah tidak pernah dipakainya. Penjahit itu bisa merombak kebaya mama agar pas dengan ukuran badanku dan jariknya sedikit dipendekkan sehingga sesuai dengan model yang kulihat di gambar itu.


Sesampainya di rumah, aku langsung mencari motif kebaya yang sesuai dengan seleraku. Aku membuka lemari baju mama, dan terlihat baju-bajunya yang tersusun rapi. Aku menggeser-geser baju yang tergantung di hanger itu. Untung saja kemarin aku sudah bilang ke mama untuk memilih satu bajunya yang sudah tidak terpakai. Jadi, mama sudah memisahkan baju-bajunya yang boleh aku ambil. Tentu saja hal ini jadi memudahkanku memilih.

__ADS_1


"Ini dia. Sepertinya pas untukku," kataku saat melihat salah satu set kebaya milik mama.


Jarik batiknya terbuat dari katun bermotif bunga dengan warna dominan merah. Setahuku, kain ini bermotif batik pesisir. Mama memasangkannya dengan kebaya merah muda, dengan ada sedikit bordir di bagian bawahnya. Aku pun langsung menelepon mama untuk meminta izin mengambil kebaya itu. Setelah mama mengizinkan, aku pun melipatnya dan memasukkannya ke dalam tas sekolah untuk kubawa besok ke tukang jahit. Aku pun tersenyum lega sore itu.


***


Pagi harinya, aku ke sekolah dengan membawa kain batik dan kebaya mama yang kemarin kupilih. Sepulangnya dari sekolah, aku akan langsung ke penjahit supaya semua cepat beres. Jadi aku masih punya waktu untuk mencoba kebayanya sebelum hari H pameran.


Setelah selesai berurusan dengan penjahit, aku langsung menuju ke rumah. Cuaca di luar sangat panas sekali. Beberapa kali aku menyeka keringat dari wajah selama perjalanan pulangku, tapi tetap saja keringat itu mengalir deras lagi dan lagi. Aku pun duduk dulu di teras begitu sampai rumah, sambil menikmati rindangnya pohon-pohon besar yang menghiasi halaman rumah nenek.


"Sejuk sekali di sini, padahal di luar matahari sedang bersinar terik," kataku dalam hati.


Setelah aku tidak berkeringat lagi, aku masuk sambil menggendong Ireng. Ada nenek di ruang tengah sedang membaca buku.


"Halo, Nek. Alit mandi dulu, ya," kataku menyapa nenek.

__ADS_1


Nenek membalas senyumku, dan kembali tenggelam dalam bukunya. Sepertinya buku yang dibaca nenek terlihat seru sekali! Aku kemudian meletakkan Ireng di sofa dan bergegas mengambil handuk dan baju ganti di lemariku.


Aku masuk ke kamar mandi, dan mengguyur kepalaku dengan shower. Sambil menikmati aliran air dingin di tengah cuaca yang terik ini, pikiranku tertuju kepada persiapan pameran lukisan yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Perasaanku sangat senang bercampur dengan deg-degan.


Hari Sabtu besok, aku akan ikut gladiresik di hotel itu. Sebelum itu, aku harus mempelajari dulu tugas-tugasku selama di sana. Meski panitia ada beberapa orang dan aku yang paling junior, aku harus banyak belajar. Aku juga perlu belajar tentang aliran seni lukis juga.


"Pokoknya, aku akan mempersiapkan diri dengan baik," kataku smabil tersenyum kecil.


Tidak terasa, hampir setengah jam aku melamun di kamar mandi. Aku pun bergegas mengambil handuk untuk mengeringkan badan dan melilitkannya di kepala agar rambutku cepat kering. Setelah memakai baju dan hendak menuju pintu keluar, tiba-tiba ada sesosok perempuan yang muncul di hadapanku. Dia menghadap ke pintu, membelakangiku. Rambutnya panjang, dan dia memakai baju rok terusan berwarna hijau. Aku pun tidak bisa keluar jadinya, karena perempuan itu menghalangi pintu. Ingin rasanya aku berteriak memanggil nenek, tapi aku tidak bisa. Meskipun sudah lumayan sering melihat sosok tak kasat mata, aku masih saja takut melihatnya. Badanku pun menjadi kaku, dan suaraku tidak bisa keluar.


Siapa dia? Sejak tadi aku di sini, aku tidak melihatnya. Tapi kenapa tiba-tiba ada di sini waktu aku mau keluar? Iseng sekali. Aku kemudian memberanikan diri menyapanya dengan lembut.


"Mbak...Mbak siapa? Kok ada di sini? Tolong jangan di depan pintu, aku mau keluar," kataku.


Perempuan itu membisu. Seketika, tubuhnya berubah posisi dan menghadap ke arahku. Kali ini, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dahinya hancur seperti habis tertancap pisau. Darah mengalir deras membasahi wajah hingga bajunya. Lidahnya yang panjang menjulur keluar hingga ke dagu. Menyeramkan sekali. Seharusnya, aku merasa takut. Tapi tidak, malah perasaan iba yang datang menghampiriku.

__ADS_1


Aku meneteskan air mata memandangnya. Pikirku, perempuan itu mungkin adalah korban pembunuhan. Aku pun memejamkan mata dan mendoakannya supaya bisa beristirahat dengan tenang...


- bersambung -


__ADS_2