Rahasia Alit

Rahasia Alit
Naya - Bagian 3


__ADS_3

Seperti biasa, pagi ini aku berangkat bersama Arlo yang ingin mengantarku ke sekolah. Sepanjang jalan, aku bercerita tentang Naya, tapi dia terlihat cuek dan menanggapiku dengan seadanya. Entah karena sedang banyak yang dipikirkan, atau dia memang tidak tertarik dengan ceritaku.


"Alit, nanti aku jemput ya," kata Arlo membangunkan lamunanku. Rupanya aku tidak sadar kalau kami sudah sampai di halte sekolah.


"Oke, sampai ketemu ya! Kataku sembari melambaikan tangan dan bergegas ke rumah Naya.


Pagi ini, Naya tidak ada di teras depan itu. Aku memanggilnya, tapi tidak ada jawaban. Aku membuka pagar yang tidak terkunci itu, lalu berjalan memutar menuju ke bagian belakang rumah melalui jalan setapak yang kecil untuk mencarinya. Tapi jendela kamarnya tertutup. Pintu menuju ke dapur itu juga tertutup, tapi kuncinya menggantung di handel pintu.


"Wah, bahaya sekali ini, kuncinya dibiarkan menggantung seperti ini," pikirku.


Aku ingin mengintip ke dalam rumah, tapi merasa ragu-ragu. Aku memandang ke sekitarku untuk memastikan bahwa aku sedang sendirian di rumah ini. Takutnya, ada orang yang melihatku dan menyangka kalau aku maling.


Aku berdiri di dekat dapur dan mengintip dari jendela kaca berukuran kecil di dekat pintu dapur itu. Di sana, aku melihat ada Naya yang sedang duduk sambil memeluk lututnya di lantai dapur. Wajahnya terlihat dibenamkan di antara kaki dan badannya, seperti anak yang sedang menangis atau ketakutan.


Tanpa pikir panjang, aku pun segera memutar kunci dan hendak masuk ke dalam. Namun ternyata, pintunya tidak terkunci. Aku pun memutar handel dan membuka pintu tersebut. Pikiranku berkecamuk membayangkan betapa kasihannya Naya terduduk di lantai seperti itu di ruangan tertutup yang pastinya pengap. Begitu masuk ke dalamnya, aku menghampiri Naya dan berjongkok di dekatnya.


"Naya, ini kakak. Kamu kenapa? Yuk, kita main ke teras," aku mengajaknya. Tapi Naya diam saja, bahkan tidak mengubah posisinya sama sekali.


"Di rumah ini hanya ada kakak, Naya, dan Kiko, kan? Yuk cerita pada kakak, kenapa Naya bisa ada di sini? Naya dikunciin orang? Siapa yang mengunci Naya?" Tanyaku.


Naya mulai mengangkat wajahnya dan menatapku. Aku bingung, dia tidak terlihat seperti habis menangis. Wajahnya biasa saja, ekspresinya datar Dia memandang ke arah pintu dapur yang terbuka.


"Yuk, Naya, kita main di teras. Kita ajak Kiko juga," aku kembali mengajaknya.


Dia tetap diam dengan wajah datarnya, tidak menggubrisku sama sekali. Apakah dia mengalami hal yang menyakitkan sampai berkali-kali hingga dia jadi cuek dan pasrah seperti ini? Atau ini hanya pikiranku saja? Ah, entahlah. Meskipun aku tidak bisa dapat jawaban hari ini, yang penting aku mau ajak dia bermain dulu biar senang.


"Kiko biar di sini aja, Kak, sama Naya" kata Naya. Dia pun langsung menoleh ke arah Kiko yang ada di sampingnya, lalu mengangkat dan memeluknya erat.


"Kita main di tikar depan aja, Naya. Di sana kan banyak angin, lebih enak," kataku.


Naya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Naya sudah makan?" Tanyaku.


Dia mengangguk. Aku pun berinisiatif untuk menyiapkan segelas air buat Naya karena dia bersikeras tidak mau keluar dari dapur pengap ini. Sementara aku harus masuk ke sekolah. Aku pun jadi bingung.


"Kakak sekolah dulu, ya, nanti Kakak kembali lagi kalau sempat," kataku.


Naya mengangguk dan mengeluarkan kata-kata yang membuatku sedikit terkejut.


"Naya di sini aja sama Kiko. Naya nurut aja sama Om Badut," jawabnya.


"Om Badut siapa, Naya?" Tanyaku.


Tapi Naya kembali diam. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Jam masuk sekolah sudah semakin dekat. Mau tak mau, aku harus berangkat dan meninggalkan Naya sendirian meskipun merasa sangat khawatir.

__ADS_1


"Dadah, Naya. Sampai ketemu ya," ucapku sambil melambaikan tangan, dan Naya membalas lambaian tanganku sambil tersenyum.


Aku tutup pintu dapur itu, tapi kubiarkan tidak terkunci. Aku berjalan menuju sekolah sambil memikirkan Naya. Siapa Om Badut itu? Apakah ibunya kenal dengan dia?


***


Sepulang sekolah, aku kembali mampir ke rumah Naya. Aku melongok ke dalam rumah dari pagar. Lega rasanya, Naya sedang duduk bersama kiko di tikar itu. Hari ini, aku harus cari tahu soal Om Badut.


"Hai, Naya!" Aku menyapa.


"Eh, Kakak, ayo masuk," katanya.


"Om Badut lagi ada di mana?" Tanyaku.


"Sudah pergi, Kak," kata Naya dengan nada dan ekspresi wajah yang datar.


"Naya tadi dikunciin sama Om Badut di dapur?" Aku bertanya kepada Naya. Tetapi, dia kembali terdiam dan tidak menjawab.


"Naya cerita ngga ke mama kalau kamu disuruh duduk di lantai dapur?"


"Ngga, Kak, kan ada Kiko. Jadi ngga apa-apa," jawabnya sambil menggelengkan kepala.


Air mataku menetes ke pipi. Ya, teman-temanku bilang, aku memang cengeng. Aku mudah sekali terharu dan terbawa suasana. Melihat anak kecil sendirian dan tidak diperlakukan dengan baik seperti ini membuat hatiku teriris. Naya menoleh dan menghapus air mataku dengan tangan mungilnya.


"Ada Kiko, Naya ngga apa-apa, Kak," kata Naya.


Lama waktu berlalu, aku tidak sadar kalau sudah ada beberapa chat dan panggilan tidak terjawab dari Arlo. Ternyata, dia sudah sampai di halte sekolahku.


"Naya, kakak pulang dulu, ya. Kak Arlo sudah datang ke halte, jemput aku," kataku. Naya hanya mengangguk dan meneruskan membelai rambut Kiko.


Sesampainya di halte, aku langsung menyapa Arlo dan meminta maaf. Untungnya Arlo adalah orang yang baik. Dia mengerti kalau tadi aku lupa waktu saat menghabiskan waktu dengan Naya.


"Hampir aku tinggal tadi," kata Arlo sambil tertawa.


Sepanjang jalan, air mataku tak terbendung dan menangis sesenggukan. Aku merasakan adanya sebuah kejadian yang tidak sepatutnya menimpa anak kecil yang tak berdaya itu.


"Alit, kenapa? Nangis ya?" Tanya Arlo. "Jangan nangis lagi. Besok pagi aku jemput ya, biar ada waktu untuk ke rumah Naya lagi."


Aku mengiyakan tawarannya. Arlo merasa senang karena Arlo sangat baik. Dia bisa berempati meskipun caranya berbeda denganku.


Siang itu, Arlo hanya mengantarku sampai rumah, dan buru-buru kembali lagi ke sekolahnya.


***


Seperti janji Arlo, dia kembali datang ke rumah di pagi hari untuk mengantarku ke rumah Naya. Naya terlihat berdiri di dekat pagar. Wajahnya seperti habis menangis, aku jadi khawatir terjadi sesuatu yang menyakiti fisiknya.

__ADS_1


"Naya habis nangis? Kenapa? Habis dipukul Om badut?" Kataku.


Naya menggelengkan kepalanya.


"Cerita ke kakak, kenapa?" Aku kembali bertanya.


"Naya masih takut karena semalam Naya nangis kenceng. Mama marah banget. Mama minta Naya stop nangis, tapi Naya terus menangis, malah semakin kenceng nangisnya. Karena Naya ngga bisa stop nangis, mama jadi makin marah, Kak," jawabnya.


"Naya kenapa nangis tadi malam?" Tanyaku.


Naya kembali menggelengkan kepalanya.


Cerita Naya terasa aneh buatku. Saat Om badut menguncinya di dapur, Naya tidak menangis. Tapi di malam harinya, saat bersama mamanya, dia malah menangis tanpa sebab. Padahal Naya terlihat sangat menyayangi mamanya. Aku melihat Naya mengantar mamanya berangkat kerja sampai ke halte. Seolah waktu bersama mamanya adalah momen yang berharga. Yang penting sekarang, aku harus cari tahu siapa Om badut itu?


Siang itu, aku tidak ke rumah Naya. Monet dan Ara mengajakku mengobrol. Aku pun jadi kehilangan waktu banyak untuk ke rumah Naya sebelum Arlo mejemputku. Monet dan Ara belum tahu tentang Naya. Menurutku, akan jadi ribet kalau terlalu banyak orang yang tahu tentang Naya. Padahal mamanya sendiri juga tidak tahu permasalahan yang dihadapi selama Naya ditinggal di rumah.


***


Keesokan harinya, aku datang pagi lagi agar punya waktu ke rumah Naya sebelum masuk sekolah. Monet dan Ara belum tampak saat aku sampai di halte itu. Aku pun bergegas ke rumah Naya. Dari depan pagar dia sudah menyambutku.


"Oh Kakak, masuk yuk!" Katanya.


Aku masuk, lalu duduk di tikar bersama Naya dan Kiko. Naya terlihat sedang mengganti baju Kiko.


"Sini, kakak bantu," kataku menawarkan diri.


Naya memberikanku satu set baju yang dipilihnya dari tumpukan baju boneka di lemari mainan. Aku pun memakaikan baju itu kepada Kiko.


"Rumah Om Badut di mana? Naya tahu?" Tanyaku.


Naya menggelengkan kepakanya.


"Om Badut sering ke sini?" Aku kembali bertanya.


"Kadang-kadang, saat mama sedang ngga di rumah," jawabnya.


"Naya ngga takut?" Ucapku.


"Takut, tapi Naya nurut aja. Paling Om Badut sering memperlihatkan wajahnya dari jendela dapur itu. Naya akan memalingkan muka atau menutup wajahku. Setelah itu Om Badut menghilang," kata Naya.


"Naya cerita sama Yayu?" Tanyaku.


Naya menggelengkan kepalanya.


Aku pikir, pasti Naya sangat tertekan. Tindakan aneh itu telah membuatnya beradaptasi dengan kekerasan mental. Naya sering ditakut-takuti hingga mungkin hal itulah yang membuatnya menangis malam-malam ketika mamanya pulang. Bocah sekecil itu pasti tidak menyadari bahwa dia sedang tertekan sehingga tidak bisa bicara kepada siapapun termasuk mamanya. Sungguh tragis kisah Naya.

__ADS_1


- bersambung -


__ADS_2