
Sejak perkenalannya dengan Kak Luni, Aciel sering main ke rumah. Terutama di saat weekend, ketika aku dan Kak Luni sedang santai di rumah, Aciel pasti datang berkunjung.
Aciel adalah orang yang pintar bergaul. Dia terkesan agak cerewet, memang, jadi rumahku jadi ramai jika sedang ada dia. Bagi orang yang tidak terbiasa, Aciel bisa dianggap sok akrab. Namun dia terlihat cuek saja. Sepertinya Aciel tidak peduli, mau ada yang merespons ocehannya atau tidak.
Aciel memang berbeda dan mempunyai warna tersendiri ketika sedang di rumahku. Sehari-harinya, keadaan rumahku selalu tenang. Di hari libur seperti Sabtu dan Minggu pun, keadaan hampir sama dengan hari-hari kerja. Mama, papa, dan Kak Luni sering beraktivitas di luar rumah. Aku pun terkadang berjalan-jalan dengan Monet dan Ara ketika weekend. Rumah sering sepi. Jadi ketika Aciel datang, semua orang rumah pasti menyambutnya!
Teman baru kami yang satu ini juga membawa perubahan pada Kak Luni. Dia mulai terbawa sifat Aciel yang ceria dan bawel. Aku merasakan perubahan itu. Semua orang di rumah juga sama-sama tahu kalau belakangan ini Kak Luni terlihat lebih ceria. Meski tidak sepenuhnya, tapi kami sangat senang dengan perubahan itu.
Dulu, Kak Luni lebih sering murung dan mudah kesal. Aku, sebagai anak paling kecil, sering kena getahnya. Dia kerap cemberut gara-gara hal kecil. Misalnya, ketika aku memakai barang miliknya dan lupa kukembalikan pada tempatnya, atau tanamannya agak layu karena kurang air karena aku lupa menyiramnya Ketika dia marah, aku hanya bisa diam dan serba salah. Sekarang, Kak Luni sudah berbeda. Aku merasa bisa mengobrol lebih bebas dengannya.
Mengenai Aciel, Kak Luni mungkin beranggapan aku adalah temannya. Kadang dia menanyakan soal Aciel kepadaku. Padahal, aku pun tidak tahu banyak soal Aciel. Biasanya, aku akan sampaikan pertanyaan Kak Luni kepada Arlo.
Arlo dan Aciel, meskipun mereka berteman dekat, merupakan dua pribadi yang sangat berbeda. Arlo lebih pendiam. Kesanku, Arlo sangat hati-hati sebelum mengeluarkan kata-kata. Sedangkan Aciel, dia memiliki gaya ceplas ceplos.
Arlo cerita, pernah suatu kali Aciel bertengkar dengannya. Saat itu, hampir saja tinjunya melayang ke wajah Aciel, karena dia keceplosan menceritakan tentang keburukan seorang temannya. Arlo memang tidak suka membicarakan keburukan orang. Ditambah lagi, dia pernah belajar karate. Jadi sejak itu, Aciel jadi agak hati-hati ketika bicara dengannya.
***
Pada suatu Minggu pagi, Arlo dan Aciel datang ke rumahku. Arlo, Aciel, Kak Luni, dan aku memang sudah berencana untuk berenang. Arlo juga ingin bertemu dengan Kak Luni. Mereka belum pernah berkenalan langsung, hanya pernah bicara sebentar lewat telepon.
Pagi itu, Arlo dan Aciel datang ke rumah. Arlo pun menjulurkan tangannya dan berkenalan dengan Kak Luni.
"Halo, Kak Luni. Aku Arlo," katanya
__ADS_1
"Ngga usah panggil kakak, kalian kan seumuran," kataku sambil tertawa.
"Ah, ngga apa-apa, aku panggil kakak aja ikut-ikutan Alit," jawabnya menggodaku.
"Padahal kamu sendiri ngga mau dipanggil kakak," ucapku.
"Biarin aja, Alit. Aku ngga keberatan dipanggil kakak," kata Kak Luni tersenyum.
Di hari Minggu pagi ini, rumah memang sedang sepi. Hanya ada aku dan Kak Luni, serta nenek yang sedang membaca buku di ruang tengah. Sedangkan mama dan papa, mereka sedang servis mobil di bengkel.
Setelah Arlo dan Kak Luni berkenalan, kami pun sarapan dan bergegas pergi ke kolam renang yang sudah kami rencanakan untuk tuju sebelumnya. Kami berpamitan dan mencium tangan nenek.
"Eh Arlo, kok baru kelihatan lagi," sapa nenek sembari tersenyum.
"Di rumah lagi renovasi, Nek. Jadi Arlo bantuin mengawasi," jawab Arlo.
"Hati-hati di jalan, ya. Jangan ngebut," pesan nenek kepada kami.
"Siap, Neek," jawab kami serentak.
Dalam perjalanan, aku berboncengan naik motor dengan Arlo, sedangkan Kak Luni bersama Aciel. Jarak kolam renangnya memang agak jauh dari rumah nenek. Di hari biasa, bisa memakan waktu hingga satu jam naik motor. Akan tetapi, berhubung ini hari Minggu, perjalanan kami lancar tanpa terhambat macet. Jadi kami sudah sampai di lokasi hanya dalam waktu setengah jam berkendara.
Sesampainya di sana, Arlo beli tiket untuk empat orang. Harganya tidak mahal, hanya Rp 20,000 per orang.
__ADS_1
Aku dan Kak Luni menuju ke kamar ganti baju renang, sembari menyimpan baju dan tas kami di loker. Sebelum masuk ke kolam renang, kami mandi shower terlebih dahulu.
Bisa dibilang, aku jago berenang. Sejak SMP, olahraga ini sudah menjadi favoritku. Berbeda dengan Kak Luni. Dia tidak begitu pandai berenang, hanya bisa mengambang di air saja. Jadi hari ini, dia berniat ingin sekalian belajar.
Tidak disangka, Arlo dan Aciel ternyata juga jago berenang. Kak Luni pun tidak terlalu khawatir, karena akan ada tiga orang yang bisa mengajarinya.
Kolam renang itu bagus. Kedalamannya pun bervariasi, mulai dari 1.2 meter sampai 3 meter. Airnya jernih dan bersih.
Sebelum masuk ke air, Kak Luni agak merasa takut dan perlu penyesuaian. Maklum saja, sudah bertahun-tahun dia tidak berenang. Tidak lupa, aku mengingatkan Kak Luni untuk pemanasan dulu sebelum masuk ke air. Dia pun berdiri di pinggir kolam dan menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.
Aku dan Aciel mengajari Kak Luni berenang di kolam kedalaman 1.2 meter. Jadi, aman untuk orang yang mau belajar. Sedangkan Arlo, dia sudah asyik ke sana ke mari di kolam 3 meter.
"Ayo pada ke sini dong. Masa di kolam cetek begitu," kata Arlo berkelakar.
Aku yang bisa dibilang jago berenang saja masih ragu untuk berenang di kolam tiga meter! Apalagi Kak Luni yang sedang belajar.
"Ngga ah! Enakan di sini, aman. Paling ngga di kolam dua meter aja deh. Di situ serem," jawabku.
Arlo tidak bergeming dan tetap sendirian di kolam 3 meter itu. Sementara aku, Kak Luni, dan Aciel, perlahan-lahan mulai pindah ke kolam dua meter ketika Kak Luni sudah mulai bisa menyesuaikan diri.
***
Tidak terasa, dua jam sudah kami menghabiskan waktu di air. Kak Luni pun terlihat sangat senang meskipun dia banyak menghabiskan waktu berpegangan di pinggir kolam. Selama berenang itu, Aciel tidak lupa selalu membuat kami tertawa karena ulahnya. Dia memanggil Arlo dengan nama ayahnya sebagai ejekan. Bercandaan ini memang sering dilontarkan oleh anak-anak muda seusiaku. Arlo hanya tersenyum menanggapinya sambil memercikan air kolam ke wajah Aciel.
__ADS_1
Cuaca mulai mendung, jadi kami beranjak keluar dari kolam menuju loker penyimpanan baju. Kami pun memutuskan untuk mandi dan mengakhiri sesi berenang hari ini.
Meskipun lebih banyak mengobrol dan bercanda dibandingkan dengan waktu berenangnya, kami cukup merasa lelah dan lapar. Akhirnya, kami memutuskan untuk makan nasi goreng yang ada di warung makan sekitar kolam renang sebelum pulang.