
Sejauh aku mengenalnya, Arlo adalah sesosok orang yang tenang dan santai. Hubunganku dengan Arlo pun biasa-biasa saja, tidak pernah ada pertengkaran besar yang berarti. Bisa dibilang, kami selalu saling support satu sama lain.
Aku tidak tahu, kami itu pacaran atau tidak. Tidak pernah ada kata-kata yang menyatakan kalau kami ini pacaran. Tapi teman-temanku selalu bilang kalau kami itu pacaran. Wajar saja, mungkin mereka sering melihat aku dijemput oleh Arlo sepulang sekolah. Biasanya, aku memang selalu naik angkutan umum untuk berangkat dan pulang sekolah. Sekarang, begitu Arlo sering menjemput, mereka jadi secara otomatis memberi kami label 'pacaran'. Apalagi saat pertama kali aku dipergoki berboncengan dengan Arlo oleh teman-teman sekolah. Gosip langsung beredar luas!
Aku dan Arlo memang tidak pacaran. Tapi ketika orang-orang menganggap kami pacaran pun, aku tidak menampiknya. Aku biarkan saja mereka menganggap Arlo sebagai pacarku.
Bagiku, menghabiskan waktu bersama Arlo merupakan salah satu hal yang aku tunggu-tunggu. Mengobrol dengannya memang menyenangkan. Banyak topik yang bisa kami bahas, mulai dari soal musik, film, karya seni, kami punya selera yang sama. Kadang-kadang, aku dan Arlo juga bertukar cerita soal masalah pribadi. Tapi, meskipun dia itu bisa dibilang sebagai orang yang kalem, aku juga suka kesal dengan Arlo. Sikap jahilnya itu terkadang keterlaluan! Dia senang menggodaku, bahkan pernah sekali waktu dia menarik kuncir rambutku hingga terlepas. Aku tahu, dia hanya bercanda. Aku pun sebetulnya tidak marah. Hanya saja, kalau bercandanya sudah mulai keterlaluan, aku akan pura-pura mutung. Setelahnya, Arlo akan langsung minta maaf dengan memelas dan merasa bersalah. Barulah kemudian aku tertawa-tawa melihat tingkahnya.
Setelah beberapa bulan aku mengenalnya, belum pernah sekalipun, baik aku maupun Arlo, mengucapkan kata-kata yang menegaskan kalau kami berpacaran. Aku sendiri belum pernah pacaran. Jadi aku tidak tahu sebenarnya apa yang dimaksud dengan pacaran? Tapi menurut cerita dari pengalaman teman-temanku, biasanya gelar kekasih itu diawali dengan sebuah perjanjian 'oke, sekarang kita pacaran, ya' atau apapun yang menegaskan keseriusan hubungan. Meskipun tidak ada kata-kata itu, bukan berarti aku dan Arlo tidak serius, aku tahu itu. Dari gerak gerik dan cara bicaranya, aku yakin kalau dia hanya dekat dengan aku. Begitupun denganku.
***
Suatu kali, aku pernah berkenalan dengan seseorang dari temanku. Dia adalah seorang laki-laki yang umurnya jauh lebih tua dari Arlo. Romi namanya. Dia bekerja sebagai pelatih bela diri dan memang terkenal jago karate. Setelah berkenalan, dia sepertinya tertarik kepadaku. Dia sering chat dan telepon, tapi hanya aku jawab seadanya. Bahkan, pernah tiba-tiba dia muncul di sekolah untuk menjemputku. Aku pun menolaknya dengan halus dan memilih untuk naik angkutan umum. Belum bosan, dia datang lagi menjemputku di sekolah keesokan harinya, dan aku pun kembali menolak untuk diantarnya.
Merasa terganggu, aku bercerita ke Arlo. Aku tidak bermaksud mengadu, hanya ingin berniat mengeluarkan unek-unek yang ada di kepalaku. Tapi rupanya, Arlo menganggapnya terlalu serius. Dia menunggu Romi di depan sekolah ku pada saat jam pulang, dan berniat mengajaknya bertemu.
"Alit pulang duluan aja, ya. Aku mau bicara sama dia," kata Arlo.
Meskipun kepikiran, aku pun menurutinya dan pulang duluan. Aku memikirkan apa yang akan terjadi ketika mereka berdua bertemu? Mereka berdua sama-sama jago berkelahi, aku jadi takut membayangkannya. Siang itu, suasana jadi sangat menegangkan bagiku.
Beberapa menit setelah aku sampai di rumah, dering handphone-ku berbunyi. Sebelum aku mengangkat telepon, air mata membasahi pipiku saking takutnya. Jangan-jangan Arlo mau memberi kabar buruk? Apa dia masuk rumah sakit setelah dipukuli oleh laki-laki itu? Pikiranku berkecamuk, sementara teleponku masih berdering. Aku pun mengangkat handphone-ku dengan ragu dan sedikit gemetar.
__ADS_1
"Halo, Alit," kata Arlo di telepon.
Aku diam, tidak menjawab.
"Alit, kok diam, kenapa?" Tanya Arlo.
"Aku takut kamu berkelahi sama si Romi," kataku dengan suara agak gemetar.
"Ngga ada yang berantem, Alit. Romi malah minta maaf, baik orangnya," ucap Arlo sambil tertawa.
Aku pun lega saat mendengar ternyata mereka berdua tidak adu jotos. Tapi aku tidak tanya banyak-banyak. Masih gemetar dengan ketakutanku yang berlebihan.
Aku pun bergegas keluar untuk menyambutnya. Arlo tersenyum melihatku. Aku mendekatinya untuk melihat lebih jelas, apakah ada luka di badannya? Ternyata tidak. Arlo memang baik-baik saja.
Aku sebetulnya tidak mengharapkan Arlo dan Romi bertemu. Tapi aku juga tidak tahan untuk tidak cerita, karena memang aku merasa terganggu. Bayangkan saja, dua hari berturut-turut dia menungguku di depan sekolah tanpa diminta, bahkan setelah aku menolaknya. Sehabis cerita ke Arlo, aku pun langsung tersadar dan merasa bersalah. Namun untungnya, semua sudah beres. Keduanya bicara baik-baik, dan Romi bersikap suportif.
"Terima kasih, ya, Arlo," kataku sambil menyeringai.
Setelah kejadian itu, Romi tidak pernah muncul lagi. Entah apa yang Arlo bilang ke dia, aku tidak tanya kepadanya. Arlo yang kukenal adalah orang yang tegas dan jujur. Jadi, aku percaya kalau dia tidak akan bicara yang aneh-aneh kepada Romi.
***
__ADS_1
Suatu hari, Arlo main ke rumahku tidak dengan motor bututnya. Dia naik vespa kali ini, tidak seperti biasanya.
"Motorku ada di bengkel, kira-kira dua jam baru selesai servis," katanya.
"Yuk, jalan," ucapku.
"Ngga, ah, di rumah aja, nunggu motor selesai. Kalau Alit mau pergi, besok aja aku antar," Arlo menjawab.
"Yahh, padahal aku mau coba naik vespa. Ngga jadi deh," kataku sambil cemberut.
"Alit, jangan marah, dong," ujarnya
Aku pun tertawa mendengar Arlo memelas seperti itu. Aku tidak pernah tega jika Arlo sedang merasa bersalah.
Arlo menjelaskan bahwa vespa itu adalah milik kakaknya. Dia hanya pinjam sekitar dua jam, karena motornya rusak, untuk mampir ke rumahku. Arlo memang selalu menepati kata-katanya. Dia harus mengembalikan vespa itu dalam dua jam, sesuai dengan janjinya.
Setelah mendengar alasan dia menolak pergi dengan vespa itu, aku jadi teringat nasihat papa dalam memilih teman. Papa mengatakan bahwa 'teman yang baik adalah seseorang yang berkata benar, dan tidak selalu membenarkan perkataan atau sikap kamu'. Jadi, aku menghargai sikap Arlo.
Papa dan mama tidak pernah membatasiku dalam memilih teman. Tapi, mereka selalu mengingatkanku untuk memilih teman yang baik dan jujur.
Pantas saja nenek, papa, dan mama tidak pernah melarangku dekat dengan Arlo. Padahal menurutku, dia orangnya kaku dan kurang basa basi jika ke rumah. Nenek yang lebih sering bertemu dengan Arlo di siang hari, jadi lebih tahu sifatnya. Jika aku pulang sekolah, nenek selalu bertanya, 'mana Arlo?' Seakan-akan, Arlo lebih ditunggu daripada kepulanganku.
__ADS_1