Rahasia Alit

Rahasia Alit
Misteri di Balik Musibah - Bagian 4


__ADS_3

"Cerita nenek mengharukan banget," kataku yang sejak tadi terdiam, karena perasaanku larut dalam kisah sedih itu.


"Alit suka mendengar kisah kuno yang bisa melatih empati," lanjutku sambil memegang lengan nenek. "Besok lanjut lagi ya, Nek."


Nenek hanya tersenyum mendengarkan ocehanku. Sementara aku ingin beranjak ke halaman depan untuk mengurus tanaman.


"Besok mama dan papa kan pulang malem, Kak Luni juga ada rencana mau nonton sama Aciel. Jadi besok aku bisa lanjut cerita tentang Pak Biduk dan Pak Aman berdua Nenek sampe malem," lanjutku.


"Iya, besok lanjut cerita, ya," jawab nenek.


***


Sepulang sekolah keesokan harinya, aku pulang bersama Arlo. Kami mampir ke toko cemilan dekat sekolah sebagai teman cerita bersama nenek sore nanti.


"Hari ini aku berdua doanh sama nenek. Yang lain pada pulang malem. Aciel sama Kak Luni mau nonton dulu katanya," ucapku kepada Arlo.


"Kok ngga bilang? Tau gitu kita ikut aja nonton berempat," kata Arlo.


"Hari ini mau ngobrol panjang sama nenek. Lain kali aja deh, ya," jawabku.


"Janji ya", ucap Arlo spontan.


"Iyaa", ujarku.


Sepulangnya dari toko itu, Arlo mampir ke rumah. Aku masuk ke dapur untuk mengambil es dawet buatan nenek.


"Nih... minum dulu es dawetnya," kataku sambil menyodorkan segelas es dawet.


"Terima kasih, ya," jawab Arlo.


Sambil menikmati segelas es dawet, kami pun berbincang-bincang sejenak menceritakan kejadian-kejadian di sekolah. Setelah itu, Arlo pun pulang ke rumahnya tidak lama dilakukan.


Aku buru-buru menyelesaikan rutinitasku karena ingin santai saat mengobrol bersama nenek. Saat kam menunjukkan pukul 5 sore, semua tugasku sudah rampung. Aku pun menghampir nenek dan mulai merayu dia agar mau segera melanjutkan ceritanya.


"Nek, yuk cerita lagi sambil duduk santai di sofa. Ini Alit bikinin teh hangat," kataku sambil menaruh secangkir teh di meja. Aku juga meletakkan toples dan piring berisi camilan dari Arlo untuk menemani kami bercerita.


Nenek pun kemudian melanjutkan ceritanya.


***


Pak Biduk ingin mendengarkan apa yang dialami Pak Aman. Rupanya, kedua orang itu mengalami hal hampir serupa, yaitu penderitaan yang dialami anak-anak tersayang mereka. Bedanya, anak sulung Pak Aman yang mendapat perlakuan semena-mena, sedangkan Pak Biduk menyaksikan si putra bungsunya yang terlihat sangat menderita.

__ADS_1


Kala terdapat suara rintihan kembali, Pak Biduk juga tidak mendengarnya. Mungkin Pak Biduk juga hanyut dalam kesedihannya. Pastinya perasaan dia sangat sedih melihat anak kesayangannya diperlakukan semena-mena. Begitupun Pak Aman. Apalagi, anak sulungnya sudah sangat dia harapkan untuk menggantikannya dalam mencari nafkah.


"Dia adalah anak baik dan penurut. Rasanya ngga terima anak saya diperlakukan begitu. Tubuhnya kurus dan posisinya meringkuk dan tertunduk. Rupanya kursi yang saya duduki adalah anak manusia. Apakah kejadian yang saya lihat tadi benar-benar nyata?" Perlahan air mata Pak Aman meleleh ke pipinya.


Kejadian itu membuat Pak Aman dan Pak Biduk terenyuh. Kedua lelaki paruh baya itu menangis sesenggukkan bersama. Mereka saling merangkul seolah sama-sama akan menanggung nasib buruk bersama.


***


Padahal, saat berangkat menuju ke padepokan ini, mereka penuh semangat mengejar kekayaan dengan berbagai harapan indah dan percaya bahwa usaha mereka akan berhasil. Mereka terlihat antusias selama perjalanan itu.


Perjalanan mereka menuju padepokan tidak mudah untuk dilalui. Jalurnya berbatu dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Akan tetapi, udara sejuk pengunungan itu membuat mereka merasa mantap dengan pilihannya. Keduanya yakin, ketika pulang dari padepokan itu, kekayaan akan segera datang.


Tentunya keduanya berharap keluarganya akan hidup dengan banyak harta. Meski mereka juga bukan orang miskin, tapi seseorang memang tidak menyadari kenikmatan yang telah didapatnya. Itulah keserakahan manusia.


"Pak, jika berhasil mendapatkan banyak uang, aku akan beli mobil agar keluargaku senang," kata Pak Aman dalam perjalanan menuju tempat itu.


"Aku juga berpikiran seperti itu. Aku akan membangun sebuah resto besar sehingga bisa memperoleh uang banyak setiap harinya," ucap Pak Biduk.


Itulah percakapan kedua orang itu di tengah perjalanan menuju ke padepokan. Rasa semangat itu sudah sirna sekarang. Setelah bayangan mengerikan menimpa keduanya itu, mereka pun berubah pikiran, lesu dan tidak bersemangat lagi.


Padepokan itu tampak kosong, singgasana batu juga kosong. Keduanya duduk di rerumputan karena masih terbayang-bayang dengan kursi yang ternyata adalah anak-anak kesayangannya. Bayangan itu masih membekas di benak mereka. Betapa anaknya merintih kesakitan menahan beban badan ayahnya. Mereka tidak habis pikir bisa mengalami hal tak lazim seperti itu.


***


Benar saja. Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil yang menandakan bahwa papa dan mama sudah pulang. Tidak lama setelahnya Kak Luni dan Aciel pun juga datang.


Aciel menyalami papa, mama, dan nenek. Aku mengambil paper bag yang dibawa mama dan mengambil wadah untuk menaruh makanan yang dibawanya.


"Aciel makan dulu yuk, tante bawa sate lontong. Cukup untuk semuanya," kata mama.


"Yah..., aku sudah terlanjur pamit," jawabnya sambil melirik kak Luni.


"Udahlah, ayo..... Pulangnya entar aja," kata kak Luni sambil menarik tangannya menuju meja makan.


Selesai makan malam Aciel pun pamit pulang.


"Alit, lain waktu kita nonton berempat yuk, ngajak Arlo," kata Aciel.


"Oke, atur aja waktunya ya," jawabku.


Aciel bergegas menuju ke halaman tempat parkir motornya. Kak Luni mengantarnya sampai teras depan.

__ADS_1


Setelah itu, aku dan kak Luni masuk untuk membersihkan peralatan makan. Setelah beres, kami menuju ke kamar untuk tidur. Jam dinding menunjukkan pukul 21.30.


***


Keesokan paginya aku berangkat ke sekolah bareng Arlo. Aku jalan menyusuri taman komplek, berjalan santai menikmati segarnya udara pagi setelah semalam hujan rintik-rintik. Aroma tanaman bercampur tanah yang aku suka sedang semerbak pagi ini. Aku melihat Arlo sudah menungguku di halte.


Aku mendekat tanpa suara.


"HAI!!" Aku mengagetkan Arlo yang sedang melamun. Dia sedikit kaget melihatku.


"Lagi bengong ya," kataku lagi.


"Lagi ada kejadian nggak terduga, nanti aku ceritain. Yuk cabut," ajaknya.


Aku mengambil helm dan naik ke motornya. Kami pun berangkat ke sekolah.


"Siang nanti aku jemput ya," kata Arlo sesampainya di sekolahku. Aku masuk ke halaman sekolah dan Arlo pergi menuju ke sekolahnya.


Aku lihat Monet dan Ara di pagi itu. Mereka sedang asyik mengobrol, dan aku pun ikut bergabung dengan mereka.


Ara membawa anting logam putih yang diletakkan ke dalam sebuah kotak kecil. Ternyata dia membeli dua buah anting untukku dan Monet.


"Nih buat kalian," kata Ara.


"Wah makasih! Bagus bangetttt," kataku dan Money hampir berbarengan.


"Ini omku baru pulang dari Bangkok. Dia bawa oleh-oleh banyak," ucap Ara.


"Wah, sayang ponakan," kataku menggodanya.


"Iya, dia sayang sama keponakan-keponakannya, sering beli oleh-oleh banyak. Kebetulan ada tiga anting yang semodel, jadi aku ambil untuk kita kembaran," jawab Ara


Hari masih pagi, belum banyak temen yang hadir. Aku, Ara, dan Monet sibuk memakai anting dari Ara.


Kami bertiga ke toilet untuk bercermin. Setelah memakai anting itu, kami saling menatap.


"Pantes ngga?" Tanyaku.


Kami bergantian menatap wajah dengan telinga yang sudah dipasang aksesoris.


"Nanti kapan-kapan kita pakai bareng yaa," bujuk Monet.

__ADS_1


Aku, Ara dan Monet menaruh anting itu di kotaknya dan menuju ke kelas.


__ADS_2