Rahasia Alit

Rahasia Alit
Di Balik Tembok - Bagian 2


__ADS_3

Aku sedang berada di sebuah tanah lapang yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Kenapa aku tidak ingat apa-apa? Di mana aku sekarang? Apa yang sedang aku lakukan di sini? Aku merasa linglung karena siang hari tiba-tiba cepat berganti menjadi malam. Angin berhembus kencang di lokasi tanah lapang ini.


Aku merasa kedinginan. Hanya memakai kaos rumah dan celana pendek. Terlebih lagi, rambutku masih basah, ada balutan handuk di kepalaku.


"Oh iya, tadi aku baru selesai mandi," kataku sambil mengingat-ingat kejadian.


Aku belum sempat keluar dari kamar mandi. Sebelum mandi, aku baru saja pulang dari sekolah. Tadi masih siang. Matahari bersinar sangat terik dan aku kepanasan. Makanya aku cepat-cepat mandi supaya segar. Tapi...ini sudah malam. Dan aku sedang berada di tanah kosong yang asing bagiku. Bukan lagi di kamar mandi.


Aku berdiri, mataku melihat ke sekeliling. Tidak ada apapun di sini. Kosong. Hanya ada setitik cahaya yang tidak cukup menerangi tempat ini. Sungguh gelap.


Pikiranku menerawang pada kejadian yang mungkin saja terjadi di tempat sepi dan gelap seperti ini, yaitu penculikan, perampokan, ataupun pembunuhan. Sekarang rasa takut itu membuatku merinding! Ditambah lagi, angin dingin yang daritadi menyapa telah membangunkan seluruh bulu kudukku. Tidak ada keluarga dan teman-temanku. Di mana nenek, papa, mama, dan Kak Luni?


Meski berada di tanah lapang, tapi keadaan sangat gelap. Sulit rasanya aku bernapas karena saking takutnya. Tidak ada yang bisa dilihat, tidak ada satu orangpun di sini.


Aku sudah mulai merasa lelah berdiri terpaku dalam posisi yang sama seperti ini. Aku pun menggerak-gerakkan kaki secara perlahan untuk mengurangi rasa kesemutan. Tapi kakiku terasa berat. Rasanya seperti tertahan oleh tanah lumpur tebal yang tidak terlihat.

__ADS_1


Seketika itu, aku teringat akan perempuan yang ada di kamar mandi. Dia lah sosok yang terakhir aku temui! Mungkinkah gadis itu tewas di tempat ini? Kala bertemu gadis itu, aku langsung terbayang akan sebuah peristiwa mengerikan. Setelah melihat kondisi wajahnya yang berlumuran darah, aku jadi menduga dia dibunuh secara kejam. Tempat kejadian perkara dari peristiwa semacam itu, seringkali terjadi di lokasi sepi yang jauh dari pemukiman warga. Seperti di lahan kosong tempatku berdiri saat ini.


Perempuan di kamar mandi itu sepertinya masih berusia belia. Dia terlihat seumuran denganku, mungkin baru berusia sekitar 15 atau 16 tahun. Wajahnya bulat dan rambutnya lurus panjang terurai sampai pinggang. Keadaannya menyedihkan dan mengenaskan. Dahinya seperti habis dibacok, sampai hampir terbelah. Mungkin pelakunya memakai parang atau senjata tajam sejenisnya. Lukanya menganga dan darah mengucur dari kepalanya, hingga membasahi wajah dan bajunya. Dia mengenakan pakaian rok terusan berwarna hijau yang sudah tampak lusuh dan usang. Gadis itu memandangku dengan tatapan memelas dan wajahnya sendu, tapi matanya membelalak lebar. Mungkinkah itu kondisi sesaat setelah dibunuh, jadi itulah penampilannya sebelum dia meninggal?


Aku baru mengamati perempuan itu sebentar, sebelum akhirnya tiba-tiba saja pindah ke tempat ini. Apakah aku sedang kembali ke masa lalu dan akan menyaksikan peristiwa pembunuhan gadis itu? Rasa ketakutanku mulai pudar perlahan, berganti menjadi rasa penasaran. Aku ingin tahu, siapa wanita itu sebenarnya?


Di tengah lamunanku itu, suasana kembali berubah. Aku kembali ke tempat semula, yaitu kamar mandi. Tentu saja aku kaget. Mataku agak sakit, karena tiba-tiba pindah ke tempat terang dari yang semula gelap gulita. Aku menggosok mataku sebelum akhirnya membuka mata, dan kulihat sosok gadis itu sudah tidak ada di sana.


Aku pun segera bergegas keluar, tanpa pikir panjang langsung membuka kunci dan memutar handle pintunya. Aku takut terperangkap lagi di tanah kosong yang gelap itu. Tidak aku hiraukan baju seragam kotorku yang berserakan di lantai kamar mandi.


Nenek dan aku kemudian duduk di sofa. Selama beberapa saat, aku duduk terdiam untuk menenangkan diri sebelum akhirnya memulai cerita yang barusan saja kualami. Nenek yang melihatku panik seperti itu, tampak biasa saja. Sepertinya nenek sudah paham kalau aku baru saja nengalami hal yang tidak biasa.


"Ada kejadian aneh saat Alit baru selesai mandi, Nek. Aku melihat sesosok gadis dengan wajah hancur seperti habis dibacok. Mukanya mengerikan, tapi Alit malah kasihan melihatnya," kataku memulai cerita kepada nenek.


"Setelah itu, Alit bingung karena tiba-tiba berpindah ke lapangan kosong yang gelap. Gelap sekali sehingga Alit susah melihat keadaan sekeliling," ucapku melanjutkan.

__ADS_1


"Dari model baju yang dikenakan, gadis itu sepertinya hidup pada era 80-an. Alit menebak, mungkin saja sosok gadis itu dibunuh di lokasi itu, Nek. Dengan pembangunan masa sekarang, lokasi itu mungkin sudah tidak ada lagi. Entah di mana tepatnya ya, Nek? Alit masih linglung sampai sekarang," lanjutku.


Seperti biasa, nenek menenangkanku dengan suaranya yang lembut dan senyumnya yang ramah. Dia menjawab, kejadian itu telah membuatku makin berpikiran dewasa. Entah apa maksudnya, aku juga kurang mengerti. Apakah mungkin karena aku sudah bisa berempati dengan makhluk dari dimensi lain?


Nenek pun kemudian beranjak dari sofa dan menuju ke dapur, sambil diikuti Ireng. Aku membuka handuk yang melilit kepalaku dan menggantungnya di jemuran, lalu ikut membantu nenek menyiapkan makan malam untuk orang serumah. Papa, mama, dan Kak Luni mungkin akan pulang tidak lama lagi.


Benar saja dugaanku. Hari ini papa menjemput mama di kantornya, dan mereka pulang cepat membawa jajanan pisang goreng.


Aku langsung mengambil jajanan dan meletakkannya di piring sambil mencicipi pisang goreng yang masih hangat itu. Tidak lama, terdengar suara Kak Luni yang baru pulang sekolah.


"Ireeeeng!!!" Teriak Kak Luni yang memanggil-manggil Ireng dari luar rumah.


Ireng yang sedang berada di dapur bersamaku langsung memasang telinganya begitu mendengar namanya dipanggil. Rupanya, Kak Luni pulang membawa snack untuk Ireng. Ireng yang sudah hapal dengan bungkusan snack kesukaannya tersebut langsung lari menghampiri Kak Luni sambil mengeong dengan ceria.


Di tengah suasana menyenangkan kumpul bersama keluarga di rumah, nenek dan aku tetap merahasiakan kejadian yang barusan kualami itu. Terutama pada Kak Luni, agar dia tidak merasa ketakutan jika hendak ke kamar mandi. Aku paham sekarang, sepertinya hanya aku yang 'peka', sehingga sering mengalami kejadian-kejadian aneh. Mungkin, 'bakat'ku ini diturunkan dari nenek. Jadi, wajar saja kalau hanya aku yang bisa melihat makhluk tak kasat mata.

__ADS_1


__ADS_2