Rahasia Alit

Rahasia Alit
Rombongan Manten - Bagian 10


__ADS_3

Menjelang sore hari iringan mobil itu sampai ke tujuan setelah melewati berbagai rintangan selama perjalanan. Meski tampak sumringah tapi terlihat kelelahan fisik dan psikis.


Mereka tidak menyadari pemuda calon manten itu tidak bersamanya saat tuan rumah menyambutnya. Para sepuh kelabakan mencari pemuda calon manten yang terlupakan.


“Pemuda calon manten ada dimana? tanya kerabat penerima tamu dalam penyamburan.


“Oh……. sontak para sepuh saling bertatapan dan terdiam. Pak Wani bergegas ke mobil. Kami lupa membangunkan dan mengajaknya bergabung kemari. . Kayaknya kelelahan banget bocah itu”.


Pak Wani berlari kecil ke mobil yang terparkir di halaman sambil celingak celinguk untuk mencari keberadaan sang calon manten.cowok. Ternyata orang yang dicari masih terlelap dalam tidurnya di mobil itu. Matahari masih terang di sore hari itu. Pak Wani memandang wajahnya dan memegang dahinya.


"Waduh… . bagaimana nih? .


Le….. ….kamu bangun dulu, dia bergumam sambil mengguncang pelan badannya. Kerabat calon isteri menantimu, seharusnya sejak tadi kamu berada bersama kami”.


Pak Wani tampak kebingungan. Dia berpikir bagaimana cara membuat sadar kembali. “Le…. pulihkan ingatanmu. Kami serombongan datang ke tempat ini karena mengantarmu sebagai calon manten. Sekarang cuci muka dulu dan mengucap doa agar tersadar kembali.


Pemuda itu masih terdiam. Pak Wani sekuat tenaga merubah posisinya agar duduk untuk memudahkan keluar dari mobil. Pak Wani mengambil botol berisi air dan menyuruhnya membasuh muka sampai leher. Nih, masih ada air di botol itu, minumlah. Nih …., katanya seraya menyodorkan botol isi air itu.


“Sudah segar? Yuk… semua orang menunggumu, yuk kesana. Setelah itu kamu mandi dan keramas agar hilang pengaruh buruk itu. … Ingat pesanku jangan ngumbar kejadian itu.


Keduanya bergegas ke tempat semua kerabat berkumpul. .


Setelah itu para sepuh menuju ke ruang tengah. Mereka selonjoran dan rebahan di gelaran tikar sambil ngobrol. Beberapa orang malah langsung tertidur disitu.

__ADS_1


Mereka agak lega karena masih ada sisa waktu menjelang berlangsungnya pernikahan. Waktu yang tersisa akan digunakan untuk memulihkan kondisi calon pengantin yang terlihat agak linglung.


Sementara calon manten putri masih menjalani tradisi pingitan. Sang calon manten cowok masih ling lung sehabis kejadian mistis di hutan angker itu. Dia perlu menjalani pemulihan kondisinya. Para sepuh kerabatnya bergantian mendampinginya sampai pulih kondisinya.


Menjelang hari pernikahan semua orang bisa bernapas lega karena upayanya tampak berhasil. Pemuda calon manten yang linglung sudah terlihat nimbrung untuk mengobrol dengan orang muda sebayanya.


Rasa was was dikalangan para sepuh kerabatnya terhadap gangguan mahluk halus belum hilang. Mereka masih tampak terus waspada dan di malam hari terjaga. Mereka hendak bergadang selama tiga malam setelah hari pernikahan. Konon bergadang diyakini mencegah gangguan mahluk yang gemar berkeliaran di malam hari sampai waktunya balik ke sarangnya pada dini hari.


Di sore itu nenek mulai menyiapkan beberapa cangkir kopi untuk orang yang hendak bergadang. Pak Wani tampak terjaga di malam itu. Obrolan dan kopi cukup ampuh untuk menghalau rasa kantuk.


Di malam itu hening, mereka heran tiba-tiba tampak manten putri keluar dari bilik meninggalkan suaminya menuju ke bilik sang ibu.


“Waduh …. gimana ini, bakal gaduh bila ada yang mengetahuinya. Padahal aku ga mendengar ada keributan sedikitpun. Mereka terdiam dan saling bertatapan. Tidak lama setelahnya tampak manten putri itu keluar dan sang ibu mengantar keluar dari biliknya. Nenek terdiam menyaksikan kejadian itu. Diam diam dia menghampirinya. .


"Nah kini sudah jam tiga saatnya semua dedemit balik ke alamnya. Tidurlah di bilikmu. Diapun beranjak menuju ke biliknya menuruti saran nenek".


Suasana kembali hening. Mereka melanjutkan obrolannya.


“Sampeyan mencium aroma bangkai? padahal di ruangan ini dipenuhi bunga segar dan sebelumnya ruangan ini tercium aroma wangi bunga melati. Aroma bangkai darimana asalnya? Mereka masih penasaran meski aroma busuk itu sirna tertiup angin dini hari.


“Apakah sawan manten itu…… ? pak Wani tidak meneruskan kata-katanya dan terdiam. Nenekpun terdiam. Dia berpikir bahwa sawan manten berupa gangguan mahluk halus pada pasangan manten yang baru menikah. .


Konon sawan manten ditengarai musibah atau kesialan yang menerpa seseorang menjelang atau dalam prosesi pernikahan.

__ADS_1


"Kang mungkin gangguan lelembut termasuk sawan manten? Pak Legi diam. Mungkin juga bergadang membuat mahluk halus risih hingga urung membuat kesialan itu? Entahlah.


“Mahluk halus itu jahil bangeet terhadap manusia. Sosok itu mengganggu pasangan yang hendak menapaki kehidupan harmonis. Karena itu bergadang sebagai laku prihatin. Orang terjaga sampai menjelang dini hari dan saatnya dedemit atau mahluk halus itu kembali ke sarangnya. Pak Wani melihat jam. " Nih saatnya obrolan slengekan, katanya sambil nyengir".


“He …he …. mahluk jelek pembawa aroma busuk itu tidak mengikuti peradaban manusia, misalnya kebiasaan setiap hari mandi, kata pak Wani sambil nyengir”.


“Aku telah menyimak serius penyebab aroma busuk yang terpancar dari mahluk itu ternyata cuma candaan …..he…..he….. he . guyon segar pada dini hari itu.


“Sst….. pak Wani menyelinap di bawah meja. Aku ngumpet agar tidak ketahuan bila sedang mengawasi gerak gerik mahluk serem itu keluar dari bilik pengantin. Sontak mereka mengikuti ulahnya”.


“Waduh aku kegedot nih, gara-gara sampeyan”.


“Loh… aku mengikuti kata orang, dulu orang bergadang dengan rebahan di bawah kolong meja. Sampeyan ga terbiasa jadi kegedot. He…. he….. . “.


“Kang, sampeyan menyimpan banyak pengalaman. Truus…. bagaimana bila orang ketempelan mahluk tak kasat mata? pak Legi tampak penasaran.


Ada yang menuturkan pengalamannya tentang ketempelan mahluk tak kasat mata itu. Orang itu melanjutkan hubungan gaib itu dan bahkan seseorang mempunya anak dari hubungan terlarang itu. . Konon kisahnya anak itu menjadi perantara kedua orang tuanya dari dua alam berbeda.


"Hah … . mahluk itu punya keturunan manusia? Truus… keturunannya hidup di alam apa?


Pak Wani juga terkekeh. Kisah koleksi ternyata bisa dibagikan pada orang lain. Rupanya orang-orang itu penasaran mendengar kisah pak Wani. Itulah obrolan orang-orang itu di tengah keheningan malam. Para sepuh itu terlihat rilek setelah melewati malam dan dini adalah waktu yang tepat untuk memejamkan mata. Sementara pengantin baru itu tidak menyadari bila dirinya dirasani atau menjadi perbincangan.


“Cukup obrolannya, aku ngantuk, kata pak Wani seraya merubah posisinya yang semula duduk terus merebahkan diri pada tikar yang digelar. Tak terasa mata terpejam karena rasa kantuk kelelahan dan diterpa angin sumilir yang berhembus memenuhi bilik bagian tengah rumah itu. Semua tertidur pulas meski cuma beralaskan tikar tapi tampak orang-orang memancarkan raut muka tersenyum. Merekapun terbangun saat suara adzan berkumandang dan bersiap bareng ke Surau.

__ADS_1


__ADS_2