
Setelah kejadian yang menegangkan itu mobil kembali melaju. Sementara itu kondisi orang dalam mobilnya terlihat kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang.
“Kang, kayaknya sedikit lagi keluar hutan dan sampai pemukiman. Lihatlah ke depan tampak tenda yang sangat terang. Meski mungkin masih agak jauh tapi memberi harapan kalau di sekitar situ ada rumah penduduk. Tenda yang terpasang itu menunjukkan ada keramaian, mungkin warga sedang kenduren. Ga lama lagi kita bisa ngaso sambil ngopi," kata pak Legi penuh harapan.
Sontak, konsentrasi sopir terganggu mendengar celotehan itu dan dia menambah kecepatan mobilnya menuju tenda. Tiba-tiba mobilnya terguncang hebat. Teriakan histeris dari orang yang berada di dalam mobil memecah kesunyian.
Secercah harapan mereka untuk cepat keluar dari suasana mengerikan di hutan yang gelap itu seakan sirna. Mereka merasa seakan mobilnya melintasi terowongan gelap dan di saat bersamaan mereka merasakan guncangan hebat. Ketika guncangan mereda, tenda pun tampak. Namun, mereka syok karena belum sepenuhnya dapat menyesuaikan diri dengan perubahan dadakan itu. Semua orang telah terhipnotis dan melangkahkan kakinya menuju ke tenda. Kesan mewah sangat memukau terlihat dari tenda itu. Tiba-tiba muncul seorang yang mengenakan berbaju gemerlap dengan ikat kepala. Perilakunya sangat sopan. Dia membungkukkan badannya bak menyambut tamu agung. Dia memberi isyarat agar penumpang turun untuk menikmati hidangan yang tersaji.
Namun begitu menginjakkan kaki di area bertenda itu, mereka malah serasa berada di alam lain. Orang-orang yang ada di situ tampak matanya selalu terbelalak, tidak berkedip sedikitpun. Ketika mendekat tampak jelas, ternyata orang-orang itu tidak mempunyai kelopak mata.
“Hii……hii ……." gumam pak Wani dalam batinnya yang bergidik bulu kuduknya berdiri. Dia saat menyaksikan orang yang berlalu lalang meladeni sajian tamunya semua tanpa kelopak mata.
Pak Wani mulai mengamati sekeliling tempat perhelatan itu dan orang-orang yang ada disitu. Orang yang hadir dalam perhelatan itu bukan rombongannya semata namun tampak orang lain dengan fisik berbeda. Orang itu bertelinga lebar mirip kelelawar dan dibagian atasnya lancip. Mulutnya lebih lebar dari manusia umumnya.
“Hah………. pak Wani bergumam dalam diam. Rupanya perhelatan ini dihadiri oleh dua jenis sosok yang belum pernah ditemuinya. Dia berpikir orang-orang itu bukan kalangan manusia biasa. Mereka berkomunikasi dalam diam tanpa kata-kata.
Di tengah kegalauan bertemu dengan sosok aneh disitu, dia mulai tersadar bahwa perhelatan itu adalah sebuah pernikahan. Matanya tertuju pada pelaminan dengan dekorasi megah. Pelaminan itu tampak olehnya saat pak Wani menengok ke kanan dari kursinya yang menghadap ke meja panjang sajian berbagai jenis makanan.
Alunan gending dari musik gamelan telah terdengar sejak awal rombongan itu menginjakkan kaki di tempat itu. Namun pasangan pengantin yang dinanti para tamu tidak kunjung datang. Namun tiba-tiba muncul manten putri di pelaminan seorang diri. Orang terpukau dengan kecantikannya.
__ADS_1
“Aneh ……… perhelatan apa? rasa penasaran menyelimuti dirinya. Dia tersadar dan memusatkan pandangannya ke sekitar dan menelisik mulai dari orang-orang yang serombongan dengannya. Satu persatu wajah diamatinya tapi tidak terdapat pemuda calon manten kerabatnya. Pak Wani mulai cemas teringat nasib pemuda yang mendadak hilang dari rombongannya.
Di tengah kerisauan itu, suasana berubah gelap dan dia mengucek matanya agar dapat melihat sekitarnya lebih jelas. Keadaan tetap gelap tapi dia mulai dapat menyesuaikan diri dengan perubahan itu. Dia mulai tersadar saat ini berada di mobil yang membawanya dalam perjalanan panjang menuju perhelatan sesungguhnya.
“Mimpikah aku atau aku telah memasuki alam lain? Orang di dekatnya juga bertanya serupa dengannya. Rupanya kami serombongan mengalami kejadian gaib di hutan angker itu. Truus …… dimana pemuda calon manten kerabat kami itu? Pak Wani mulai beranjak keluar dari mobil menuju ke mobil yang membawa pemuda itu.
“Waduh ……. pemuda itu tidak ada di mobil itu. Sontak dia mengambil senter untuk menerangi jalan agar tidak terantuk batu di malam yang gelap itu. Tiba-tiba kakinya terasa menyenggol sesuatu dan ternyata kaki pemuda itu. Sontak dia berjongkok melihat keadaannya dan orang-orangpun menghampirinya”.
“Le………. bangunlah, pemuda itu terdiam dan dia mulai membuka matanya melihat sekitarnya dan duduk. Aku bermimpi atau memang benar-benar secara fisik berada di tempat aneh itu? Pertanyaan itu serupa dengan pengalaman serombongan itu. Pulihkan dulu kondisimu yang masih syok, kata pak Wani menasehatinya”. .
Malam itu mereka memutuskan untuk bermalam di hutan itu. Rasa syok dan takut masih menyelimutinya. Keadaan pun hening kembali. Mereka tenggelam dalam kegalauan batinnya. Sementara itu beberapa diantaranya menelisik keadaan sekitar. Pohon besar di hadapan dipandanginya. Sinar bulan temaram menembus sela dedaunan seakan membentuk bayangan yang menyeramkan seiring dengan berbagai kejadian yang telah dialami di hutan itu. Angin sumilir berhembus menerpa tubuh dan menghantarkan rasa kantuk hingga terlelap tidurnya.
“Le…… yuk kita bareng bergabung dengan orang-orang itu ke Surau”.
Meski berkurang jam tidurnya tapi di pagi itu tampak lebih segar setelah tidur semalaman setelah kejadian seram serasa di alam lain yang sulit dipahaminya.
Pak Wani menghampiri pemuda itu untuk mendengar pengalamannya di malam itu. Pemuda itupun menuturkan kisahnya pada kejadian itu. Awalnya dia merasa berada di tempat asing baginya. Orang berlalu lalang yang ditemuinya terbelalak matanya tanpa kelopak mata selain itu ada juga sosok yang bertelinga lebar dan di bagian atasnya runcing. Aku seorang diri berada di sebuah tempat di perhelatan itu.
Tiba-tiba seorang menghampiriku memakai ikat kepala. Dia bertimpuh dan tangannya diangkat sejajar dengan kepalanya dengan membawa seperangkat baju yang terlipat dan menyodorkan ke hadapanku. Baju itu untuk kupakai dalam perhelatan itu. Aku melongok ruangan perhelatan itu dan tampak seorang putri sangat cantik duduk seorang diri di pelaminan itu. Sang putri sedang menunggu pemuda pasangannya. Disaat itu tiba-tiba aku sudah berganti baju yang terlipat itu dan saat hendak melangkah ke pelaminan mendadak situasi berubah sangat gelap. Terdengar sayup-sayup suara pak Wani membangunkanku. .
__ADS_1
“Hah…. …. perhelatan pernikahan itu berlangsung di hutan ini? konon sering terdengar di hutan angker ada kerajaan gaib, kata pak Wani”
“Waduh ……… aku belum sampai bersanding ke pelaminan bersama putri cantik itu. Padahal ketika itu aku sangat terpukau dengannya. Belum jodohku, katanya nyengir”.
“Hah……. tempat yang kamu datangi itu berbeda dengan alam manusia. Gadis itu tentu bukan jodoh manusia sepertimu”.
Tak terasa obrolan itu telah memakan waktu cukup lama. Matahari telah menerobos ke hutan melalui sela-sela dedaunan pohon. Mereka pun mulai teringat dengan kisah nyata yang pernah dialami orang tatkala melintas di area angker.
Pak Wani berdiri dan menatap langsung ke pohon besar yang tumbuh sejajar, dedaunan pohon itu terjuntai kebawah dan sebagian menutupi batang. Diantara dua pohon itu sekilas penampakan layaknya sebuah gerbang. Konon area itulah yang mengantarkan seseorang pada alam lain.
“Nih posisi mobil yang kita tumpangi tanpa sadar mengarah ke area dua pohon itu. karenanya bisa masuk ke alam itu lewat sini, katanya sambil mengelus batang pohon itu. . Sopir konvoi mobil terdepan termanggu menyaksikan posisi mobilnya yang terparkir tepat diantara dua pohon besar itu.
Dia menelisik kebelakang teringat saat mempercepat laju mobilnya menuju tenda yang tampak dari kejauhan terang cahaya lampu. Di tengah kondisi lelah dan risau berada di hutan yang mencekam itu tanpa sadar mobil itu memasuki wilayah paling angker.
"Hah… … …. pengalaman kali pertama bagi rombongan manten itu, merasakan berada di alam lain? Jadi tenda yang didatangi itu ternyata perhelatan di alam gaib? Pantas saja orang-orang disitu berbeda dengan manusia bahkan terkesan seram. Pak Wani mengangkat jam tangannya untuk mengingatkan agar melanjutkan perjalanan dengan target sebelum sore telah sampai tujuan.
'
. .
__ADS_1