
Setelah mahluk menyeramkan itu menghilang, aku bisa kembali melangkah. Aku melanjutkan perjalanan sampai aku berhenti di sebuah lahan kosong yang sangat luas. Hari sudah hampir gelap. Tiba-tiba, aku ingat akan sebuah peristiwa mengerikan sewaktu aku berada di tanah kosong yang gelap dan jauh dari pemukiman.
Waktu iru, meski sangat gelap, aku bisa memastikan kalau lahan itu tertutup tanah merah. Kejadian kala itu mirip dengan yang kualami sekarang. Aku ingat betul, baru selesai mandi di siang hari selepas pulang sekolah. Dengan kaki telanjang tanpa alas, aku berpindah begitu saja ke lahan kosong dengan tanah merah yang berlumpur, hingga membuatku sulit untuk melangkah. Hanya saja, saat itu aku 'berpindah' tempat sebentar. Tidak lama setelah itu, aku kembali berada di kamar mandi rumahku.
Beberapa saat sebelum aku 'berpindah' ke lahan kosong, aku bertemu dengan sesosok makhluk gadis seumuranku yang berambut panjang dengan luka bekas bacokan di wajahnya. Gadis itu pun memakai pakaian seperti berasal dari era 80-an.
Saat ini, aku merasa lahan kosong ini mirip dengan yang pernah aku datangi waktu itu. Namun, waktu itu suasana gelap di malam hari. Jadi aku tidak bisa melihat dengan jelas di sekelilingku. Sekarang, langit masih sore dan matahari hampir terbenam.
Aku melihat orang-orang yang lalu lalang berdatangan. Dalam beberapa saat, area ini tiba-tiba saja dipadati oleh manusia. Lokasi ini mirip sebuah pasar pada umumnya yang terdapat transaksi jual beli. Aku berjalan sambil mengamati hal-hal yang sedang dilakukan oleh orang-orang itu.
Langkahku kembali terhenti pada sebuah antrean panjang. Di bagian terdepan barisan, aku melihat ada sebuah kandang besar terbuat dari bambu yang dianyam mirip seperti kandang burung. Ukuran kandang itu sangat besar. Sepertinya dapat diisi dua atau tiga orang dalam posisi jongkok.
Aku berjalan mendekat agar bisa lebih jelas melihat isi kandang itu. Betapa terkejutnya saat aku melihat isi kandang itu yang berisi anak-anak manusia. Mana ada orang waras yang terpikir untuk memasukkan anak-anak kecil itu ke dalam kandang! Aku ingin berteriak, tapi tidak ada sedikitpun suara yang keluar. Kerongkonganku seakan tersumbat. Orang-orang di pasar itu juga tidak ada yang bersuara, mereka semua bekerja dalam diam.
Kemudian, seseorang lelaki paruh baya mendekat ke pemilik kandang berisi bocah itu. Dia membuka kandang itu dan mengeluarkan ketiga anak laki-laki dari dalam kandang. Bocah-bocah itu menatap tajam ke arah wajah lelaki pendatang itu dan memeluk erat kakinya. Lelaki itu pun berjongkok dan memeluk ketiganya, seakan untuk melepas rasa rindu akibat lama tak bertemu. Entah kenapa, aku bisa merasakan rasa penyesalan yang teramat sangat dari lelaki itu.
Lelaki itu menangis tanpa suara, dengan wajah yang mengekspresikan kesedihan mendalam. Rambut anak-anak itu dibelainya, dan mereka semakin memeluk lekaki itu dengan semakin erat.
Aku sangat terharu melihatnya, meskipun tidak mengerti arti dari semua itu. Namun, pertemuan mengharukan tersebut tidak berlangsung lama. Lelaki itu menggiring mereka kembali masuk ke kandang, sementara ketiga anaknya masih menjulurkan tangan mereka karena tidak mau lepas dari lelaki itu.
__ADS_1
Tak terasa, air mataku mengalir menyaksikan adegan itu. Aku tidak mengerti, kenapa seseorang tega menjebloskan mereka ke tempat yang tidak layak? Mereka dibiarkan dalam kesepian dan penderitaan fisik. Apakah ini adalah perdagangan manusia? Aku tersadar dari lamunanku dan pergo mencari lelaki tadi. Jauh dari tempat itu, aku melihatnya berjalan dengan tergesa-gesa. Aku mengikutinya diam-diam, dan sampailah pada suatu rumah yang sangat mewah.
Namun tiba-tiba, seperti ada sebuah kekuatan yang menarik tubuhku. Aku pun terhempas kembali ke teras rumah nenek, entah bagaimana caranya. Aku melihat nenek yang sedang duduk di sana bersama Ireng. Ternyata, neneklah yang menarikku keluar dari dunia itu.
"Nek, tadi Alit tersesat dan hampir tidak menemukan jalan keluar dari suatu tempat seperti pasar. Ada ada anak-anak kecil dikandangi, sepertinya perdagangan manusia," kataku.
"Itu transaksi pesugihan, 'Nduk, untuk dapat uang banyak dengan menumbalkan manusia yang paling disayanginya," ucap nenek.
Aku pun menceritakan kepada nenek tentang segala hal yang aku lihat tadi. Nenek hanya tersenyum mendengar ceritaku. Mungkin dia sudah tahu, dia bisa melihatnya sendiri. Namun, jantungku masih berdegup kencang. Aku perlu menumpahkan pengalaman aneh yang aku alami tadi.
Aku melihat jam menunjukkan pukul 19.40. Hanya 10 menit aku ada di sana! Padahal, rasanya lama sekali. Dari saat hari masih siang hingga matahari mulai terbenam.
"Apa mungkin di dunia lain ada perbedaan waktu, Nek," tanyaku.
***
Sekembalinya aku ke rumah, malam ini masih saja sepi. Papa, mama, dan Kak Luni belum juga pulang. Beruntung juga, pikirku. Kalau mereka sampai tahu bahwa aku menghilang, seisi rumah pasti panik bukan main. Apalagi kalau aku bukan tersesat di dunia ini, melainkan di dunia lain.
Tanpa bantuan nenek, aku mungkin tidak akan bisa kembali. Nenek memang hebat. Dia bahkan bisa tahu letak keberadaanku saat itu.
__ADS_1
Aku dan nenek duduk di sofa ruang tengah sembari masih sibuk menceritakan kejadian aneh tadi. Tidak lama, aku mendengar suara mobil. Benar saja, papa dan mama akhirnya pulang! Aku sangat senang, akhirnya rumah kembali ramai.
"Hari ini ngapain aja?" Tanya mama kepadaku sambil meletakkan tasnya di sofa.
"Biasalah, gitu-gitu aja, Ma. Tadi siang Monet, Ara, sama Arlo sempet main ke rumah," jawabku.
"Oh, ramai ya hari ini," kata mama.
Aku hanya menjawabnya dengan senyuman sambil melirik ke arah nenek. Dia tidak tahu kalau anaknya baru saja pulang dari 'bertualang'.
"Selamat malam, semuanya," sapa Aciel mengagetkan kami semua.
"Lho kok ngga ada suaranya," kata papa.
"Iya, Om, motornya diparkir di luar. Jadi ngga kedengeran ya," ucap Aciel sambil tertawa.
Kak Luni dan Aciel baru saja pulang. Suasana rumah tambah ramai, aku pun makin senang. Aku lega. Sekarang, aku tidak lagi merasa takut.
Sebelum Aciel pamit pulang, kami pun mengobrol sejenak di ruang tengah sambil menikmati cemilan pisang goreng yang dibawakan oleh papa dan mama. Entah kenapa, pisang goreng malam ini terasa nikmat sekali. Mungkin aku merasa sangat lapar karena baru saja pulang bertualang.
__ADS_1
"Pisang goreng hari ini enak banget, manissss banget," ucapku sambil memandangi pisang goreng yang ada di meja.
Mereka semua terbengong-bengong mendengar ucapanku. Menurut mereka, pisang goreng ini biasa saja rasanya. Sama seperti pisang goreng pada umumnya. Hanya nenek yang melihatku sambil tertawa dan mengerti maksudku.