Rahasia Alit

Rahasia Alit
Kiko - Bagian 1


__ADS_3

Hari ini aku tidak bertemu Naya. Aku ke rumahnya, tapi rupanya Naya tidak ada di rumah. Begitu sampai di depan pagar rumahnya, pintu pagar Naya dibiarkan terbuka. Sepertinya Yayuk baru saja datang dan membuka pintu itu.


"Nayaa!" Panggilku.


Tidak ada yang menjawab. Rupanya pagi itu rumah kosong. Aku jadi tidak bergairah karena sangat kehilangan Naya yang setiap hari tampak bermain di tikar pandan itu. Aku melamun sesaat dan tiba-tiba terdengar suara anak perempuan yang kira-kira seumuran dengan Naya.


Lamunanku tentang Naya langsung terhentak dan spontan terlontar dari mulutku 'Naya'.


"Kakak..." kata anak itu.


"Kamu siapa? Suaramu berbeda. Bukan suara Naya yang kukenal," jawabku.


Selama aku di sana, aku tidak pernah betemu seorang anak kecil lain di rumah itu. Aneh, siapa lagi bocah kecil itu? Anak itu suaranya lebih lantang dibandingkan dengan Naya yang pendiam dan suaranya lirih. Kadang aku sampai mendekat ke wajahnya karena suaranya sangat lirih.


"Kakak.... ini aku," ujarnya.


Aku masuk ke area dapur dan tampak boneka Kiko duduk di kursi goyang. Aku pikit, suara anak kecil itu berasal dari arah halaman kecil di belakang rumah.


"Kamu siapa?" Tanyaku.


"Aku temen Naya, tinggal di tempat ini juga," jawabnya


"Naya ke mana?" Aku kembali melontarkan pertanyaan.


"Aku suka tempat ini," anak itu tidak menjawab pertanyaanku.


"Aku tidak tahu siapa namaku. Tapi aku sering berada di tubuh Kiko," lanjutnya.


Aku terkejut dan sontak menoleh ke arah boneka yang sedang terduduk di kursi goyang itu. Kupikir suaranya dari arah halaman belakang. Setelah kuperhatikan, betul juga, suara itu berasal dari Kiko.


Aku kehabisan kata-kata akibat kejadian itu. Awal berkenalan dengan Kiko, aku memang merasa ada sesuatu yang kurang beres. Boneka itu seperti hidup layaknya manusia.


Aku bisa merasakannya ketika menjabat tangan boneka itu. Ketika Naya memegang tangan kecil Kiko dan menyodorkannya agar aku menyalaminya. Pikiranku bergulat sendiri memikirkan kejadian yang barusan kualami.


"Kriiiing"

__ADS_1


Tiba-tiba dering HP-ku berbunyi. Rupanya Ara menelpon. Aku melihat jam, ternyata jam pelajaran pertama akan segera dimulai lima menit lagi.


"Kakak sekolah dulu ya. Kalau ada waktu, kakak ke sini lagi," aku berkata kepada Kiko. Aneh rasanya, aku seperti bicara sendiri dengan benda mati. Tapi, aku tidak merasa takut sama sekali. Aku pun bergegas ke sekolah dan langsung masuk ke kelas.


"Alit, tumben hari ini hampir telat. Biasanya paling pagi. Hari ini ngga bareng Arlo ya," kata Monet.


"Iya. Tadi nunggu angkutan umumnya lama!" Jawabku berbohong


Siangnya, aku pulang sendiri karena Arlo tidak bisa datang menjemput di sekolah. Kali ini, aku pulang bersama Ara dan memutuskan untuk tidak mampir ke rumah Naya.


Sesampainya di rumah, aku melihat Arlo yang sudah duduk di teras.


"Lho, kok sudah ada di rumah?" Aku kaget melihatnya.


"Aku kirim chat ke kamu tadi," ucap Arlo.


Aku buru-buru mengeluarkan HP dari tasku. Rupanya, ada beberapa chat yang belum terbaca.


"Aku ngga jadi latihan hari ini. Jadinya aku ke sini deh," katanya.


"Oh, sorry baru baca. Daritadi ngga pegang HP. Yuk, masuk!" Ajakku.


"Halo, Neek...siang!" Arlo menyalami nenek.


"Eh, Arlo. Yuk makan bareng," jawab nenek.


Siang ini, rumah jadi terasa ramai dengan kehadiran Arlo. Kami bertiga bercakap-cakap sampai lupa waktu. Meskipun pikiranku tidak bisa lepas dari Kiko dan Naya, aku mencoba untuk melupakannya dulu dan menikmati momen ini.


***


Keesokan paginya, aku bisa berangkat pagi-pagi kembali karena dijemput oleh Arlo dengan motornya. Aku pun langsung menujunke rumah Naya. Pagar rumahnya kembali terbuka, sama seperti kemarin.


Dari pagar depan, aku melongok ke dalam, tapi lagi-lagi, Naya tidak terlihat. Tikar pandan yang biasa menjadi tempat favorit Naya untuk bermain tidak lagi digelar. Melainkan terlipat dan gulungannya disandarkan di dinding. Pertanda bahwa Yayuk sudah datang untuk bersih2 rumah. Tapi, di mana Naya? Kemudian tiba-tiba, aku melihat seorang anak perempuan yang sedang berdiri di ruang belakang rumah.


"Naya?" Panggilku.

__ADS_1


Ketika dia melangkah menuju ke arahku, wajahnya pun terpapar sinar matahari. Dia bukan Naya. Dia adalah anak perempuan berambut panjang yang dikepang menjadi dua. Badannya sedikit lebih kurus dan lebih tinggi dari Naya. Mungkin dia lebih tua beberapa bulan dari Naya.


"Kamu Kiko, ya? Aku boleh panggil kamu Kiko aja?" Tanyaku.


Dia mengangguk.


"Kamu lagi main apa?" Kataku sambil melangkahkan kakiku ke dalam rumah.


"Aku lagi main lompat-lompat sendirian, Kak. Naya lagi ngga di rumah," jawabnya.


"Ada berapa temanmu?" Pertanyaan ini terlontar secara spontan. Aku pun kaget mendengar pertanyaanku sendiri.


"Ada tiga, Kak. Malam-malam, mereka biasanya datang dan kami main sama-sama," ucapnya.


Naya kenal dengan teman2mu?" Aku bertanya kembali.


Kiko menggelengkan kepalanya.


"Naya hanya kenal aku," ujarnya.


"Bagaimana dengan Om Badut? Apakah kamu mengenalnya?" Aku merasa seperti mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Tapi aku tidak pedulu, aku sungguh penasaran.


"Dia kakakku, namanya bukan Badut, Kak. Tapi aku juga ngga tahu siapa namanya. Yang aku ingat, dia sangar baik dan sayang sama aku," jawabnya.


Aku bingung. Jadi Om Badut itu adalah manusia, sedangkan Kiko adalah mahluk tak kasat mata.


"Kakak Badut berubah. Dia sekarang udah ngga sayang sama aku. Kakak Badut itu sekarang suka menakut-nakuti. Dulu kakak badut itu sering menyanyi ketika duduk bersama Kiko di kursi goyang itu. Dia bernyanyi menirukan suara gendang 'Tipak ketipak tipung'. Hanya itu yang dinyanyikan dan diulang-ulang," Kiko menjelaskan.


Cuma suara gendang, tapi aku senang. Dia menyanyi dengan riang," lanjutnya. "Tapi sekarang dia ngga kenal aku lagi."


Kiko menunduk sedih. Dia bercerita bahwa ada banyak kenangan di kursi goyang itu. Dia seringkali dipangku oleh Om Badut, Kakaknya, di situ.


"Sekarang dia ngga pernah duduk di sana lagi, meskipun aku duduk di kursi goyang itu," Kiko berceloteh terus tentang kakaknya. Sepertinya, dia sangat sayang dengan Om Badut.


Aku menebak bahwa Kiko tidak menyadari dirinya telah mati. Dia masih berlaku seperti semasa hidupnya. Sedangkan Om Badut tidak bisa melihat maupun meresponnya.

__ADS_1


Ternyata boneka itu berisi arwah. Dugaanku dari awal tidak meleset. Masih banyak pertanyaan yang belum terpecahkan, baik tentang 'Kiko' dan 'Om Badut'. Sepertinya, Kiko pernah hidup dan tinggal di rumah itu. Demikian juga Om Badut. Atau mereka hanya tetangga yang kenal dekat dengan ibu Naya? Pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab. Yang jelas, hubungan mereka terputus karena sudah berada di dua alam berbeda. Sedangkan semasa hidupnya, Kiko dan Om Badut adalah adik kakak.


- Bersambung -


__ADS_2