Rahasia Alit

Rahasia Alit
Naya - Bagian 2


__ADS_3

Hari ini, aku sudah bertekad untuk berangkat pagi-pagi buta agar bisa mampir ke rumah Naya sebelum jam pelajaran dimulai. Selesai sarapan, aku langsung buru-buru mengambil tas sekolah yang telah kusiapkan di sofa ruang tengah sejak malam tadi.


"Semuanya, Alit berangkat duluan yaa," kataku sambil berlari kecil ke luar rumah.


"Ya ampun, tumben amat nih. Berangkat pagi lagi?" Tanya Kak Luni.


"Kalo berangkat pagi bisa terhindar dari polusi jalanan macet," kataku sambil menyeringai.


Sesampainya aku di taman pertama setelah pelataran rumah nenek, terdengar suara motor Arlo. Aku memang hafal bunyi motornya karena aku sering menaikinya. Aku melihat ke tikungan jalan, ternyata benar, itu motor Arlo.


"Kok tumben sih, sepagi ini sudah sampai rumahku?" Tanyaku.


Aku merasa senang sekali melihat Arlo. Dengan berangkat bersamanya, aku bisa lebih cepat sampai ke sekolah.


"Aku mikir, pasti Alit berangkat lebih awal dari biasanya karena mau ketemu Naya, teman barumu. Jadi aku mau mengantar kamu agar ngga kelamaan di jalan," jawab Arlo.


"Terima kasih ya, Arlo!" Kataku sambil tersenyum.


"Sama-sama! Aku juga senang berangkat pagi. Ngga macet, dan masih ada banyak waktu buat ngobrol bareng temen-temen," katanya.


Jalanan pagi itu sangat lancar. Hanya dalam sekejap, aku sudah sampai di depan halte sekolahku. Aku melihat Naya duduk di sana.


"Naya, sedang apa di sini?" Tanyaku.


"Eh, Kakak. Aku habis nganter mama naik angkot," jawab Naya.


"Oh..." Aku jadi terharu mendengarnya, air mataku pun jatuh.


Anak seusia itu setiap hari ditinggal sendiri di rumah. Waktu bersama ibunya pasti sangat berharga. Sampai-sampai Naya rela mengantar ibunya sampai berangkat naik angkutan umum. Sungguh mengharukan buatku.


"Alit, nih, lap dulu air matamu," kata Arlo sambil menyodorkan tisu setelah dia sadar aku meneteskan air mata.


Aku mengambil tisu itu satu lembar dan mengelap air mataku. Agak malu rasanya. Aku betul-betul tidak sadar kalau tiba-tiba air mataku menetes!


"Oh ya, nanti siang aku ga bisa jemput, ngga apa-apa ya," kata Arlo.


"Ok, iya, ngga apa-apa," jawabku sambil mengangguk dan memandang Arlo yang sedang naik ke motornya.


Aku dan Naya melambaikan tangan kepada Arlo seraya dia beranjak pergi ke sekolahnya. Setelah Arlo menghilang di tikungan, aku menggandeng Naya dan berjalan menuju ke rumahnya.


"Kak, masuk yuk," katanya.


Aku pun masuk ke rumah mungil itu dan duduk di tikar pandan bersama Naya dan Kiko. Aku melihat sekeliling. Rumah ini sepi sekali.


"Naya di rumah sendirian seperti ini setiap harinya?" Kataku.

__ADS_1


"Ngga selalu, Kak. Ada Yayu yang beres-beres rumah. Yayu rumahnya deket," jawab Naya.


Naya tiba-tiba beranjak dari duduknya dan berjalan ke luar rumah. Aku pun mengikutinya.


"Itu rumah Yayu," seru Naya sambil menunjuk rumah kedua di sebelah kirinya.


"Tadi pagi, sebelum mama berangkat, Yayu datang ke rumah. Biasanya nanti siang, Yayu datang lagi," ucapnya.


Yayu adalah panggilan lain untuk 'kakak'. Jadi, aku menduga, saat sang ibu sedang tidak ada di rumah, dia menitipkan Naya kepada Yayu.


"Kalau yang selalu menemaniku terus-terusan itu si Kiko, Kak. Dia temanku. Dia sangat baik, Kak," kata Naya seraya memegangi tangan kecil Kiko untuk menyalamiku.


"Selamat pagi, Kakak," kata Naya dengan suara berbeda seolah dia adalah Kiko.


"Pagi, Kiko," kataku membalas sapaannya.


Tidak terasa, waktu hampir menunjukkan pukul 7 pagi. Untung aku tidak sengaja melihat jam dinding di rumah Naya. Kalau tidak, bisa-bisa aku lupa waktu dan malah terlambat. Padahal sudah berangkat pagi-pagi sekali.


"Kakak harus ke kelas dulu, ya, Naya. Nanti kalau ada waktu, Kakak main ke sini lagi," kataku.


"Janji ya, Kak. Kakak janji kalau ada waktu akan sering main ke rumah Naya," ucapnya.


"Iya, janji," ujarku sambil bergegas memakai sepatu di teras rumah kecil itu. Aku pun melambaikan tangan kepada Naya dan berlari ke arah sekolah.


Sesampainya di kelas, aku berjumpa dengan Monet dan Ara. Ternyata pagi tadi, Monet melihatku datang ke sekolah bersama Arlo. Setelah meletakkan tasnya di kelas, Monet pun kembali ke luar sekolah dan mencari aku yang tidak kunjung datang ke kelas.


"Iyaa, tadi aku ke warung tapi ngga ada. Kamu ke mana? Kok tiba-tiba hilang," tanya Monet.


"Ada deeh, mau tau aja," kataku sambil menyeringai.


"Ih, pake rahasia-rahasiaan. Paling pacaran dulu sama Arlo," kata Ara sambil tertawa.


"Aku kira hari ini kamu bolos," ujar Monet.


"Kalau emang mau bolos ngapain pagi-pagi mampir ke sekolah dulu," jawabku.


Pagi ini terasa ceria sekali. Kami bertiga tertawa-tawa menjadikan hal-hal sepele sebagai bahan untuk bercanda. Aku sengaja tidak menceritakan soal Naya kepada Monet dan Ara. Aku belum kenal betul dengan Naya. Jadi aku pikir, akan lebih baik jika rahasia ini tidak diketahui oleh mereka untuk sementara waktu.


***


Bel sekolah pun berbunyi. Akhirnya, waktu pulang telah tiba. Aku berencana untuk mampir ke rumah Naya terlebih dahulu sebelum pulang.


"Kalian pulang duluan, ya. Aku nungguin Arlo jemput dulu," kataku berbohong.


Padahal, hari ini Arlo tidak bisa menjemputku. Aku sedikit merasa bersalah karena harus berbohong dengan mereka. Tapi apa boleh buat, untuk sementara waktu saja, rasanya tidak apa-apa.

__ADS_1


"Cie..cie..udah ngga mau bareng lagi, nih, sama kita," kata Monet menggoda.


Aku cuek saja sambil tersenyum. Setelah Monet dan Ara naik angkutan umum, aku berjalan ke rumah Naya.


"Kakak sudah selesai sekolah?" Kata Naya yang sedang duduk di teras sambil menyisir rambut Kiko, bonekanya.


Aku menjawab pertanyaannya dengan anggukan. Naya menarik tanganku untuk duduk di tikar bersamanya dan Kiko. Aku melihat sekeliling ruang bagian depan rumah itu. Kali ini, rumah Naya tampak lebih rapi dari tadi pagi. Aku menduga, mungkin Yayu sudah datang dan merapikan rumahnya.


Rumah itu kecil, tapi cukup ditempati oleh untuk Naya dan ibunya. Hanya ada satu kamar tidur dan dua ruangan kecil yang tidak disekat, yaitu ruang keluarga dan dapur. Dari dapur, terdapat pintu tembusan menuju ruang terbuka di bagian belakang rumah untuk menjemur baju. Di ruang tengah, ada TV berukuran 32 inch dan sebuah kursi goyang. Sementara itu, di bagian teras, ada dua kursi dan satu meja kecil.


Di depan kursi dan meja teras, Naya sering menggelar tikar dan duduk di situ bersama bonekanya. Dari situ, Naya bisa melihat langsung ke arah jalanan gang yang biasa aku lewati.


Aku memperhatikan secara seksama, ada yang aneh dari kursi goyang yang diletakkan di ruang keluarga itu. Tapi aku tidak tahu, apa ya, yang aneh?


"Naya, siapa yang suka duduk di kursi goyang ini?" Tanyaku.


"Dia yang sering duduk di situ, Kak," jawab Naya sambil menunjuk ke arah Kiko.


Perasaanku makin aneh. Aku menduga, kursi goyang itu ada hubungannya dengan Kiko.


"Mama ngga pernah duduk di kursi goyang itu?" Aku bertanya kembali.


Naya menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Dia pun lanjut menyisir rambut bonekanya itu.


"Ngga ada yang pernah duduk di situ, Kak, selain Kiko. Naya juga ngga pernah, karena kursinya terlalu tinggi buatku. Jadi, kursi itu emang buat Kiko aja," kata Naya.


Aku diam sejenak, mencoba mencerna kata-kata Naya. Setelahnya, aku berusaha membicarakan hal lain.


***


Ketika jam sudah menunjukkan hampir pukul 3 sore, aku berpamitan kepada Naya. Naya terlihat sedih, tapi kembali tersenyum ketika aku berjanji untuk main lagi besok.


"Hati-hati ya, Kak. Sebentar lagi mungkin Yayu datang untuk masak," kata Naya.


Aku pun memeluk Naya dan bergegas pulang. Aku ingin buru-buru pulang karena harus menunggu angkutan umum terlebih dahulu. Hari ini lelah sekali rasanya, karena aku bangun terlalu pagi dari kemarin.


Perjalanan naik angkutan umum memang membosankan. Ditambah lagi dengan macetnya. Belum lagi, aku membayangkan harus berjalan kaki selama kurang lebih sepuluh menit saat turun dari angkot sampai ke rumah. Matahari bersinar terik sekali, membuat suasana menjadi gerah. Padahal ini sudah hampir sore.


Sepertinya aku memang sudah terlalu terbiasa pulang bersama Arlo. Aku tinggal duduk diam sampai rumah. Ditambah lagi, aku bisa mengobrol dengannya selama di motor. Jadi, perjalanan terasa menyenangkan. Tidak bosan seperti ini. Aku jadi menggerutu sendiri. Untungnya, gerutu ini cuma ada di kepalaku. Kalau sampai ada kata-kata yang terlontar di mulutku, mungkin orang-orang di angkutan umum ini akan menganggapku gila akibat bicara sendiri.


Sampai pelataran rumah nenek, aku berlari kecil agar bisa cepat sampai dan ganti baju. Seragam yang kukenakan telah basah semua oleh keringat. Ditambah lagi, aku sangat lapar karena belum sempat makan siang. Aku membayangkan masakan nenek yang sudah terhidang di meja makan. Pasti lezat sekali.


Setelah aku pikir-pikir lagi, aku tidak pantas menggerutu. Nasibku jauh lebih beruntung jika dibandingkan dengan Naya. Sejak kecil, aku tidak pernah sendirian di rumah. Saat papa dan mama bekerja seharian, masih ada nenek dan Kak Luni di rumah. Meski Kak Luni sering menyebalkan, dia juga baik dan sayang kepadaku.


Berkenalan dengan Naya telah mengajarkanku akan banyak hal. Anak sekecil itu sudah hidup mandiri. Aku sangat kagum kepadanya.

__ADS_1


Aku belum cerita banyak tentang Naya pada nenek. Aku masih ingin menyimpannya sampai nanti, setelah aku mengenal Naya lebih dekat.


__ADS_2