Rahasia Alit

Rahasia Alit
Misteri di Balik Musibah - Bagian 3


__ADS_3

"Cerita itu semakin menyeramkan."


"Bersentuhan dengan dunia gaib itu memang seru, tapi pasti seram."


Kisah Pak Biduk sangat mengerikan. Ketika itu, Pak Biduk terbangun dari duduknya akibat rintihan suara anak kecil yang berjongkok. Dia ingin melihat lebih jelas wajah anak itu.


Pak Aman yang masih duduk di bangku sebelahnya hanya mengamati perilaku temannya itu yang terasa aneh bagi dia. Kala itu, Pak Aman tidak melihat apapun yang sedang menarik perhatian Pak Biduk.


Suasana hening, Pak Biduk bicara dengan lirih. Suaranya hampir tak terdengar. Pak Aman tidak bisa menahan diri untuk tidak berbicara melihat perilaku aneh temannya itu. Di tempat itu, hanya mereka berdua, tiada orang lagi tapi seakan ada teman bicara Pak Biduk.


"Pak, sedang apa sih?" Kata Pak Biduk.


Dia terdiam. Sekali lagi, Pak Aman dengan suara lebih lantang menanyakan sikap anehnya.


"Paak...!" Suara kerasnya memecah keheningan itu. Masih tidak ada jawaban, tapi Pak Biduk menoleh ke arahnya.


Pak Aman berkata lagi, "Pak, apa yang sampeyan lihat?"


Pak Biduk juga tidak menjawab, tapi dia malah menyeka air matanya, wajahnya tertunduk lesu. Seakan Pak Biduk menemui sesuatu yang sangat menyedihkan hatinya. Pak Aman jongkok di dekatnya dan menarik tangannya agar duduk di bangku itu. Pak Biduk tidak bisa menyembunyikan kesdihannya yang mendalam. Pak Aman diterpa penasaran karena kesedihan Pak Aman itu seperti dadakan dan tanpa diketahui sebabnya. Dia membiarkan temannya menenangkan pikirannya.


Setelah lama waktu berlalu, Pak Biduk baru terlihat agak tenang. Pandangannya menerawang jauh ke atas. Air matanya sudah kering, tapi apakah kesedihannya juga sirna?


Pak Aman sudah sangat penasaran, tapi dia menunggu pak Biduk memulai ceritanya.


"Pak, sampeyan ngga lihat apa yang di kursi saya?" Kata Pak Biduk setelah dia tersadar jika telah duduk di kursi yang sama sebelum suara rintihan itu.


Pak Biduk mulai meraba kursi itu dan juga tangannya menjangkau bagian bawahnya.


Sudah ga ada lagi, dia sudah pergi', dia bergumam lirih.


"Itu.. Pak," Pak Biduk terdiam lagi seolah tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Itu..tu Pak, anak saya," lanjut Pak Biduk


"Hah...?" Pak Aman memandang ke sekitarnya dan berpikir barangkali ada bocah yang dimaksud Pak Biduk adalah anaknya.


"Pak, kursi yang saya duduki, bangku ini, sumber suara itu, tenyata berasal dari bawah bangku ini," jawab Pak Biduk


"Hah....apa ga salah lihat, Pak?" Tanya Pak Aman kebingungan.


"Suara itu terdengar berulang, dan rintihannya sangat memilukan," ucap Pak Biduk.


Pak Biduk cerita tentang hak yang dialaminya barusan, "Awalnya, aku mencari asal suara itu. Tapi setelah aku dengarkan dengan seksama, ternyata suara itu berasal dari kursi yang aku duduki."


"Bocah itu meringkuk dan kepalanya tertunduk, punggung sampai tengkuk menahan beban tubuh seseorang yang sedang duduk di atasnya, yaitu aku yang sedang duduk di kursi ini," katanya sambil memegang alas kursinya.


"Aku berjongkok untuk melihat wajah bocah itu. Ternyata bocah itu anakku," jawab Pak Biduk sambil menyeka air matanya.


"Saat aku berangkat ke sini tadi, aku memeluknya di rumah. Dia itu gemuk, tidak sekurus yang kutemui barusan," lanjutnya.


Setelah lama berbincang dengan kebingungan yang dialami Pak Biduk, Pak Aman pun meminta izin untuk tidur sejenak. Ia pun memejamkan matanya di kursi itu.


Melihat temannya yang tertidur, Pak Biduk menyadarkan badannya di kursi kayu itu sambil menerawang mencari sesuatu yang belum pasti. Dia masih penasaran dengan bocah yang mirip anaknya itu. Pak Biduk ingin memastikan bahwa itu anaknya, tapi dia tidak tahu anak itu menghilang ke mana. Pak Biduk masih menyimpan rasa penasarannya. Sesaat setelahnya, lamunan Pak Biduk terhenti karena melihat Pak Aman yang semula sedang tidur, tiba-tiba berdiri.


"Pak, aku mendengar suara berisik. Ngga jelas apa yang diomongin, dan ada yang merintih. Suara itu lirih sekali," kata Pak Aman. "Sampeyan denger ngga?"


"Ngga, saya ngga denger suara apapun," jawab Pak Biduk.


"Tempat ini sangat sepi. Aku ngga melihat seorangpun melintas. Lalu, itu suara siapa?" Pak Aman terlihat bingung.


Dia ingin mencari sumber suara itu. Tapi, saat berdiri suara itu hilang. Saat Pak Aman duduk lagi, suara itu pun terdengar lagi.


"Saat duduk, aku mendengar ada seseorang mengatakan, 'Pak, minggir jangan duduk lagi'," kata Pak Aman.

__ADS_1


Pak Aman melakukan hal yang sama dengan Pak Biduk, berjongkok dan melihat ke bawah kursi. Pak Aman memperkirakan asal suara itu dari tempat duduknya. Tiba-tiba dia berkata, "Lho kok kamu bisa sampai di tempat ini, nyusul Bapak?"


Di mata Pak Aman, dia melihat anaknya yang masih remaja di bawah kursinya. Sementara Pak Biduk, dia tidak melihat siapapun.


"Aku sakit dan takut, Pak," kata anak remaja itu.


Pak Aman mengamati anak itu lagi, mungkin dia salah lihat. Remaja laki-laki itu kurus sekali, seperti anak terlantar. Baru beberapa saat Pak Aman menatapnya, remaja lelaki itu lenyap bak ditelan bumi.


Pak Aman menatap temannya dan berkata, "Pak Biduk tadi melihat anak saya paling besar ke sini? Dia sempat mengeluh sakit dan takut saat meringkuk di bawah kursi itu."


Pak Biduk tidak mengetahuinya dan tidak mendengar apapun. Dia hanya terdiam melihat Pak Aman melamun memandangi kursi yang didudukinya dengan wajah sedih.


"Pak, kita berdua sama-sama melihat sesuatu yang menyedihkan. Tadi ketika Pak Biduk menitikkan air mata itu, saya pikir Bapak teringat si bungsu kesayangan," kata Pak Aman. "Ternyata saya mengalami hal sama, sungguh menyedihkan."


"Saya menduga, yang kita lihat tadi adalah imabalan yang diminta jika kita akan melanjutkan pesugihan," kata Pak Aman.


"Kita diberi waktu untuk merenungkan akibat dari keserakahan. Imbalan yang diminta sangat berat, tumbal nyawa orang tercinta," lanjutnya.


Pak Biduk pun kembali bercerita tentang apa yang dilihatnya. Dia melihat si bungsu dengan kondisi yang amat mengenaskan. Tubuh kecilnya terlihat sangat kurus seperti kelaparan.


Padahal sebenarnya, tubuh anak itu padat berisi dan energik. Pak Biduk sangat mengasihinya. Saat di rumah, anak itu sering duduk dipangkuannya. Namun, dia tadi terlihat


sangat kurus. Tulang rusuknya tampak jelas saat anak itu dalam posisi meringkuk. Bahkan secara tak kasat mata, ayahnya duduk diatas punggung kecil itu. Anak itu merintih kesakitan menopang badan Pak Biduk.


"Apa yang kusaksikan tadi terus terbayang di benakku," kata Pak Biduk.


"Apakah imbalan berupa tumbal akan menyandera anak kita? Apakah juga akan mengakibatkan kematian anak-anak itu? Aku pasti akan sangat berdosa jika harus menyandera nyawa anakku," lanjutnya.


Pak Biduk terlihat syok berat melihat kejadian itu. Dia terkihat sangat nelangsa dan ingin buru-buru pulang memeluk si bungsu.


Pak Biduk ingin memastikan bahwa yang dilihatnya itu bukan sebuah kenyataan. Meski belum ada perjanjian, tapi pak Biduk tetap khawatir terhadap keselamatan anaknya. Perasaannya tidak seceria saat dia berangkat ke padepokan itu. Wajahnya yang semula tampak penuh semangat, kini loyo tidak bertenaga.

__ADS_1


- Bersambung


__ADS_2