
Kemarin, gagal sudah rencanaku untuk cerita ke nenek soal penari yang aku lihat di rumah kosong bekas sanggar itu. Semua gara-gara Arlo yang tiba-tiba mampir, dan nenek yang begitu serunya mengobrol dengan Arlo. Tapi tidak apa-apa juga, berhubung topik perbincangan bersama Arlo dan nenek juga seru.
Mungkin siang ini aku ada waktu untuk cerita dengan nenek. Sepulang sekolah, aku langsung bergegas ke rumah, sama seperti kemarin. Aku langsung berlalu kecil menuju halte tempatku menunggu angkutan umum. Tapi kali ini, Arlo tidak terlihat menungguku. Aku pun merasa lega. Bukan karena aku tidak senang kalau Arlo mampir, tapi entah kenapa, menurutku cerita tentang sang penari ini sangat penting untuk aku sampaikan ke nenek.
Begitu menginjakkan kaki di rumah, aku langsung mengambil piring, beserta nasi dan lauk di dapur. Aku pun mengajak nenek menemaniku makan. Pikirku, ceritanya akan lebih seru kalau sambil menyantap masakan enak buatan nenek.
"Nek, dari kemarin Alit mau cerita banyak. Tapi tertunda karena terlalu seru mengobrol dengan Arlo," kataku sambil mengunyah.
Aku kemudian memulai cerita. Pertama-tama, aku gambarkan dulu lokasi rumah misterius itu kepada nenek.
"Nek, nenek tahu kan rumah kosong bekas sanggar tari itu? Semalam, Alit dengar suara gamelan. Jadi, Alit cari asal suara itu. Ternyata, suara itu berasal dari rumah sanggar. Ireng juga mengikuti Alit. Terus, seolah dia mengamati sesuatu di rumah itu," kataku.
"Rumah itu terkunci. Tapi Alit nemu lubang di dindingnya, jadi bisa mengintip dari sana. Ternyata, di dalam ruangan itu terang sekali. Padahal dari kuar kelihatannya gelap!" Aku melanjutkan.
__ADS_1
"Di dalamnya, ada seorang perempuan paruh baya yang sedang menari. Perempuan itu berwajah cantik dan anggun, Nek. Dia berkain batik cokelat, berkebaya, dan ada selendang yang dililitkan di pinggangnya. Rambutnya digelung, besar sekali, sampai ke bahu! Aku belum pernah lihat gelungan rambut sebesar itu," aku bercerita kepada nenek dengan bersemangat.
Nenek menjawab Alit dengan cerita kenangan di masa lalunya. Perempuan yang digambarkan oleh Alit mengingatkan nenek dengan seseorang yang pernah dikenalnya di saat masa muda. Namanya Ibu Maryam. Dia adalah seorang perempuan yang meninggal dalam usia belum terlalu tua. Padahal, dia masih terlihat segar dan sehat.
Ibu Maryam punya hobi menari, meski dengan peralatan yang terbatas. Gamelan tidak mudah didapat dan sangat mahal harganya. Sementara itu, alat elektronik juga tidak secanggih sekarang. Pada masa itu, alih-alih menggunakan listrik seperti saat inj, orang-orang menggunakan accu mobil untuk menyalakan radio atau tape recorder.
Ibu Maryam mempunyai dua putri dan seorang anak sulung laki-laki. Usianya dan nenek tidak begitu jauh terpaut, sehingga mereka bisa berteman dekat.
Di sore hari, mereka berlatih menari bersama ibu dari Bu Maryam. Nenek juga belajar menari dari keluarganya. Ibu Maryam suka menari Jawa. Dia mampu menari dengan indah. Sambil menari, ibu Maryam selalu menjelaskan setiap detail gerakannya, misalnya mendhak, ukel, dan seblak. Dia selalu memberi contoh gerakan beserta artinya, sehingga gerakan tarian itu seakan memiliki jiwa.
Ibu Maryam kenal dengan beberapa penari yang ternama kala itu. Oleh karenanya, nenek dan kedua putri Bu Maryam pernah beberapa kali keluar kota untuk menonton penari panggung itu pentas. Panggungnya sangat bagus. Cahaya lampu warna warni menjadikan panggung itu semakin indah. Tentu sangat berbeda dengan latihan di rumah. Ada pengalaman menarik jika menonton ataupun menari di panggung pentas.
Di panggung pentas, para penari menggunakan peralatan untuk pemain wayang wong, seperti misalnya tameng, pedang kayu, atau tombak. Berkat sering menonton pentas tari, nenek jadi tahu tentang dekorasi panggung untuk tarian, juga teknik penggambaran latar untuk memberikan suasana di hutan, atau laut. Nenek juga biasa bertemu dengan para pemain dan melihat mereka dari dekat. Setiap malam, pemain-pemain wayang wong selalu tak pernah gagal memukau penontonnya berkat perannya sebagai tokoh-tokoh dalam epos wayang itu.
__ADS_1
Akan tetapi, di balik gemerlap panggung tari yang menukau banyak orang, ternyata kehidupan mereka sangat memperihatinkan. Para penari itu adalah orang-orang yang setia pada profesinya, meski penghasilan sebagai penari tidak cukup untuk menopang kesehariannya.
Di antara para penari, ada yang bekerja serabutan di siang harinya. Ada juga yang terlihat sedang beberes dan ada juga sedang membaca naskah untuk pentas sore harinya. Mereka tinggal di belakang panggung. Nenek tidak menduga, tempat tinggal yang tekesan kumuh itu merupakan tempat tinggal pemain-pemain wayang wong yang setiap malam memukau para penonton. Karena itulah, nenek selalu bersemangat untuk menonton dan mendukung penuh para penari kala itu.
Para penari wayang wong juga mengenal Ibu Maryam sebagai orang baik dan telaten dalam mengurus keluarganya. Jangankan keluarganya, para penari itu saja juga sering dibantu olehnya!
Nenek masih ingat keadaan rumah Ibu Maryam. Ada ruang besar di rumah itu yang sering digunakan sebagai tempat latihan menari. Jika ada tamu, biasanya mereka duduk di sebuah ruangan yang dekat dengan dapur. Bisa dibilang, rumah itu selalu ramai tamu karena ibu Maryam suka membantu orang lain.
Di dapur rumahnya, terdapat sebuah meja panjang yang dilengkapi dengan empat kursi tanpa sandaran. Dapur itu merupakan ruang terbuka, jadi sangat nyaman dan menjadi tempat favorit bagi anak-anak. Setiap harinya, ruang dapur selalu digunakan untuk duduk-duduk sambil menikmati makanan atau minuman.
Cerita soal penari yang aku lihat pada malam dua hari lalu itu mengingatkan nenek kepada Ibu Maryam. Rambut panjang Bu Maryam juga sering digelung besar. Gerakan tarinya sangat gemulai mengikuti irama. Banyak yang segan dengan Bu Maryam karena auranya yang begitu memancar dengan anggunnya.
Namun, nenek juga tidak tahu pasti, apakah yang aku lihat malam itu adalah Bu Maryam? Aku dan nenek juga tidak bisa menjawab, siapa perempuan itu. Yang jelas, berkat ceritaku, nenek jadi teringat akan sahabat masa mudanya itu. Nenek terlihat senang menceritakan kisah-kisah kebaikan Bu Maryam kepadaku.
__ADS_1
Sambil bercerita, nenek mengajakku untuk membuat risoles di dapur. Aku pun membantunya menyiapkan bahan-bahan, yaitu terigu, mentega, susu cair, telur, wortel dan tepung roti serta minyak goreng, sambil menyimak cerita-cerita masa muda nenek yang penuh warna itu.