
Nenek cerita tentang hutan yang banyak
dijumpai dalam perjalanan antar kota. Banyak orang yang percaya bahwa hutan adalah tempat tinggal lelembut atau mahluk halus. Cerita horor pun bermunculan dari pengalaman orang yang melintasinya.
Pak Wani dan Wedi adalah sepupu kakek yang hampir setiap kenduri menjadi panitia.
Kedua orang itu akur meski suka saling meledek satu sama lain. Namanya sesuai sifatnya, yaitu Wani si pemberani, dan Wedi di penakut
Pada masanya, kenduri di luar kota perlu persiapan yang cukup rumit. Perlu berhari-hari orang menyiapkan pelengkap hantaran yaitu kue-kue tradisional, misalnya wajik, gemblong dan jenang.
Pembuatan kue tradisional melalui proses agak rumit dengan resep adonan dan proses masak yang didapat secara turun menurun. Sehingga, keunikan tampilan dan rasanya menjadi ciri khas suatu daerah.
Di tengah kesibukan itu, tampak pak Wani, sepupu kakek selalu tampak ceria dan slengekan suka menggoda orang lain. Dia paling suka menggoda sepupunya pak Wedi. Pada setiap kesempatan pak Wedi tidak luput jadi sasaran slengekannya.
Kerabat yang umurnya sepantaran menjuluki pak Wedi si penakut. Meski sering jadi bahan tertawaan pak Wedi tetap menunjukkan sifat aslinya penakut terutama saat ngobrolin hantu atau tempat angker.
Sore itu pak Wani mengincarnya untuk dijadikan sasaran slengekan. Ditengah obrolan serius tentang hantaran atau seserahan, pak Wani nyletuk.
"Sampeyan sering mendengar cerita horor dari kisah nyata di hutan angker itu dan area itu akan menjadi bagian dari perjalanan ke pernikahan, jadi harus waspada", bibirnya nyengir sambil menatap pak Wedi.
" Waduh.., " gumam pak Wedi. Semua menengok kearahnya dan menimpali.
"Wedi duduk di samping sopir dan bergantian nyetir yah, juga ikut menangkal lelembut di hutan itu". terdengar suara yang hampir serempak.
" Perlu keberanian untuk menghadapi mahluk halus di hutan yang konon galak dan menyeramkan", imbuh seseorang disitu. Pak Wani juga ikut menambahkan cerita dari temannya.
Temanku pernah ke hutan itu dan mengalami kejadian menakutkan. Dia tanpa sengaja melangkahi oyot mimang. Tanpa menyadari, dia terus mengayuh sepedanya tapi tak kunjung menemukan jalan keluar hutan.
Saat kelelahan dia terpaksa berhenti di tengah hutan itu. Orang itu ketakutan, tubuhnya gemetar membayangkan ada mahluk serem di dekatnya.
"Pohon ini pasti angker, tinggi dan daunnya terjuntai ke bawah. Tiupan angin menggoyangkan ranting, dedauan dan akar angin seolah lambaian tangan", kata temanku itu.
Temanku terdiam hendak menyingkirkan rasa takutnya tapi ga mampu. Dengan putus asa sambil menahan kantuknya dia terus berjaga tidak tidur karena takut ada mengganggunya saat tertidur.
Dia terjaga semalaman sampai pagi baru mengetahui dirinya telah nyasar. Akhirnya dia mengikuti arah suara adzan dan berhasil keluar dari tempat angker itu.
Meski sering melewati hutan tapi pak Wedi tetap takut banget saat mendengar cerita hantu. Bahkan sempet urung ikut rombongan. Menurutnya, meski bareng banyak orang tapi setan itu melancarkan aksinya mungkin hanya terarah pada seseorang.
"Semakin aku takut pasti si Wani itu akan mengolok-olok tanpa henti", gumamnya lagi.
Konon hantu diyakini suka hadir dan menampakkan diri saat orang membincangkannya.
__ADS_1
Meski diantara mereka banyak yang takut tapi pak Wani terus slengekan.
Pak Wani terus nyerocos tentang suasana hutan tempat hunian lelembut dimana digambarkan udara dingin di malam menambah suasana mencekam.
Wani memang selalu slengekan sering cerita hantu dan dia tampak senang melihat orang pucat karena takut.
Suatu kali Wani pasti kena batunya
karena sikapnya yang sok pemberani saat berada di hutan angker.
Aku sudah memperingatkan jangan ngrasani setan. Banyak orang percaya hantu itu akan menampakan wujudnya.
"Apa sampeyan ga takut kalau tiba-tiba muncul mahluk tak kasat mata di hadapanmu? Wedi menatapnya
Suatu saat pak Wani kena batunya. Dia ketakutan ketika mahluk halus di hutan itu muncul dalam wujud sosok wanita kembar. Sekilas ceritanya begini.
Kala Wedi dan Wani jadi pengiring pengantin putra pak Djarwo, tetangga dekatnya. Mereka menjadi pengiring pengantin cowok ke luar kota yang melewati hutan angker.
Mobil yang membawa rombongan pengantin berjalan pelan ketika menembus hutan. Bunyi klakson dari iringan mobil memecah kesunyian. Para sopir yakin mahluk halus akan menyingkir dengan bunyi klakson.
Sifat pak Wedi yang takut melewati terhadap tempat angker terbawa suasana hutan yang menyeramkan. Dia juga khawatir pak Wani yang slengekan keceplosan menyebut julukan si hantu hingga memancing si hantu keluar menampakkan wujud seremnya.
"Kraak… hah suara apa itu? katanya lirih seraya melirik kesekelilingnya dan tampak si Wani berjalan mendekatinya. Ranting pohon besar itu patah. Pasti patah saat menopang Wewe Gombel yang badannya besar.
"Hah… " pak Wedi terperangah dan menatap pak Wani.
"Kang tolong tengok bocah-bocah di mobil yang dibelakang kita. Konon Wewe Gombel suka menculik anak-anak", kata pak Wedi mengingatkan karena mereka ditunjuk sebagai panitia.
Wani malah tertawa karena dia hanya berbohong. Seumur hidupnya belum pernah melihat wujud wewe gombel itu.
Wani pernah mendengar julukan itu tapi tidak tahu mitos tentang mahluk itu. Sedangkan Wedi di penakut pasti menyimpan mitos Wewe Gombel dan mungkin juga tahu banyak mitos hantu.
Karena merasa bertanggung jawab pak Wani mendekat ke mobil rombongan yang lain untuk memastikan keberadaan dua bocah anak pak Legi yang diajak ibunya.
Suasana gelap itu mulai terasa mencekam. Pak Wani membelalakan matanya melongok kedalam mobil dari jendela yang terbuka. Setelah itu Wani beranjak ke mobil yang lain. Dalam kegelapan itu dia sempat mengenali wanita yang tertidur bersandar di sandaran jok mobil. Dia memandangi satu persatu orang yang berada di mobil dan semuanya tertidur. Tapi Wani belum menemukan dua bocah itu. Wani hanya, melihat ibu bocah itu tertidur.
Wani menjaga sikapnya agar tidak menimbulkan kecemasan bagi pak Wedi. Dia akan terus mencari bocah itu.
"Bocah itu tidak tampak, kemana dia?" gumamnya dan rasa takut itu mulai dirasakannya. Pikirannya mulai kacau.
Aku terlanjur keceplosan menyebut si Wewe Gombel. Padahal menyebut sosok hantu tidak boleh dilakukan saat di tempat angker. Keberaniannya mulai kendur. Dia mulai cemas terhadap bocah itu. Dia khawatir bocah itu diculik si Wewe Gombel.
__ADS_1
"Kang dua bocah anak pak Legi ada di mobil? Wani hanya terdiam.
Dia menyalakan korek hendak menyulut rokok. Tampak wajah Wedi tampak cemas.
"Kang bantu aku mencari bocah itu”. Wani terpaksa mengikuti kehendaknya meski dia juga takut. Mungkin gara-gara aku keceplosan menyebut Wewe Gombel di area huniannya hingga sosok itu terpanggil datang.
"Hii… ", aku kapok bercanda hantu, karena memunculkan rasa takut berkepanjangan seperti kini yang kualami.
Si Wedi keluar dari mobil dengan membawa alas duduk. Dia berdoa dengan bersila dan kedua tangannya menengadah ke atas.
Tiba-tiba dari kejauhan tampak dua bocah itu berjalan dengan dituntun ibunya. Seorang bocah di kanan dan satu lagi di kiri. Mereka bertiga menuju ke mobil.
Keadaan gelap, padahal Wani telah mengamati wanita yang tidur dimobil salah satunya adalah .ibu bocah itu. Tapi wanita malah berada di luar mobil bareng kedua anaknya. Padahal bocah itu yang kucari.
" Aneh yah, bocah itu kemana?
"Ibunya tidur pulas, tidak menyadari kedua anaknya tidak bersamanya? Pak Wani ngomel lirih.
Dalam hatinya agak kesal melihat si ibu tidur pulas sementara kedua anaknya keluyuran di hutan angker.
Pak Wani heran dengan keberadaan dua wanita yang mirip satu sama lain.
"Siapa wanita yang tertidur di mobil itu?
"Truus bocah itu keluyuran kemana ?
Aku jadi mumet mengalami kejadian aneh.
Wedi memang selalu menjaga perilaku dan tidak melanggarnya misalnya ga berani ngrasani atau berbicara tentang hantu di area angker. Dia takut muncul sosok serem itu dan berdiri dan dihadapannya.
Sedangkan aku yang dikenal pemberani dan sering melewati hutan angker malah diterpa rasa takut diganggu hantu. Baru kali ini kurasakan berada di hutan angker dan hsntu menyamar jadi ‘kembaran’ isteri pak Legi.
Aku melihat wanita itu mirip isteri pak Legi sedang tidur bersandar di jok mobil tapi tak lama kemudian aku melihat wanita yang sama menggandeng bocah berada di luar mobil mungkin mengantar anaknya pipis.
“Hiiii …… merinding rasanya“. Itulah pengalaman pertamaku bertemu sosok mahluk halus menyerupai isteri pak Legi.
Banyak orang mempercayai kalau sosok gaib itu dirasani atau diomongin maka sosoknya akan hadir beneran.
"waduh… . bagi yg terlanjur slengekan kayak aku si Wani bisa nyesek saat bertemu mahluk itu".
" hiii……...hiii.. ".
__ADS_1