
Setelah berhari-hari stres memikirkan Naya, hari ini aku merasa terbebas dari pikiran itu. Ulah Om Badut yang suka menakuti anak perempuan itu sudah tidak lagi terlihat. Naya, korban dari Om Badut - entah hanya dia yang menjadi korban atau ada juga anak-anak lain - membuatku terbebani selama ini. Rasanya tidak tega melihat Naya hidup dalam ketakutan.
Tapi sekarang perasaanku lega, karena om Badut telah mengakhiri atraksinya. Secara tidak terduga, lagu lawas 'Pak Ketipak Ketipung' telah membuatnya tersadar. Ternyata lagu itu merupakan lagu kesukaannya, dan sering dia nyanyikan ketika bersama adiknya yang bernama Lila sembari duduk di kursi goyang.
Rasa kehilangan Om Badut akan Lila mungkin membuatnya merasa membenci Naya. Oleh karena itulah, dia dengan selalu menciptakan atraksi menakutkan dan memaksa Naya menyaksikannya.
Om Badut tidak mengetahui bahwa arwah adiknya berada dalam tubuh Kiko, boneka kesayangan Naya. Hubungan mereka sebagai adik kakak yang saling menyayangi terputus karena sudah berada di alam berbeda.
Lila juga sedih tatkala kakaknya cuek ketika dia memanggilnya. Padahal, Om Badut bukan cuek, melainkan dia tidak bisa merespon Lila karena tidak bisa melihatnya. Lila cerita, hubungan dengan kakaknya berubah setelah ada peristiwa 'api besar'. Mungkin sebuah kebakaran besar yang pernah melanda area itu.
Aku lupakan sejenak kejadian ini. Kali ini aku mau senang-senang karena sudah berjanji dengan Kak Luni untuk menyaksikan pentas musik.
"Kak, minggu depan Arlo manggung. Sudah ada tiketnya buat kita berdua. Mau dateng ngga? Dateng dong!" Kataku sambil memberi tiket dari Arlo kepada Kak Luni.
"Mauu. Nanti paling Aciel jemput pas hari H," ucap Kak Luni.
"Yah, kalo Kak Luni bareng Aciel, aku berangkat sama siapa dong?" Tanyaku sambil merengut.
"Kalo Arlo ngga bisa jemput kamu, nanti kita naik taksi aja bertiga. Tenang aja," jawabnya.
"Okee," ujarku sambil menyeringai. "Kakak pake baju apa?"
"Baju rok terusan, kamu pake apa?" Katanya.
"Aku bingung kak, rasanya ngga punya baju yang bagus," jawabku.
"Ayo ke kamar, Kakak pilihin baju," ucap Kak Luni sembari menggandengku ke kamar.
"Asyikkk," ujarku.
Aku dan Kak Luni mencari baju mama yang tidak terpakai. Lemari mama rapi sekali. Saking rapinya, baju yang sudah kekecilan pun diletakkan terpisah supaya aku dan Kak Luni bisa mengambil baju yang masih bisa dipakai.
"Nih, pilih yang mana?" Kata kak Luni sambil memberikan dua setel pakaian. Yang satu rok terusan dengan motif bunga, dan satu lagi kaos agak panjang yang dipadukan dengan jeans atau legging.
"Aku pilih ini, Kak," Aku mengambil kaos yang padukan dengan celana jeans. Untung ukuran kaos mama pas untukku.
"Kakak yang minta izin nenek, papa dan mama. Sekalian minta uang jajan," Kak Luni menatapku sambil tersenyum.
__ADS_1
"Siappp," jawabku.
Baju sudah beres, dan masalah yang lain-lain akan diurus oleh Kak Luni. Tugasku cuma menghubungi Arlo dan bertanya tentang rencana perginya di hari H.
***
Sejak aku mengenal Naya, kebiasaanku berubah terutama jam berangkat sekolah. Aku jadi jarang sarapan bersama keluarga di rumah. Tapi, berangkat pagi memang banyak manfaatnya. Sekarang aku tidak pernah kena macet dan perjalanan jadi lebih cepat. Aku juga terhindar dari polusi udara di kala banyak kendaraan yang membuat napasku berat karena asap
knalpot. Satu hal yang penting adalah Arlo bisa mengantarku karena punya banyak waktu. Begitupun dengan bertemu Naya juga tak kalah penting bagiku.
Pagi hari ini, teman-teman belum banyak yang datang. Kesempatan baik untuk langsung ke rumah Naya tanpa diketahui Monet dan Ara. Anak itu membuatku kangen. Wajahnya cantik dan imut. Sayang wajah anak kecil itu tampak tidak ceria seperti menyimpan beban. Dia sangat pendiam dan tidak mudah mengenal orang lain, terutama yang baru dikenal. Naya akan menghindar dari orang yang tidak dikenalnya. Beruntung Naya cepat dekat denganku. Kami bisa berteman baik.
"Nayaa," panggilku dari depan pagar rumahnya.
"Halo, Kakak!" Naya mendekat ke pintu pagar dan memegang tanganku agar masuk bersamanya.
"Kiko mana?" Tanyaku.
"Ada di tikar. Kiko sekarang diam terus, Kak," katanya sedih.
"Kiko memang selalu diam, kan? Dia boneka," jawabku.
Aku melihat ke ruang belakang. Samar-samar, aku melihat sosok anak kecil yang sedang lompat-lompat. Aku pun menghampirinya, sementara Naya lanjut menyisir rambut boneka Kiko di teras.
"Kiko?" Panggilku.
"Aku sedih. Aku selalu main sendirian. Naya ngga bisa diajak main. Dia hanya menganggapku boneka," jawabnya. "Kak, ajari kami agar bisa ngobrol. Kalo aku bisa ngobrol sama Naya, pasti seru."
Aku tersenyum mendengar permintaan Kiko.
"Oke, Kakak pikirin caranya dulu, ya," aku mengiyakan. Padahal aku juga bingung karena aku tidak mengerti caranya. Aku bisa melihat mahluk tak kasat mata secara otomatis. Tapi ketika mereka minta diajari supaya bisa berkomunikasi dengan manusia l, bagaimana caranya?
"Kakak sekarang ke sekolah dulu, ya," aku pun berpamitan dengan Kiko.
"Sampai ketemu Kak!" Kata Kiko sembari melanjutkan bermain.
Aku kembali ke teras depan dan melihat Naya sedang duduk diam. Dia tampak murung.
__ADS_1
"Naya, kenapa ngga main sama Kiko?" Tanyaku
"Naya bosan, ngga ada teman," jawabnya.
Aku tersenyum karena bisa melihat mereka sebenarnya dekat, tapi tidak bisa saling melihat. Aku merasa hal itu lucu sekaligus miris.
"Kakak mau ke sekolah. Mau cokelat ngga? Kalo mau, ayo beli sama Kakak," ajakku.
Naya mengangguk. Aku menggandeng tangan kecil itu ke warung di ujung gang rumahnya.
"Naya mau yang mana? Ambil aja," aku harap cokelat ini bisa menghiburnya.
"Naya mau cokelat yang ini dua, satu buat Naya, satu buat Kiko," jawabnya.
"Kalau Kiko ga mau, cokelatnya buat Naya semua ya," kataku.
Setelah membeli dua cokelat di warung, aku mengantar Naya kembali ke rumahnya dan bergegas ke sekolah. Aku langsung menuju ke kelas untuk meletakkan tas di bangku.
Teman-teman sudah banyak yang datang. Seperti biasanya kalau sudah berkumpul dan pelajaran belum mulai, suara di kelas seperti layaknga denging sarang tawon. Tampak mereka seru sekali mengobrol berkelompok. Ara dan Monet juga sedang asyik. Aku mendekat ke bangku mereka untuk menguping obrolan.
Ara dan Monet, yang sedang berbincang model baju yang sedang tren, tiba-tiba menoleh.
"Mau ikutan ngga ke mal nanti pulang sekolah," tanya Ara kepadaku dan Monet.
"Boleh, tergantung tugas sekolah tapi ya. Kalo udah selesai, baru pergi," jawab Monet.
"Aku ikut! Kalo hari ini banyak tugas, besok atau lusa aja," kataku.
"Oke! Sampai nanti pulang sekolah yaa," kata Ara.
Sore nanti, kalau jadi pergi, berarti aku harus merayu mama untuk minta uang bekal ke mal bersama Monet dan Ara. Kalau diberi uang lebih banyak, aku akan beli baju baru untuk ke pentas musik itu. Kaos punya mama bagus, tapi gambar dan tulisannya sudah jadul menurutku. Mudah2an rayuanku meluluhkan hati mama dan memberi uang cukup untuk membeli baju dan jajan.
***
Sore hari pun tiba. Aku, Ara, dan Monet jadi pergi ke mal karena sedang bebas dari tugas sekolah. Aku pun menyusun rayuan buat mama agar memberiku uang lebih banyak.
Papa dan mama selalu pulang malam, sekitar jam 7 biasanya mereka baru sampai rumah. Aku pun menelepon mama agar dia bisa mengirim uangnya kepadaku melalui transfer. Tak terduga, rayuanku berhasil denga mudah!
__ADS_1
Aku senang karena terbayang dipikiranku akan beli kaos baru. Rasanya jadi semangat untuk jalan ke mal bersama Monet dan Ara.
- Bersambung -