Rahasia Alit

Rahasia Alit
Rombongan Manten - Bagian 2


__ADS_3

Alit teringat cerita nenek tentang kedua sepupu kakeknya, sebut saja pak Wani dan pak Wedi yang dikenal ringan tangan. Dua orang yang berbeda sifat mempunyai banyak kisah dari penjelajahan hutan belantara.


Pak Wani cerita tentang perasaannya di hutan angker itu setelah ngrasani wewe gombel.


Setibanya di hutan yang konon angker spontan muncul ide pak Wani untuk menciptakan suasana lebih mencekam dengan guyon nya.


Sosok wewe gombel muncul dalam ingatannya. Sosok hantu itu konon tinggal di pohon tinggi nan rimbun. Wewe gombel adalah hantu berwujud perempuan layaknya raksasa tapi dalam cerita digambarkan sosok berwujud menyeramkan itu menyukai anak-anak.


Wewe gombel sangat ditakuti. Mahluk halus itu dikenal sebagai hantu yang kerap menculik dan menyembunyikan di keteknya.


"Nah ini kesempatan buat candaan, pikir pak Wani, dia tersenyum".


Guyonan cuma sekedar slengekan untuk memecah keheningan saat semua orang lelah dan bosan selama perjalanan panjang. .


Pak Wani yang pemberani menganggap enteng candaan hantu meski dia tahu ada pantangan ngrasani atau ngomongin lekembut di tengah hutan yang konon angker.


Bagi yang percaya mistis beranggapan bila menyebut nama atau julukan si lelembut dapat mengundang reaksi dan sosok itu merasa terpanggil untuk menampakkan wujudnya.


Ketika tersadar bahwa dia terlanjur slengekan tentang ulah wewe gombel yang bertengger di dahan sehingga mematahkannya. Saat itu juga pak Wani takut karena slengekannya itu.


"Waduh….. aku terlanjur melontarkan kata-kata yang tidak pada tempatnya", dia bergumam dalam hatinya.


Pak Wani mulai gundah dengan candaannya.


" Hiii…hii.. , bulu kudukku berdiri, aku mengira wanita itu adalah si wewe gombel, yang suka menculik bocah saat orang tuanya lengah", gumamnya lagi.


Kejadian itu membuatnya percaya kehadiran si wewe gombel yang menyamar sebagai wanita isteri pak Legi, peserta rombongan itu.


Pak Wani menyembunyikan rasa takutnya dari orang-orang dalam rombongan itu.


Namun dia diam-diam mengawasi dua bocah itu. Setelah beberapa saat dia menghampiri mobil yang ditumpangi keluarga pak Legi. Pak Wani mengendap-endap agar tidak diketahui orang lain.


Meski kurang jelas tapi pak Wani bisa mengenali sosok wanita, isteri pak Legi yaitu ibu si bocah itu. Saat melongok ke mobil, wanita itu masih tertidur dengan posisi sama persis yang dilihat sebelumnya.


Pak Wani mengambil permen dari kantongnya dan mengiming-imingi permen agar si bocah itu mau ikut keluar dari mobil hingga leluasa ngobrol tentang kejadian yang dialami bersama wanita mirip ibunya.


Si bocah memang tidak menyadari bila wanita yang menggandengnya ternyata bukan ibunya.


Ketika berada di luar dari mobil si bocah itu mendongak ke atas, dia menatap pohon besar didekatnya. .


"Aku bersama ibu dan adik bisa berada di pucuk pohon itu, kayak terbang rasanya ", kata si bocah.


"Hah… . jadi sosok itu……." , gumam pak Wani dan langsung mengatupkan bibirnya dan tidak berkata-kata lagi.


“He…he…".


Alit tersenyum sendiri dan bergumam, "kena batunya deh".


Pak Wani ketakutan dan kapok dengan slengekannya.


Namun kata nenek rasa takutnya cuma sesaat karena sifatnya memang suka bercanda.


Lamunan tentang pak Wani terhenti saat hampir sampai ke halte itu. Alit langsung terpikir polusi saat membonceng motor.


Kenikmatan menghirup udara segar berganti polusi, “yah apa boleh buat”.


"Berada di taman di pagi hari napasku lega dibandingkan udara di jalan yang penuh polusi terutama dari motor yang kian hari bertambah penggunanya", Alit ngedumel sepanjang jalan menuju halte.

__ADS_1


"Alit ………..bengong ? tanya Arlo.


"Aku kesal dengan polusi yang menyiksaku saat di jalan, apalagi saat macet, sepeda motor berdempetan membuatku nyesek".


"Ooh....", Arlo mengambil helm dan memberikannya ke aku".


“Yah ……. melamun itu menyenangkan tapi harus terhenti ketika sampai halte itu.


"Alit hari ini agak telat jemputnya, tungguin yah", aku hanya menggangguk dan Arlopun segera pergi.


Seharusnya obrolan hantu tidak selalu menyeramkan tapi juga bisa jadi candaan. Karena itu cerita hantu tetap digemari terbukti kisah horor tetap eksis. Sementara sifat penakut dan pemberani selalu ada dalam kehidupan ini misalnya kakek Wani dan Wedi juga temanku Indah, temanku.


.


Indah agak berlebihan. Dia menanggapi cerita hantu terbawa perasaan sampai ketakutan gitu. Ke toilet sekolah minta ditemanin tentu teman yang lain agak males.


"Hai Alit.....", sapa Ara dan Monet. Sontak lamunanku terhenti dan tersenyum membalas sapaan mereka.


"Tumben kalian berangkat pagi, barengan?"


"Ga bareng dari rumah tapi kebetulan jam yang sama sampai sekolah".


"Masih pagi, yuk ngobrol di bangku pojok itu".


"kalian duluan, aku ke toilet dulu", kata Monet.


"Ok... ga perlu ditungguin?


"Ga.... nanti kususul kesitu", kata Monet sambil trus melangkah ke toilet.


Kami melihat Indah turun dari angkot dan truus ke kelas bareng si ibu petugas kebersihan toilet.


"Indah ga minta ditemenin karena ada si ibu, yah?


"Aku pernah cerita tentang toilet berhantu di mal itu padanya".


Aku dan Ara penasaran banget melihat reaksi Indah.


"Indah bengong mendengarnya, entah apa yang ada di benaknya".


"Aku bilang agar realistis, mahluk halus itu wujudnya berbeda dengan manusia yang berfisik padat", kata Monet.


Monet menelusuri ingatannya pada kejadian di mal angker, dimana dia terjebak di toilet mal itu dan mengulang apa yang dialaminya.


Saat aku di toilet mal angker aku ketakutan banget. Pas aku mau keluar, pintu toilet itu menghilang dan berganti tembok, aku merabanya tapi tetap tidak kutemukan pintunya. Aku sempat panik sendirian di toilet. Perasaan semakin takut di saat bersamaan terdengar suara "No Way Out". Aku mengamati sekeliling tapi ga ada orang sama sekali dan mal itu memang sedang sepi.


Aku mengalihkan rasa takut dan panik dengan berpikir jernih. Aku pastikan dulu detil kondisi toilet termasuk letak pintu masuk toilet dan tempat menaruh alat pembersih itu. Setelah kupastikan letak pintu itu, aku berdiri menghadap tembok yang kuperkirakan pintu masuk dan keluar. .


Dalam posisiku menghadap tembok itu, aku berdiri dan sabar menunggu seseorang ke toilet yang tentunya masuk lewat pintu itu. Dugaanku pasti tidak akan salah. Meski aku ketakutan banget tapi aku ingat betul keadaan toilet itu termasuk letak pintu dan alat kebersihan dekat pintu itu. .


Tiba-tiba tembok itu membentuk lubang pintu dan muncul daun pintunya. Seseorang membuka pintu itu dari luar, aku hampir kejedot pintu karena posisi berdiriku menghadap tembok yang kuduga pintu yang hilang itu.


Kami bengong karena membayangkan kondisi Monet saat di toilet itu. Saat itu kami pergi mal bertiga, aku, Ara dan Monet. Mal itu memang sepi banget karena mungkin di hari kerja hingga sesepi itu pengunjungnya.


Monet memang dikenal pemberani tapi apa yang dilakukan di toilet mal itu benar karena kepanikan membuat pikiran tidak sehat.


Indah tampak ingin nimbrung ngobrol sambil menunggu bel masuk. Pagi itu Indah tampak ceria.

__ADS_1


"Hari ini aku traktir kalian seusai pelajaran akhir", katanya seraya tersenyum.


"Wow ... kebetulan banget nih", kata kami serempak.


"Dalam rangka apa, nih", tanya Monet.


"Aku ulang tahun". Kami langsung melihat kalender pada HP.


" Ga hari ini ulang tahunmu, kan?


"Yah, seharusnya hari Minggu tapi papa dan mama ngajak pergi di hari itu".


"Kita ke mal angker itu yah? celetuk Monet.


"Ga mau, pasti kalian mau cerita hantu yah", Indah ngedumel sambil cemberut.


Aku jadi teringat ketika kami ngobrol hantu bareng Indah. Dia tampak ketakutan banget. Hal itu berdampak takut ke toilet seorang diri. Bahkan ke kelas juga takut karena harus melewati toilet. Tadi pagi aku lihat Indah santai saat ke kelas meski melewati toilet karena ada si ibu petugas kebersihan.


Hari itu kami pernah ngobrol bareng, aku, Ara dan Monet. Obrolan hantu itu membuat Indah ketakutan banget.


"Kalian tahu ga, hantu itu berkeliaran di sekitar kita? rupanya candaan itu melekat dibenaknya.


"Alit.... jangan menakut-nakuti ", kata Indah ketakutan.


"Hantu itu tampil dalam berbagai wujud, banyak yang mengatakan tentang bentuk-bentuk hantu dari pengalamannya bertemu hantu".


"Aliit... stop cerita hantunya", aku takut banget.


"yuk sekarang temenin aku ke kelas", pintanya. memelas


"Bukannya setiap hari juga ke kelas sendirian?


"Tapi aku sekarang takut karena melewati kamar mandi itu sendirian", Indah terlihat cemberut.


"Aku nemenin Indah dulu yah", teman yang lain pada nyengir.


"Masih ada waktu untuk ngobrol lagi PM, tapi janji ga ngobrolin setan lagi". Keduanya bergegas ke kelas.


“Suer ……..” kami hampir serempak lantang seraya tertawa ceria di pagi itu.


"Indah, kita ganti topik ngobrolnya, tapi kenapa kamu ketakutan banget dengan cerita setan? Alit seraya menatap wajah Indah.


Bagiku cerita hantu itu menyeramkan banget terutama Monet terjebak di toilet mal. Sebuah pengalaman yang mengerikan. Terbayang di benakku si hantu bisa berbuat jahat pada manusia.


"Hantu memang selalu mengganggu manusia dan kita pasti menilainya jahat".


Kami tertawa lepas, sampai terdengar cekikikan.


Beberapa teman telah masuk ke kelas. dan ini celetukannya.


"Cerita apa sih, sampai tertawa segitunya", kami tidak menggubrisnya.


"Penasaran dengan kami? kata Monet.


"Cowok jangan sok tahu, kamipun juga banyak cerita yang bisa jadi candaan".


Begitulah sifat Monet yang punya banyak cara dalam merespon orang lain.

__ADS_1


__ADS_2