
Aku melongok ke arah dalam dari balik pagar rumah mini itu. Sepi. Tidak ada Naya dan boneka kesayangan yang biasanya tampak duduk di teras beralaskan tikar. Aku pun berpikir bahwa tidak ada orang di rumah dan memutuskan untuk kembali ke sekolah pagi ini.
Belum sempat melangkah, ada suara anak kecil memanggilku.
"Kakak! Masuk sini," kata Naya yang tampak berlari dari dalam rumah.
"Hai! Kakak kira, Naya lagi ngga di rumah," ucapku sembari mengikutinya masuk ke dalam. "Kakak gelar tikarnya, ya."
Naya pun menjawab dengan anggukan kepalanya. Dia membantuku membuka gulungan tikar dan menggelarnya di lantai.
"Nah, sekarang Kakak bisa duduk deh," ujarnya sambil tersenyum.
Aku memandangi bocah perempuan itu, cantik sekali jika tersenyum. Aku mengusap pipi Naya dan mencubitnya perlahan.
"Naya udah semakin besar ya. Bisa bantuin beres-beres rumah dong sekarang," kataku.
"Iya Kak. Yayuk banyak ajarin Naya soal berberes rumah," jawabnya.
Kami mengobrol sejenak dan bertanya soal keberadaan Kiko. Naya menjawab, dia sedang ada di dapur. Naya pun bercerita bahwa mereka habis berbincang lama. Aku pun terkaget-kaget mendengarnya. Pikirku, jangan-jangan Naya juga bisa melihat wujud Kiko yang sesungguhnya.
"Apa yang diobrolin?" Tanyaku.
"Aku banyak cerita tentang Kakak. Aku punya kakak yang baik hati. Kakak suka menggendong sambil membelai aku. Kiko hanya mendengarkan ceritaku," jawab Naya.
"Kakak sayang Naya, kan?" Kata Naya sambil tersenyum.
Tanpa menjawab, aku pun mendekap dan membelai Naya. Aku tersenyum dan merasa senang karena punya adik!
"Mana sisirnya? Sini, biar Kakak sisir rambut Naya," ucapku.
Aku menyisir rambutnya dan memasangkan sebuah bando pita berwarna merah untuknya.
"Naya mau ikut mama pergi jalan-jalan lagi. Naya senen deh, Kak," kata Naya.
"Kiko diajak?" Tanyaku.
"Ngga, Kak. Kiko ngga mau pergi. Aku sudah ajak dia, tapi dia sepertinya tidak mau ikut," Naya berkata dengan nada sedih sambil tertunduk.
"Yuk, kita samperin Kiko," ajakku.
Aku pergi ke dapur dan mencari Kiko di tempat favoritnya dan Naya. Dapur merupakan tempat yang membuatnya aman di kala Om Badut beratraksi. Om Badut jarang sekali masuk ke dapur. Biasanya, dia hanya sebatas berdiri jendela bagian luarnya.
"Kiko," panggilku.
__ADS_1
Kemudian, tampak anak itu perlahan keluar dari tubuh boneka yang tersandar di dinding dapur. Aku pun melambaikan tangan kepadanya.
"Halo, Kak. Aku mau main lompat-lompat di belakang. Kakak mau ikut?" Kata Kiko sambil berlari menuju teras belakang.
Kemudian, wajahku berpaling kepada Naya yang tampak sedang berdiri mematung. Tampaknya, dia sedang melihat sesuatu di teras belakang itu.
"Naya?" Panggilku.
Aku menatap Naya. Dia sedang serius memperhatikan sesuatu, sampai-sampai tidak berkedip!
"Naya sedang melihat apa?" Ujarku.
"Kak, ada sesuatu di teras itu, tapi aku ga tahu itu apa," jawabnya. "Ada bayangan, Kak. Kakak lihat ngga?"
Ternyata, wujud asli Kiko lah yang sedang dilihat oleh Naya. Sebelumnya, dia tidak pernah melihat Kiko. Menurutnya, Kiko hanyalah sebuah boneka yang merupakan teman akrabnya. Naya belum tahu kalau selama ini, Kiko bisa mengerti segala ucapan dan curhatannya.
"Naya, itu Kiko, temanmu," ujarku. "Ayo kita dekati. Sentuhan Kiko sangat halus, tapi bisa dirasakan jika dia sedang ada bersama kita."
"Jadi, betul, Kiko itu temanku?" Naya terlihat ceria mengetahuinya.
"Kiko, kamu temanku?" Tanya Naya.
Aku melihst Kiko menganggukkan kepalanya. Aku tersenyum senang melihatnya. Secara tak sengaja, tiba-tiba Naya bisa berhubungan dengan hantu anak perempuan itu.
Suasana di pagi itu sangat menyenangkan. Aku melihat wajah mungil itu tertawa gembira. Selama aku mengenalnya belum pernah melihat Naya seceria ini
Rumah ini memang aneh. Ada banyak peristiwa yang tersimpan di dalamnya, tanpa diketahui pemiliknya, yaitu Naya dan mamanya.
Sang mama tidak tahu jika anaknya tumbuh dalam suasana tidak harmonis. Aku menduga, segala perasaan Naya, baik itu senang maupun terikat rasa takut, dia tidak bisa menceritakan semuanya kepada mamanya. Apalagi, mamanya sepanjang hari bekerja seharian. Sampai-sampai, Naya menemukan teman curhatnya sendiri.
"Kiko punya teman-teman lain di sini?" Tanya Naya dengan ceria.
Aku masih terpaku melihat mereka berdua. Tiba-tiba, muncul tiga hantu anak kecil di teras itu. Merekalah yang dimaksud dengan teman Kiko. Aku melihat mereka berwajah manis. Ada satu hantu anak laki-laki.
Keempat anak kecil itu tampak seumuran.
Mereka memang setiap hari ada di tempat itu. Mungkin Naya juga bisa merasakan kehadiran hantu anak-anak itu.
Tak terasa, aku sudah 30 menit di rumah Naya. Aku harus pergi ke sekolah sebelum jam pelajaran pertama dimulai.
"Naya, Kiko, Kakak pamit dulu ya. Kakak mau sekolah," kataku. "Adik-adik yang lain, Kakak pamit ya."
Serempak, mereka semua menjawab, "Iya Kak!"
__ADS_1
Pagi itu aku merasa senang karena Naya bisa tertawa gembira. Kehidupan bersama mahluk tak kasat mata, yang banyak orang mengatakan sebagai kehidupan tak wajar itu, bisa membuat seorang anak seperti Naya merasa senang. Naya selalu hidup dalam dunianya sendiri.
Aku sendiri pun sering melihat makhluk-makhluk itu dalam berbagai wujud, seperti melihat suatu kehidupan nyata yang berada di dalam dimensi lain. Bahkan, setelah menceritakan peristiwa-peristiwa yang kualami kepada nenek, aku jadi belajar banyak hal. Terlebih lagi ternyata nenek juga mempunyai pengalaman yang sama, ada pula kejadian ketika kami mengalami semacam flashback ke kehidupan masa lampau. Aku jadi pusing sendiri memikirkan peristiwa misterius itu.
***
Sepulang sekolah, aku bertemu dengan Arlo. Kami pun berencana untuk makan bersama Kak Luni dan Aciel di rumah nenek.
Sesampainya di rumah, ternyata Aciel dan Kak Luni sudah lebih dulu berada di sana. Tumben sekali, pikirku. Tidak biasanya mereka sampai lebih cepat di rumah.
Mereka berdua tampak sedang memasak dan membuat minuman segar. Aroma buah jeruk menyeruak dan memenuhi dapur rumah. Aku mencuci tanganku dulu dan berniat membantu mereka berdua. Arlo pun juga ikit menyusul ke dapur. Aku mengambil sebuah nampan untuk membawa gelas-gelas minuman itu ke meja makan.
"Udah selesai kan, Kak, jus jeruknya?" Tanyaku.
Kak Luni menganggukan kepalanya. Aku dan Arlo keluar dari dapur sembari membawa minuman. Dapur rumah nenek memang berukuran agak besar, tapi sumpek juga untuk empat orang. Jadi, aku dan Arlo memutuskan untuk menunggu mereka saja di sofa ruang tengah. Kemudian, ketika Kak Luni dan Aciel sudah selesai memasak, aku memutuskan untuk masuk ke kamar untuk menemui nenek.
"Nenek, makan dulu yuk. Ada jus jeruk bikinan Aciel dan Kak Luni," ajakku.
"Nenek agak nda enak badan. Tapi lapar juga," kata nenek.
Nenek pun mengikuti keluar kamar dan duduk di meja makan. Siang itu kak Luni dan Aciel memasak sate jamur dan lontong. Kami berlima sangat menikmati hidangan buatan mereka. Suasana juga jadi ramai karena celotehan Aciel.
Selesai makan, Aciel tiba-tiba menghampiri nenek dan berjongkok di hadapannya.
"Nek, aku bisa pijat kalau nenek mau. Kebetulan aku tahu titik refleksi. Mungkin nenek bisa membaik setelah aku pijat," ucap Aciel.
Nenek menyetujui tawaran Aciel dengan senang hati. Lalu, Aciel menarik dua kursi pendek, yang satu untuk tempat duduk Aciel, dan satu lagi untuk menopang kaki nenek.
"Aciel emang serba bisa, ya. Enak ngga, Nek, dipijat Aciel?" Celetuk Arlo.
Nenek pun mengangguk sambil menahan sakit. Dia terlihat menikmati pijatan Aciel sambil terlihat mengantuk.
Sekarang, agak mendingan ngga, Nek?" Tanya Aciel ketika mmenyudahi pijatannya.
"Udah lebih segar rasanya. Terima kasih, ya" ujar nenek.
Setelah itu, kami melanjutkan bincang2 seru sampai malam. Tentunya, dibumbui dengan celotehan Aciel yang membuat kami tertawa. Tapi aku tidak menceritakan pengalamanku dengan Naya dan Kiko kepada mereka. Mungkin nanti aku akan memberitahu mereka, ketika waktunya sudah tepat.
***
Keesokan harinya, aku pergi ke rumah Naya di pagi hari seperti biasa. Aku terkejut karena di rumah itu, tampak ada lima anak kecil termasuk Naya sedang berlari-larian riang. Kursi goyang itu tergeser agak ke tengah sehingga mereka bisa berlarian mengelilingi kursi goyang itu. Keadaan menjadi gaduh akibat suara jeritan kegirangan dari anak-anak itu. Aku tidak menyangka, Naya cepat sekali sudah akrab dengan mereka! Senang sekali aku melihatnya.
Aku berdiri di depan pagar dan memandang sekeliling untuk mengecek jika ada orang yang terganggu dengan suara keras anak-anak itu. Rupanya, keadaan sekitar sedang sepi. Jadi aman. Aku pun kembali memperhatikan mereka berlima.
__ADS_1
Naya terlihat sangat ceria. Padahal biasanya, dia selalu pendiam. Suara riuh bocah-bocah kecil itu tidak mengganggu orang sekitarnya. Aku tersadar bahwa mereka semua mempunyai dunia tersendiri. Tidak semua orang bisa mendengar suara segaduh apapun dari mereka, karena anak-anak itu adalah makhluk tak kasat mata. Aku tersenyum, setelah menyadari semua itu.
Bagiku, dengan siapa Naya berteman, aku tidak memperdulikannya. Aku hanya ingin melihat Naya ceria seperti layaknya anak seusianya yang suka bermain dan tidak lagi terlihat murung.