Rahasia Alit

Rahasia Alit
Misteri di Balik Musibah - Bagian 5


__ADS_3

Keesokan harinya aku memakai anting itu di sekolah. Tapi rupanya, Ara dan Monet juga memakainya. Kami bertiga mengenakan anting yang sama, sehingga teman-teman meledek kami.


"Cie... cie samaan nih antingnya," begitu kata mereka.


Aku, Monet, dan Ara jadi agak salah tingkah. Padahal kami tidak janjian, tapi kebetulan punya feeling yang sama jadi bisa kembaran seperti ini. Namun kami cuek aja.


"Biarin weee, ngiri yaa," kata Ara menjawab ledekan itu.


***


Di pagi tadi, aku bertemu Naya dan mamanya saat mereka sedang menunggu angkutan umum di halte dekat sekolah. Dia menyapaku.


"Kak Alit!" Sapa Naya.


Aku pun menghampiri mereka. Agak deg-degan juga, berhubung aku belum pernah bertemu mama Naya. Mungkin Naya sudah cerita tentang aku kepada mamanya. Tapi aku tidak tahu, penilaian macam apa yang diberikan oleh mama Naya kepadaku.


"Oh, kamu yang namanya Alit! Makasih ya. Sampaikan juga pada Arlo, Monet, dan Ara. Kalian telah mencurahkan perhatian pada Naya," aku terkejut mendengar sambutan ramah itu. Aku pun bingung harus menjawab apa.


"Tante jadi tersadar jika seorang anak juga perlu kasih sayang dari ibunya. Selama iini, Tante sibuk bekerja hingga lupa kalau Naya butuh teman bermain," lanjutnya.


"Iya, sama-sama Tante. Aku juga seneng kok bisa nemenin Naya," jawabku sambil cengegesan.


"Naya terlihat ceria setelah masuk TK sebagai murid titipan," ucapnya.


"Syukurlah! Kami juga senang bisa membuat Naya ceria seperti anak-anak seusianya, Tante," kataku.


"Angkotnya sudah dekat, sampai ketemu ya, Alit. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi. Ini Tante mau sekalian antar Naya dulu ke TK," kata mama Naya.


"Dadah, Kak Alit!" Naya berteriak sembari melambaikan tangannya kepadaku seraya menaiki mobil angkutan umum.


***


Di sekolah, aku pun menceritakan kondisi Naya ke Ara dan Monet. Mereka juga sangat senang mendengarnya.


Begitupun dengan Arlo yang terlihat sangat gembira mendengar kabar Naya. Aku menceritakan pertemuanku dengan mama Naya saat perjalanan pulang dari sekolah. Sayangnya, kami tidak bisa banyak mengobrol berhubung dia harus langsung pulang begitu selesai mengantarku.


***


Siang ini, aku hanya tinggal berdua dengan nenek. Seperti biasa, aku tidak sabar untuk mendengar kelanjutan cerita nenek. Sebelum memulai ceritanya, aku membuatkan nenek secangkir teh hangat.


"Nek, ini teh hangatnya," aku meletetakkan teh itu di mejanya.


Nenek tersenyum, "Alit pasti ingin dengar cerita lanjutannya."


"Pasti Nek, Alit penasaran banget dengan cerita jadul itu," jawabku.


Kemudian, nenek pun mulai melanjutkan ceritanya.


***

__ADS_1


Setelah Pak Aman dan Pak Biduk saling mencurahkan hati tentang pengalaman masing-masing, tiba-tiba pemilik padepokan itu muncul dan langsung duduk di singgasana batu itu. Merrka berdua pun kaget.


"Di sini menyeramkan, aneh. Masa singgasana kosong tiba-tiba ada orangnya. Tidak tahu dari mana datangnya," bisik Pak Aman kepada Pak Biduk.


Selagi mereka berdua berbisik-bisik membicarakan tempat seram yang membust bulu kuduk berdiri ini, seketika terdengar suara lantang.


"Sini, mendekatlah", kata pemilik padepokan itu.


Keduanya pun berdiri. Dengan langkah ragi, mereka berjalan mendekat dan duduk tepat di bawah singgasana itu. Keduanya mengatupkan tangannya untuk menghormati pemilik padepokan itu. Kemudian, terdengar lagi suara lantangnya.


"Kalian sudah menyaksikan suatu kejadian yang akan kalian alami jika melanjutkan niat mencari pesugihan. Ada imbalan berupa tumbal sandera nyawa. Nyawa orang yang yang kalian kasihi akan menjadi sandera."


Dengan nyawa sebagai sandera, otomatis nyawa orang tersebut akan menjadi tawanan alam gaib.


"Jika urung niatmu, maka tidak ada kesepakatan apaun. Anak-anak kesayanganmu akan tetap hidup," lanjutnya. "Masih ada waktu 3 hari untuk menentukan pilihan."


"Kami mengurungkan niat mencari pesugihan dan akan pulang ke rumah," jawab Pak Biduk dengan terbata-bata.


Belum sempat dijawab, pemilik padepokan itu menghilang setelah kedua tamunya membatalkan niat untuk memperoleh pesugihan.


Beruntung, Pak Aman dan Pak Biduk menyaksikan dampak mengerikan dari pelaku pesugihan dan cepat membatalkan niatnya tanpa menunggu tiga hari. Dengan pembatalan niat itu maka keadaan pun menjadi normal kembali. Kedua orang itu langsung menuruni bukit sebelum malam tiba. Ketika sudah gelap, perjalanan menuju ke perkampungan di bawah bukit itu akan semakin sulit.


***


Mendengar cerita nenek, aku jadi teringat dengan kejadian aneh yang juga berkaitan denga pesugihan. Kala itu aku sedang asyik mengintip kegiatan yang ada di Sanggar Kosong


Tiba-tiba, aku merasa tersedot ke alam lain. Padahal aku sedanv bersama Ireng saat itu, tapi hanya aku yang berpindah ke alam lain. Di sana tampak sebuah kurungan yang sangat besar. Aku mendekat, rupanya terdapat anak-anak yang sedang meringkuk di dalamnya.


Kejadian itu tetap melekat di benakku. Saat itu, aku hanya biss terperangah dan tidak mengerti proses anak-anak itu bisa terperangkap dalam kondisi seperti itu. Nyawa anak-anak itu terperangkap di dunia lain atas keserakahan orangtuanya.


Sampai sekarang pun, aku ingin tahu bagaimana orang bisa terperosok ke lembah pengorbanan nyawa? Cerita Pak Aman dan Pak Biduk menunjukkan bahwa perjanjian antara pelaku dan pemberi pesugihan adalah awal dari malapetaka itu.


Setelah pertemuan ayah dan anak itu, Alit mengikuti sanga ayah yang berjalan pulang. Rupanya dia hidup dalam kemewahan. Sementara anak-anaknya menanggung derita yang entah sampai kapan. Tindakan seorang yang bodoh dan sembrono melalukan perjanjian pesugihan karena tergiur ingin mendapatkan kekayaan instan tanpa memikirkan akibatnya. Penyesalan sanga ayah tersebut pun tidak ada gunanya. Dia tidak bisa memutar waktu kembali. Aku sangat sedih melihat penderitaan anak-anak tersebut.


***


"Neek.... ketika bertemu Naya yang selalu murung, Alit juga sedih. Apalagi anak-anak itu yang harus menderita sepanjang zaman untuk mengabdi setan.


Nenek tersenyum memandangku karena ceritanya telah merasuki perasaanku.


"Alit jadilah pribadi yang pintar dan baik," kata nenek sambil membelai rambutku.


"Oh ya, Nek, tadi pagi Alit bertemu mamanya Naya. Mama Naya bilang Naya sudah berubah jadi lebih ceria. Sepertinya dia punya banyak teman sekarang. Dia berterima kasih pada Alit, Arlo, Ara, dan Monet," ucapku.


"Ini anting yagg dikasih Ara, dari omnya yang baru pulang dari luar negeri. Aku sama Monet dan Ara jadi kembaran deh," aku memamerkan anting yang kukenakan kepada nenek.


"Bagus, tadi nenek mau tanya, tapi lupa," kata nenek.


"Arlo juga bilang bagus!" Kataku sambil tersenyum.

__ADS_1


"Nek, buat kue bolu yuk. Ceritanya lanjut besok. Alit pengen bolu pisang cokelat buatan nenek," aku merengek kepada nenek.


"Boleh," jawab nenek.


Aku kemudian menyiapkan mentega, gula, pisang, cokelat, dan telur. Nenek meraciknya, dan aku yang me-mixer-nya.


"Neek....loyangnya yang bulat atau persegi?" Tanyaku.


"Bulat aja," ujar nenek.


Berhubung aku sangat suka bolu buatan nenek, aku pun menyiapkan loyang yang paking besar.


"Wah, nanti ngga abis lho kalo kebanyakan," kata nenek terkejut melihat loyang besar yang aku bawa.


"Pasti habis, Nek, kalo Alit yang makan," aku menyeringai sambil menjawabnya.


***


Setelah beberapa lama, bolu buatan nenek pun keluar dari oven. Bentuknya bagus dan mengembang.BAroma harumnya memenuhi ruangan setelah keluar dari oven.


"Nek, kalau Alit ulang tahun, bikin bolu kayak ini dong buat temen2 di sekolah," kataku.


"Alit ulang tahun masih lama, bulan depan, kan?" Ucap nenek.


"Iya, Nek, bulan depan. Tapi Alit pesennya dari sekarang hehe," kataku merajuk.


"Beres, asal dibantuin memixernya. Nenek pegel pegang mixer," jawab nenek sambil tertawa.


"Oke, Nek!"


Setelahnya, aku menyiapkan wadah piring ceper besar untuk kue itu. Bolu pun dibelah di bagian tengahnya untuk kemudian diolesi krim butter.


"Buset, wangi amat. Kecium lho sampe teras," kata Kak Luni yang tiba-tiba muncul bersama Aciel.


"Ih, ngagetin aja!" Jawabku.


"Aciel, cobain bolu buatan nenek. Dijamon ketagihan!" Kata Kak Luni.


Aciel pun menyambut tawaran Kak Luni dengan senang hati. Dimakannya bolu itu dengan lahap.


"Enaaakk," kata Aciel.


Tiba-tiba aku teringat pekerjaan rutinku, yaitu menyiram tanaman Kak Luni. Tapi berhubung ada Aciel, Kak Luni jadi tidak marah kepadaku. Aku pun buru-buru ke teras untuk menyiram tanamannya.


"Alit mau nyiram tanaman ya? Biar Kakak aja," aku bengong mendengar Kak Luni bicara dengan lembut seperti itu.


"O-oh, yaudah, Kak. Kalo gitu aku mandi dulu," jawabku terbata-bata karena masih heran.


Sore itu, kami menikmati bolu buatan nenek. Ireng duduk di lantai dan tampak ingin juga memakan bolu itu. Aku menatapnya dan bergumam, "Ireng ngga boleh, yaa."

__ADS_1


Dia berbalik menatapku seakan mengerti. Kemudian, aku pun mengambil cat snack kesukaan Ireng.


-Bersambung


__ADS_2