
Di pagi itu, sehabis sarapan aku langsung mengambil tasku bersiap untuk berangkat.
"Nenek, papa, mama dan kak Luni berangkat dulu".
"Alit masih pagi banget, baru 5.15", kak Luni menoleh kearahku yang sudah sampai ke pintu depan. Sementara aku beralasan betapa nyamannya jalan pagi di taman komplek yang banyak pepohonan.
"Jalan pagi melewati taman itu nyaman, kak". Alit sengaja jalan pelan-pelan menghirup hawa segar.
"Kak Luni cobain deh, Aciel suruh nunggu di halte jalan raya bareng Arlo".
"Males". Kak Luni berangkat ke sekolah sekitar pukul enam.
Aku berlari kecil menuju keluar, Ireng mengikutiku sampai ke jalanan komplek. Aku terpaksa balik lagi untuk menyuruhnya masuk ke rumah agar tidak keluyuran jauh. Ireng memang penurut seolah mengerti kalau tidak diijinkan pergi jauh.
Setelah beres dengan Ireng, aku keluar menuju pelataran depan. Ketika membuka pagar rumah, si ibu sudah tampak di jalanan depan rumah.
Rupanya dia menungguku. "Neng Alit berangkat ke sekolah, kan? Aku mengangguk.
Si Ibu ketagihan jalan pagi, bagus juga punya kebiasaan sehat jadi sejenak lupa kalau kerjanya monoton cari uang dan uang lagi. Aku pernah ke warung dan melihatnya lusuh kayak kecapean dan jenuh. Sekarang punya kegiatan baru. Rupanya si ibu suka, baru sekali jalan pagi langsung nagih.
"Bu, obrolan kemarin tentang pak Kidung belum tuntas".
"Oh.... yach, kemarin saya keasyiikan jalan pagi yang baru kali itu"
Aku dan si ibu ngobrol sambil jalan kaki menuju halte.
"Aku mimpi bertemu pak Kidung, setelah mimpi itu, saya menelisik kebelakang kejadian masa lalu untuk memahami arti mimpiku".
Dengan melihat kebelakang mungkin si ibu bisa mengerti maksud mimpi itu.
"Ooh.... memang begitu yach?
"Neng, menurut temanku seperti yang kukira bila bermimpi tentang seseorang yang sudah meninggal maka mimpi adalah suatu pesan yang hendak disampaikan".
"Ternyata dugaanku ada benarnya".
"Kebetulan saat itu, aku membuka buku kecil catatan hutang piutang warung dan baru teringat ternyata aku berhutang pada pak Kidung", imbuhnya.
Alit serius mendengarkan si ibu. Rupanya seseorang tidak dapat dilihat dari penampilannya. Si ibu itu sederhana banget dan ga menyangka punya catatan yang cukup memadai untuk warung kecil itu. Dia mencatat pemasukan dan pengeluaran warung yang sewaktu-waktu dilihatnya, mungkin saat ada hal yang mengganjal pikirannya.
__ADS_1
Alit tersenyum melihat si ibu yang jujur. Dia selalu menulis di buku kecil dan catatan warung itu penting baginya, misalnya catatan itu mengingatkan hutang piutangnya. Aku terhenyak mendengar suaranya.
"Neeng....kenapa berhenti?
Sontak aku kaget, aku bengong rupanya.
"Yuk, jalan lagi, masih ada waktu beberapa menit untuk ngobrol sampai halte itu".
"Neng.... saya lanjut cerita itu".
Kala membuka catatan warung saya kaget karena tertulis titipan uang pak Kidung Rp. 200.000. Saya berusaha mengingatnya, ternyata saya ditalangi pak Kidung menyumbang pernikahan teman kami.
Hutang itu membuatku kepikiran, terutama saat aku masih di kampung.
Rencana balik dan membuka warung itu masih lama, aku ga bisa tidur mikirin utang itu.
"Saya malah baru tahu dari neng Alit, tentang meninggalnya pak Kidung".
Saat di kampung, aku bingung mau mengembalikan uang itu, tapi ga bisa transfer karena ga tahu nomor rekening pak Kidung.
Beberapa hari sebelum balik kesini saya bermimpi tentang pak Kidung.
"Mau dengar?
"Neng dengerin cerita mimpiku, yah", aku mengangguk.
"Kita sudah hampir sampai halte, besok lanjutannya, kita ketemuan di pagi hari yah".
Aku melihat Arlo sudah menungguku di halte itu, aku berlari kecil ke arahnya.
Aku melihat si ibu menuju warung dan merogoh kantong baju mengambil kunci warung kecilnya.
Aku mengatakan unek-unek si ibu tentang makna mimpi bertemu pak Kidung. Arlo terperangah.
"Hah..... tentang apa?
"Si ibu mimpi bertemu pak Kidung".
Setelah aku kasi tahu bahwa pak Kidung telah meninggal maka dia berusaha menafsirkan mimpinya sebagai sebuah pesan tersirat dari almarhum.
Si ibu akan mengingat kembali kejadian kebelakang untuk membahami arti mimpi itu.
Si ibu kekeuh memaknai mimpinya dan kebetulan ada catatan hutangnya pada pak Kidung semasa hidupnya. Si ibu lega dan akan secepatnya membayar hutang itu pada keluarganya.
__ADS_1
Si ibu melanjutkan cerita mimpinya.
"Neng saat bermimpi, seakan jiwaku keluar dari tubuh".
"Hiii.... serem amat, aku merinding mendengar mimpi itu".
"Jiwa keluar dari tubuh pasti melayang-layang karena tidak berlaku gravitasi".
"Aku melayang-layang terbawa angin kesana kemari, aku bagaikan angin berhembus gitu, neng", kata si ibu sambil memperagakan dengan tangan dan badannya meliuk-liuk.
Lucu banget si ibu, aku menahan tawa. Kelincahan si ibu menjadikan mimpi itu tidak lagi seram.
Aku merasa sangat ringan bisa melayang kesana kemari, memang benar tidak ada lagi pengaruh gravitasi. Aku ketakutan karena aku tidak dapat lagi mengendalikan tubuhku lagi.
Ketika itu suasana sangat gelap. Tidak tampak seberkas cahayapun yang menerangi tempat itu. Semua benda ataupun mahluk hidup tidak dapat ditangkap oleh indera penglihatan manusia. Aku hanya dapat merasakan di tempat itu ada kehidupan seperti normalnya kehidupan sehari-hari yang kukenal.
Aku bisa menangkap aktivitas di sekitarku. Aku juga merasakan mahluk yang seliweran di dekatku. Itulah yang kurasakan. Aku pikir tempat ini penuh dengan mahluk-mahluk yang tak berwujud mirip diriku. Mahluk-mahluk itu semakin kencang berlalu lalang di depanku.
Aku lama berada di tempat itu menyaksikan mahluk-mahluk tanpa wujud yang seliweran dan cukup mengganggu. Di saat itu aku mendengar suara seseorang memanggilku:
"Buuu....bu " berulang kali suara bernada panjang terdengar.
Suara itu tidak asing bagiku. Aku menerka suara itu dari seseorang yang kukenal. Tubuhku bagaikan angin itu melayang kesana kemari dengan susah payah mengendalikan tubuhku sampai kearah suara itu.
"Hah .. ternyata sosok pak Kidung, aku senang ternyata bisa melihatnya lagi". .
Dia berkemeja biru dan bercelana jeans itu pak Kidung. Dia menatapku dan tersenyum lebar.
Kami berbicara tanpa kata-kata.
"Ibu bisa menyaksikan kondisiku? pak Kidung menunjukkan rantai melingkar di kakinya tapi aku tidak melihat ujung rantai sebagai penyematnya agar tubuhnya tetap.di tempat".
" Aku tidak bisa lagi menemui ibu".
Aku diam hanya mendengarkan dan memahami maksudnya saat pak Kidung berbicara tanpa kata-kata yang terucap dari bibirnya.
Setelah menyampaikan isi hatinya pak Kidung menghilang seakan ditelan kegelapan malam. Angin berhembus kencang seolah menyertai kepergiannya.
Sementara itu si ibu masih berada disitu. Melalui mata batinnya, dia menyaksikan kesekeliling tempat itu.
__ADS_1
Ternyata tempat itu adalah pasar jaman dulu. Ada orang yang berdagang hewan kuda dan unggas. Pasar itu lebih menyerupai pasar jaman dulu jauh dari kesan kekinian yang tertata rapi. Cuaca dingin dan gelap. Hanya sedikit penerangan cahaya bulan yang menandakan saat itu malam hari.
"Itulah mimpiku, meski tidak ada kaitannya dengan uang itu tapi mimpi itu mengingatkan bahwa aku harus mengembalikan uang pak Kidung pada keluarga terdekatnya".