
Belum hilang dari benakku kejadian di taman komplek itu. Aku tercekam sampai sulit menggerakkan kaki untuk melangkah, kini ada seorang ibu mencari pak Kidung, mantan sopir papa yang telah meminggal. Sontak aku berpikir, "Waduh … . kejadian apa lagi nih". Awalnya begini.
Di pagi itu saat aku membuka pagar tampak seorang ibu paruh baya yang sedang mencari alamat rumah. Dia jalan mondar mandir, melongok ke sana kemari sambil memegang kertas kecil, mungkin catatan alamat hendak ditujunya. Kayaknya si ibu adalah pemilik warung di pinggir jalan raya. Aku menghampiri untuk membantunya. Aku menyapanya.
"Ibu cari rumah siapa?
"Oh.... neng, hendak ke sekolah? dia balik menyapaku.
"Ya bu, boleh saya bantu cari alamat yang tertulis di kertas itu?"
"Ooh.... ", si ibu menyodorkan kertas kecil itu.
"Ooh... ini alamat nenek saya", kataku sambil menunjuk rumah nenek.
Pl
"Saya mau cari tempat kerja pak Kidung", katanya menegaskan.
"Nomor rumah disini ga urut angkanya"
"Pak Kidung sudah meninggal", kataku menjelaskan.
"Ooh .........", suara itu terlontar spontan. Si ibu berkata lirih hampir tak terdengar, tampak mimik berdoa dengan kedua tangannya menengadah ke atas.
"Bu, ini alamat nenek, pak Kidung semasa hidupnya kerja disini, nama saya Alit, saya tinggal di rumah nenek".
"Maaf neng, saya kenal pak Kidung tapi jarang ngobrol dengannya meski setiap hari beli rokok di warungku, ternyata pak Kidung sopir neng Alit yach".
"Warungku di pinggir jalan raya ini, seraya menunjuk arah warung nya”. .
"Itu ancer-ancer warungku”.
Alit tahu warung itu dari pak Kidung. Alit sering lihat pak Kidung sehabis kerja, jalan lurus pasti ke arah warung rokok milik si ibu”.
"Saya berada di desa cukup lama, adikku gantian menjaga warung itu".
"Hari ini aku berdagang lagi dan gantian adikku pulang karena panen padi".
In
"Apakah ibu perlu sesuatu?
"Saya bisa membantu?
Ibu pemilik warung itu mengatakan bahwa dia pernah bermimpi bertemu dengan pak Kidung. Karenanya dia menyempatkan diri untuk mencarinya setelah balik di kota ini untuk berjualan lagi.
"Ibu percaya mimpi bertemu sosok yang telah meninggal pasti tersimpan maksud tertentu yang belum sempat dikatakan semasa masih hidup".
__ADS_1
"Ooh.... jadi mimpi itu cara seseorang yang telah meninggal menyampaikan suatu pesan, yah".
"Kita ngobrol sambil jalan ke halte, bu".
Alit menghemat waktu karena sudah janji dengan Arlo, temanku untuk ketemuan di halte dan bareng ke sekolah.
Merekapun tampak asyiik ngobrol sambil berjalan melewati taman. Hari masih pagi. Udara sejuk itu terasa banget saat menarik napas panjang. Alit sesekali menarik napas panjang untuk menghirup udara segar itu.
"Neng Alit setiap pagi lewat taman ini?
"Ya, bu, kenapa?
Saya baru kali pertama melewati taman ini di pagi hari. Ternyata nyaman banget jalan di pagi hari.
Keseharian saya sibuk banget melayani pembeli hingga tidak terpikir untuk olah raga pagi. Meski cuma jalan kayak gini, dada terasa nyaman. Udara pagi bersih dan melegakan napas. Besok saya menyisihkan waktu untuk jalan pagi.
"Neng Alit keluar rumah jam berapa?"
"Jam segini bu, kira-kira pukul 5.15". Besok ibu nunggu di depan rumah truus jalan bareng ke halte itu. Lumayan meski cuma 15 menit. Ibu senang bukan hanya napas yang segar tapi pikiran juga bisa relaks menikmati taman komplek ini.
Aku memandang wajah si ibu jadi trenyuh. Jalan kaki di sekitar taman saja telah membuatnya senang. Jika orang berpikiran sederhana seperti ibu pemilik warung, alangkah senangnya. Orang kota biasanya berpikiran rumit.
Sepanjang jalan menyusuri komplek di pagi itu, aku ngedumel sendiri.
Lucu keadaan di pagi itu. Ibu pemilik warung itu terkagum dengan nikmatnya jalan pagi sampai melupakan tujuan semula yaitu mencari pak Kidung. Aku juga diam tidak mengusiknya. Aku senang si ibu mempunyai pengalaman jalan pagi yang menyenangkan.
"Neng Alit, kenapa teman yang menjemput tidak langsung ke rumah saja?" Aku tersentak dengan pertanyaan yang tiba-tiba muncul darinya.
"Kami hemat waktu bu".
“Ooh... gitu yah".
"Saya kira neng Alit ingin menikmati udara taman dengan berjalan kaki".
"Saya baru merasakan begitu nikmatnya jalan kaki di pagi hari, apalagi di bawah pepohanan hijau taman komplek", si ibu menatapku sambil tersenyum. Aku melihat perubahan wajahnya. Saat aku menemuinya di jalan depan rumah nenek tampak lusuh dan sekarang tersenyum sumringah.
Tak terasa bagi kami berdua, ternyata sudah hampir sampai halte. Aku melihat Arlo sudah menunggu di halte.
"Alit jalannya lama amat", kata Arlo sambil menyodorkan helm.
"Tuh, sapa dulu si ibu warung".
“Bu, kami pergi dulu" kata Arlo
Aku melihatnya saat berada di motor, si ibu mengamati amplop yang sejak tadi teruus digenggamnya. Mungkin dia baru tersadar jika tujuan utamanya belum diomongin. Mungkin lupa saat menikmati hal baru baginya yaitu jalan pagi di komplek yang asri.
__ADS_1
"Alit tumben jalan pagi bareng ibu pemilik warung itu? tanya Arlo penasaran.
Mungkin Arlo mikirnya, disangka aku punya problem dengan si ibu atau sebaliknya.
Sementara itu, aku masih penasaran dengan si ibu, kenapa mencari pak Kidung?
Dugaan tiap orang berbeda dan itulah keterbatasan manusia hingga seseorang terdorong untuk menguak setiap kejadian terus menerus tapi tidak kunjung puas.
Akhirnya aku sampai ke halte sekolah. Aku mebuka helm dan memberikannya ke Arlo.
"Arlo, aku ngobrol dengan si ibu itu, dia mencari pak Kidung"
"Hah....", bukankah pak Kidung sudah meninggal?
Aku juga heran tapi si ibu belum cerita tentang masalah yang menerpanya terkait pak Kidung. Aku belum tanya lebih lanjut karena si ibu sedang menikmati jalan pagi menyusuri komplek itu. Rute yang setiap hari kulalui. Si ibu menikmati jalan pagi dan udara segar taman itu maka aku tidak tanya macem-macem.
"Aku ga tahu deh, masalah yang dihadapi si ibu".
"Besok aku tanya lebih detil pada ibu itu".
"Sudah kita beralih ke lain hal, aku mau ketemuan dengan Ara", kataku seraya masuk ke halaman sekolah.
Aku menoleh ke bangku favorit dan tampak Ara sudah menungguku.
"Ara.., sudah lama?
"Baru sekitar 5 menit lalu".
"Sorry ya".
“Aku harus berbincang dengan ibu pemilik kwarung di pinggir jalan ke rumahku”.
Ada yang aneh menurutku. Si ibu komencari pak Kidung yang telah meninggal. Ara juga penasaran pengen tahu detil kabar itu tapi aku cuma tahu sepotong.
"Truus kelanjutannya……? Ara masih penasaran.
"Akupun ga sabar menunggu bertemu si ibu keesokan harinya".
"Aku dan si ibu belum ngobrol banyak tentang mimpinya bertemu pak Kidung".
"Ooh....". Ara tampak serius.
"Alit siang ini jam terakhir kosong karena tugas mandiri kita berdua telah selesai, temani aku ke om Rio ".
Ara whatsapp Monet, tapi ga bisa ikut karena belum selesai tugas mandirinya.
"Ok", ada yang penting?" tanyaku.
__ADS_1
"Aku ingin jalan ke mal dan mampir ke kantornya".