
Hari Minggu itu kami pergi ke rumah suster Ernie sesuai alamat yang ada. Rute jalan ke lokasi mengikuti peta. Ternyata tidak sulit menemukan jalan raya akses ke rumah suster Ernie yang berada di perbatasan luar kota. Mobil terus meluncur sampai pertigaan. Tampak warung sebagai patokan rumah suster Ernie. Pelataran waring itu menyatu dengan bahu jalanan. Papa memarkir mobilnya disitu.
Semua menduga pemilik warung mungkin mengenal keluarga itu.
Kami singgah untuk melepas lelah dan berbincang tentang keluarga perawat itu. Seorang pria paruh baya pemilik warung dengan ramah menyapa. Dia menawarkan makanan camilan. Pak Margi, pemilik warung mengobrol santai tentang bu Mien sambil menunjuk ke rumah bercat hijau. Kami menduga bu Mien adalah orang tua suster Ernie. Dugaan semakin kuat saat pak Margi mengatakan bahwa anak gadis bu Mien seorang perawat yang bekerja di Rumah Sakit besar di pusat kota. Dari penuturan pak Margi kami menduga rumah sakit itu, tempat om Iyan dirawat dan berkenalan dengan suster Ernie.. Kami beranggapan telah sampai ke tujuan.
Pak Margi akrab dengan keluarga itu terutama sang ibu karena sering ke warungnya. Orang sekitar mengenalnya dengan panggilan bu Mien. Suaminya jarang terlihat karena bekerja sampai malam hari. Anak bu Mien ada enam orang. Putrinya yang berprofesi perawat adalah anak kedua bu Mien. Hari itu rumahnya kosong karena mereka sekeluarga sedang pergi.kenduren kerabatnya. Putrinya yang perawat itu sudah dua minggu tidak pulang. Bu Mien cerita bahwa dia sedang sibuk menghadapi test masuk sekolah bidan jika lulus akan mendapat beasiswa. .
Kami terdiam mendengarkan pak Margi berceloteh tentang keluarga bu Mien. Semua diam terpana oleh pak Margi yang ngomong tanpa putus terus nyerocos. Pak Margi membius sampai merasuki pikiran. Tidak ada satupun yang curiga tentang adanya kekeliruan atau salah alamat. “Apakah bu Mien yang dikenalnya itu adalah bu Mien keluarga suster Ernie? Keraguan telah tergerus oleh celotehan pak Margi.
Kami puas dengan cerita pak Margi. Seakan telah mengenal keluarga si gadis dari dekat. Hal ini menambah keseriusan Eyang terhadap suster itu. Dia sangat suka ternyata gadis itu dibesarkan dalam keluarga sederhana . " Aku tidak salah pilih ", pikirnya.
Masalah cantik cukup om Iyan mewakili untuk menaksir parasnya. . Pilihan jatuh pada seorang perawat sudah tepat. Eyang berpikir seorang perawat sudah melewati gemblengan merawat orang sakit. Jika cuma mengurus rumah tangga pasti terampil dan enteng baginya. Cuma itu yang diharapkan dari gadis itu.
Sedangkan urusan cinta. Banyak orang yang sudah menjalin hubungan lama bahkan terhitung tahunan pada akhirnya putus dengan berbagai alasan. Ketidak cocokan yang kerap menjadi sebab mereka berpisah. Meski tanpa alasan jelas tapi orang juga menerima dan seolah hal biasa. Misalnya, Iyan yang punya banyak teman wanita cantik dan gonta ganti. Tiba-tiba pacaran tidak lama Iyan memutuskan untuk menikahi Ed. Sekarang mereka tampak rukun.
Eyang tampak sumringah. Dia sreg. Setelah kunjungan itu eyang semakin mantap. Dia menganggap suster itu adalah orang yang tepat untuk menjadi menantunya. Keluarganya sederhana. Dalam perjalanan pulang itu, eyang bergumam tentang langkah selanjutnya perjodohan itu.
Aku teringat hari itu dan terbayang eyang penuh harapan terhadap gadis itu meski belum sekalipun bertemu langsung dengannya.
"Buu ...... perjodohan dibahas setelah bertemu suster Ernie dan Dwi, kata mama.
"Firasatku mengatakan pertanda baik untuk melangkah ke tahap selanjutnya, melamar gadis itu", kata eyang seraya tersenyum.
“Oh...... papa menoleh dan menatap mama, mungkin muncul rasa khawatir bila eyang kecewa, jika nantinya tidak sesuai harapan. Mungkin saja salah satu dari kedua orang itu menolak. Mungkin juga ada suatu yang menghalanginya".
__ADS_1
Di siang itu jalanan sepi dan lancar. Perkiraan waktu pada sore hari baru akan sampai rumah tapi ternyata sekitar pukul empat hampir sampai ke rumah eyang. Sebelumnya kami mampir ke resto. Semua menikmati santap siang dengan santai. Mereka berkutat dengan pikirannya sendiri. Eyang terlihat lega, dibenaknya masih dipenuhi rencana lamaran dan menggelar pernikahan. Dia terus bergumam.
"Lamaran akan makan waktu lama bila menunggu gadis itu selesai sekolah, kata eyang seraya menatap papa dan mama bergantian"
Kunjungan ke rumah gadis tidak hanya sekali. Lagipula di hari Minggu itu dilakukan tanpa setahu orangnya hanya ingin mengenal keluarganya. Hari itu gagal bertemu keluarganya langsung. Begitu ribet tahapan perjodohan. Meski buru-buru mantu, tapi ada tahapannya yang harus terpenuhi. Aku menatap Arlo yang lagi bengong, entah apa yang ada dibenaknya. Sontak kaget terdengar suara papa dan mama.
"Pamit bu", papa dan mama hampir serempak dan bergantian menyalami dan cium tangan untuk pamit pulang.
"Eyang .. Alit dan Arlo pamit yach" kataku sambil salaman, cium tangan dan kedua pipinya.
Sesampai di rumah. Terdengar suara gitar. Aku melihat motor Aciel terparkir di halaman. Aciel meletakkan gitarnya menyapa papa dan mama. "Om dan tante, katanya seraya menyalaminya.
"Arlo, kalian ngobrol. Aku masuk dulu yach".
"Kakak yang menyiram tanaman ini".
"Ok, Alit akan sekalian mandi dan ganti baju". Arlo dan Aciel asyiik bermain gitar.
"Neek.... makanan untuk santap malam sudah ada", kataku bergelayut sejenak di lengan nenek. Aku bergegas mandi dan berganti baju. Mumpung kak Luni mau membantu menyiram tanaman itu. Tiba-tiba teringat es campur yang dibeli mama masih tertinggal di mobil. Aku bergegas keluar dengan membawa kunci mobil untuk mengambilnya.
"Bantuin aku yach".
Arlo dan Aciel sontak menghentikan gitarnya.
"Aku atau dia yang kamu suruh" kata Aciel bergurau.
__ADS_1
Aku terdiam, Arlo segera beranjak seraya mengambil kunci yang kupegang dan membantuku mengambil es campur dalam tote bag.
" Makasih yach, aku masuk dulu".
Arlo mengikutiku ke dalam dan menaruh kunci mobil itu di meja truus ke teras lanjut bermain gitar. Aku langsung menaruh es campur ke dalam beberapa mug dan menaruhnya ke kulkas. Dua mug buat Arlo dan Aciel.
"Waduh ... segar banget tentunya, celetuk Aciel.
"Makasih.., kata Aciel sambil cengengesan.
"Arlo... cobain es campur ini, enak bangeet apalagi ada yang meladeni", imbuhnya. Arlo menoleh ke arahnya tampak jengkel dengan candaan itu.
"Jangan seserius itulah", katanya lagi.
"Alit ... masih ada esnya buat kakak?
"Ada kak, mama beli banyak, aku taruh kulkas". kak Luni menoleh ke Aciel sambil cemberut.
Arlo tersenyum ke arah Aciel yang terus slengekan. Tak lama kak Luni keluar membawa minuman dingin segelas memang jatahnya.
Aku bergegas ke kebun mini pengen tahu perkembangan kuncup anggrek. Aciel tetap cengengesan meledek.
"Alit… .. jangan ngobrol sama tanaman, mending ngobrol sama kami ya".
Nih ga jera, meski telah membuatku kesal. Tapi aku juga memaklumi sifatnya yang suka usil. Kejengkelanku sirna. He… he…… . Tanaman juga mahluk perlu disayangi.
__ADS_1