
"Aliit... " kak Luni memanggilku dari kamarnya. Rupanya kak Luni penasaran mendengar kabar rencana perjodohan om Dwi. Terpaksa aku meladeni kak Luni ngobrol tentang perjodohan itu meski cuma sekilas. Rasa kantuk tak tertahan, tapi kak Luni terus berceloteh. .
"Kak ide perjodohan berasal dari om Iyan. Dia mengenal salah seorang suster yang menurutnya cocok jadi jodoh om Dwi. Kelanjutannya besok yach, aku ngantuk nih, kataku sambil memegang lengan nenek dan hendak masuk kamar".
"Aliit…… " kak Luni menatapku sambil menggelengkan kepala karena masih penasaran. Aku cuek dan terus melangkah ke kamar bareng nenek …..hendak tidur”.
Keesokan harinya, kak Luni masih terlihat penasaran dan menanyakan hal sama. Kukatakan padanya bahwa pada hari libur mungkin Minggu papa dan mama hendak ke rumah suster itu, kakak ikut yach, kataku. .
"Waduh ....." aku ga setuju dengan perjodohan itu. Om Dwi itu sudah sangat dewasa kenapa mesti dijodohin. Aku mendekat dan berkata lirih seraya mengangkat jariku ke bibir agar tidak gaduh di pagi itu. Kayaknya papa mengajak Arlo menemaninya karena cukup jauh ke rumah suster Ernie, belum lagi mencari alamat kurang lengkap tanpa nomor rumah.
Urusan perjodohan itu ribet. Bertandang ke rumah calon pasangan hendaknya ada persiapan khusus tidak tergesa-gesa. Hari Minggu besok itu cuma penjajakan. Eyang ingin mengenal keluarga suster itu.Rumahnya berada di jalan raya akses menuju pinggir kota mungkin mudah dicari. Ancer ancer rumahnya ga jauh dari pertigaan dimana ada sebuah warung di pinggir jalan itu.
"Oh..... gerakan cepat untuk sebuah urusan serius, gumamnya. Aku meninggalkan kak Luni yang masih bengong”.
Tak lama kak Luni beranjak ke dapur. Kabar seterusnya tunggu aja, kataku sambil menata peralatan makan untuk menyiapkan sarapan. Menu hari itu adalah rawon, telur asin dan krupuk. "Wow kesukaanku nih, kakak bantuin membawa ke meja makan". Setelah sarapan aku berangkat menuju ke halte, dimana Arlo menungguku untuk bareng ke sekolah.
Dari kejauhan di seberang taman aku melihat si ibu pemilik warung di pinggir jalan itu sedang berjalan pagi sambil sesekali mengayunkan tangannya untuk menggerakkan ototnya. Aku senang melihat ibu pemilik warung telah rutin berolahraga santai di pagi hari.
Aku sampai halte hampir bersamaan waktunya dengan Arlo. "Tumben.... bisa bersamaan waktunya, kata Arlo seraya memberikan helm. . "Alit.... kamu setuju dengan perjodohan itu". Aku bosan kak Luni penasaran dengan perjodohan itu hingga aku dijadikan pusat berita. Kini Arlo juga membahas lagi sesuatu yang membosankan. Apa boleh buat. …..
Aku cuek aja, biarin aja jaman sudah berubah tapi tetap kolot, eyang kayak hidup jaman dulu sedangkan om Iyan dengan ide gilanya.
"Aku .... berpikir bila itu menimpamu .... truus..... ". Arlo malah melebar hal di luar perjodohan om Dwi dan perawat itu.
"Truus... apa?
__ADS_1
"Aku gimana.....? katanya dengan wajah memelas.
"Oh.... jangan ngaco gitu, kataku".
"Aku serius ...."
Era kita berbeda dengan mereka yang kekeuh mempertahankan kebiasaan yang sudah usang. Papa dan mama ga pernah mempunyai ide gila kayak om Iyan. Om Iyan mempunyai ide aneh, padahal om Iyan dan tante Ed menikah karena saling suka. Keduanya menikah tanpa melalui perjodohan.
Alit, aneh ga sih menurutmu, di masa kini masih ada perjodohan semacam itu, yach? Suster Ernie sangat cantik. Seorang perempuan cantik di usia dewasa masa sih belum punya cowok? Lagi pula belum tentu suster Ernie suka dijodohkan. Dia adalah wanita karir dan bergaul dengan orang banyak.
Arlo terus bergumam merespon serius ide om Iyan yang hendak mencari perempuan calon iparnya. Arlo mungkin benar, cewek cantik pasti sudah punya pacar. Lajang bukan berarti belum punya cowok pilihannya. Seorang cewek atau cowok menunda pernikahan mungkin karena mengejar karir dan mereka merencanakan pernikahan sesuai dengan keinginan, kapan saja.
"Alit.... sependapat denganku, kan? celotehnya”. Akupun mengangguk setuju.
Aku pikir, papa serba salah karena mereka yang terlibat perjodohan adalah keluarga mama. Dia juga ga enak dengan eyang yang menginginkan anaknya segera menikah. Perjodohan dianggap pilihan yang tepat buat om Dwi.
Sebelum rencana ke rumah suster Ernie di luar kota itu, papa dan mama ke rumah eyang untuk berbincang tentang perjodohan itu. Eyang juga terperangah mendengar ide om Iyan.
"Hah ... jadi Iyan sudah sreg dengan gadis itu? katanya dengan wajah sumringah.
Iyan yang telah mengenalnya saat di rawat di rumah sakit tapi aku dan mas Pur pernah melihat gadis itu sekelebatan saat melintas ke ruang rawat Iyan. Alit sempat bertatapan muka sejenak dan mengatakan gadis itu sangat cantik, berambut ikal dan melempar senyum manis dengan lesung pipinya.
"Apakah ibu ingin menjajaki dulu keluarganya? Ada alamat dan ancer ancer rumahnya di jalan utama pinggir kota". Eyang terhenyak dan spontan setuju untuk pergi di hari Minggu. Dia ingin bertandang ke rumah suster Ernie.
Tiba-tiba mama teringat untuk bertemu om Dwi. "Dwi dimana buu? tanya mama seraya melangkah ke dalam tapi dia tidak menemukannya.
__ADS_1
Dwi tidak pulang sudah seminggu, entah kemana anak itu, karena itu aku berharap dengan perjodohan ini ada seorang wanita pendamping yang akan merubah perilaku buruknya", seraya raut mukanya terlihat sendu. Ibu yakin perjodohan ini sudah tepat? Eyang mengangguk pelan.
Setidaknya wanita pendamping akan membuatnya bertanggung jawab atas keluarga kecilnya dan dia terikat untuk pulang.
"Oh.... begitu besar harapan ibu terhadap perjodohan ini, gumam mama".
Setelah sepakat dengan rencana kunjungan itu maka papa dan mama pamit. Mama bergegas ke mobil untuk mengambil makanan yang telah dibeli untuk eyang.
"Mas tunggu sebentar, aku akan mewadahi makanan ini untuk santap malam", katanya seraya menuju ke dapur.
"Bu.... santap malam sudah tersaji, kami pulang dulu. Waktu menunjukkan pukul tujuh papa dan mama sampai rumah”.
Aku dan kak Luni menunggu papa dan mama untuk santap malam bersama. Kak Luni ga sabar menunggu sate ayam kesukaannya. Kak Luni segera beranjak dari duduknya setelah mendengar suara mobil papa.
"Ma mana sate ayamnya, Luni bawa ke dapur untuk diganti wadahnya, katanya sambil gelatakan mencari tote bag. Nih. sate kesukaanku", katanya. Mama tersenyum melihat kak Luni.
"Alit... Minggu besok ajak Arlo sesuai rencana semula, eyang juga ikut ke rumah suster itu".
"Hah.... serius ma? sontak kak Luni terheran. Kenapa mesti ada perjodohan di era ini? kata kak Luni. Baru akan menjajaki keluarganya, om Dwi belum tahu rencana perjodohan ini", kata mama.
"Kenapa .... serepot ini, ma? responnya.
"Perjodohan ini kehendak eyang, ya udah, ikuti aja kehendaknya".
"Oh... ", kak Luni masih cemberut.
__ADS_1
"Kak Luni mau ikut ke rumah suster itu? Kak Luni langsung menggeleng dengan wajah kesal.
"Ya udah, Alit dan Arlo yang ikut yach".