Rahasia Alit

Rahasia Alit
Rombongan Manten - Bagian 3


__ADS_3

Bagiku, cerita hantu selalu menarik. Padahal, banyak yang bilang bahwa mahluk tak kasat mata itu hanya hidup dalam imaji. Namun, banyak juga orang yang yakin keberadaan hantu dalam kehidupan nyata. Anggapan itu kemudian menghadirkan wujud, karakter, dan aktivitas hantu yang dikemas dalam kisah horor.


Banyaknya penulis yang piawai menghasilkan cerita horor menambah daya tarik bagi penggemarnya. Mereka tertarik dan terus berpetualang untuk menguak penasaran terhadap keberadaan mahluk tak kasat mata itu.


Petulangan mendorong seseorang untuk membuktikan keberadaan hantu dengan mendatangi area yang konon diyakini angker, misalnya area pepohonan rimbun. Banyak orang menamai si hantu sesuai dengan area huniannya. Sebagai contoh, hantu penghuni pohon kelapa adalah hantu gundul pecengis atau pringis yang wujudnya gundul plontos mirip kelapa.


Hantu gundul pringis digambarkan dalam wujud bulat menyerupai kepala gundul plontos tanpa tangan dan kaki, tapi ada usus yang terjurai keluar mirip ekor. Wajahnya terkesan menyeramkan dengan gigi besar-besar di mulutnya yang selalu menganga lebar.


Konon, hantu gundul pringis itu buas dan gemar memangsa hewan. Wujudnya digambarkan kepala dengan mulut lebar dan menyeringai (meringis) belepotan darah segar. Begitu pula pada usus yang menempel pada kepalanya penuh darah kleweran saat menggelinding kesana kemari bagaikan bola.


Setelah menyimak cerita nenek tentang hutan angker yang dilewati pak Wani, keesokan harinya aku secara kebetulan bertemu dua laki-laki yang sedang ngobrol tentang hantu pohon kelapa.


“Wow … bikin penasaran nih," kataku dalam hati.


"Hiii…. .. seperti apa wujud hantu itu menurutnya? Mirip ga wujud hantu itu dengan hantu cerita horor? Penasaran, nih."


Cuaca cerah pagi itu telah mengusir rasa takut untuk menyimak obrolan itu.


Aku melihat orang yang bercerita itu mengeluarkan topeng dari tasnya. Lelaki yang bercerita bak pendongeng profesional itu mengenakan topeng di wajahnya.


Lelaki bertopeng itu menoleh ke kanan dan ke kiri sehingga aku bisa melihat dengan jelas. Topeng yang menutupi wajahnya berwarna putih dengan bibir merah menganga tersembul gigi besar. Namun bagiku suasana pagi hari yang cerah dan awal dari berbagai aktivitas tidak menimbulkan rasa takut. Berbeda dengan suasana malam hari yang gelap pasti orang bertopeng itu pasti sangat menakutkan.


Hanya itu yang dapat kulihat ulah pendongeng karena Arlo sudah menungguku di halte itu dan kami terburu-buru ke sekolah.


“Alit mengamati cowok bertopeng itu?" rupanya Arlo juga melihat cowok itu.


“Hii….hii ….lucu peragaan di pagi cerah hari itu, tidak serem karena cuacanya tidak mendukung”.


Hari ini kebetulan Arlo pulang dari sekolah kesorean hingga pukul enam. Aku juga pulang lebih sore dari biasanya karena nunggu Arlo dan pulang bareng.


Kami sampai di gang ke rumah nenek sudah gelap. Motor Arlo tidak stabil, dan setelah di cek rupanya bannya bocor. Karena itu aku terpaksa berjalan kaki kira-kira lima ratus meter sampai rumah. Sedangkan Arlo langsung ke bengkel motor untuk mengganti bannya.


Sepanjang jalan yang kulalui gelap. Meski ada lampu penerangan komplek tapi seputar taman tetap tampak gelap karena lampu tidak banyak dan pepohonan yang rimbun menghalangi cahaya lampu menerangi gang sepanjang taman.

__ADS_1


Jalan ini yang kulalui tadi pagi bahkan setiap hari aku juga melewati jalan ini tapi di sore menjelang gelap aku merasa merinding saat mengamati pohon beringin tua yang ada di depanku. Akarnya terjuntai ke bawah. Tiupan angin yang menerpa akar pohon menambah serem. Terbayang di benakku sosok mahluk yang sangat besar setinggi pohon itu.


Langkahku terasa tertahan hingga terhenti. Dengan perasaan takut aku tetap memaksakan diri untuk tetap melangkah.


“Waduh…… kaki ini tak terangkat, aku sudah mengerahkan tenagaku tapi sulit, atau karena perasaan takut yang menggelayuti diriku? Aku bergumam dalam hati”.


Aku berusaha melangkah minimal melewati pohon tua itu hingga perasaan takut berkurang.


“Kenapa susah banget mempercepat langkah yang hanya beberapa meter atau beberapa langkah lagi? Aku merinding banget di bawah pohon ini, perasaanku seakan aku berada dalam cengkeraman mahluk raksasa itu.


Aku hendak menoleh ke belakang mengharapkan Arlo masih di jalan raya tapi aku ga bisa bergerak ketakutan. Baru kali pertama aku merasakan ketakutan berada di taman komplek ini, padahal aku sering ngobrolin hantu dan menertawakan wujud yang pernah kulihat dalam buku cerita horor. Mungkin saat ini mereka mendengar dan menggodaku saat ini.


Dengan bersusah payah Alit menepis rasa takut itu agar dirinya terbebas dari beban pada kakinya sehingga sulit melangkah. Namun tidak jauh dari pohon beringin itu terlihat pohon kelapa berdiri kokoh dan sekelompok buah di pohon itu.


“Waduh ….. tampak serem juga pohon kelapa di malam hari, perasaan menyesal aku jalan sendirian di malam hari”.


Padahal rumah nenek sudah dekat tapi kenapa langkahku lambat seakan aku ga bertenaga.


Aku mengingat kejadian tadi pagi saat hendak berangkat ke sekolah. Dua cowok bertopeng putih itu. Saat melihat cowok itu aku tidak merasa takut. Aku malah tertawa melihatnya tapi sungguh berbeda dengan yang kualami sekarang. Topeng itu muncul di benakku seolah buah kelapa itu berwajah mirip topeng cowok itu.


Wajah itu tidak hanya satu melainkan ada lima, mungkin sesuai dengan banyaknya buah kelapa yang menempel di pohon itu.


“Apakah benar wujud hantu itu memang tersimpan dalam memori seseorang? Itulah yang aku lakukan untuk berpikir positif agar aku bisa menyingkirkan rasa takut yang masih terus melekat pada diriku:.


Baru beberapa langkah melewati pohon tua itu tiba-tiba langkahku terhenti lagi.


Di malam itu badanku serasa kehabisan tenaga.


Tiba-tiba rasa takutku berkurang.


Aku teringat nenek yang selalu bisa membuat perasaanku tenang.


Kira-kira nenek sedang ngapain?

__ADS_1


Apakah nenek merasakan yang kualami sekarang?


Dalam suasana remang-remang aku melihat seekor kucing hitam.


Apakah itu Ireng?


Setelah mendekat, aku memastikan itu Ireng, kucing kesayanganku?


Ireng memang seakan satu jiwa denganku. Tapi Ireng juga mempunyai keterbatasan tidak dapat selalu ada buatku.


Kedatangan Ireng semakin menguatkanku hingga perasaan takutku berangsur hilang. Langkahku lebih ringan dan berlari kecil agar cepat sampai rumah.


Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam. Rumah sepi, rupanya papa, mama dan kak Luni belum pulang.


“Nenek sendirian?


“Semua belum pulang, mama dan papa mampir dulu ke rumah tante, adik mama”, kata nenek seraya tersenyum.


Aku bergegas mandi dan ingin makan karena lapar diterpa angin dan rasa takut saat di taman itu. Rasanya aku ingin cerita banyak tapi kehabisan tenaga.


Setelah bersantap, aku merasa segar dan pengen ngobrol tentang apa yang kualami barusan.


“Neek….. ternyata taman itu angker yah?”


“Di berbagai tempat pasti bisa jadi angker, karena mahluk halus berkeliaran di berbagai tempat”.


“Ooh……” ternyata itu jawaban nenek.


“Nek….. tatkala di bawah beringin tua itu, Alit takut banget. Di kegelapan malam pohon itu menyerupai mahluk raksasa besar setinggi pohon itu, nenek hanya menatapku”.


"Neek…tidak hanya pohon beringin itu yang angker tapi pohon kelapa di dekatnya juga angker, Alit melihat beberapa buah kelapa yang masih menempel di pohon berubah jadi putih mirip wajah dan wajah itu tidak cuma satu tapi ada lima wajah berdempetan".


“Hii…hiii menyeramkan banget”.

__ADS_1


__ADS_2