
Sementara belum hilang rasa cemas dengan kejadian mengerikan yang menimpa anaknya secara berturut-turut, tetangga yang sejak tadi berkumpul dirumahnya mulai berbisik-bisik sambil berjalan keluar dari rumah pak Aman.
'Aneh sikap orang tua itu, dia hanya diam tidak tampak cemas', kata seseorang.
'Aku juga merasa begitu', kata yang lain.
'Seorang ayah melihat anaknya tiba-tiba terkulai tapi tampak tidak panik'.
'Seolah ada yang tersembunyi '.
'Mungkin hanya pingsan biasa sehingga tidak perlu dicemaskan'.
'Kita akhiri perbincangan penuh prasangka ini', kata seseorang berambut putih itu.
'Sebaiknya kita juga bersyukur anak itu telah sadar', imbuhnya.
Rumah pak Aman telah sepi kembali. Dia memeluk anaknya dan mengucap syukur.
'Pak sebenarnya apa yang terjadi? tanya isterinya.
'Ga apa-apa, sakit biasa'.
'Besok ke rumah sakit untuk memastikan dia telah sehat', katanya menutupi kejadian di padepokan itu agar isterinya tidak cemas.
'Neek… bagaimana dengan pak Biduk?
Sesampainya di rumah isterinya menyapa pak Biduk keheranan:
' Sampeyan lusuh amat? tanya sang isteri.
Dia tidak menjawab dan buru-buru masuk ke kamar anaknya. Dia meraba sekujur tubuhnya untuk memastikan tidak terjadi seperti yang dilihatnya di padepokan itu.
'
'Pak jangan dibangunkan', kata isterinya.
'Ga bu, cuma kangen pada si bontot.
'Anakmu tadi demam tinggi sampai mengigau sambil meronta-ronta.
'Pulang… .. Pulang', suaranya lantang.
'Aku heran igauannya begitu', kata sang isteri.
'Aku goyang-goyang badannya tapi tetap bergeming'.
Tiba-tiba panasnya turun dan badannya dingin'.
Pak Biduk menatap isterinya. Terbayang kejadian di padepokan, dimana anaknya meringkuk di bawah kursi. Rintihan itu memilukan.
Pak Biduk terdiam mendengarkan penuturan isterinya mengenai anaknya yang tiba-tiba tidak sadarkan diri. Sementara itu dia di waktu hampir bersamaan di tempat lain yaitu di padepokan perasaan was was mendengar rintihan bocah itu.
'Beruntunglah aku karena cepat mengambil keputusan'.
'Jika terlambat pasti berbeda akibatnya'.
'Pak kenapa bengong? Tanya isterinya.
Sontak pak Biduk kaget. Padahal dia sedang berbicara lewat batinnya dengan ketua padepokan itu. Aku telah urung menjadi pelaku pesugihan tapi anakku belum siuman juga.
'Paak… paak'. Isterinya kembali memanggilnya. Bersamaan itu pak tua pimpinan padepokan menghilang dari pandangannya.
Pak Biduk menghampiri anaknya.
'Oh… ' tubuh si bontot dingin banget.
__ADS_1
'Tolong ambil minyak kayu putih untuk membalur tubuhnya agar terasa nyaman'.
'Neek… '.. Jadi bocah itu disandera.
Pak Biduk penasaran dan bertanya kembali ke isterinya.
'bu bagaimana ceritanya si bontot?
'Aku juga ga tahu penyebabnya karena tiba-tiba dia tergeletak lemah'.
'Dia terus mengigau,
'pulang… . pulang'
'Kugoyang-goyang badannya tapi bergeming'.
'Tiba-tiba sekujur tubuhnya panas '.
'Aku cemas dan gelisah saat menunggu sampeyan pulang'.
Pak Biduk menatap isterinya yang masih tampak cemas.
Meski kedua anak pak Aman dan Biduk selamat dari kejadian yang hampir merenggut nyawa itu tapi ingatan tentang kejadian menakutkan masih mengusik hati kedua orang itu.
Sebelum sampai terminal aku dan pak Biduk sempat ngobrol dengan penumpang lain dan sopir. Aku telah menumpahkan unek-uneku saat berhubungan dengan alam gaib.
Aku ingin terbebas dari rasa takut.
Mata batinku dibuka sehingga bisa melihat kejadian yang tak kasat mata. Mahluk alam gaib menarik nyawa anakku dan aku menyaksikan penderitaannya di bawah kursi itu. Batinku di koyak-koyak dengan penderitaan si bocah.
Pada awalnya saya mendengar suara rintihan yang berkepanjangan. Saya menduga suara rintihan yang terdengar sayup-sayup dari jauh ternyata berasal dari seseorang yang dijebak di bawah kursi.
Padahal sebelumnya yang terlihat olehku hanya kursi kayu biasa. Setelah aku duduk dikursi kayu itu tidak menyangka kalau kursi itu adalah jelmaan anak manusia yaitu anakku. Hatiku hancur banget.
Si bungsu itu sangat manja dan sering menggelendot di badanku. Tiba2 saya harus melihat penderitaannya, sirna ketawa dan celotehannya yang selalu menghiburku saat aku pulang.
Pak Biduk menyeka air matanya jika teringat kejadian itu. Tapi dia bersyukur dengan kejadian itu dia sadar bahwa perbuatannya ke arah sesat.
Sopir bis itu tersenyum mendengar cerita kedua orang penumpangnya. Banyak cerita yang telah mampir di benaknya, semua cerita yang didengarnya cukup membuat bulu kuduk merinding.
Setelah kejadian yang membuat anaknya hampir kehilangan nyawa kedua orang itu belum pernah bertemu lagi.
Suatu malam mereka bertemu di pos ronda. Hampir tengah malam selesai giliran keliling kampung, mereka tampak ngobrol. Ditemani kopi dan pisang goreng mereka ngobrol tentang padepokan.
‘Pak belakangan restoku sepi’
‘Sabar saja, dagang itu naik turun’.
Aku ingin ke padepokan yang diomongin penumpang bis itu.
‘Jangan kepikiran untuk ke padepokan lagi’, kata pak Aman.
‘Aku cuma ingin pergi karena lagi mumet nih'.
‘Sampeyan mau pergi bareng denganku?
‘Kita sudah mengalami kejadian menyedihkan itu, akan menjadi pengalaman berharga'.
Pak Aman bersedia menemani temannya yang terus merengek.
Dua hari berikutnya mereka berangkat menuju padepokan yang lokasinya tidak begitu jauh dari padepokan yang pertama.
Padepokan itu hampir mirip dengan yang pertama. Lokasinya diperbukitan.
__ADS_1
Mereka ditemui seorang juru kunci. Setelah mengatakan tujuan datang ke tempat itu, kedua orang itu harus menunggu. Tidak dapat langsung bertemu dengan ketua padepokan tapi harus menunggu giliran.
Cukup lama mereka menunggu di rerumputan hijau. Angin sepoi dingin di tempat itu menimbulkan rasa kantuknya dan tak terasa keduanya tertidur.
Dalam tidurnya pak Aman merasa ada yang memanggilnya, 'paak… .paak'.
Suara itu memanggilnya. Dia berdiri menghampiri arah suara itu.
Pak Aman mendengarkan dengan seksama. Dia ragu, suara pohon?
Pak Aman mendekat dan benar suara itu berasal dari sebuah pohon besar di hadapannya. Dia mundur beberapa langkah.
Bersamaan dengan itu, pohon besar itu terbelah dari atas sampai bawah. Tampak seorang pemuda terhimpit di dalam batang pohon itu. Tidak ada ruang untuk menggerakkan tubuhnya. Rongga itu pas badannya. Anak itu tampak menangis dan posisi wajahnya menatap kearahnya.
Setelah diamati wajahnya ternyata bocah itu adalah anak kesayangan, si sulung
‘Aduh anakku’.
‘Bapak membawa golok untuk menebang pohon ini? kata si anak
‘Hati-hati tubuhku terpotong’.
‘Aku takut pak’, katanya sambil menjerit’.
‘Bapak tega sama aku’.
Pak Aman mengamati tangannya ternyata dia memegang sebuah golok besar.
“Darimana golok ini?
‘Kenapa tiba-tiba ada ditanganku?
Sambil memandang anak itu, dia menangis meraung sekuatnya agar orang lain dengar dan menolongnya. Lama dia meraung tapi tidak ada seorangpun datang, juga temannya. Akhirnya dia mendekat hendak memotong sebagian batang pohon itu agar anaknya terbebas dari himpitan kayu.
Namun saat mengulurkan tangannya, tiba-tiba batang pohon yang terbelah itu tertutup kembali.
Bagaimana nih, anakku dibawa kemana?
Dia kembali ke tempat semula hendak membangunkan pak Biduk.
Tapi dia tidak menemuinya, hanya tasnya saja yang tertinggal disitu.
Pak Aman kebingungan karena tidak ada seorangpun yang diajak bicara dan bertanya tentang anaknya.
Dari kejauhan tampak pak Biduk berjalan sambil terengah-engah menghampirinya.
Tanpa kata-kata mereka berpelukan dan menangis untuk meluapkan rasa sedihnya.
Rupanya pak Biduk juga mengalami nasib serupa. Dia menangisi anaknya yang tidak tahu rimbanya. Keduanya fokus untuk menemukan anaknya, tapi tidak menemukan jalan keluarnya.
Kedua orang itu bersumpah tidak akan mengambil pesugihan itu. Sontak muncul seorang tua di singgasana itu.
‘Aku sudah dengar keinginan kalian’, suara itu menggelegar ditengah keheningan padepokan itu.
‘Pulanglah’, katanya lagi.
Dibenak kedua terbersit kejadian yang menimpa kedua anak mereka. Saat keduanya hendak menanyakan keberadaan anaknya, orang tua itu menghilang bak ditelan bumi.
'Waduh kemana pak tua itu? Pasti perbuatan dia. Pasti dia yang menyembunyikan bocah-bocah itu di alam gaib', kata pak Aman geram.
Keduanya menangis bareng. Rasa khawatir jika terjadi sesuatu menimpa bocah-bocah itu. Meski keduanya telah mengurungkan niatnya mengambil pesugihan tapi tidak serta merta anaknya terbebas.
Kekhawatirannya cukup beralasan karena disaat pulang dari padepokan, dia p menemui anaknya terbujur tidak sadarkan diri. Seluruh tubuhnya dingin. Setelah berulang kali memanggil sosok orang tua pimpinan padepokan barulah anaknya sadar.
.
__ADS_1
'