
Hari pameran lukisan antar sekolah akhirnya tiba. Seperti rencana, aku memakai kebaya mama yang sudah dimodifikasi sesuai dengan ukuran dan model yang aku inginkan. Aku merasa harus bersemangat sebagai panitia yang paling junior. Untungnya, sebagian besar kakak-kakak kelas dari sekolahku dan juga dari sekolah lain, semuanya baik. Tidak ada yang membeda-bedakan usia maupun merasa paling senior.
Tidak terasa, hari terakhir pameran telah tiba. Di pameran lukisan yang berlangsung selama tiga hari itu, aku mendapat beberapa teman baru. Kebanyakan dari mereka sudah kelas 3 SMA, antara lain Arlo, Aciel, dan Jaya. Ketiganya berasal dari SMA lain. Awalnya, aku memanggil mereka dengan sebutan "kakak". Tapi ternyata, mereka lebih memilih untuk dipanggil nama olehku tanpa ada embel-embel yang menunjukkan senioritas.
Suatu ketika, di pameran seni lukis itu, Arlo berdiri lama sambil memandang sebuah lukisan abstrak. Pengunjung saat itu tidak begitu ramai. Kerjaku jadi agak santai. Aku mendekati Arlo dan berdiri di sampingnya.
"Lukisan abstrak tidak menghadirkan subjek konkret, sehingga bisa membawa pikiran kita berkelana bebas tanpa batas," kataku
Dia menoleh ke arahku. Mungkin keheranan dengan celotehanku. Mungkin juga aku dianggapnya anak kecil dan culun, jadi tidak menyangka aku bisa melontarkan kalimat itu.
"Selamat berkelana bebas!" Ucapku sambil tersenyum melihat wajahnya yang masih kebingungan, lalu beranjak ke lain tempat.
Pameran itu berakhir di sore hari. Setelah selesai membereskan ruang pameran, aku melihat Arlo masih berada di lukisan abstrak itu. Aku berjalan ke dekatnya. Lukisan yang dipandangnya itu telah ditawar dengan harga yang cukup mahal oleh seorang kolektor.
"Bagus ya, Kak? Eh, sorry, kebiasaan panggil kakak. Habisnya seperti kurang sopan kalau hanya panggil nama," kataku.
"Ngga apa-apa, Alit. Panggil Arlo aja, biar nhga kaku. Iya, aku suka sekali dengan lukisan abstrak ini, meskipun aku ngga ngerti maksudnya apa," jawab Arlo.
Di mata orang biasa, lukisan itu hanya terlihat seperti coretan warna warni di semua sisi kanvasnya. Tentu tidak semua orang bisa menangkap maknanya. Tetapi, banyak orang yang menggemari lukisan abstrak, karena mereka bisa menentukan artinya sesuai dengan subjektivitas masing-masing.
"Aku paham sedikit-sedikit tentang lukisan. Sebelum pameran dimulai, aku banyak membaca referensi dari internet. Setidaknya, aku punya pengetahuan meski cuma sedikit. Tapi menurutku, untuk menentukan makna dari sebuah lukisan, itu tergantung dari mata penikmatnya. Jadi semuanya subjektif, tidak bisa diartikan begitu saja," kataku.
Ketika dipilih kepala sekolah, aku memang rajin mencari materi sebagai bahan bacaan mengenai sejarah perkembangan aliran seni lukis. Jadi setidaknya aku bisa menjawab jika ada pengunjung yang bertanya.
__ADS_1
Lukisan abstrak yang dibuat oleh seorang siswa kelas 2 dari sekolahku ini menjadi awal kedekatanku dengan Arlo. Selama pameran itu berlangsung, Arlo dan kedua temannya datang setiap hari ke event itu. Mereka senang bisa bertemu teman-teman baru. Tapi, baru di hari terakhir pameran aku bisaa mengobrol banyak dengan Arlo.
Setelah lama mengobrol, aku pun menyadari bahwa langit sudah mulai gelap. Jadi, aku harus cepat pulang. Melihat aku yang sudah bersiap ingin pulang, Arlo menawarkanku untuk mengantar sampai ke rumah. Berhubung ternyata rumah kami searah, aku pun menyetujui tawaran Arlo.
"Kalian pulang duluan aja, aku mau antar Alit," kata Arlo ketika dihampiri oleh Aciel dan Jaya.
Aku bingung segitu tegasnya Arlo, tanpa basa basi ataupun malu-malu. Aku diam saja. Aku memang merasa aman ketika jalan bersama Arlo, seperti jalan bareng dengan seorang kakak. Setidaknya itu yang ada dipikiranku, karena kenyataannya aku tidak mempunyai kakak laki-laki. Aku hanya punya satu kakak perempuan, yaitu Kak Luni.
Setelah penutupan pameran, kedua teman Arlo akhirnya pulang duluan. Aku baru tahu, ternyata Arlo tidak satu sekolah dengan Aciel dan Jaya. Mereka berteman karena rumah mereka berdekatan.
Sore itu, aku pulang sekitar jam setengah 6. Arlo mulai menyalakan motor jadulnya yang terkesan naik.
"Yuk, naik," kata Arlo begitu motornya menyala.
Ditambah lagi, hari ini aku sangat lelah setelah tiga hari sibuk menjadi panitia. Aku harus mondar mandir ke sana ke mari untuk mengurus event itu. Belum lagi, ada juga kakak kelas yang meminta tolong kepadaku untuk mengerjakan tugasnya. Tapi, aku sangat senang bisa jadi bagian dari panitia itu. Aku banyak mendapatkan banyak pengalaman baru yang berharga.
Sesampainya di rumahku, aku mengajak Arlo untuk mampir. Kebetulan, sedang ada nenek ada di teras depan.
"Selamat sore, Bu," kata Arlo menyapa nenek.
"Nek, ini Arlo, teman Alit," aku memperkenalkan Arlo kepada nenek.
Mendengar aku memanggilnya dengan sebutan 'nenek', Arlo sepertinya terlihat malu.
__ADS_1
"Iya, Nek, saya kenal Alit pas di pameran," kata Arlo yang akhirnya memanggil dengan sebutan 'nek'.
"Oh, ya ya. Jadi kalian tidak satu sekolah?" Tanya nenek.
"Ngga, Nek. Arlo kelas 3 di SMA lain," jawabku.
Nenek pun mempersilakan Arlo untuk masuk masuk. Alro pun berterima kasih dan lebih memilih untuk duduk di teras.
"Mau minum apa kamu?" Aku bertanya.
"Ngga usah repot-repot, cuma mau bentar," ucap Arlo.
Nenek pun masuk ke dalam rumah, sementara kami masih mengobrol di teras. Sekitar satu jam kemudian, papa dan mama pulang.
"Selamat sore, Om, Tante. Saya Arlo, temennya Alit," kata Arlo menyapa papa dan mama sambil menjabat tangan mereka.
Setelah bersalaman dengan papa dan mama, Arlo pun pamit untuk pulang karena hari sudah semakin malam. Aku merasa lega Kak Luni sedang main di rumah temannya. Kalau dia sudah pulang, bisa habis aku digodanya! Maklum saja, aku jarang mengajak teman laki-laki untuk mampir ke rumah. Kalau pun ada, biasanya ramai-ramai dengan teman yang lain.
Kak Luni memang susah ditebak. Terkadang dia sangat baik, tapi kadang dia bisa menjadi sangat menyebalkan. Salah satu contoh kebaikan hatinya adalah ketika dia mau membantuku membuat poster untuk pameran lukisan tanpa minta imbalan. Sedangkan yang menyebalkan, dia pernah beberapa kali mengejekku sampai aku hampir menangis. Mungkin itulah hubungan kakak adik pada umumnya.
Setelah pameran berakhir, aku jadi jarang bertemu dengan Arlo. Paling hanya melalui chat atau telepon. Itu pun hanya sebatas menanyakan kabar dan mengobrol biasa. Biasanya, kami hanya bertemu di hari Sabtu, tapi juga tidak setiap Sabtu. Berdasarkan ceritanya, Arlo memang punya banyak kegiatan ekskul. Salah satunya adalah bermain gitar dan suling pada ekskul musik, kegiatan yang paling disukainya. Arlo juga suka main sepak bola. Kelihatan dari postur badannya yang atletis. Selain itu, dia juga sedang sibuk menghadapi kelulusan SMA dan persiapan masuk ke perguruan tinggi.
- bersambung
__ADS_1