Rahasia Alit

Rahasia Alit
Misteri di Balik Musibah - Bagian 11


__ADS_3

Bagaimana kelanjutan nasib pak Biduk?


“Alit nunggu cerita nenek nanti malam” , kataku sambil berjalan menghampiri nenek yang berada di halaman depan. Aku menggandeng lengannya dan bersama- sama ke dalam rumah.


Ireng dari halaman berlari menerobos masuk saat aku membuka pintu pagar.


"Ok", nenek tersenyum ke arahku.


Hari itu aku pulang lebih cepat karena jam pelajaran terakhir kosong dan aku nebeng Arlo.


Sesampainya di rumah nenek, Arlo mengikutiku masuk dan memberi salam serta cium tangan nenek.


Arlo duduk di teras sambil melihat anggrek bulan yang sedang mekar. Bunga anggrek bisa tahan ga layu sampai sebulan di pohonnya. Memang indah bunga itu. Kami semua menyukai anggrek.


Aku mengambil selang dan menyiram tanaman di kebun kecilku depan rumah. Kecuali buat anggrek, teknik menyiramnya berbeda. Aku tidak menyemprot dengan selang yang deras alirannya takut batang anggrek itu patah dan cepat layu bunganya. Untuk menyiramnya pakai alat semprot atau spayer kecil.


Aku meletakan selang air itu untuk mengambill minuman di kulkas. Aku menaruh minuman jeruk peras itu di meja depan buat Arlo.


"Alit, aku buru-buru pulang karena hendak mampir ke toko musik untuk beli senar gitarku".


"Besok aku jemput, ketemuan di halte".


"Besok berangkat lebih awal, Ara ngajak ketemuan pagi"


"Ok, sampai besok"


Arlo pamit dan segera menghilang bersama motornya di tikungan jalan taman itu. Aku bergegas mandi dan membereskan meja makan dan dapur.


"Nek... sudah selesai tugas Alit" kataku.


"Alit minta nenek cerita lanjutannya, kan? nenek dapat menebak maksudku.


"Pasti nek, penasaran nih"


Malam itu selesai santap malam, rumah masih sepi, cuma aku berdua nenek.


"Nek bagaimana nasib pak Biduk setelah berbuat kesalahan besar itu?


" Apakah pak Biduk dapat dengan mudah melepaskan diri karena terlanjur terikat dengan pesugihan?


Pak Biduk telah menikmati harta pesugihan beberapa saat setelah dia menerima pesugihan. Dia tidak lama menikmati kemewahan itu. Kira-kira setahun sebelum terkena musibah kebakaran kali kedua dan semakin parah pada kali ketiga tergolong kebakaran besar. .


Semenjak kebakaran itu pak Biduk mulai tidak tenang. Mimpi buruk selalu mengganggunya. Demikian pula kejadian di padepokan itu hingga berbagai masalah silih berganti mampir dibenaknya.


"Aku diganggu mahluk-mahluk gaib ataukah aku berhalusinasi? Keluhnya ke

__ADS_1


pada pak Aman.


"Entahlah pak, aku tidak bisa memberi jawaban yang tepat".


"Aku cuma bisa memberi saran, sampeyan sabar dan ikhlas". "Bimbinglah anak dan isterimu".


Setelah kebakaran itu, pak Biduk memutuskan tidak merenovasinya lagi. Dia hendak menjual resto itu.


Resto itu dibiarkan kosong hingga muncul aura seram. Situasi bekas kebakaran dibiarkan terbelengkalai sangat menakutkan apalagi di malam hari. Dinding menghitam karena kebakaran menambah aura berbau mistik.


"Wah sasaran bagus buat konten, nih". kata seseorang sambil mengamati lokasi kebakaran itu.


Orang mulai tertarik untuk konten cerita horor sementara orang mulai berkasak kusuk tentang pesugihan itu. Isu itu merebak dengan berbagai bumbu pemanis sebagai daya tarik cerita.


Ada berbagai versi cerita. Peristiwa kebakaran itu dikemas dengan cerita tentang korbannya yang diganggu mahluk gaib yang berbulu hitam menyeringai. Belum lagi selentingan sampai ditelinganya yaitu kasak kusuk pesugihan yang mengarah pada pemiliknya.


Ada juga konten yang mengangkat isu pesugihan, dimana si pemilik sebagai pelaku pesugihan terus menerus diganggu mahluk seram sehingga stress dan linglung.


Pak Biduk semakin terpuruk dengan gosip yang merebak. Bekas resto itu tidak laku dijual. Kondisinya semakin menyeramkan karena tidak terawat. Pak Biduk dan isterinya trauma melihat bekas kebakaran itu. Kemewahan resto itu hanya imajinasi belaka karena kenyataannya hanya kerangka dan tembok yang tidak dilalap api. Tembok itu menghitam di sana sisi bekas terbakar.


Pak Aman yang lama tidak pernah bertemu pak Biduk sangat miris mendengar gosip pesugihan itu. Gosip itu pasti membuat pak Biduk semakin tertekan. Apa yang ditakutkan selama ini malah menjadi perbincangan orang. Pak Biduk semakin menutup diri dari orang lain.


Suatu kali pak Aman pergi ke rumah pak Biduk. Kedua orang itu saling menyapa dan bertanya tentang keadaannya selama ini. Pak Aman terus menatap temannya. Ada perubahan besar pada fisik temannya itu.


"Sakitku ini hampir 6 bulan sejak kita pergi bareng ke padepokan itu".


" Uangku telah menipis, setelah habis aku tidak mempunyai apa-apa lagi ".


Entahlah apa yang akan menimpa keluargaku kelak? Pandangannya menerawang jauh. Tampak batinnya terguncang.


Pak, aku mengaku salah dan jangan beritahukan kesalahanku kepada orang lain.


“Aku takut orang-orang semakin menghujatku”.. Aku bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga.


Ingatannya balik ke masa lalu saat dia mendengarkan kata orang. Kala itu dia menyimaknya bahwa bergelimang harta membuat bahagia, tapi saat aku banyak duit aku juga tidak dapat meraih kebahagiaan itu. Bahkan aku sangat terpuruk sekarang. Aku ingin kembali pada kehidupan sederhana dulu tapi mustahil.


"Aku sedih banget mengalami kejadian seperti ini", katanya lirih hampir tak terdengar.


"Sampeyan yang mengerti aku".


"Tolong jangan beritahukan tentang padepokan pesugihan itu".


"Rahasia kita berdua", katanya


"Aku sangat takut, batinku tercekam sampai berat napasku".

__ADS_1


Aku iba melihat pak Biduk yang tertimpa musibah bertubi-tubi meski karena kesalahannya sendiri. Kondisi tubuhnya yang kurus kering dan pucat menandakan pak Biduk tidak bahagia dengan harta yang semula dikejarnya sampai terjerumus ke jurang nista itu.


"Nek..... ternyata duit yang dimiliki seseorang belum tentu membuat bahagia".


"Apalagi duit yang diperoleh tak wajar tidak terasa nikmat lagi ", kataku melihat reaksi nenek.


Pelaku pesugihan tahu akibatnya tapi godaan lebih kuat hingga tidak peduli akibatnya. Mereka berusaha meraih kemewahan sampai berakibat kemalangan karena mereka menutup mata dengan resikonya.


"Alit bisa menyelami pikiran orang dewasa", nenek tersenyum.


"Alit cuma menebaknya".


Alit pernah melihat seseorang yang bekerja dengan keringat bercucuran dan sore harinya menerima upah langsung mukanya tersenyum cerah. Itulah rasa nikmat baginya. Bayangan tentang pekerja itu sering muncul di benak Alit.


"Alit jadilah orang yang bijak".


"Nek.... kenikmatan yang bukan miliknya adalah hutang yang harus dibayar".


Pak Biduk tidak sadar bahwa kebahagiaan yang dinikmati sebenarnya milik orang yang direnggutnya. Mahluk gaib itu menutup aura warung lain agar calon pembeli warung itu beralih ke warung milik pak Biduk. Jahat banget, dia ga mau berbagi rejeki, serakah banget.


"Ulah itu jahat banget, apakah dia ga mengerti?


Adakalanya seseorang menyadari tapi menutup mata karena ingin cepat kaya, misalnya pak Biduk. Meski dia pernah menyaksikan siksaan yang menimpa anaknya si bontot itu dan telah bertobat, tapi dia lupa karena terkena iming-iming untuk menjadi kaya dadakan.


"Waduh... serem bangeet, fisiknya seperti apa, nek?


Mahluk yang menutup aura itu pasti bentuknya serem, hingga orang takut masuk ke warung itu. Pada akhirnya mereka beralih jajan di warung pelaku pesugihan yang tampak indah.


"Nek Alit ngantuk nih"


"Besok nyambung lagi'.


" Alit besok harus berangkat lebih awal, buat janji ketemuan pagi dengan Ara".


"Arlo mau menjemput jam 5.30"


"Nenek kenal Ara, teman akrab Alit?


"Ya nenek kenal wajahnya".


"Ara orangnya sangat tertutup, jika ada masalah pasti curhatnya ke Alit".


" Alit harus menjadi pendengar dan menyimpan rapat curhatnya".


"Besok Ara mau ngobrol sebelum bel sekolah".

__ADS_1


__ADS_2