
Masih sama seperti beberapa hari lalu, penasaranku terhadap Naya, bocah perempuan cilik itu, belum juga sirna. Masih ada hal aneh dan menarik yang harus aku ketahui tentangnya.
Pagi itu, aku mengintip ke area pelataran sekolah dan juga warung untuk memastikan tidak ada teman-teman yang melihatku. Tas sekolahku sengaja aku bawa, tidak aku letakkan ke bangku di kelas supaya aku bisa bergegas ke rumah Naya.
Sesampainya aku di mulut gang dekat dengan rumah itu, tampak seorang laki-laki berbadan besar sedang membuka pagar rumah Naya. Wajahnya tidak tampak, karena dia menghadap ke arah dalam rumah mungil itu. Berhubung jantungku berdegup terlalu kencang, aku urung meneruskan langkahku ke rumah itu dan berbalik ke arah sekolah. Mungkinkah dia Om Badut? Padahal, aku berniat ingin mengetahui identitas Om Badut. Tapi aku belum punya cara yang tepat agar tidak gaduh.
Aku berlari kecil menuju kelas untuk meletakkan tas di mejaku. Sementara kelas masih kosong, aku bisa menenangkan diri sebentar. Degup jantungku mulai mereda. Aku menertawakan diriku sendiri. Baru tampak punggung Om Badut saja aku sudah ketakutan.
"Alit, ayo semangat," kataku sambil tersenyum sendiri. Aku tersadar dan melihat seluruh ruang kelas itu untuk melihat apakah ada orang lain yang memergoki aku saat bergumam sendiri? Aku pun memutuskan untuk keluar keluar kelas dan mencari teman mengobrol. Aku ingin mengalihkan pikiranku dari Om Badut untuk sementara ini agar aku bisa fokus belajar di kelas.
***
Setelah jam sekolah berakhir, aku keluar kelas dengan terburu-buru. Sementara teman-teman yang lain masih mencatat jadwal ulangan.
"Biarlah, nanti aku akan minta jadwalnya ke Ara atau Monet lewat email," pikirku.
Aku berjalan cepat dan melongok dari pagar rumah, ternyata Naya sudah ada di tikar depan bersama Kiko. Kemudian, aku berjalan ke halte sekolah untuk menunggu Arlo. Siang itu, aku tidak ke rumah Naya. Aku ingin ke toko mainan yang berada searah dengan perjalanan pulangku dan beli baju boneka untuk Kiko.
"Alit, aku cuma punya waktu sebentar ngga apa-apa, ya. Jam 3 nanti ada latihan musik," kata Arlo.
Aku menyetujuinya dan langsung turun dari motor begitu sampai di toko mainan. Setelah itu, Arlo mengantarku pulang ke rumah dan segera kembali ke sekolah untuk latihan.
"Selamat siang, Nek. Arlo ngga mampir ya, Nek. Lagi buru-buru, mau latihan gitar," kata Arlo menyapa nenek.
Nenek pun membalas sapaan Arlo dengan senyuman.
"Hati-hati, Arlo," kata nenek.
Hari itu, semua kegiatan di rumah tampak biasa. Hanya pikiranku saja yang tidak bisa lepas dari Naya dan sosok Om Badut itu.
"Sedang apa Naya sekarang? Apa Om Badut datang mengganggu lagi?" Pikiran itu tidak bisa lepas dari kepalaku.
***
Keesokan paginya, aku berangkat pagi untuk mampir ke rumah Naya. Sesampainya di depan pagar, aku langsung memanggilnya.
"Naya, ini kakak," panggilku.
"Halo Kakak! Ayo masuk, Kak," kata Naya sambil mengintip dari pintu ruang tamu rumahnya.
Aku pun masuk ke dalam dan langsung memberikan baju boneka yang aku beli kemarin untuk Kiko. Naya terlihat senang.
__ADS_1
"Naya pakai baju baru juga, ya?" Tanyaku begitu menyadari kalau baju Naya terlihat masih baru.
"Iya Kak, ini mama yang beli," katanya sambil memengang baju yang dipakainya.
Ternyata, mamanya membelikan Naya baju baru untuk dipakainya saat berjalan-jalan. Kata Naya, mamanya akan mengajak dia pergi bersama teman-teman kantornya. Dia terlihat senang sekali saat bercerita soal itu. Di tengah keceriaan itu, tiba-tiba ekspresi Naya berubah.
"Kemarin Om Badut datang, Kak. Om Badut nyuruh Naya ke dapur dan duduk di lantai. Ngga boleh ke mana-mana," katanya.
Dugaanku kemarin benar, lelaki berbadan besar yang memakai jaket dan topi lebar itu adalah Om Badut. Tapi sayang, aku tidak bisa melihat wajahnya.
"Naya bisa jelasin ke kakak, gimana wajah Om Badut?" Tanyaku.
"Menakutkan, Kak, buat Naya. Bibirnya hitam lebar. Dia datang cuma buat nyuruh Naya masuk ke dapur. Habis itu dia keluar dari pintu belakang, ngunciin Naya. Terus dia ngintip dari jendela dapur, dan ngetuk-ngetuk kaca sambil ngeliatin Naya," katanya.
"Naya tahu kalau pintu dapur itu sebetulnya ngga dikunci? Waktu kakak masuk dari belakang, kakak lihat pintunya ngga dikunci. Hanya kuncinya aja tergantung di pintu," kataku.
Naya menggelengkan kepalanya. Dia tidak berani mengecek pintu karena saking takutnya. Aku merasa kasihan sekali kepadanya. Mungkin kapan-kapan aku harus bertemu ibunya dan memberitahu hal ini.
"Kakak sekolah dulu, ya. Jangan lupa pakaikan baju baru untuk Kiko," kataku.
"Iya, Kak, terima kasih! Sekarang Naya dan Kiko sama-sama punya baju baru," jawabnya sambil tersenyum.
Sesampainya di kelas, aku bertemu Monet dan Ara yang mengajakku untuk ke mal. Tapi, kali ini, aku lebih memilih untuk menemani Naya sepulang sekolah nanti.
"Yaah....sepi dong ngga ada Alit," kata Monet.
"Next time aku ikut," kataku sambil menyeringai.
Aku memang sengaja memutuskan untuk belum menceritakan soal Naya kepada Ara dan Monet. Aku mau mengamati sendiri dulu tentang Naya lebih dalam. Ketika sudah punya informasi cukup, barulah aku akan memberitahu mereka.
Sepulang sekolah, aku masih punya waktu setengah jam sebelum Arlo datang menjemput. Aku pun bergegas ke rumah Naya.
"Nayaa," panggilku.
"Halo, Kakak," jawabnya
Aku melepas sepatu dan duduk di tikar. Di sana, ada tumpukan baju boneka lama milik Kiko.
"Naya, ini baju Kiko yang lama ya? Kakak cuci ya," kataku.
"Ngga usah, Kak. Nanti Yayu yang biasa nyuci," jawab Naya.
__ADS_1
"Oke Naya, kakak masukin ke dalam bak cucian aja, ya," jawabku.
Aku berjalan ke tempat cucian dengan membawa baju Kiko. Tiba-tiba, terdengar suara pagar dibuka. Ternyata, Om badut datang. Aku bersembunyi di bawah meja di balik dinding dapur untuk mengintai tujuan kedatangannya.
Beruntung sekali, aku menemukan lubang kecil di tembok yang telah rapuh. Aku mengoreknya agar terbuka lebih lebar dan cukup jelas untuk mengintip.
Tiba-tiba, terdengar suara laki-laki itu.
"Masuk, cepet masuk," katanya.
Dia menyuruh Naya untuk masuk ke dapur. Aku juga mendengar suara pintu berderit terbuka. Kemudian, dia keluar melalui pintu belakang dan mengintip dari jendela.
"Tek...tek.. tek..."
Suara ketukan kaca pun terdengar. Naya menatap jendela dapur dengan wajah ketakutan. Di luar jendela, terlihat Om Badut yang sedang menakut-nakuti dengan wajahnya yang mengenakan topeng badut.
Dia merentangkan jari-jari tangannya yang tertutup sarung tangan di pipinya dan mulai mengoyangkan kepalanya. Lucu juga, pikirku, tapi menakutkan lama-lama. Apalagi untuk anak sekecil Naya.
Aku mulai berpikir bahwa Om Badut bukan orang yang waras. Mungkin juga dia benci anak-anak, sehingga senang membuat Naya ketakutan. Yang pasti, aku menduga Om Badut pasti punya pengalaman yang menyakitkan.
Ketika sedang asyik berdialog dengan diriku, tiba-tiba aku teringat akan Arlo yang akan menjemputku di halte itu. Sepuluh menit lagi. Mudah-mudah atraksi gila ini cepat berakhir.
"Tek...tek...tek..."
Kaca itu diketuknya lagi, pertanda Om Badut masih beratraksi. Aku melihatnya melalui lubang kecil ini dengan jantung yang berdegup kencang. Tampak ulah gilanya terulang lagi. Beberapa menit kemudian, keadaan mulai hening kembali. Aku keluar dari bawah meja itu dan melongok ke arah luar untuk memastikan Om Badut sudah pergi dari rumah ini.
Aku melihat Naya yang masih terduduk di lantai dapur sambil memeluk Kiko. Sepertinya, rasa takutnya belum hilang. Dia diam saja. Aku mendekat dan membelai rambutnya.
Selama beberapa saat, kami hanya duduk terdiam. Aku memeluk Naya dan mengelus kepalanya agar dia tidak ketakutan lagi. Kemudian, aku menggandengnya menuju teras untuk bermain kembali.
"Arlo, sorry agak telat beberapa menit, ngga apa-apa ya. Aku masih di rumah Naya," aku mengetik dan mengirimkan chat itu untuk Arlo.
Aku mengajak Naya bermain sampai dia bisa tertawa lagi. Barulah kemudian aku pamit untuk pulang.
"Kakak pulang dulu, ya. Besok kita ketemu lagi," kataku.
Naya hanya mengangguk. Sepertinya dia sedih karena aku harus pulang.
Sungguh tidak tega meninggalkan Naya seorang diri, tapi aku juga harus pulang. Apalagi, Arlo sudah menunggu. Dari jauh, aku melihat Arlo duduk di motornya yang terparkir di depan halte.
Rasanya tidak sabar sekali ingin bercerita panjang lebar kepada Arlo. Tapi aku tahu, Arlo juga sedang sibuk dan punya hal lain yang harus dipikirkannya. Sehingga, hari ini sepertinya bukan waktu yang tepat untukku bercerita.
__ADS_1
Dadaku terasa sesak melihat ulah gila Om Badut itu. Apalagi Naya yang masih kecil tidak seharusnya memerima perlakukan seperti itu, bahkan sampai dia tidak bisa cerita pada orang lain.
- Bersambung -