Rahasia Alit

Rahasia Alit
Penari di Sanggar Kosong - Bagian 1


__ADS_3

Hari ini, mama dan papa pulang terlambat. Mama sudah memberiku kabar, katanya dia baru pulang sekitar jam 8 malam dan akan membeli makanan untuk dibawa pulang. Di rumah hanya ada aku, nenek, dan Kak Luni. Seperti biasanya, nenek sedang asyik tenggelam di balik bukunya. Sedangkan Kak Luni sedang berada di kamarnya.


Aku dan Ireng sedang duduk bersama di teras. Ada banyak angin yang berhembus, tapi tidak terasa kencang. Hanya sepoi-sepoi, yang bahkan membuat Ireng duduk memejamkan mata sambil terkantuk-kantuk.


Malam ini memang terkesan sepi dan hening. Bahkan, aku tidak mendengar suara penjaja keliling mie tek-tek yang biasa lewat di depan rumah. Tiba-tiba, Ireng yang sedang duduk di depanku mendadak tegang seperti sedang memperhatikan sesuatu. Rupanya ada dua ekor kucing tetangga yang masuk lewat sela-sela pagar. Aku pun mengambil makanan kucing dan kuberikan untuk mereka berdua. Ireng membiarkan kedua kucing itu makan dengan santai, sambil tetap mengawasi mereka.


Sesaat kemudian, Ireng terlihat menegakkan kupingnya. Bersamaan dengan itu, aku mendengar irama gamelan. Aku memperhatikan ke arah pelataran, tempat asal suara gamelan itu, untuk memperjelas pendengaranku. Sejauh aku melihat, tidak ada apapun. Semua sepi, tidak ada satupun orang yang melintas.


Aku berjalan keluar pagar dan melewati pelataran agar bisa mendengar lebih jelas lagi. Ireng mengikutiku sampai ke jalanan komplek. Aku berhenti sejenak saat menemukan asal suara itu. Alunan gamelan terdengar dari sebuah rumah kosong. Rumah itu tampak gelap dari luar, tidak ada satu lampu pun yang menyala.


Setahuku, rumah itu adalah bekas sanggar tari tradisional. Letaknya tidak jauh dari rumah nenek. Tepatnya berada di seberang jalan, kemudian berbelok melewati taman komplek ke dua dari rumah nenek. Aku berdiri di depan rumah kosong tanpa pagar itu. Rumah tersebut memang mirip ruko tertutup dengan pintu lipat yang terbuat besi.


Ireng terus mengikutiku dan mengunci pandangannya ke arah pintu tertutup itu. Aku masih mendengar suara gamelan. Suaranya makin jelas terdengar. Aku pun mencari celah untuk melihat ke dalam ruangan di rumah itu. Ada sebuah lubang kecil di tembok rumah bagian depan. Aku menduga, mungkin tembok itu sengaja diberi lubang untuk sesuatu yang berhubungan konstruksi ruangan. Ireng yang sedang berdiri di dekatku, terus melihat ke arah pintu itu.


Aku bisa mengintip meski hanya sebelah mata. Ruangan yang ada di balik tembok ini ternyata terang! Aku tidak menyangka, ternyata ada lampu yang menyala meskipun dari luar, rumah itu tampak gelap sekali.


Di dalamnya, ada seorang perempuan paruh baya yang cantik dan anggun. Meskipun sudah terlihat tua, tapi dia sangat luwes menari. Perempuan itu mengenakan kebaya dengan selendang hijau yang dililitkan ke pinggangnya. Rambutnya begelung besar sampai ke bahu. Ada dua tusuk konde berwarna kuning logam di kiri dan kanannya. Terdapat banyak lipatan di bagian depan jariknya, sehingga dia bisa melangkah lebar.


Perempuan itu menari seorang diri. Dia terlihat sangat gemulai saat menari mengikuti irama gamelan, tapi aku tidak bisa melihat pengiringnya.

__ADS_1


Kemudian, dari jauh terdengar suara orang yang sedang bercakap-cakap. Aku pun mundur dari lubang itu dan melihat sekeliling. Ternyata, ada satpam komplek dan satu orang yang tidak aku kenal. Aku merasa lega karena mereka tidak melihatku. Kalau ketahuan, bisa-bisa aku disangka maling! Aku pun bergegas jalan menjauhi rumah kosong tersebut, dan berpapasan dengan mereka.


"Dik, sedang mencari Ireng?" Kata bapak satpam menyapaku sambil tersenyum. Dia memang tahu kebiasaanku yang suka mencari Ireng sampai jalanan di dekat taman komplek.


Aku menjawab "iya" dan membalas senyumannya. Kemudian, aku pun berjalan kembali pulang ke rumah bersama Ireng.


Sesampainya di rumah, ternyata papa dan mama sudah pulang. Mereka pulang membawa mie tek-tek kesukaanku. Kebetulan sekali, abang mie tek-tek langgananku sedang tidak lewat di depan rumah. Kami sekeluarga menikmati makan malam bersama. Tapi aku tidak menceritakan kejadian yang kualami barusan ke siapapun.


Aku belum pernah bertemu perempuan itu. Siapa ya dia? Seingatku, sudah lama tempat itu tidak lagi jadi sanggar tari dan dibiarkan kosong terbengkalai. Dulu, sewaktu sanggar masih aktif berkegiatan, memang gamelan pengiringnya sering terdengar sayup-sayup dari rumah nenek.


Paginya, aku hampir kesiangan. Semalam aku tidak bisa tidur memikirkan rumah kosong itu. Meskipun sudah hampir terlambat, aku menyempatkan diri untuk mampir ke rumah bekas sanggar itu. Ternyata betul-betul tidak terurus. Tanaman liar tumbuh subur di sekitarnya. Semalam aku tidak menyadari adanya tanaman liar karena gelap. Aku melihat lubang itu masih berada di sana. Aku mengintipnya, tapi tidak ada seorang pun di sana.


Setelah pulang sekolah siang nanti, aku mau cerita ke nenek soal ini. Mudah-mudahan nanti siang tidak macet, supaya aku bisa cepat sampai rumah.


***


Begitu jam pulang sekolah berbunyi, aku langsung melambaikan tangan ke Ara dan Monet. Kemudian, aku berlari kecil menuju ke halte untuk menunggu angkutan umum. Tetapi, ternyata ada Arlo yang sedang menungguku di halte itu dengan motornya.


"Kebetulan sekali! Aku mau cepat-cepat sampai rumah!" Kataku sambil menaiki motor Arlo.

__ADS_1


"Aku boleh mampir ga? Hari ini ga ada kegiatan, jadi mau main ke rumahmu," ucap Arlo.


Aku pun memperbolehkan Arlo untuk mampir ke rumahku. Yang penting, aku bisa cepat sampai dan bertemu nenek. Sesampainya di area komplek rumah, aku meminta Arlo untuk berputar sedikit memutari taman komplek.


"Mumpung naik motor, aku mau jalan-jalan muterin taman dong," kataku berbohong.


"Masa jalan kaki tiga menit aja capek," ujar Arlo sambil tertawa.


Ya, aku memang berbohong. Aku bukan mau jalan-jalan, tetapi sengaja ingin lewat depan rumah kosong itu lagi. Aku masih penasaran dengan kejadian tadi malam.


"Arlo, tolong berhenti di taman sebentar, ya," ucapku.


"Sebentar aja ya, aku mau cepat sampai rumahmu. Haus, mau minta minum," kata Arlo.


Aku memperhatikan rumah kosong itu sekali lagi. Memang tidak terurus. Bagian atapnya sudah banyak yang copot, dan hanya tersisa paku-pakunya saja. Aku membayangkan keadaan rumah ini di malam hari, seram juga. Semalam, aku memang lebih berani karena ditemani oleh Ireng.


Sampai di rumah, aku langsung masuk untuk mengambil segelas air putih buat Arlo. Berhubung ada Arlo di rumah, nenek malah asyik mengobrol dengannya. Ceritaku soal rumah kosong bekas sanggar itu pun terpaksa tertunda.


- Bersambung

__ADS_1


__ADS_2